Lebaran dan Krisis Kepemimpinan

essai doni muhamad nur untuk kosapoin.com 1

Belakangan ini, jujur saja, hati saya sering merasa gelisah. Saya kerap bertanya dalam diam: mengapa kita semakin sulit percaya kepada pemimpin? Hampir setiap hari, mata kita disuguhi berita tentang korupsi dan pamer kekuasaan. Rasanya bukan hanya mengecewakan, tetapi juga melelahkan. Di satu sisi, kita merayakan Lebaran dengan penuh suka cita. Namun di sisi lain, ada perasaan yang mengganjal. Apakah kita benar-benar sudah kembali bersih? Atau jangan-jangan kita hanya merayakan tanpa benar-benar memahami maknanya?

Bagi saya, Lebaran seharusnya menjadi tempat pulang. Kita kembali menjadi manusia yang jujur, adil, dan punya hati. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang, bahkan para pemimpin, justru terjebak dalam kepentingan diri sendiri. Dalam kegelisahan itu, saya teringat pada pemikiran Aristoteles yang mengatakan, “Menguasai diri sendiri adalah kemenangan terbesar.” Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat menampar. Sebab sering kali, masalah utama pemimpin bukan karena mereka tidak cerdas, melainkan karena mereka tidak mampu menahan keserakahan dalam dirinya. Katakanlah, saat Lebaran tiba, kita saling berjabat tangan dengan tulus. Kita mengakui kesalahan dan meminta maaf dengan hati terbuka. Momen itu terasa begitu jujur. Kita sadar bahwa kita adalah manusia yang tidak luput dari salah. Namun saya sering bertanya, mengapa kejujuran seperti ini justru jarang terlihat dalam dunia kepemimpinan? Mengapa mengakui kesalahan dianggap sebagai kelemahan? Padahal Mahatma Gandhi pernah berkata, “Kebenaran adalah inti dari moralitas.” Tanpa kejujuran, jabatan setinggi apa pun hanya akan menjadi topeng yang rapuh.

Dunia kita hari ini terasa panas oleh perbedaan. Perbedaan yang seharusnya memperkaya, justru sering dijadikan alat untuk memecah. Namun Lebaran hadir seperti pelukan yang menenangkan. Saya melihat orang-orang yang berbeda pandangan bisa kembali duduk bersama. Mereka saling memaafkan dengan tulus. Di situlah saya merasa letak kekuatan Lebaran yang sebenarnya. Nelson Mandela pernah mengatakan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mempersatukan. Dan Lebaran, dengan cara yang sederhana, justru mengajarkan hal itu secara nyata. Jika saya tarik ke konteks bangsa kita, pemikiran ini terasa sangat dekat dengan Soekarno. Ia selalu menekankan bahwa persatuan adalah jiwa bangsa. Tanpa persatuan, bangsa ini akan mudah goyah. Nilai itu tidak hanya hidup dalam pidato, tetapi juga dalam kebiasaan sehari-hari. Saat kita bersilaturahim, saling mengunjungi, dan saling memaafkan, sebenarnya kita sedang menjaga Indonesia tetap utuh—dengan cara yang sederhana, tetapi bermakna dalam.

Jika kita melihat lebih jauh dalam sejarah, kita sebenarnya sudah memiliki contoh nyata tentang kepemimpinan yang adil dan mempersatukan. Hal ini dapat kita lihat dalam Piagam Madinah yang disusun setelah Hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Pada masa itu, kaum Anshar dengan tulus membantu kaum Muhajirin untuk memulai kehidupan baru. Mereka berbagi harta, tempat tinggal, dan rasa aman. Dari proses itu, lahirlah sebuah tatanan masyarakat yang dibangun di atas nilai keadilan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Kajian dari Muhammad Hamidullah menunjukkan bahwa Piagam Madinah menjadi salah satu bentuk awal konstitusi yang mengatur kehidupan masyarakat secara adil dan setara.

Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya. Ketimpangan sosial masih sangat nyata di sekitar kita. Ada yang hidup dalam kemewahan, tetapi ada pula yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Dalam situasi seperti ini, makna zakat menjadi sangat penting. Zakat bukan sekadar memberi, tetapi juga menghadirkan keadilan. John Rawls berbicara tentang keadilan yang melindungi mereka yang paling lemah. Dan di situlah, menurut saya, letak ujian terbesar seorang pemimpin. Saya kemudian teringat pada Mohammad Hatta, sosok yang hidup sederhana dan berpikir jauh ke depan. Baginya, kemerdekaan tidak akan berarti jika rakyat masih hidup dalam kesulitan. Nilai itu sebenarnya sudah kita kenal dalam Lebaran—melalui zakat dan kepedulian. Tinggal bagaimana nilai tersebut benar-benar diwujudkan dalam kebijakan, bukan sekadar menjadi simbol. Di tengah semua itu, saya merasa empati semakin langka. Banyak keputusan dibuat berdasarkan data dan target, tetapi melupakan manusia di balik angka-angka itu. Dalai Lama pernah mengatakan, “Cinta dan kasih sayang adalah kebutuhan.” Kalimat itu sederhana, tetapi mengingatkan kita bahwa manusia tidak hanya butuh kebijakan yang benar, tetapi juga kepedulian yang nyata.

Kita juga bisa melihat contoh nyata dalam kehidupan sekarang. Pada periode akhir 2023 hingga 2024, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Gielbran Muhammad Noor, menyampaikan kritik terbuka terhadap pemerintah di berbagai forum publik. Kritik tersebut menyoroti kondisi demokrasi dan keberpihakan kebijakan kepada rakyat. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu datang dari jabatan tinggi, tetapi juga dari keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Lalu saya kembali bertanya, apakah Lebaran hanya akan menjadi perayaan yang berulang setiap tahun? Atau sebenarnya ia bisa menjadi titik awal untuk berubah? Barack Obama pernah mengatakan bahwa perubahan tidak akan datang jika kita hanya menunggu. Artinya, harapan akan kepemimpinan yang lebih baik bukan hanya tanggung jawab pemimpin, tetapi juga kita semua sebagai bagian dari masyarakat.

Di ujung perenungan ini, saya sampai pada satu kesadaran sederhana: Lebaran adalah cahaya. Martin Luther King Jr. pernah berkata bahwa “kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan; hanya cahaya yang bisa melakukannya.” Dan cahaya itu ternyata dekat—ia hadir dalam kejujuran, kepedulian, dan keberanian untuk berubah yang kita rayakan setiap Lebaran. Bagi saya, yang paling penting bukanlah seberapa tinggi jabatan seseorang, tetapi seberapa kuat ia menjaga nuraninya tetap hidup. Karena masa depan tidak ditentukan oleh mereka yang sekadar memegang kekuasaan, melainkan oleh mereka yang tetap memilih menjadi manusia—bahkan ketika kekuasaan mencoba mengubahnya. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *