“Doe Tjerita dari Tanah Djawa”, Julungwangi & Amangkurat

Menjejaki tahun 2026, ada keinginan yang kuat dari kami untuk dapat berbagi apresiasi, pengetahuan dan pengalaman serta berpartisipai dalam merayakan Hari Keanekaragaman Budaya se-Dunia yang jatuh pada tanggal 21 Mei di setiap tahunnya. Hal ini merujuk pada seruan yang di hembuskan oleh UNESCO, untuk memaknai perayaan tersebut sebagai wadah untuk menjalin kerjasama yang efektif dalam menjaga perdamaian serta memprioritaskan penguatan dialog antar budaya di seluruh dunia.
Bertolak dari hal tersebut di atas, Studiklub Teater Bandung ingin mengawalinya dengan sebuah langkah kecil, yaitu dengan menampilkan Dua Monolog tentang Kekuasaan dari dua Negara serta dua budaya yang berjauhan, Yunani dan Nusantara namun di panggungkan dengan wastra yang sama, yaitu Busana Jawa. Dan dua judul Monolog tersebut “DOEA TJERITA DARI TANAH DJAWA”, JULUNGWANGI dan AMANGKURAT,
Adaptasi/Sutradara oleh IGN. Arya Sanjaya.
Di dukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, “DOEA TJERITA DARI TANAH DJAWA”, JULUNGWANGI dan AMANGKURAT di pentaskan di dua Kota yaitu pertama di Tasikmalaya pada tanggal 21 Mei 2026 Pkl. 19.30 di Buleud Art Gallery & Studio Tasikmalaya, Jl. Pemuda No. 1 Tasikmalaya. Dengan Local Partner Komunitas Cermin Tasikmalaya.

Pementasan ke dua dilanjutkan di Kudus pada tanggal 23 Mei 2026, pkl. 19.30 di Sanggar Teater Djarum, Jl. Ahmad Yani no. 41 Kudus. Dengan Local Partner Sanggar Teater Djarum.
Pementasan di Kudus, di rangkai dengan WORKSHOP Pemeranan bagi siswa siswi SMA di Kudus. pada tanggal 24 Mei pd pkl. 09.00 – 11.00 Wib (Peserta terbatas).
Pemain :
Julungwangi – Ria Ellysa Mifelsa , Amangkurat – Indrasitas
Pelindung SIS TRIADJI | Penasihat YOYO C. DURACHMAN | pimpinan produksi DIANA G. LEKSANAWATI | penata cahaya & multimedia AJI SANGIAJI | penata panggung DEDEN SYARIF – KEMAL FERDIANSYAH | penata busana YATI SA | pelantun tembang SUGIYATI SA – MUHAMMAD RAKHA
Dua cerita dari tanah Jawa adalah dua kisah yang sarat dengan muatan kontradiktif, yang erat bertalian dengan ranah kekuasaan.
Kisah yang satu bercerita tentang ‘korban’ dari sebuah kekuasaan yang lewat segala perintah serta peraturan-peraturan yang diterbitkan telah menimbulkan korban-korban, bahkan sampai melayangnya satu bahkan ribuan nyawa, untuk menjaga atau melindungi kepentingan penguasa itu sendiri serta keluarganya dalam melanggengkan kekuasaannya.
Sementara kisah yang satunya lagi, bertutur sebaliknya. Dalam cerita yang lain, ada semacam ‘pledoi’ yang diapungkan oleh pihak penguasa, kenapa dan bagaimana perintah-perintah serta peraturan-peraturan itu dibuat dan diberlakukan, yang kemudian banyak menelan korban-korban dalam pelaksanaannya, yang seringkali hanya merupakan ekspresi pribadi namun dengan mengatasnamakan kepentingan kekuasaan dan kepentingan orang banyak.
Dua sudut pandang dari dua kisah yang sama-sama berusaha menyampaikan ‘kebenaran’ lewat posisi dan versinya masing-masing, yang senantiasa muncul lewat beribu cerita dari zaman ke zaman, entah sampai kapan.
Pemanggungan :
@ JULUNGWANGI : panggung berupa lingkaran dari daun-daun kering dan reranting diatasnya.
sinopsis :
JULUNGWANGI : berangkat dari negeri Yunani, kemudian di beri wastra Jawa, Julungwangi bertutur tentang perjuangan seorang putri dari negeri pawukon saat mendapati perlakuan yang berbeda terhadap dua jenazah kakaknya tercinta yang sama-sama gugur dalam sebuah perang tanding. Wariga dikebumikan dengan mendapat upacara agung layaknya seorang pahlawan, sementara kakaknya Warigadean tidak boleh dikuburkan, dibiarkan tanpa upacara di udara terbuka, menjadi santapan burung bangkai dan srigala, karena dianggap pemberontak.
Kemudian Julungwangi menggugat ; lebih tinggi mana hukum negara dibanding dengan hukum agama dalam sebuah upacara pemakaman ?! Julungwangi merupakan adaptasi dari naskah Antigone karya Sophocles.
@ AMANGKURAT : panggung kosong, hanya ada sebuah bangku kampung dan sebutir kelapa muda diatasnya.
sinopsis :
AMANGKURAT : di dusun pengungsian, Amangkurat yang mulai sering terbaring gering mengisahkan sepenggal kehidupannya yang selama ini hanya dapat di duga-duga oleh rakyatnya. Bagaimana pandangannya terhadap hadirnya intrik-intrik saat raja baru di nobatkan di kerjaan Mataram, serta berbagai latar yang melahirkan perintah-perintahnya ‘membungkam’ orang-orang yang dianggapnya menghalangi berbagai kehendak serta keinginannya dalam menjalankan pemerintahannya. Monolog ini melantunkan lusuh sejarah dalam warna senja merah saga. Naskah ini diadaptasi dari naskah lakon Amangkurat-Amangkurat karya Goenawan Mohamad.
Tentang Studiklub Teater Bandung
Kedudukan Studiklub Teater Bandung tidak ubahnya serumpun mawar disebuah taman, yang membuat bunga-bunga lain ingin ikut tumbuh dan mekar ditaman yang sama, demikian rangkaian kata-kata indah yang telah dituliskan oleh seorang sahabat, Ags. Arya Dipayana [Alm], tujuh belas tahun yang lalu, ketika STB genap berusia 50 tahun.
68 tahun [1958-2026] sudah Studiklub Teater Bandung [STB] menorehkan sejarahnya dalam kancah seni pertunjukan Indonesia. Ada jejak panjang yang terlukiskan, sarat dengan aneka kisah serta cerita. Sedih-gembira, kecewa-bahagia, pun cacimaki dan pujapuji melengkapi seluruh perjalanan itu.
Terbentuk dari sebuah kelompok ‘antar teman’ – kebanyakan dari mereka adalah para mahasiswa seni rupa ITB – yang tumbuh dalam visi dan misi yang senada, yang penuh semangat dan dedikasi, lewat perjuangan berkendara idealisme khas anak muda saat itu, dan kini Studiklub Teater Bandung mantap sebagai kelompok teater modern tertua di Indonesia yang masih aktif berproduksi.
Ketika mulai ‘ditinggalkan’ oleh sebagian besar pendirinya – satu-satunya dari tujuh pendiri STB yang masih ada saat ini adalah bapak Jim Adhilimas, yang kini bermukim di Paris – para pengamat memperkirakan STB akan mengikuti nasib kelompok-
kelompok teater lainnya di tanah air, mandeg tanpa karya ketika ditinggal oleh pemimpinnya. Akan tetapi STB adalah perkecualian, karena dari waktu ke waktu dalam tubuh STB senantiasa ada lapis-lapis generasi yang hadir dan terus memutarkan roda organisasi, sehingga kelompok ini dapat terus bertahan dan dapat menyongsong ulang tahunnya yang ke 68. Sebagai sebuah kelompok studi, para penggiat teater senantiasa datang dan pergi, menimba pengalaman, menjaring wawasan serta menangguk pengetahuan dalam bidang teater, lewat obrolan, diskusi, acting course, sampai terlibat dalam garapan. Dan sepanjang itu, tak terbilang jumlah pementasan yang telah dilakoni, tak terhitung banyaknya naskah yang telah dibedah. Baik karya penulis asli Indonesia, maupun karya pujangga kelas dunia, yang diterjemahkan, ditelaah, didiskusikan, tak jarang juga diadaptasi. Dengan jumlah pertunjukan yang sangat besar dan keberlangsungan puluhan tahun, lewat proses penciptaan yang berkesinambungan dan terus menerus, yang dijalankan dengan kesungguhan, Studiklub Teater Bandung menempatkan diri sebagai kelompok yang tetap bertahan dalam pergulatan, ditengah pertumbuhan bangsa yang masih melihat dunia kesenian dengan sebelah mata.***
Tentang Sutradara :
IGN. ARYA SANJAYA, adalah salah satu lulusan Acting Course angkatan V, Studiklub Teater Bandung. Kemudian bergabung dan bermain pertama kali dalam lakon King Lear [W. Shakespeare], dan Pengadilan Anak Angkat [Bertold Brecht], Impian di Tengah Musim [W. Shakespeare], Jembangan Yang Pecah [Heinrich von Kleist], Norma [Alun Owen], Art [Yasmina Reza], Saudagar Venesia [W. Shakespeare], adalah beberapa pementasan yang ia terlibat di dalamnya.
Pertama kali menyutradarai di lingkungan Studiklub Teater Bandung, tahun 2004 lewat lakon Sang Kuriang [Utuy T. Sontani]. Kemudian menyusul lakon Malam ke Seratus [Yukio Mishima], Panji Koming [Saini KM],
Ah Matjam-matjam Maoenja [Moliere], Inspektur Djenderal [Nikolaij Gogol], Kavia Sang Natha [Rio Kishida], D’Koret [Moliere], Wek Wek Wek [D. Djajakusuma], Jalan Tamblong [Remy Sylado], Jas Panjang Pesanan [Wolf Mankowiht], Pagi Bening [Serafin & Joaquin Alvares Quintero], Lysistrata [Aristopanes], Satu Malam Tiga Repertoar [IGN. Arya Sanjaya], Pinangan [Anton P Chekov], Kereta Kencana [Rendra atas Les Chaises karya Eugene Ionesco], Jembangan Yang Pecah [Heinrich von Kleist], Amangkurat-amangkurat [Goenawan Muhamad], Hutbah Munggaran Di Pajajaran [Yus Rusyana], Chekovian [Anton P. Chekov], Wingit [IGN. Arya Sanjaya], Musyawarah Burung [Fariduddin Attar] yang digarapnya.
Bergabung dengan mainteater, bermain dalam Faust [W von Goethe] dan Sandekala [Godi Suwarna]. Menyutradarai drama musical anak-anak Kereta Api Bumel / Sthockerlock and Millipilli [Rainier Hachfield & Volcker Ludwig], Serat Sarwa Satwa [IGN. Arya Sanjaya], Kurusetra Suatu Ketika [IGN. Arya Sanjaya].
Mendirikan Actors Unlimited, bersama Mohamad Sunjaya [Alm], Wawan Sofwan, Diana Ganda Leksanawati, Fathul A. Husein, Sony Soeng, dan bermain dalam Sunten Jaya [Saini KM] dan Anarkis Itu Mati Kebetulan [Dario Fo]. ***









