Dalam hal ini memang bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga bukan murni sebagai perang ideologi. Fenomena yang kita saksikan di layar kaca dan tajuk berita hari ini adalah campuran tiga lapisan sekaligus yang menyangkut kekuasaan, keamanan, dan ekonomi; ya, termasuk juga bisnis di dalamnya. Kita coba bedah fenomena ini tanpa simplifikasi yang berlebihan agar tidak terjebak pada kesimpulan yang dangkal. Artinya, sejak awal kita tidak bisa melihat konflik ini dengan kacamata tunggal, karena setiap lapisan saling berkelindan dan memperkuat satu sama lain dalam dinamika yang sangat kompleks. Langkah pertama untuk memahaminya adalah dengan memasuki realitas keras; dilihat dari konflik kekuasaan dulu, baru kemudian menyentuh aspek ekonomi. Mengacu tentang konflik antara AS – Iran – Israel ini, sebenarnya bukanlah hal baru yang terjadi kemarin sore. Problema ini sudah mengakar selama puluhan tahun dalam bentuk proxy war atau perang bayangan yang melelahkan. Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa konflik bukanlah reaksi sesaat, melainkan hasil akumulasi kepentingan yang terus diwariskan lintas generasi dan rezim politik yang berganti.
Israel, jika melihat Iran, memandangnya sebagai ancaman eksistensial yang nyata melalui pengembangan nuklir dan jaringan milisinya. Sebaliknya, Iran membangun pengaruh regionalnya lewat berbagai proxy seperti Hizbullah dan kelompok lainnya. Di sisi lain, AS memosisikan diri sebagai backing utama Israel sekaligus ingin menjaga dominasi globalnya di kawasan yang kaya sumber daya ini. Jadi, fondasi utamanya adalah perebutan pengaruh di Timur Tengah, sementara ekonomi masuk sebagai “alat dan dampak”, dan bukan satu-satunya tujuan akhir. Dengan demikian, relasi ketiganya membentuk segitiga kekuatan yang terus menjaga tensi tetap hidup, karena masing-masing memiliki kepentingan strategis yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Meskipun kepentingan politik tampak dominan, kita tidak bisa memungkiri bahwa uang tetap mengalir besar dari konflik ini. Di sinilah narasi “bisnis perang” ada benarnya—tapi harus diletakkan secara presisi. Artinya, keuntungan ekonomi memang nyata, tetapi tidak bisa dijadikan satu-satunya lensa untuk membaca keseluruhan konflik ini secara utuh.
Mari kita lihat faktor-faktor pendorong ekonomi yang bekerja di balik layar. Pertama: Minyak adalah jantung ekonomi konflik. Timur Tengah menguasai jalur energi global, terutama Selat Hormuz, di mana sekitar 30% minyak dunia melewati jalur sempit tersebut. Jika konflik meningkat, maka harga minyak dunia akan melonjak, yang pada gilirannya membuat negara produsen dan perusahaan energi raksasa meraup untung besar. Jadi, setiap ketegangan itu sebenarnya adalah “premium harga risiko” yang dibayar oleh pasar global. Di titik ini, geopolitik dan ekonomi bertemu secara langsung, di mana ketidakstabilan justru menjadi mekanisme yang menaikkan nilai komoditas strategis secara instan. Yang kedua, yaitu: Industri militer hidup dari konflik. Tentu saja, AS adalah pemasok senjata utama ke Israel. Dalam setiap eskalasi konflik, pembelian senjata pasti meningkat, dan ini menciptakan apa yang disebut sebagai “war economy cycle”. Di sini memang ada unsur bisnis yang sangat nyata dan masif angkanya. Siklus ini membuat konflik tidak hanya menjadi peristiwa politik, tetapi juga menjadi ekosistem ekonomi yang terus berputar dan memperbarui dirinya sendiri setiap kali peluru diletakkan di selongsongnya.
Terus yang ketiga adalah: Negara lain ikut “main”, karena memiliki kepentingan yang tak kalah besar. China, misalnya, sangat membutuhkan stabilitas energi untuk menggerakkan industrinya, sementara Rusia melihat peluang untuk memperluas pengaruhnya di tengah kekacauan. Konflik ini pun berubah menjadi arena kompetisi global, bukan cuma urusan regional. Keterlibatan banyak aktor ini memperluas skala konflik sehingga dampaknya melampaui batas geografis dan menjadi bagian dari persaingan kekuatan dunia yang lebih luas. Namun, di balik perputaran uang tersebut, kita juga harus melihat sisi gelapnya. Yang keempat, yaitu: Jangan salah, karena perang juga sangat mahal dan merugikan secara sistemik. Kalau ini murni bisnis yang menguntungkan semua, maka semua pihak harusnya mendapat laba. Tetapi faktanya tidak demikian. Iran mengalami tekanan ekonomi yang sangat berat akibat sanksi, inflasi yang mencekik, dan kerusakan infrastruktur. Israel juga tentu rugi miliaran dolar dalam setiap konflik singkat yang terjadi. Dan ini artinya: Ini bukan “bisnis bersih”—tapi sebuah sistem konflik yang menghasilkan peluang bagi sebagian aktor tertentu, sambil merugikan banyak pihak lainnya secara fundamental. Di sinilah terlihat paradoks utama konflik: ada keuntungan yang tercipta bagi industri tertentu, tetapi bersamaan dengan kerugian besar bagi stabilitas ekonomi nasional yang tidak bisa dihindari.
Muncul pertanyaan reflektif bagi kita semua, apakah perang seperti ini sengaja “dipelihara”? Jawaban secara realistis; kadang iya, tetapi tidak selalu secara konspiratif yang sederhana. Yang terjadi biasanya adalah konflik tidak diselesaikan secara total, melainkan dijaga di level “terkendali”—tidak sampai menjadi perang terbuka (full war), namun tidak juga mencapai perdamaian abadi. Hal ini disebut sebagai managed instability. Mengapa demikian? Karena jika situasi terlalu damai, para aktor akan kehilangan leverage atau daya tawar politik mereka. Namun, jika terjadi perang besar, biayanya akan menjadi terlalu mahal dan berisiko bagi stabilitas global. Maka yang dipelihara bukanlah perang total, melainkan ketegangan yang konstan. Kondisi ini menciptakan keseimbangan rapuh yang justru menjadi strategi bertahan bagi para aktor yang terlibat di dalamnya.
Secara lebih mendalam, jika diringkas secara jujur tanpa romantisasi, kita harus mengakui bahwa dunia tidaklah hitam-putih. Kalau disederhanakan: Anggapan bahwa “Ini cuma bisnis” adalah salah, dan anggapan bahwa “Ini murni perang ideologi” juga salah. Jadi lebih tepatnya: Ini adalah perebutan kekuasaan geopolitik yang menghasilkan efek ekonomi besar, di mana sebagian aktor memang diuntungkan dari ketegangan yang tercipta. Pendekatan ini menuntut kita untuk melihat konflik secara multidimensi. Siapa paling diuntungkan? Secara umum, meskipun bukan mutlak, mereka adalah industri energi global saat harga naik, industri militer pengembang teknologi senjata, dan kekuatan besar yang bisa memanfaatkan kekosongan kuasa. Dan pihak yang paling dirugikan adalah rakyat sipil, negara yang menjadi medan tempur, serta ekonomi global yang dihantam inflasi energi. Ketimpangan dampak ini memperlihatkan bahwa beban terbesar konflik justru ditanggung oleh mereka yang paling tidak memiliki suara dan kuasa.
Bongkar “Pola Karl Marx”: Konflik yang Tergambar di Tubuh-Jiwa Sendiri
Lebih jauh lagi, mari kita coba membongkar pola ini menggunakan kacamata yang berbeda. Kalau kita bedah pakai “pisau” Karl Marx, maka konflik AS–Iran–Israel itu bukan cuma peta geopolitik yang jauh di sana, tetapi juga merupakan cermin struktur konflik yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Dan hal ini sangat menarik untuk dibahas: Marx bicara soal kelas, produksi, dan konflik material. Tetapi kalau ditarik ke hubungan antara “tubuh dan jiwa”, polanya tetap sama—hanya tingkatannya saja yang berubah. Dengan kata lain, apa yang terjadi di dunia luar sering kali merupakan refleksi dari mekanisme konflik yang juga hidup dan berdenyut di dalam batin manusia. Dalam versi Marx, konflik itu bukan sebuah kecelakaan, melainkan sebuah struktur yang sengaja terbentuk. Dalam Marxisme, konflik muncul karena adanya kepentingan yang bertabrakan, ketimpangan kekuasaan, dan sistem yang membuat konflik terus berulang. Dalam konteks negara, hal ini terjadi antara borjuis dan proletar. Dalam geopolitik, terjadi antara negara besar dan negara satelitnya. Dan dalam diri manusia, konflik ini terjadi antara hasrat melawan nilai, atau antara ego melawan kesadaran murni. Struktur ini menunjukkan bahwa konflik bersifat sistemik, bukan sekadar reaksi emosional yang insidental.
Hal ini bisa dipahami lebih tajam kalau kita melihat benturan antara Tubuh melawan Jiwa sebagai bentuk “kelas sosial” dalam diri. Analogi ini membantu kita memahami bahwa pertarungan internal memiliki pola yang sama persis dengan konflik eksternal di Timur Tengah. Yang pertama, yaitu “Tubuh”, ia mewakili kekuatan material, nafsu insting untuk bertahan hidup, hasrat untuk dominasi, serta kebutuhan akan rasa aman dan nyaman. Ini bertindak seperti “kelas penguasa” dalam diri yang selalu ingin kontrol cepat dan hasil yang konkret. Tubuh mendorong tindakan yang instan dan pragmatis, sering kali tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan mental atau spiritual. Kedua: “Jiwa” adalah kesadaran dan nilai, tempat bersemayamnya moral, empati, makna hidup, dan kesadaran jangka panjang. Jiwa berfungsi seperti “kelas yang tertindas”; karena ia sering kali tahu mana yang benar, tetapi suaranya kerap kalah nyaring dibandingkan tuntutan tubuh. Jiwa bekerja lebih halus dan reflektif, tetapi sering kali tergilas oleh dorongan instingtif yang lebih kuat dan segera.
Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa konflik batin adalah miniatur dari geopolitik dunia. Coba lihat paralelnya yang nyata: Geopolitik dalam diri melibatkan perebutan wilayah keputusan, penggunaan emosi sebagai senjata kekuatan, serta propaganda dalam bentuk rasionalisasi diri. Bahkan ada proxy war dalam diri kita berupa konflik tersembunyi seperti overthinking dan rasa bersalah (guilt). Sama seperti negara-negara di Timur Tengah, diri kita juga sering hidup dalam “perang bayangan internal”. Sebagai contoh: Diri kita tahu harus jujur (suara jiwa), tetapi kita takut rugi secara material (dorongan tubuh). Lalu muncul rasionalisasi: “Ya sudah, sedikit manipulasi tidak apa-apa…” Kejadian itu bukan sebuah kebetulan, melainkan sebuah struktur konflik yang nyata. Hal ini memperlihatkan bahwa keputusan sehari-hari pun sebenarnya adalah hasil tarik-menarik kekuatan internal yang sangat politis.
Fenomena ini juga menciptakan apa yang disebut sebagai “false consciousness” atau kesadaran palsu di dalam diri. Salah satu konsep terpenting dari Karl Marx ini muncul ketika kita mulai membenarkan tindakan yang sebenarnya merusak diri sendiri, dan menganggap luka atau trauma tersebut sebagai sesuatu yang “normal”. Kita mengira kita bertindak bebas, padahal sebenarnya kita sedang dikendalikan oleh suatu dorongan bawah sadar. Sebagai contoh, kalimat seperti “Saya begini karena keadaan” atau “Saya harus keras supaya dihargai” sebenarnya berfungsi seperti propaganda internal yang menutupi kebenaran. Kesadaran palsu ini menjadi mekanisme pertahanan yang membuat konflik batin terus berlangsung tanpa pernah kita sadari akarnya.
Walhasil, terjadi perang yang “dipelihara” di dalam diri sebagaimana layaknya geopolitik global. Konflik batin sering tidak diselesaikan, tetapi dipelihara: kita sedikit sadar tetapi tidak berubah, sedikit berubah tetapi kemudian kembali lagi ke pola lama. Terasa ada ketegangan terus-menerus, tetapi tidak pernah pecah secara total. Dan ini kenapa? Karena secara psikologis, jika kita berubah total, kita akan merasa sakit karena harus kehilangan identitas lama yang sudah akrab. Namun, jika tidak berubah, kita merasa nyaman meskipun secara perlahan batin kita rusak. Maka, kita pun hidup dalam apa yang saya sebut sebagai “managed inner conflict”. Kondisi ini membuat individu terjebak dalam siklus yang berulang tanpa resolusi yang tuntas, persis seperti ketegangan yang sengaja dipelihara di pasar raksasa Timur Tengah.
Lantas, pertanyaannya adalah siapa yang sebenarnya “untung” dari konflik batin ini? Ini adalah bagian yang sering muncul tetapi jarang kita sadari secara jernih. Pihak yang “untung” adalah Ego (agar tetap berkuasa atas keputusan), pola lama (agar tetap merasa aman di zona nyaman), dan lingkaran kebiasaan yang tidak ingin terganggu. Sementara itu, pihak yang sangat “rugi” adalah pertumbuhan diri kita, kejernihan jiwa, dan ketepatan keputusan jangka panjang. Distribusi “untung-rugi” ini memperlihatkan adanya ketimpangan kekuasaan di dalam diri kita sendiri yang perlu segera direformasi.
Untuk mengatasi hal tersebut, kita membutuhkan sebuah revolusi ala Marx, tetapi ditujukan ke dalam diri. Jika menggunakan logika Marx, maka konflik tidak akan pernah selesai hanya dengan kompromi-kompromi kecil yang bersifat kosmetik. Perubahan harus dibarengi dengan perubahan struktur fundamental yang ada dalam batin kita. Artinya, ini bukan sekadar upaya “menahan emosi”, tetapi cara mengubah siapa yang memegang kemudi kepemimpinan di dalam diri: dari yang tadinya reaktif menjadi sadar, dari yang tadinya sekadar insting menjadi nilai-nilai luhur, dan dari yang tadinya dikuasai Ego menjadi dikuasai oleh kesadaran murni. Perubahan ini bersifat fundamental karena menyentuh akar dari cara seseorang mengambil keputusan dan memandang dunianya.
Dalam menempuh jalan revolusi internal ini, kita juga harus tetap hati-hati. Ini bukan berarti kita harus menjadi anti-tubuh atau menafikan kebutuhan material. Marx pun tidak pernah mengatakan bahwa materi itu jahat. Beliau menekankan bahwa struktur yang timpang itulah yang menjadi masalah utama. Dalam diri manusia pun sama: Tubuh tidak salah, nafsu tidak salah, dan emosi pun tidak salah. Justru yang menjadi masalah adalah kalau mereka memerintah secara absolut tanpa ada kontrol dari kesadaran. Keseimbangan menjadi kunci utama, bukan penolakan ekstrem terhadap salah satu sisi kemanusiaan kita.
Sebagai penutup dengan kesimpulan yang tajam, jika hal ini diringkas: Konflik global adalah konflik kepentingan materi, sedangkan konflik batin adalah konflik dorongan hasrat. Keduanya memiliki pola yang sama, yaitu perebutan kontrol dan kekuasaan. Dan seperti halnya dunia internasional: Damai bukanlah berarti ketiadaan konflik sama sekali, melainkan adanya kesadaran yang cukup kuat untuk mengelola kekuatan-kekuatan yang saling bertabrakan tersebut agar tidak saling menghancurkan. Dengan demikian, resolusi sejati bukanlah dengan menghilangkan konflik dari muka bumi atau dari dalam hati, melainkan dengan mengelolanya melalui kesadaran yang lebih tinggi dan bijaksana.
Sekian Terimakasih
Salam damai sehat bahagia…
Bandung, 29.April.2026









