MENJELANG LEBARAN
DOA PENGAYUH BECA SEBELUM DIPENJARA(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Udara terasa begitu dingin(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
menyemut ke sekujur badan hingga ke tulang(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Sudah malam ke 23 belum pulang ke rumah(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Di kontrakan yang cukup hanya sebadan(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
mata susah dipejamkan(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Lebih baik bermalam di atas beca(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
barangkali ada Malaikat baik hati(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
yang kesasar ke jalan(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Bulan seperti cerulit di tengah langit gelap(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Jalan terentang sunyi lewat jam 00(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Barangkali ini malam lailatul qadar(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Rindu anak dan istri berkarat hingga ke sekujur besi tua(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Semakin perih mendekati lebaran(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Istriku tercinta, maafkan suamimu ini(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Biasanya seminggu sekali pulang(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Bahagia seperti keluarga lain sahur(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
dan buka bersama keluarga di rumah(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Tahun ini jalan berbeda dengan Ramadhan(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
tahun-tahun sebelumnya(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Tidak ada lagi musim panen bagi pengayuh beca(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Jaman sudah berubah(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
bekerja tidak lagi mengandalkan tenaga(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Sementara bapak miskin tidak paham tekhnologi(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
lagi pula masa bisa beca memakai aplikasi(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Pagi ini tidak ada angin(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
tapi dingin bagai maut yang akan menjemput(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Aku teringat kampung yang bercahaya puasa(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
gemerlapan masjid-mesjid malam hari (Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
berkilapan tadarus Al-Qur’an di angkasa(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Di kota puasa begitu panas dan bising(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Berdesakan orang belanja makanan dan pakaian(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Tempat dagang bertambah 1000 kali lipat dari biasa(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Sampah bertumpukan di jalanan(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Spanduk ucapan selamat menjalankan puasa dengan(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
bergambar politisi terpentang di mana-mana(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Kota mulai macet kendaraan(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Sebagai orang miskin di pinggiran jalan selalu ditunggu (Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
lemparan sidqah walau sebatas gelas air mineral(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
dan sebungkus kurma buat tajil(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Tukang beca hanyalah kantong plastik bekas(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
yang tergeletak di bawah papan reklame raksasa (Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
paha perempuan(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Bau lebaran sudah tercium menyengat(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Teringat anak-anak dan istri di kampung(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Dada jadi serasa dipenuhi asap(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
dan kepala memberat(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
pening bak ditusuk-tusuk jara(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Warna-warni pakain berkibaran(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
seperti ribuan umbul-umbul pada suatu festival(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Nak, maafkan bapakmu ini(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
tidak terasa air mata mengucur deras(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Esoknya di pasar ramadan aku menyelinap(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
di antara paha orang-orang(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Lalu aku digiring ke Polres dengan muka lebam dan (Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
serasa remuk seluruh tulang badan(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Tuhan, hamba tidak meminta kembali kepada kesucian(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Cukup berilah anak istriku sepasang pakaian(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
Tasikmalaya, 2020(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)

SAJAK-SAJAK Ayie S Bukhary
(Source: kosapoin.com/puisi-ashmansyah-timutiah)
