Dialektika di Atas Kardus Basah

cerpen DIALEKTIKA DI ATAS KARDUS BASAH kosapoin

Aku duduk sendirian di atas tumpukan kardus basah yang mulai mengeluarkan bau apek di pinggir kali. Pandanganku tertuju pada langit kelabu yang merangkak pelan di atas gedung-gedung tinggi. Aku memperhatikan awan-awan itu dengan rasa iri yang menusuk; mereka bergerak tanpa beban, tanpa tagihan, dan tanpa perlu memikirkan cicilan kartu kredit yang jatuh tempo besok pagi. Aku ingin bebas seperti itu, tapi nyatanya aku terjebak di sini, di antara lumpur dan sisa buangan manusia, demi sebuah kata bernama kemerdekaan yang harganya ternyata sangat mahal.

Di sekelilingku, gunungan sampah plastik dan botol penyok menjadi teman bicara yang paling jujur. Aku memungut sebuah botol kaca kusam, lalu aku mengusap lumpurnya pelan dengan segenap buku-buku jariku yang sudah pecah-pecah karena kerja keras. Sebenarnya, aku adalah bandar rongsokan yang punya lapak sendiri, tempat para pemulung biasanya menyetorkan hasil keringat mereka padaku. Namun, sudah tiga hari pasca-libur panjang lebaran berlalu, dan anak-anak buahku belum juga kembali dari kampung. Gudangku kosong melompong dan tak ada setoran masuk, sementara istri dan anakku masih liburan panjang di rumah orang tuanya dan berwisata ke pantai dan kota budaya. Istriku hanya mengabari dan mengirimi foto-foto keceriaannya lewat WhatsApp, seolah ia tak tahu bahwa aliran uangku sedang macet total tepat saat kebutuhan hedonisnya memuncak.

Sementara itu, aku sendiri sudah yatim piatu dan merupakan anak tunggal, sehingga aku tak tahu harus ke mana jika ingin balik kampung. Di keluarga istriku pun, aku tidak diterima dengan baik karena meskipun aku secara finansial sudah mapan, aku tetap dianggap miskin dan rendah di pandangan mereka. Ironisnya, mobil dan rumah mewah yang letaknya cukup jauh dari gudangku—meski masih satu kota—hanya dinikmati oleh istri, anak, satpam, dan pembantu rumah tangga. Aku sendiri hanya bisa pulang paling satu minggu sekali, itu pun jika pekerjaan memilah dan mengawasi rongsokan untuk dijual kembali ke bandar besar tidak sedang menumpuk. Di tengah kesunyian gudang, seringkali muncul pertanyaan pahit yang mengusik pikiranku: apakah saat aku sedang berjibaku di sini, istriku sempat memasukkan lelaki lain ke rumah itu? Kecurigaan itu menjadi kausalitas yang menghantui batin, tapi aku hanya bisa memendamnya sendiri.

Dulu, aku membaca buku-buku filsafat yang tebal dan bermimpi menjadi pemikir besar yang mengubah dunia dengan gagasan. Namun, nasib justru membawaku menjadi penguasa limbah peradaban karena realitas menuntutku untuk mencukupi gaya hidup istriku yang lahir dari keluarga konglomerat. Aku telah gagal menjadi filsuf di atas mimbar, tetapi aku berhasil menjadi penyokong hidup bagi wanita yang sejujurnya aku tidak tahu apakah dia benar-benar mencintaiku atau hanya mencintai kenyamanan yang kuberikan. Namun, anehnya, dia mau saja menjalani hidup denganku hingga kami memiliki anak. Hubungan kami adalah sebuah teka-teki yang tak terjawab; dia tetap bertahan di sisiku meski duniaku kotor, asalkan kebutuhannya akan kemewahan tetap terpenuhi.

Sudah tiga hari ini, aku terpaksa mendorong sendiri keranjang dorongku menyusuri aspal kota yang panas, sebuah rutinitas yang biasanya hanya aku saksikan dari balik meja gudang. Aku menatap orang-orang kantoran yang berjalan terburu-buru dengan perasaan ganjil; mereka mungkin menganggapku orang susah yang patut dikasihani, padahal sebagai bandar rongsokan, saldo bankku mungkin jauh melampaui total gaji mereka selama setahun. Aku mengalami stres di tengah kemapanan yang aneh; aku memiliki uang yang cukup, tapi jiwaku tetap terasa kopong karena seluruh energiku habis tersedot hanya untuk membiayai gengsi istriku yang tak ada habisnya.

Sore itu, aku menyempatkan diri singgah di taman kota untuk sekadar melepas lelah di bangku kayu yang catnya sudah mulai mengelupas. Sambil memijat kakiku yang pegal, aku menatap kerumunan orang yang tampak bahagia menghabiskan uang liburan mereka. Aku heran kenapa orang-orang begitu gigih mencari duit hanya untuk dihabiskan dalam sekejap. Mereka menjadikan wisata sebagai obat stres dan sumpek, padahal saat duit itu habis, mereka akan kembali stres menghadapi kenyataan. Sebuah siklus gila yang terus berulang. Aku bertanya kembali pada diriku sendiri tentang arti merdeka yang sesungguhnya. Apakah merdeka itu berarti aku boleh berhenti menjadi mesin uang bagi keluargaku, ataukah merdeka itu justru keberanian untuk tetap bertahan dan memulung di saat lapak bandarku sedang mati suri pasca-lebaran ini?

Tiba-tiba, aku mendengar suara kepakan sayap yang panik dari balik semak berduri di dekat gerobakku. Seekor burung kecil terjepit ranting, matanya menatapku dengan ketakutan yang murni seolah meminta pertolongan. Aku mendekat perlahan, lalu aku merenggangkan dahan berduri itu dengan hati-hati agar ia bisa terlepas dari siksaan. Begitu bebas, burung itu langsung melesat tinggi menembus langit senja tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Dadaku mendadak terasa ringan melihat pemandangan itu; aku menyadari bahwa burung itu tidak butuh alasan untuk ada, ia hanya perlu terbang dan terus hidup tanpa perlu pusing memikirkan omzet gudang rongsokan yang sedang mandek.

Malamnya, hujan deras mengguyur kota dan aku memilih tetap berdiri di tepi sungai membiarkan air membasahi wajahku yang lelah. Aku merenung di tengah kedinginan bahwa kebebasan sejati mungkin adalah saat aku berhenti membohongi diriku sendiri dan mulai menerima setiap beban ini sebagai bagian dari eksistensiku. Aku pulang ke kontrakan reyot yang merangkap gudang penyimpanan, tempat aku tidur beralaskan aroma rongsokan sementara keluargaku lelap di atas kasur mahal. Aku menatap pantulan wajahku di cermin kecil yang retak seribu, melihat sosok pria yang mapan secara finansial, tapi babak belur secara batin.

Aku tersenyum tipis pada bayangan itu karena aku tahu bahwa besok aku mungkin harus kembali memulung jika anak buahku belum juga menampakkan batang hidungnya. Aku harus memastikan istri dan anakku tetap bisa hidup layak, meski itu artinya aku harus terus berkubang di antara tumpukan kardus basah sementara rasa curiga itu terus menari di kepalaku. Aku membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin malam masuk memenuhi ruangan sempitku. Di kejauhan, aku membayangkan burung kecil tadi masih terbang bebas. Aku menutup mata sejenak, merasakan sedikit demi sedikit makna merdeka mulai meresap ke dalam jiwaku yang letih. Merdeka itu ternyata adalah aku sendiri—seorang bandar rongsokan yang gagal jadi filsuf, yang terjebak dalam cinta yang penuh tanya dan kecurigaan, tapi tetap memilih untuk tidak menyerah pada hidup. Aku memang tidak sempurna, tapi setidaknya aku masih ada di sini. Dan itu sudah cukup. []

PERANG DINGIN
Baca Tulisan Lain

PERANG DINGIN


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *