RUNTUHNYA MANDALA BATIN DALAM SIRKUS DIGITAL

mandala batin kosapoin.com

Dalam bentang peradaban yang kian bising, kita sedang menyaksikan pergeseran metode penundukan yang paling halus sepanjang sejarah manusia. Jika di masa lampau penguasa membungkam rakyat dengan paksaan diam, penguasa modern justru melakukannya dengan memaksakan keriuhan yang tak berkesudahan. Kita tidak lagi dilarang bicara; sebaliknya, kita didorong, bahkan dipaksa, untuk terus bersuara, berdebat, dan memproduksi konten hingga suara yang benar-benar esensial tenggelam dalam lautan informasi sampah. Inilah sensor gaya baru: bukan dengan menghapus kata-kata, melainkan dengan menimbun kebenaran di bawah tumpukan trivialitas yang viral.

Secara historis, fenomena ini adalah evolusi dari strategi Panem et Circenses atau “Roti dan Sirkus” yang disempurnakan di era Romawi kuno sebagai instrumen kendali massa. Para Kaisar memahami bahwa rakyat yang terhibur oleh darah dan tontonan kolosal di Koloseum tidak akan sempat mempertanyakan korupsi yang membusuk di Senat. Perlu dibedakan bahwa keriuhan hari ini bukanlah kebisingan demokrasi yang sehat di mana setiap orang berdaulat atas suaranya. Sebaliknya, ini adalah kebisingan pabrikan yang terorkestrasi secara algoritmis. Jika Koloseum adalah arsitektur pengalihan fisik, algoritma dan pasukan pendengung digital adalah “Koloseum mental” yang dirancang untuk membuat publik tetap terpaku pada layar—bukan sebagai warga negara yang kritis, melainkan sebagai konsumen emosi yang mudah dikendalikan. Romawi runtuh bukan karena kekurangan hiburan, melainkan karena mereka mengabaikan naskah keadilan demi menjaga kemegahan panggung sandiwara.

Dalam perspektif ontologis, pengalihan ini adalah penghancuran sistematis terhadap kemampuan manusia untuk berefleksi. Tradisi Sunda mengenal konsep Ngaji Diri—sebuah proses pencarian kebenaran dengan menyelami mandala batin sebelum melangkah ke mandala luar. Falsafah ini mengajarkan bahwa hirup teh kudu mulasara rasa, bahwa hidup harus memelihara kedalaman rasa dan logika. Ajakan untuk kembali pada kejernihan batin melalui Ngaji Diri bukanlah pelarian elitis atau sikap anti-teknologi, melainkan sebuah keharusan purba. Justru di tengah rimba digital yang manipulatif, Ngaji Diri menjadi kompas strategis agar perlawanan tidak sekadar menjadi reaksi emosional yang mudah dipadamkan oleh mesin. Tanpa kedaulatan berpikir yang berakar pada batin, masyarakat hanya akan menjadi massa yang reaktif, digerakkan oleh provokasi pendek yang ditulis oleh para “penyair istana” digital—sosok-sosok yang bertugas menjaga panggung agar tetap berkilau meski di baliknya terjadi pembusukan nilai etik yang akut.

Kekuasaan hari ini ibarat pohon yang daunnya sangat rimbun tetapi tak berakar. Ia tampak megah dalam narasi media sosial, akan tetapi keropos dalam substansi moral. Dalam kosmologi masyarakat adat, terdapat penghormatan mutlak terhadap Leuweung Kaulon atau hutan titipan yang suci dan tak boleh diganggu. Hutan ini adalah rambu, pedoman, dan batas yang harus dipatuhi sebagaimana kitab suci memandu kehidupan. Jika hutan kebijaksanaan ini dibabat habis demi membangun panggung pertunjukan yang riuh, keseimbangan kosmos akan runtuh. Begitu pula dengan negara; ketika kecepatan viral lebih dihargai daripada ketepatan berpikir, peradaban akan runtuh menjadi tontonan tanpa isi. Kita tidak sedang membenci kemajuan; kita sedang menggugat liturgi kebisingan yang menjadikan teknologi sebagai berhala untuk menutupi jeritan ketidakadilan di kursi-kursi gelap yang tak terjangkau lampu sorot panggung.

Kedaulatan sejati seorang pemimpin dalam kearifan Sunda diukur dari kemampuannya menjalankan prinsip Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur Pangker. Namun, ketika panggung kekuasaan hanya diisi oleh kepintaran memoles citra tanpa kebenaran substansial, yang terjadi adalah hilangnya Wahyu Cakraningrat. Kekuasaan yang telah kehilangan kompas moralnya akan selalu merasa terancam oleh kesunyian rakyatnya, sehingga mereka terus memproduksi kebisingan melalui para pendengung. Padahal, falsafah Sunda mengingatkan kita akan pentingnya Kudu akur jeung dulur, kudu panceg dina galur. Jika jalur (galur) kebenaran dikhianati demi kepentingan panggung sesaat, maka kehancuran hanyalah soal waktu. Panggung Romawi telah membuktikannya, dan panggung digital pun tidak akan luput dari hukum semesta yang sama.

Di tengah kepungan sirkus digital ini, kesunyian seharusnya tidak lagi dipandang sebagai kepasifan atau ketakutan. Di titik inilah diam menjadi tindakan revolusioner—sebuah momen untuk berhenti sejenak, keluar dari irama musik yang dimainkan penguasa, dan menyusun kembali strategi yang jujur. Membangun “arsitektur kesunyian” di dalam pikiran adalah cara untuk memastikan bahwa tindakan kita kelak bukan sekadar gema dari skenario orang lain, melainkan sebuah daya pukul otentik dari manusia yang merdeka. Sebagaimana Roma yang akhirnya runtuh meski kaisarnya terus menyajikan tontonan gladiator, kekuasaan yang hanya bertumpu pada bisingnya panggung pun akan menghadapi titik jenuh. Walakin, hanya dalam kesunyian yang jernih, kita bisa mendengar kembali detak jantung kebenaran yang selama ini disembunyikan.

Sebagai pungkasan, sejarah tidak akan pernah ditulis oleh mereka yang paling keras berteriak mengikuti arahan sutradara, melainkan oleh mereka yang mampu tetap berpikir mandiri ketika panggung dunia sedang roboh karena kehilangan akal sehatnya. Kebenaran memiliki jalannya sendiri yang tak bisa dibendung oleh algoritma mana pun. Falsafah Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok bukan sekadar pepatah tentang kesabaran, melainkan tentang keteguhan prinsip yang konsisten. Tetesan air kejernihan nalar yang terus-menerus diuji oleh kerasnya dinding keangkuhan panggung kekuasaan, kelak akan mampu menembus dan melubangi keangkuhan tersebut. Romantisme terhadap nilai tradisi adalah kitab suci yang menjaga kita agar tetap menjadi manusia, bukan sekadar bidak dalam catur dramaturgi kekuasaan yang fana. Kejernihan adalah keberanian, dan dalam kesunyian yang berdaulat, revolusi akal sehat dimulai. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *