Garis-Garis Patah yang Mengenal-Mu

essai Doni Muhamad Nur Garis Garis Patah yang Mengenal Mu kosapoin.com

Di tepi Curug Cigaru, ada sebuah titik di mana bahasa menyerah dan hanya menyisakan keruntuhan; di sanalah aku menemukan bahwa menjadi pecah adalah satu-satunya cara untuk benar-benar sampai.[Lintang Ismaya]

Sekadar Catatan Batin
Malam ini ada sesuatu di dalam diriku yang tidak pernah benar-benar selesai. Sesuatu yang terus saja mengganjal dan menolak untuk diam. Aku menyebutnya endapan. Ia bukan sekadar ingatan biasa; ia adalah sisa-sisa perasaan yang pernah hidup begitu hebat, tapi tidak sempat diselamatkan oleh bahasa. Pengalaman ini muncul tiba-tiba sebagai massa yang berat di dasar kesadaranku, menekan sampai tubuhku merasakannya sebagai sesak yang tidak punya pusat.

Sebelum melangkah lebih jauh ke arah gemuruh air, aku duduk sebentar di emperan pesantren yang dingin, menggenggam gelas seng yang mulai menghangat oleh telapak tangan. Aku datang membawa sisa-sisa diriku dari kota—sebuah belantara yang menuntut segalanya harus terukur dan masuk akal. Aku mencoba melampaui puisi-puisi lamaku yang dulu habis hanya untuk mengeja deretan nama yang pernah singgah di hati. Aku sadar sekarang, nama-nama itu sebenarnya adalah garis-garis patah yang sedang menuntunku pulang ke sini, ke Cigaru.

Sekarang, di hadapan gelas seng ini, aku tidak lagi ingin mengaduk rindu pada manusia. Aku memaksanya berbalik arah. Proses ini rasanya persis seperti sendok yang tidak lagi bertugas mengaduk kopi saset, tapi mulai menyentuh endapan gula yang kasar dan belum larut di dasar gelas yang gelap. Di titik inilah, hitungan-hitungan masa lalu itu mendadak muncul kembali sebagai angka yang tak kunjung genap:

ALGEBRA OF SOUL


Saat sendiri, sunyi mengerut di sebalik dada
Hening menekan—ruang melipat dirinya menjadi sunyi yang paling purba
Orbita ingatan berulang, kurva menolak pulang ke muara
Fana merayap, menggerus tepi-tepi diri yang kian rapuh
Itulah aku—pecahan tak terhitung yang tersisa di antara reruntuhan

Yang lahir dari patahan koordinat, tak kunjung genap oleh doa
Ujung kesadaran mengabur di cakrawala variabel yang rahasia
Napas meluruh, mengikuti lengkung usia yang menua dalam diam
Ingatan menolak kembali ke titik nol yang kaku dan dingin
Kalkulasi jiwa kehilangan tanda, menyerah pada sisa-sisa rasa
Aku kembali sebagai residu yang tak sempat dieja oleh angka-angka

Aku muncul di sela retak yang tak bernama, serupa embun di batu hitam
Riak yang tersangkut di orbit yang patah, kehilangan daya untuk melayang
Ingatan menyusun ulang diriku yang tercecer di arus air terjun itu
Napas menulis ulang arah yang tak pernah usai, sebuah jalan tanpa ujung

Erang menjelma garis patah yang merdu di telinga malam
Riuh yang runtuh menyisakan gema yang belum tuntas dibisikkan
Irama berdenyut di sela-sela ruang yang tak bernama
Kesadaran datang sebagai retak yang memancarkan cahaya langit
Aku pecah—dan di dalam serpihan itu, aku menemukan diriku kembali

Bintang adalah sisa cahaya yang gagal menjadi pagi yang benderang
Embun malam berakar di tulang, tumbuh menjadi hutan rahasia
Nyanyian yang meluruh, entah angin atau darah yang lebih dulu sampai
Ingatan berbalik arah, meninggalkan namaku di tepi tebing yang curam
Napas semesta menulis tanpa huruf, hanya dengan detak batin
Gerak yang tulus, melampaui batas-batas tubuh yang fana

Aku menakar kembali, tapi kian lenyap titik asal tempatku bermula
Nyaris gelap tumbuh dari setiap langkah yang kupilih dengan gemetar
Ingin tersesat tepat ketika jarak antara aku dan-Mu melebur jadi satu
Titik hilang, larut dalam tak terhingga yang mahaluas dan teduh
Apakah ini ujung, saat segala ukuran tak lagi berarti apa-apa?

Yang tersisa dari rindu adalah rintik yang tak kunjung reda
Untuk setiap luka yang belum sempat dikecup oleh bibir doa
Menolak diam, membiarkan waktu bocor dari sela-sela jemari
Inilah aku—sisa yang tetap belajar jatuh menjadi air yang tulus

Aku tak lagi menyusun jalan pulang yang fana dan penuh debu
Nama luruh sebelum sempat dikenali oleh gema di lembah ini
Tubuh runtuh tanpa sisa bentuk, menyisakan nyawa yang murni
Entitas yang hilang, larut ke satu pusat pelukan yang abadi
Napas terakhir pun bukan lagi milikku, melainkan nafas-Mu

2010

Melanjutkan Langkah
Setelah seluruh nama itu tertuang dan menyisakan getir di lidah, aku melangkah menuju tebing Curug Cigaru. Aku melihat kebenaran yang sederhana: air itu harus jatuh dan pecah untuk bisa sampai ke bawah. Menulis bagiku adalah kesediaan untuk menjadi hancur tanpa sisa. Aku harus memiliki keberanian untuk benar-benar runtuh—seperti air terjun di hadapanku ini—sebelum aku mampu menyusun kembali puing-puing batin ini.

Di sini, di tepi kesunyian ini, ikan-ikan puisi itu muncul secara perlahan, sangat malu-malu. Mereka tidak pernah menampakkan diri dalam keadaan yang utuh. Aku dipaksa menunggu dengan sabar, membiarkan mereka berenang di sela-sela gemuruh air. Sifat yang liar itulah yang membuatku menyebutnya sebagai puisi. Ia menjadi puisi justru karena ia menolak kutangkap sebagai benda yang sudah jadi dan selesai. Hingga pada satu titik, aku menyerahkan namaku sendiri kepada arus, membiarkan identitas Lintang Ismaya hancur menjadi serpihan abjad yang terdokumentasi dalam detik-detik peluruhannya:

DOKUMEN DARI SEBUAH NAMA


Luruhlah segala yang pernah aku dekap dengan angkuh
Ingin menjadi debu yang menari di sela cahaya senja
Napas ini bukan lagi milikku, ia mengalir menuju-Mu
Tak ada lagi dermaga, hanya laut yang tak bertepi
Aku mencair, menyatu dengan gemuruh air terjun itu
Nyanyian jiwaku kini sunyi, tak perlu lagi kata-kata
Gerakku adalah getar daun yang pasrah pada angin

Inilah akhir dari sebuah pengembaraan yang panjang
Segala rahasia telah tersingkap di balik retakan batin
Masuki aku ke dalam keheningan yang paling purba
Asal dari segala muasal, tempat namaku tak lagi berbunyi
Yang fana telah tamat, terbakar oleh rindu yang maha
Aku hilang—dan hanya di dalam hilangnya diriku, aku sampai.

Aku tidak lagi menyusun jalan pulang. Ketika nama-nama telah luruh dan titik asal benar-benar lenyap dari pandanganku, aku membiarkan ikan-ikan itu berenang bebas tanpa perlu lagi kuberi beban. Aku sengaja membiarkan egoku runtuh agar aku tidak lagi menemukan diriku, melainkan benar-benar hilang dan sampai pada-Mu. Segala garis patah itu ternyata tidak pernah sia-sia; mereka adalah jahitan tak kasatmata yang menyatukanku pada keabadian yang sunyi.

[Pesantren Al Iman-Cigaru, 2010 – Refleksi menjelang pelaminan melati, 2015]

KOLONI KEKUASAAN
Baca Tulisan Lain

KOLONI KEKUASAAN


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *