Dokumentasi Petunjukan Teater “Nata Sukma Complex” Karya & Sutradara; Tatang R. Macan, di pentaskan 27 Agustus 2025 di Fabriek Padang, Undangan dan kerjasama Pekan Seni Nan Tumpah Padang, 2025.
Membaca teater di Indonesia hari ini, tidak pernah selesai dan bahkan tidak pernah berdiri semata sebagai peristiwa panggung yang selesai ketika lampu padam. Ia selalu merupakan sistem panjang yang bekerja melalui hubungan antara tubuh, gagasan, institusi, dan sejarah sosial yang melingkupinya. Dalam kerangka pembacaan ini, perkembangan teater tidak cukup dibaca dari intensitas produksi pertunjukan, melainkan dari bagaimana sebuah ekosistem mampu membentuk kesinambungan generasi atau justru mengalami keterputusan dalam transfer dan alih pengetahuan artistik.
Apabila kita melihat dan membaca dalam paradigma tiga kota; Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta. Teater Indonesia memperlihatkan tiga model perkembangan yang berbeda: sistem regeneratif-institusional, pusat gagasan dan eksperimen, serta ruang industri dan visibilitas. Namun yang lebih menentukan bukan hanya perbedaan karakter tersebut, melainkan bagaimana masing-masing kota membentuk—atau justru tidak membentuk—garis silsilah generasi teater yang berkesinambungan.
Bandung memperlihatkan pola yang paling konsisten dalam hal kesinambungan generasi. Sejak kemunculan Studiklub Teater Bandung (STB) yang paling tua, di bawah Suyatna Anirun, teater di Bandung mulai bergerak dari praktik komunitas menuju sistem pembentukan pengetahuan artistik yang lebih terstruktur. STB tidak hanya memproduksi pertunjukan, tetapi juga membangun disiplin latihan, etika kerja, serta mekanisme transfer pengetahuan yang memungkinkan lahirnya regenerasi yang stabil. Dari fondasi STB tersebut, Bandung tidak mengalami pemutusan genealogis, melainkan ekspansi bentuk. Hal ini ditandai dengan hadirnya Teater Payung Hitam (TPH) Bandung sejak 1982 di bawah Rachman Sabur menjadi salah satu titik penting pergeseran dari realisme menuju teater tubuh dan eksperimentasi ruang. Dari sini, berkembang berbagai kelompok yang masih berada dalam garis silsilah estetika yang dapat ditelusuri: Teater Re-Publik di bawah Benni Johanes, Teater KITA Bandung di bawah Yoyo C. Durachman, Celah Celah Langit (CCL) Bandung di bawah Iman Soleh, ALIBI Bandung di bawah Irwan Guntari, serta Teater Laskar Panggung Bandung di bawah Yusep Muldiana, disertai AUL Bandung, Teater Victorial, Neo Teater, dan berbagai kelompok lain. Kehadiran mereka lahir dari satu garis STB Bandung.
Yang penting dari ekosistem ini bukan sekadar keragaman bentuk, melainkan fakta bahwa hampir seluruhnya masih berada dalam garis genealogis yang berkelanjutan. Dalam istilah Eugenio Barba, hal ini dapat dipahami sebagai transmisi “teknik hidup” yang diwariskan melalui praktik tubuh, bukan sekadar konsep, sehingga teater menjadi pengetahuan yang bergerak lintas generasi. Bandung, dengan demikian, tidak hanya melahirkan kelompok, tetapi juga melahirkan sistem regenerasi yang tidak terputus. Jika Bandung memperlihatkan kontinuitas, maka Yogyakarta dan Jakarta menunjukkan pola yang berbeda dalam sejarah teater Indonesia.
Yogyakarta sejak awal memiliki akar institusional melalui ASDRAFI 1955, yang berdiri dalam tahun yang sama dengan ATNI di Jakarta. Di sisi lain, Yogyakarta kemudian berkembang sebagai pusat gagasan dan eksperimen teater Indonesia. Fakta ini ditandai oleh peran W. S. Rendra melalui Bengkel Teater menjadikan Yogyakarta sebagai ruang penting bagi teater yang berorientasi pada kritik sosial, kebebasan ekspresi, dan eksplorasi estetika yang intens. Namun, ketika Bengkel Teater kemudian “bedol desa” ke Depok, terjadi perubahan signifikan dalam kesinambungan genealogisnya di Yogyakarta. Meskipun demikian, muncul inisiatif saat-saat ASRI, ASTI, ASKI bersatu menjadi satu institusi seni. Maka sejak tahun 1984, perkembangan teater di Yogyakarta memasuki fase institusional baru melalui pembentukan Jurusan Teater dalam Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Yogyakarta). Sejak itu, Yogyakarta tetap menjadi pusat gagasan dan eksperimen teater Indonesia, tetapi pola regenerasinya cenderung fragmentaris: kuat dalam kemunculan gagasan, namun tidak selalu membentuk sistem pewarisan yang stabil antar generasi. Karena kelompok atau komunitas teater yang lahir di Yogyakarta, kehadirannya lebih cenderung bukan dari akar atau silsilah dari genetis yang sama.
Sementara itu, perkembangan teater di Jakarta, eksistensinya hadir melalui institusi awal seperti ATNI pada 1955, berkembang sebagai pusat pendidikan awal teater modern Indonesia, namun dalam perkembangannya lebih didominasi oleh logika produksi dan industri pertunjukan. Jakarta menjadi ruang di mana teater bergerak dalam siklus proyek, festival, dan visibilitas media. Akibatnya, kesinambungan genealogis sering kali tidak menjadi struktur utama, melainkan efek samping dari dinamika produksi yang cepat berubah. Banyak kelompok besar yang tumbuh di lingkup Jakarta, namun kehadirannya dari kultur dan ideologi berkesenian yang beragam. Mereka bahkan bisa di klaim setingkat kelompok professional dengan komando pimpinan komunitas teater-nya setingkat raja.
Sekarang jika dari ketiga kota ini dibandingkan, maka Bandung tampak jelas membangun sistem regenerasi yang paling stabil, Yogyakarta membangun medan gagasan yang paling intens namun cair secara generasi, dan Jakarta membangun ruang produksi yang paling cepat tetapi paling terfragmentasi secara silsilah. Dan yang terakhir dalam konteks uraian ini, Sumatera Barat menempati posisi yang berbeda. Wilayah ini memiliki fondasi performatif yang kuat melalui Randai, yang menunjukkan bahwa akar estetika teater telah lama hidup dalam tradisi masyarakatnya. Namun dalam ranah teater kontemporer, Sumatera Barat belum membentuk ekosistem yang mampu menghubungkan komunitas, eksperimen, dan institusi secara berkesinambungan sebagaimana yang terjadi di Bandung.
Di titik inilah persoalan teater Sumatera Barat bukan terletak pada ketiadaan potensi, tetapi pada belum terbangunnya struktur yang membuat potensi itu menjadi kesinambungan. Fase berikutnya sebenarnya telah mulai terlihat melalui hadirnya pendidikan formal Jurusan Teater di Institut Seni Indonesia Padang Panjang, yang berakar dari transformasi ASKI ke STSI hingga menjadi ISI Padang Panjang. Kehadiran institusi ini membuka ruang akademik penting bagi perkembangan teater di Sumatera Barat.

Namun, institusi ini belum berkembang secara seimbang seperti yang terjadi di Bandung maupun Yogyakarta, baik dalam aspek akademis maupun dalam pembentukan komunitas penopang keberlanjutan artistik. Relasi antara pendidikan formal, praktik komunitas, dan eksperimen estetika masih belum terintegrasi dalam satu sistem yang saling menguatkan. Akibatnya, produksi teater di Sumatera Barat masih bergerak secara paralel, bukan sebagai ekosistem yang terhubung. Dalam perspektif teater modern, sebagaimana dirumuskan oleh Peter Brook dalam konsep “empty space”, teater selalu mungkin terjadi di mana saja. Namun kemungkinan itu hanya menjadi sejarah ketika ia memiliki sistem yang memungkinkan dirinya terus diulang, diwariskan, dan dikembangkan. Dalam lanskap Sumatera Barat sendiri, sejarah teater kontemporer menunjukkan fase-fase yang sebenarnya cukup kaya secara individual, tetapi tidak tersambung dalam garis genealogis yang stabil. Pernah hadir Bumi Teater di bawah Wisran Hadi, serta Dayung-Dayung di bawah Hardian Rajab, yang dapat dibaca sebagai embrio awal teater modern di ranah ini. Namun setelah fase awal tersebut, perkembangan bergerak dalam pola yang lebih tersebar.
Kemudian muncul generasi pembaharu seperti Teater Hitam Putih di bawah Yusril Katil, Teater Noktah Padang di bawah Suhendri, Indonesia Performing Syndicate (IPS) di bawah Wendy HS, Teater SAKATA di bawah Tya Stiawati, dan Komunitas Seni Nan Tumpah Padang Pariaman di bawah Mahatma Muhammad, serta kelompok-kelompok lainnya yang bergerak dalam ruang eksperimen masing-masing. Namun secara genealogis, perkembangannya menunjukkan pola yang cenderung acak: tidak terdapat silsilah yang benar-benar tersambung dari generasi awal ke generasi berikutnya secara sistematis.

Akibatnya, perkembangan teater di Sumatera Barat sering tampak terputus dalam lingkup komunitas. Bahkan dalam beberapa periode dewasa ini, Teater di Sumatera Barat terlihat seperti mengalami stagnasi atau “mati” dalam arti tidak adanya akumulasi artistik yang berkelanjutan antar generasi. Karya-karya muncul, tetapi tidak membentuk sejarah yang saling mengikat secara struktural. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya fasilitas yang memadai untuk ruang presentasi budaya seni. Satu-satunya yang ada adalah fasilitas Taman Budaya Sumatera Barat di Kota Padang. Namun hari ini sudah tidak memiliki fungsi untuk keberlanjutan karya-karya creator atau pegiat seni. Taman Budayanya tampak mangkrak, tidak memiliki gedung pertunjukan hampir dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini.
Meski demikian, Sumatera Barat masih memiliki satu titik harapan penting untuk bernafas, yang mungkin mampu menjaga kemungkinan keberlanjutan tersebut, yakni kehadiran Jurusan Teater di Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Meskipun pasang surutnya kehadiran animo mahasiswa yang ambil program studi seni teater terasa berat. Institusi ini justru menjadi satu-satunya ruang yang memungkinkan proses akademik, latihan, dan regenerasi artistik berlangsung secara lebih sistematis dibandingkan ekosistem komunitasnya. Dengan demikian, perbandingan ini tidak semata-mata untuk menilai “kemajuan” atau “ketertinggalan”, tetapi untuk melihat struktur perkembangan teater di Indonesia. Bandung memperlihatkan kesinambungan genealogis yang kuat; Yogyakarta memperlihatkan intensitas gagasan yang tinggi namun cair; Jakarta memperlihatkan dinamika produksi yang cepat namun terfragmentasi; sementara Sumatera Barat memperlihatkan paradoks antara kekayaan tradisi dan belum terbangunnya sistem kesinambungan yang stabil. Teater, pada akhirnya, tidak hanya hidup dari panggung, tetapi dari sistem yang membuat panggung itu terus mungkin untuk dilanjutkan.
Catatan
- Eugenio Barba, Theatre Anthropology (1995).
- Peter Brook, The Empty Space (1968).









