Tanggapan Ayo Taryoma tentang Tulisan dari Jossy Belgrado Putra yang berjudul “Ketika Anak Mulai Melakukan Kegiatan Menggambar”
Menggambar benda dan orang lain itu biasa. Tapi menggambar diri sendiri itu lebih sulit dan menantang.
Apa alasan anak-anak lebih sulit menggambar dirinya daripada benda di luar dirinya? Jawabannya sederhana, yaitu:
- Maklumi gambarnya
- Maafkan gambarnya
- Hargai gambarnya
- Terima apa adanya
- Pasti tidak sulit.
Secara filosofi, “memaklumi, memaafkan, menghargai, menerima” itu memang lebih sulit dan inilah yang dimaksud menantang, karena memerlukan kecerdasan, bukan hanya mengandalkan kepintaran saja. Di sinilah segi egoisme dilebur ke dalam poin-poin yang tertera di atas.
Saya pernah melakukan eksperimen sederhana dengan menyuruh anak di kelas tempat saya mengajar untuk menggambar wajah masing-masing. Hasilnya? Mereka malah tertawa, tidak setuju, bahkan tidak percaya kalau itu gambar wajahnya.
Lalu saya bertanya, “Mengapa kalian menertawakan hasil gambar kalian?” Jawabannya: “Malu, Pa.”
- Malu karena merasa tidak bisa menggambar.
- Malu karena wajah sendiri yang digambar.
Di akhir eksperimen ini saya kasih nilai semua siswa seratus sebagai penghargaan tertinggi pada karyanya. Mereka bilang terima kasih, tapi tetap tidak terima sekalipun guru telah menghargainya. Jadi selama ego belum melebur dengan realitas untuk memaklumi, memaafkan, menghargai, dan menerima, apa pun itu tetap dianggap jelek.
Lalu eksperimen kedua, mereka disuruh memotret wajahnya agar hasil gambar lebih akurat. Tapi reaksi mereka pada fotonya ditertawakan juga, meski ada yang diedit. Jadi artinya mereka tidak percaya pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri.
Jawabannya sekali lagi bukan sekadar teknis eksperimen di atas, tetapi menyangkut kecerdasan rasa. Lain halnya dengan pelukis Affandi yang melukis dirinya sendiri. Beliau memang maestro. Yang tertawa bukan pelukisnya, tapi penikmatnya yang kagum atas kepiawaian sang maestro sambil bertanya, “Kok bisa ya?”
Dari ilustrasi di atas, setiap individu memiliki privasi dan akan menutupi sisi yang dianggap aib dan menjadi misteri selama hidupnya. Misteri itu ditutup rapat-rapat sampai tidak kelihatan celah sedikit pun.
Bahkan sebaliknya, untuk menutupi misteri itu kita lantang mengungkapkan berbagai hal tentang orang lain dengan pujian “cakep” atau ejekan “jelek”, “pinter”, “bodoh”. Saat teman sakit, tanpa diminta kita langsung nyrocos memberi saran tentang obat yang paling cocok untuknya seolah jadi dokter dadakan, padahal dia sendiri sedang mengidap suatu penyakit yang belum tahu obatnya.
Maka semakin tidak berimbanglah dalam diri kita untuk menilai orang lain. Ketika koruptor kena operasi tangkap tangan (OTT), semua menghujat sepuasnya seolah kita ini suci, padahal diri kita diam-diam menyembunyikan sisi gelap kebohongan berulang kali atas nama ego atau harga diri.
Disadari atau tidak, ini sifat kekanak-kanakan yang biasa terbawa sampai dewasa. Lebih bahaya lagi jika sudah berbentuk kelompok tertentu. Mengapa hal ini perlu disadari bersama?
Jika kita mau meluangkan waktu senyap untuk merenungkan tentang kepribadian diri masing-masing, tentu berbagai masalah di negara kita akan cepat tuntas. Pejabat penguasa di negara kita sering bermaksud mengurus urusan orang lain, akan tetapi tidak meleburkan ego dirinya. Kompetensi dirinya jarang diintrospeksi: mampu atau tidak, relevan atau tidak dirinya dengan tantangan yang dihadapi? Jika sadar masih mampu, teruslah. Dan jika sebaliknya? Ya, berhentilah atas kesadaran sendiri.
Memang kita sadar bahwa sejak lahir kita terlebih dahulu dikenalkan pada orang di luar dirinya. Misalnya: “Ini mamah, ini bapak, ini kakak, ini kucing, ini boneka, itu bunga, itu pohon,” dan seterusnya. Kapan kenal dirinya? Ya, belakangan.
Jadi lebih dahulu diperkenalkan dengan hal lain di luar diri kita. Ketika wajahnya diperlihatkan lewat cermin, seketika kaget. Tapi perkenalan dengan wajah dirinya itu tidak ada kelanjutannya. Positif atau negatif reaksinya, yang penting dimaklumi bahwa itu wajahmu, titik.
Dari situ maka yang dihafal terus-menerus dalam memori otak lebih awal adalah orang lain. Maka jangan heran kalau kita disuruh menggambar lebih ikhlas menggambar benda atau orang di luar diri kita ketimbang wajah sendiri. Sekalipun difoto sendiri atau swafoto, misalnya, kita sering mengeditnya untuk menutupi sisi gelap tadi.
Hehe… mungkin inilah gambaran sederhana salah satu faktor penyebab kesulitan menggambar diri sendiri, yakni kebiasaan lupa diri sendiri sejak dilahirkan.
Ingat pepatah orang tua kita: “Orang yang kenal dirinya akan kenal pada Tuhannya.” Tidak mungkin kenal Tuhannya tanpa mengenal dirinya.
Wow… omongannya mirip ilmiah psikolog saja, padahal ngarang…
Cukup sekian, terima kasih.
Bandung, 08 Maret 2026
Salam,
Ayo Taryoma Mantrajaya
Alumni Jurusan Seni Musik Fakultas Seni Pedagogik UPI Bandung

