PUISI Ayie S Bukhary

KOSONG

MERDEKA SEMBILU

Kita telah lama kena frank
Sejak lahir dijejali mitologi
Dosa besar bawaan jadi kesalehan
Ditambah cerita para mufassir dengan bumbu fantasi dan sanksi api neraka bila tak patuh
Belum lagi budaya feodal menambah getih dan daging
Lengkap sudah belenggu di leher
Menanamkan kekerdilan untuk sekedar memerdekakan pikiran sendiri
Hamparan luas telah menghijau sampai sumsum tulang belakang
Buhul buhul mengkristal Untuk menghancurkan pun sesulit ketakutan mati berakhir nestapa Kekuatan klaim berubah wujud otokrasi
Yang paling saleh penimbang hukum mutlak
Ditangannya bangunan istana pasir
Bangun dari tidur panjang sangat melelahkan
Benteng di luar makin kokoh
Sadar berarti dikuliti belati Berani dijauhi ?

Bandung, 1932026 – 29 Ramadhan 1447 H

PUISI-PUISI Rachman Sabur
Baca Tulisan Lain

PUISI-PUISI Rachman Sabur

SERIBU BULAN TERANG

Kesadaran mengamati dalam diam
Sementara pikiran berdialog dengan ketakutan yang mencekam
Berpola pada masa lalu Masa kini bertalu talu
Masa datang bersengketa dengan ragu
Semua dari produk terpola
Sampai pada penilaian di kepala
Merampas kemerdekaan berbicara
Nampak jelas wajah brutal
Memainkan kanal dangkal Ini harus diakhiri stempel kematian sebelum maut
Tidak bisa dengan cemberut manggut manggut
Harus dibuka dialog di altar sunyi
Biar nilai almarhum tergelar dengan mesti
Memasang tiara bertahta batu mulia
Tempat ziarah yang ikhlas berkaca
Dialog harus terus terurus
Tanpa jeda berusaha becus
Gembok pikiran harus dibongkar
Membuka pintu pemahaman sadar
Cahaya adalah tanda siar
Berani jadi energi edar
Memahami kesadaran dialog panjang
Memilih dan memilah ruang Pengembalian hidup berjenjang
Tetap lurus di jalan lempang Seribu bulan bulan terang

Bandung, 1832026 – 28 Ramadhan 1447 H

PUISI Ayie S Bukhary
Baca Tulisan Lain

PUISI Ayie S Bukhary

PRESTISIUS

Kita adalah cerita itu sendiri
Penulis sekaligus pelakon dan sutradaranya
Antagonis dan protagonis dalam alur
Sekitar kita tidak lebih dari pelengkap catur
Memerankan diri sendiri sesuai posisi profesi
Bahkan jadi yang tidak diinginkan sekalipun tidak semudah karakter jadi
Rumit penuh dengan pergolakan pikiran
Mengaduk ngaduk hidup hanya untuk sekelumit kesadaran
Penuh dengan improvisasi tanpa merusak naskah yang ditulis sendiri di kesunyian
Susah payah membersihkan taqlid yang berakar kuat
Tidak lagi jadi intimidatif
Walau harus melawan dan kembali pada titik nol
Usia hanya hitungan
Masih ada cerita perlawanan
Tidak remeh
Tidak juga jerih
Getih masih warna merah untuk penulisan
Melakoni peran manusia dengan benar

Bandung 1732026 – 28 Ramadhan 1447 H

PUISI Bambang Oeban
Baca Tulisan Lain

PUISI Bambang Oeban

TETAP JADI

Gelap tidak perlu cahaya menampakan keberadaan luasnya
Cahaya tidak pernah mendeklarasikan dirinya dengan batas jelas
Pandangan yang mendistorsi keberadaan
Seperti pengadil memvonis
Telah jauh kita terintimidasi dan terdistorsi
Semua terpola telah lama
Dan lahir prasangka dari salah baca
Jadi kerdil melakoni hidup sekaligus jumawa
Bentukan terbaca algoritma jadi DNA
Mengembalikan kegelapan pada yang semestinya dan juga cahaya
Sekedar pengembalian kemerdekaan kesadaran
Sesulit dan semudah kerja keras
Tidak ada target bidikan tepat sasaran
Kejelasan mengungkap proporsional
Seperti menempatkan pada tempatnya
Cahaya dan kegelapan tidak tumpang tindih
Dan memang bukan jenis yang sama
Seperti air dan minyak
Walau berada dalam dua sisi mata koin
Mengurai pixel dengan cahaya
Menyelam kegelapan berujung misteri
Kemampuan berpikir siapa yang punya
Kalau bukan kita jadi pembeda
Tetap jadi manusia tidaklah istimewa

Bandung, 1432026 – 23 Ramadhan 1447 H

KOSONG

Bila shaum hanya untuk peralihan waktu makan
Bukan untuk mengendalikan nafsu bawaan
Maka tidak akan tergambar di meja makan yang serba tersedia
Bahkan melebihi dari keperluan keseharian
Sesudahnya mubazir terbuang ke tong sampah
Letak untuk mawas diri akan pangan masih jauh untuk diapresiasi Jauh jejak puasa sebelum disakralkan dan dijadikan kewajiban dari mitologi
Keberadaan manusia dibacanya dalam hening itikaf
Tumbuh kesadaran keterikatan diri disini dan diri disana
Tetesan tersirat di permukaan sahaja
Perilaku rahmatan alam bertubuh dan tumbuh beradius
Bila tidak
Maka haus dan lapar setan terlepas bebas Itu puasa kosong isi
Bau mulut kosong gizi

Bandung, 1332026 – 23 Ramadhan 1447

PUISI De Eka Putrakha
Baca Tulisan Lain

PUISI De Eka Putrakha

UNTUK NILAI

Malam lailatul qadar satu sisi dari mata koin dengan nuzulul qur’an sisi lainnya
Paripurna dari bacaan yang dipahami dan diartikan dengan pola laku
Satu ayat yang dipahami dan membumi lebih berkarakter dari bacaan meracau
Ketimbang berlembar lembar jadi candu berbusa di mulut
Huruf tidak hidup Kata tidak terangkai selusup
Bacaan jembatan pemahaman tumbuh
Pijakan kokoh tegak
Berakar memeluk bumi
Kesadaran diri disini dan diri yang disana Itu semua hasil dari itikaf
Kontemplatif yang menjadikan jati
Seribu bulan nilai murni
Ada disetiap hari
Merdeka atau mati arti
Ada pada diri sendiri

Bandung, 1332026 – 23 Ramadhan 1447

TIDAK JUGA

Berkah tidak datang ujug ujug dari langit
Seperti jatuhnya komet dari angkasa luar
Yang ekor cahayanya habis terkikis oleh gesekan padat dan hilang dari pandangan
Tidak pula datang dari harapan hamba sahaya penyembah kehampaan
Melainkan milik kemerdekaan kesadaran murni
Yang melekat di dada pencari arti paripurna
Dalam setiap benih tertanam di sel sel tubuh Batang tubuh kokoh
Akar mencengkram kuat
Taman subur tempat tumbuh benih benih pilihan
Hijau rimbun sejuk udara
Aneka satwa riang saling sapa
Mengitari berpusat pada kesadaran Itu berkah karena upaya semata mencipta
Juga tidak datang dari doa

Bandung, 1132026 – 21 Ramadhan 1447 H

PUISI Yesmil Anwar
Baca Tulisan Lain

PUISI Yesmil Anwar


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *