BUNGA HAIKU Lyrik: Diro Aritonang(Source: kosapoin.com/puisi-diro-aritonang-12)
Wahai bunga haiku Menanam cinta Menanam kasih Mengajar kata Nyanyikan pedih Oh bunda terkasih Kau memohon maaf Akan kepergianmu Betapa bijaknya dirimu(Source: kosapoin.com/puisi-diro-aritonang-12)
Sedih oh sedih Perih oh perih Betapa hati ini Begitu sunyi Bunga haiku telah pergi Wanginya abadi Surga tidurmu kini(Source: kosapoin.com/puisi-diro-aritonang-12)
Wahai bunga haiku Bungakan cinta Bungakan kasih Mengajar makna Nyanyikan sedih Oh bunda terkasih Kau memohon maaf Akan kepergianmu Betapa bijaknya dirimu(Source: kosapoin.com/puisi-diro-aritonang-12)
Sedih oh sedih Perih oh perih Betapa hati ini Begitu sunyi Bunga haiku telah pergi Wanginya abadi Surga tidurmu kini(Source: kosapoin.com/puisi-diro-aritonang-12)
Diro Aritonang, lahir 3 April 1957 di Kota Kalianda, Lampung Selatan, penyair progresif ini mantan watawan Pikiran Rakyat. Adalah pelopor haiku di Indonesia, kini sebagai Presiden HaikuKu Indonesia. Alumini Fak. Sastra Unpad dan Sekolah Tinggi Filsafat Suryagung Bumi Bandung ini, telah menerbitkan Buku Puisi tunggalnya: “Kesadaran” (1980), “Penyair Bawah Tanah” (1981), “Akar Rumputan” (1996), “The Song of Krakatoa” (Deepublish, Yogyakarta 2014), “The Sound of Silence” (Bandung, Postaka HaikuKu, 2016), “Puitika Hitam” (Bandung Pustaka HaikuKu, 2020), Kumpulan tulisan “Jagat Haiku” (Bandung, Pustaka HaikuKu, 2017) dan puluhan antologi puisi bersma. Serta buku laporan jurnalistiknya “Runtuhnya Rezim daripada Soeharto, Rekaman Perjuangan Mahasiswa Indonesia 1998” (Pustaka Hidayah, 1999).
Apakah artikel ini membantu?
Terima kasih atas umpan balik Anda!(Source: kosapoin.com/puisi-diro-aritonang-12)
SURAT CINTA(Source: kosapoin.com/puisi-diro-aritonang-12) Malam turun perlahan menyapa kebeningan, serupa doa menetes dari langit. Aku duduk di tepian sunyi, memanggil satu…
M U B A Z I R(Source: kosapoin.com/puisi-diro-aritonang-12) Mempertentangkan antaraMubazir dengan hematAdalah mubazirRuang tamu yang jarang di kunjungi tamu_ apakah…
Trilogi seni—yang biasanya mencakup Seni Rupa (Visual), Seni Bunyi/ Musik (Audio), dan Seni Pertunjukan/Sastra (Narasi) – memiliki kekuatan “Terapeutik” yang…