Sihir Seni Peran STB Pukau Tasikmalaya Lewat Dua Monolog Paradoks Kekuasaan

Sihir Seni Peran STB Pukau Tasikmalaya Lewat Dua Monolog Paradoks Kekuasaan
logo stb 1

TASIKMALAYA, KOSAPOIN.COM | Kelompok teater modern legendaris, Studiklub Teater Bandung (STB), berhasil menggelar pertunjukan bertajuk “Pentas Dua Kota” di Buleud Art Gallery & Studio (Komunitas Cermin), Jl. Pemuda No. 1, Tasikmalaya, Kamis malam (21/5/2026). Pementasan yang didukung penuh oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini menyuguhkan dua repertoar monolog berbobot, yakni “Julungwangi” dan “Amangkurat”. Tercatat dalam daftar buku hadir sekitar 150 penonton memadati galeri hingga larut malam.

Acara resmi dibuka oleh Diana G. Laksanawati, yang malam itu memegang komando ganda sebagai Pimpinan Produksi (Pimpro) sekaligus Master of Ceremony (MC). Tampil anggun dengan pakaian adat Jawa berupa kain samping dan kebaya hijau telur asin, Diana menyapa penonton dengan ramah. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Pentas Dua Kota ini digelar untuk mendukung penuh gagasan global UNESCO dalam pelestarian kebudayaan dan penguatan seni pertunjukan sebagai warisan kemanusiaan.

Struktur kepengurusan produksi STB malam itu tampak sangat kokoh. Selain Diana sebagai Pimpro, pementasan ini bergerak di bawah naungan Sis Triaji selaku Pelindung dan Yoyo C. Durachman sebagai Penasihat. Di jajaran penonton, terlihat hadir Wakil Walikota Tasikmalaya Dicky Candranegara, Ketua Dewan Kesenian Tasikmalaya Tatang Pahat, serta sesepuh Komunitas Cermin Ashmansyah Timutiah (Acong), sebagai tuan rumah. Sejumlah tokoh, budayawan, dan aktivis seni juga tampak memberikan dukungan langsung. Di antaranya Edi Purnawadi, Amang Bolon, Pongkir Wijaya, Wida Waridah, Rika Rostika Johara, Toni Lesmana, Diwan Masnawi, Orock Kapas, Alexandreia Wibawa, Jamal Mural, Leo Si penatap Bulan, Iyan Indag, Andarea Fatih hingga Syifa Siti Sofia. Mereka berbaur dengan ragam komunitas lintas disiplin yang datang dari Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Bandung, dan Singaparna.

Sebelum pertunjukan dimulai tepat pukul 19.30 WIB, kendala teknis sempat memicu ketegangan di belakang panggung. Hujan gerimis yang mengguyur Kota Resik disertai sambaran petir kuat membuat sirkuit arus listrik di Buleud Art Gallery drop drastis. Aliran daya mengalami gangguan parah tepat sebelum tirai dibuka. Namun, penata cahaya dan multimedia Aji Sangiaji berhasil mengatasi situasi darurat tersebut. Dengan sisa daya listrik yang ada, Aji menyiasati pencahayaan panggung lewat kombinasi lampu sorot (spotlight) adaptif dan multimedia yang presisi. Meski taktik darurat ini sempat menyilaukan mata para aktor, tata lampu dramatis tetap berhasil terjaga hingga akhir acara.

ria 5
Ria Ellysa Mifelsa saat membawakan monolog Julungwangi karya dan sutradara IGN. Arya Sanjaya. Garapan STB. dok. SSS.

Profesionalisme STB juga terlihat dari keselarasan tim penata artistik atau penata panggung, Deden Syarif dan Kemal Ferdiansyah. Keduanya sibuk mengawal pergantian adegan di panggung dengan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap: kain samping, blangkon, dan beskap. Warna beskap mereka sengaja disamakan dengan kebaya sang MC, yaitu hijau telur asin. Detail visual ini digarap oleh Sugiyati Suyatna Anirun selaku Penata Busana.

Atmosfer pertunjukan terasa kian mistis berkat lantunan tembang dari duet Sugiyati Suyatna Anirun dan Muhammad Rakha. Diiringi ilustrasi musik dari Aji Sangiaji, suara jernih kedua pelantun tembang lintas generasi tersebut berhasil memperkuat emosi duka dalam lakon yang dimainkan. Di sisi lain, kondisi listrik yang drop bukan masalah besar bagi dua aktor utama malam itu, Ria Ellysa Mifelsa dan Indrasitas. Pasangan suami istri sekaligus seniman watak senior asal Bandung ini menunjukkan jam terbang tinggi mereka. Gangguan lampu sorot yang menyilaukan mata diredam dengan fokus dan blocking yang tajam di atas panggung.

Kedua naskah monolog tersebut ditulis dan disutradarai oleh IGN. Arya Sanjaya. Ditemui usai pentas, Arya menyebut pemilihan lakon ini menyimpan benang merah yang kuat tentang paradoks hitam-putih kekuasaan. “Saya kebetulan juga tidak tahu bagaimana ceritanya, tapi yang jelas ketika saya memilih dua naskah ini, kok ada benang merahnya. Bahwa ini sama-sama membicarakan tentang kekuasaan. Yang satu, seperti yang saya sampaikan tadi, yang Julungwangi kan bercerita tentang korban dari kekuasaan itu sendiri. Jadi mengalami korban dari kekuasaan, ketekanan dari kekuasaan. Sementara yang satu, yang Amangkurat, sudah jelas adalah seorang penguasa yang mengeluarkan undang-undang tentang kekuasaan, sehingga menimbulkan ribuan korban,” kata Arya Sanjaya.

Monolog pertama, “Julungwangi”, dibawakan oleh Ria Ellysa Mifelsa. Naskah ini merupakan adaptasi naskah Antigone karya Sophocles yang diterjemahkan WS Rendra, lalu digubah Arya ke dalam kultur Jawa. Di atas panggung yang dipenuhi hamparan daun kering yang membentuk pola lingkaran besar, Ria memerankan putri negeri pawukon yang menggugat hukum negara karena melarang pemakaman kakaknya yang dicap pemberontak. Dari atas lingkaran takdir tersebut, vokal Ria menggelegar melemparkan dialog gugatan yang menjadi inti persoalan: “Lebih tinggi mana hukum negara dibanding dengan hukum agama dalam sebuah upacara pemakaman?!” Ria mengaku hanya melakukan persiapan selama satu bulan untuk peran berat ini, tapi penampilannya yang emosional cukup sukses mencengkeram perhatian penonton.

Lakon kedua, “Amangkurat”, giliran Indrasitas yang menguasai panggung. Hanya bermodalkan gundukan daun kering, sebuah bangku kayu sederhana dan sebutir kelapa muda, Indrasitas yang hanya berlatih selama dua minggu tampil sangat intimidatif. Ia berhasil menghidupkan sosok Amangkurat I yang sekarat di pengungsian, membongkar intrik politik, serta pembenaran atas kekejamannya di masa lalu. Indrasitas juga berhasil mengajak seorang audiens bermain, dalam improfisasinya itu menunjukkan kualitas keaktorannya yang sangat matang serta mampu menyelipkan konsep meta teater: Gaya pementasan di mana sebuah drama atau teater secara sadar mengakui dirinya sendiri sebagai sebuah pertunjukan. Konsep ini mendobrak ilusi panggung dengan cara menampilkan proses pembuatan teater itu sendiri kepada penonton.

indra 3 scaled
Indrasitas saat membawakan monolog Amangkurat karya dan sutradara IGN. Arya Sanjaya. Garapan STB. dok. SSS

Penampilan total keduanya mendapat pujian dari Wakil Walikota Tasikmalaya, Dicky Candranegara. Dicky bahkan berseloroh merasa cemburu dengan kualitas akting sang aktor. “Pertama, saya cemburu karena saya kayaknya sulit bisa melakukan monolog sepanjang itu. Sangat luar biasa dari sisi penghayatannya, blocking-nya, improvisasinya dengan penonton, semuanya sudah hidup sekali. Ini sangat luar biasa untuk anak-anak generasi muda, agar tahu betapa pentingnya rasa, betapa pentingnya olah rasa. Banyak orang pintar saat ini, tapi ketika rasanya mati, maka dia jadi merasa pintar, bukan pintar merasa,” tutur Dicky.

Apresiasi senada juga datang dari pengamat seni Ephorn Heri dan budayawan Amang Bolon. Bersama Ketua DKT Tatang Pahat, mereka sepakat bahwa pementasan minimalis ini menjadi ruang laboratorium seni peran yang mahal bagi publik teater Tasikmalaya. Sementara pencetus Komunitas Cermin, Ashmansyah Timutiah (Acong), mengingatkan kembali sejarah STB yang didirikan pada 13 Oktober 1958 oleh Jim Lim, Suyatna Anirun, dan lima tokoh lainnya. “Merupakan sebuah kehormatan besar, Kota Tasikmalaya kedatangan kelompok teater sekelas STB. Hal ini menjadi catatan penting di ranah daerah.” tukasnya.

Di sisi lain, di usia STB yang ke-68 tahun ini, Sugiyati Suyatna Anirun (Ibu Yati) selaku istri mendiang Suyatna Anirun sekaligus pewaris tradisi, menitipkan pesan mendalam agar generasi penerus tidak melupakan hakikat seni peran manusia yang sesungguhnya. “Semoga STB masih diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya yang konsisten terhadap sistem atau metode yang diturunkan oleh STB. Sekarang kebanyakan multimedia-multimedia. Kalau STB itu masih memanusiakan manusia, masih memuliakan seni peran. Dan itu sampai dengan generasi yang sekarang ini tetap dilaksanakan ke bawah. Saya harapkan masih ada yang terus melanjutkan, meskipun kita tidak tahu apakah anak-anak Gen Z nanti masih suka atau tidak, mungkin nanti bisa mengikuti perkembangan digital, cuma pasti tidak sangat drastis. Seni perannya harus tetap diperlihatkan,” tutur Ibu Yati dengan penuh harap.

Menariknya, terpilihnya Tasikmalaya dalam program “Pentas Dua Kota” ini ternyata berawal dari penolakan sponsor. Arya Sanjaya menceritakan, awalnya STB mengajukan proposal untuk tampil di Jakarta, Kudus, dan Denpasar (Bali). “Pihak Djarum bijak menyarankan jangan ke Denpasar, terlalu jauh dan besar biayanya. Mereka menyarankan pilih kota di Jawa Barat saja. Akhirnya mereka kasih opsi, mau Tasikmalaya atau Cianjur? Saya langsung bilang Tasik. Saya pilih Tasikmalaya dan Kudus, jadi akhirnya dipadatkan menjadi program Pentas Dua Kota saja karena dananya sebenarnya sangat minim,” ungkap Arya sambil tersenyum. Keputusan memilih Kota Resik terbukti tepat. Gangguan alam dan listrik justru melahirkan keajaiban improvisasi di atas panggung. Setelah sukses di Tasikmalaya, rombongan Studiklub Teater Bandung kini bersiap membawa misi kebudayaan ini ke kota tujuan kedua, yaitu Kudus, Jawa Tengah. []

foto bersama 2
foto bersama usai pertunjukan dua monolog: Wakil Walikota Tasikmalaya Raden Dicky Candranegara beserta segenap awak garapan STB dan ketua DKT serta pupuhu Komunitas cermin. Dok. SSS
Dom Puntila


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *