Menala Ulang Tradisi: “Nalamoteka” dan Ketegangan yang Produktif

nalamoteka 5

Pentas Nalamoteka di Gedung Majestic Braga, Bandung, dok. foto Ayah Doddy

Bandung | Pada Sabtu, 17 April 2026, di Gedung Majestic Braga, Bandung, Dedy Satya Hadianda menghadirkan Nalamoteka. Sebuah komposisi yang secara sadar berupaya menegosiasikan ulang relasi antara ontologi tradisi kacapi Sunda dengan dialektika musik kontemporer. Sejak awal, pertunjukan ini menolak konvensi presentasi musik yang “rapi dan siap saji”. Prolog dibuka dengan proses penalaan di atas panggung—sebuah gestur sederhana namun secara konseptual sangat kuat. Di sini, bunyi tidak hadir sebagai produk akhir yang statis, melainkan sebagai sebuah proses pencarian eksistensial yang terus berlangsung.

Bagian awal pertunjukan masih memperlihatkan jejak-jejak idiomatik tradisi, seperti warna petikan pada Kacapi Suling. Namun, alih-alih merawat kenyamanan bentuk tersebut, Nalamoteka secara perlahan meretakkannya melalui repetisi yang tidak lazim, jeda yang memanjang (silence), serta pergeseran rasa yang subtil. Puncak pertunjukan ini memanifestasikan makna “moteka” yang sesungguhnya: sebuah kerja kreatif yang cair dan transformatif. Di titik ini, kacapi tidak lagi diperlakukan semata sebagai instrumen tradisional yang terikat pakem, melainkan sebagai sumber bunyi murni yang terbuka bagi berbagai kemungkinan teknik dan pendekatan inkonvensional.

mayestik etik
Pentas Nalamoteka di Gedung Majestic Braga, Bandung, dok. foto Ayah Doddy

Tentu saja, eksplorasi radikal ini membawa konsekuensi estetik yang berisiko. Pada beberapa fragmen, intensitas eksperimental cenderung mendominasi panggung, sehingga “rasa” khas Sunda yang biasanya hadir dalam kehalusan dinamika sempat tereduksi menjadi tekstur bunyi semata. Namun, reduksi ini tidak seharusnya dibaca sebagai kegagalan; melainkan sebuah dekonstruksi yang diperlukan untuk mencapai rekonstruksi bahasa baru. Kekuatan utama Nalamoteka justru terletak pada keberaniannya untuk tidak memberikan resolusi final. Bagian penutupnya menghadirkan semacam “penalaan ulang”—sebuah kondisi ambang (liminalitas) di mana yang lama dan yang baru tidak lagi dipertentangkan, melainkan saling mengisi dalam ketegangan yang produktif.

Sebagai sebuah karya, Nalamoteka mungkin tidak selalu memberikan kenyamanan audiotif. Namun, justru di situlah letak relevansinya: ia membuka ruang bagi kemungkinan baru dalam membaca musik kacapi Sunda bukan sebagai warisan yang membeku, melainkan sebagai praktik hidup yang terus bergerak dan dinegosiasikan.

Antara Rasa dan Eksperimen

Nalamoteka adalah karya yang lahir dari kesadaran diri yang tinggi. Ia memahami bahwa tradisi bukanlah dogma yang harus dipuja tanpa kritik, namun juga bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan tanpa akar. Hal yang paling krusial adalah Dedy tidak memulai karyanya dari ambisi dangkal untuk sekadar menjadi “kontemporer”, melainkan berangkat dari upaya filosofis dalam menala. Kesadaran ini sangat terasa; ada kesabaran dalam membangun bunyi, serta pemahaman bahwa setiap nada sesungguhnya memikul beban sejarah dan memori rasa yang dalam.

Namun, pada titik tertentu, karya ini tampak tergoda untuk melangkah sangat jauh dalam eksplorasinya. Ketika instrumen kacapi mulai kehilangan jejak idiomatiknya secara total, muncul pertanyaan reflektif: apakah ini masih merupakan sebuah negosiasi, atau sudah menjadi sebuah pemutusan? Namun, justru dalam ketidakpastian antara “negosiasi” dan “pemutusan” itulah nilai penting karya ini berada. Keberanian membawa tradisi ke wilayah yang “tidak nyaman” adalah langkah dekolonialisasi atas kemapanan telinga kita sendiri.

Bagian paling berhasil dari Nalamoteka adalah ketika tercapai titik keseimbangan, yaitu saat fragmen tradisi muncul kembali dalam bentuk yang telah bermetamorfosis. Di sanalah terasa bahwa yang terjadi bukan sekadar eksperimen bunyi, melainkan sebuah transformasi spiritual atas materi tradisi. Karya ini mungkin belum sepenuhnya “selesai” sebagai sebuah bahasa baru yang baku, namun justru ketidaktuntasan itulah yang membuatnya tetap bernapas sebagai sebuah kemungkinan. Dalam konteks kekaryaan musik kacapi Sunda hari ini, apa yang diupayakan Dedy Satya Hadianda adalah sebuah tonggak penting yang menegaskan bahwa tradisi tidak pernah berhenti di masa lalu.

Simpul

Secara keseluruhan, Nalamoteka tampil dengan konsep yang kokoh dan keberanian yang patut diapresiasi, meski di beberapa fragmen masih terdapat pergulatan dalam menjaga keseimbangan rasa. Namun, justru “kegoyahan” tersebut membuktikan bahwa karya ini adalah sebuah organisme hidup, sebuah langkah awal yang esensial menuju horison musikal masa depan.

Sekian dan terima kasih.
Salam Kreativitas,

Bandung, 20 April 2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *