BANGKAI-BANGKAI BICARA (MISTERI RUMAH JUGALI)

jagali 5

TOKOH: 01. Sabita | 02. Galmon | 03. Daesuke Sabita | 04. Yastin | 05. Jugali | 06. Narsista | 07. Stela | 08. Raifa | 09. Jembar Pangartos | 10. Rodrina | 11. Lysistrata | 12. Notasimi | 13. Adrifa | 14. Aslina | 15. Neng Tantrum | 16. Ujang Gabut | 17. Robot Steli | 18. Robot Stelo | 19. Musisi/Reog 1 | 20. Musisi/Reog 2 | 21. Musisi/Reog 3 | 22. Musisi/Reog 4 | 23. Musisi/Reog 5 | 24. Mang Asgar | 25. Suara | 26. Orang Satu | 27. Orang Dua | 28. Orang Tiga | 29. Seseorang | 30. Pecerin | 31. Koor | 32. Penonton | 33. Ayahanda | 34. Ibunda | 35. Timpani.

DALAM KEKOSONGAN TERDENGAR SUARA-SUARA KEPEDIHAN, RINTIHAN DAN RATAPAN BERBAUR DENGAN BUNYI-BUNYI MESIN DAN SIRINE. LALU TERDENGAR SUARA RAMPAK MANUSIA MELANTUNKAN KATA-KATA.

KOOR: Masa kini, masa nanti, masa lalu, bersatu dalam ruang imaji… | Hidup dan kematian satu padu dalam Misteri Rumah Jugali…. | Masa kini, masa nanti, masa lalu, bersatu dalam ruang imaji… | Hidup dan kematian satu padu dalam Misteri Rumah Jugali….

KOOR TERUS MENGULANG-ULANG KALIMAT ITU. DARI SEBUAH KEKOSONGAN TIBA-TIBA MUNCULAH ROMBONGAN ORANG YANG DATANG DARI BERBAGAI ARAH.MASING-MASING MENGIBAR NGIBARKAN BENDERA KUNING DI KEDUA TANGAN. LALU BERTEMU DAN BERNYANYI.

Telah sekian lama kita bersama / Melangkah dalam indahnya dunia / Tapi kurasakan baru kemarin saja / Aku tiba di sini lewat rahim bunda / Telah kujalani masa terang dan suram / Lewati pagi siang sore dan malam / Tadi pagi rambutku masih lebat dan hitam / Senja ini telah memutih dan kusam / Karena diri ini tak lagi muda belia / Sang waktu telah merampas usia / Tak lama lagi kita kan tiada / Entah pahala atau kah dosa / Yang kelak akan kudapat di sana //

PERISTIWA TERJADI DI HALAMAN DEPAN SEBUAH RUMAH GEDUNG BERTINGKAT YANG SANGAT MEGAH SEPERTI ISTANA RAJA. BENTUK BANGUNANNYA SANGAT UNIK DAN NAMPAK TAK LAZIM KARENA KONON GEDUNG ITU DIBANGUN OLEH SEORANG ARSITEK YANG PALING EKSENTRIK DI DUNIA. DI DINDING DEPAN RUMAH TERTERA SEBUAH TULISAN “RUMAH JURAGAN GANTENG” MULA-MULA RUMAH ITU TAMPAK TERASA SUNYI DAN SEPI SEOLAH TAK ADA PENGHUNI. NAMUN TAK LAMA KEMUDIAN DARI DALAM RUMAH TERDENGAR SUARA SEORANG PEREMPUAN YANG SEDANG BICARA.

SUARA SABITA: Hahahahaha…hahahaaa…hahaa… aaah ada-ada saja. Terus gimana, terus gimana? Hahahaha…hahahaaa.. ngaco ah!! (JEDA) Aaaah hahaha hahaaa… gak mungkin, gak mungkin. (JEDA) Ah masa? (JEDA) Haaahahahaaa…. Kasihan.

PINTU DEPAN RUMAH TERBUKA. DARI BALIK PINTU MUNCUL SABITA SEORANG PEREMPUAN BERUSIA 38 TAHUN BERBICARA DENGAN HP DI TANGANNYA.

SABITA: Aaaahahaaaa.. ada-ada saja. Oh ya? Aduh, aduh sampai segitunya. (JEDA) Iya, iya. Ahahahaa… Hah? Masya Allah. HPnya kecemplung laut. Waduh. Apa? Hahahahaaa. hahahaha.. hahahaaa.. sudah, sudah ah. (TERDENGAR SUARA HP LAIN BERBUNYI) Sudah dulu ya Acong di saya ada telpon masuk lagi.. Iya, iya, oke sampai ketemu. (MENUTUP TELPON LALU MENJAWAB TELPON LAIN). Halo… Ya dengan siapa ini? Ooh ini Bola? Ya ada apa Bola? Kenapa Bola? Ya gimana? Hah? Terus, terus? Yang bener? Astagfirullahaladziiim… kenapa sampai bisa begitu? Seharusnya kamu itu hati-hati, Bola. Jangan asal klik! Sekarang ini orang-orang jahat bertebaran di sosial media. Mereka melalukan tindakan penipuan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengirimkan link di grup-grup washapp. Seandainya kita mengklik link itu bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Misal hp kita diretas, rekening bank kita dibobol dan banyak lagi kemungkinan kemungkinan jahat lainnya. (JEDA) Aduh bola, bola. Kenapa kamu bisa seceroboh itu. 25 juta itu bukan uang kecil. Pasti kamu mendapatkannya dengan susah payah. Saran saya, sekarang coba kamu lapor ke polisi sambil diurus ke bank, siapa tau orang bank punya data nasabah yang dapat transferan dari kamu itu. (JEDA) Oh iya Bola, nanti kita sambung lagi pembicaraannya. Saya sudah siap-siap mau pergi. Kamu harus sabar ya. Gusti Allah sedang menguji ketabahan kamu. Gusti Allah sayang sama kamu. Yu Bola. Assalamualaikum. (SABITA HENDAK MEMASUKAN HAPENYA KE DALAM TAS TAPI SEKONYONG-KONYONG HAPE ITU BERDERING LAGI. KEMBALI SABITA MENERIMA TELPON DARI SESEORANG) Haloo..! Assalamualaikum.

SUARA: Apa saya bicara dengan Ibu Tarigan?
SABITA: Salah sambung! (LANGSUNG MENUTUP TELPON DAN TELPON LAIN BERBUNYI. SABITA MENGANGAKATNYA) Halo Assalamualaikum.
YASTIN: (MENANGIS HISTERIS) Walaikum salam. Sabita kamu tega ya sama saya. Bola Kusumawati meninggal kamu gak ngasih tau saya.
SABITA: Sebentar Yastin. Siapa yang meninggal?
YASTIN: Bola. Bola Kusumawati.
SABITA: Kapan meninggalnya? Saya tadi baru saja teleponan sama bola.
YASTIN: Ngaco, orang Bola meninggalnya sudah tiga hari yang lalu. Mati mendadak, serangan jantung.
SABITA: Yastin kamu tidak main-main? Betul Bola meninggal? Jadi siapa tadi yang teleponan sama saya?
YASTIN: Betul Sabita. Kamu juga beneran tadi teleponan sama Bola?
SABITA: Betul Tin, saya tidak bohong. Kamu dapat kabar dari siapa Bola meninggal?
YASTIN: Saya dapat beritanya di sosmed.

DI TEMPAT LAIN GALMON SEORANG PEMUDA BERUSIA 25 TAHUN BERADA DI SUATU SUATU JALAN DI TENGAH PERKOTAAN SAMBIL MENGENDARAI MOBIL. DI SEBELAHNYA TAMPAK SEORANG GADIS ASAL JEPANG BERNAMA DAESUKE FUJITA BERUSIA 24 TAHUN. TERDENGAR DAESUKE FUJITA SEDANG BERNYANYI-NYANYI SAMBIL MEMAKAI HEADSET.

DAESUKE FUJITA: (BERNYANYI) Furusato wo wasurenai yo / Kitto zutto kokoro ni hokoru / Moshi tooku ni ittemo / Kokoro kara kienai / Aisuru Furusato / Kimi wo omou yo // Sugoin da to shirareteiru / Ooku no kuni tabi shitemo / Demo wag a ya furusato de / Mottomo shiawase to kanjiru / Furusato wo wasurenai / Kimi wo hokoru yo //

GALMON MEMIJAT NOMER-NOMER DI HAPENYA SEHINGGA HAPE SABITA YANG LAIN BERDERING.

SABITA: Yastin maaf, saya tutup dulu teleponnya, ini panggilan lain masuk. Nanti kita sambung lagi. (SABITA MENGAKHIRI PEMBICARAAN LALU MENJAWAB TELPON DARI HP LAIN). Halo Assalamualaikum.
GALMON: Puji Tuhan. Apa benar ini dengan Bu Sabita Salsabila Rokaesih yang memasang iklan penjualan rumah di Instagram?
SABITA: Iya betul, saya Bu Sabita Salsabila Rokaesih. Saya yang memasang iklan di IG. Apa saudara berminat untuk membelinya?
GALMON: Kami ingin melihat dulu keadaan rumahnya secara langsung agar kami bisa memutuskan apakah kami berminat atau tidak.
SABITA: Kami?
GALMON: Ya! Kami! Saya dan calon istri saya.
SABITA: Saya mendengar ada backsound suara perempuan sedang bernyanyi.
GALMON: Ya! Ini suara calon istri saya yang sedang bernyanyi di sebelah saya. Namanya Daisuke Fujita, orang jepang yang sudah dinaturalisasi jadi WNI dan sudah jadi mualaf sejak lima tahun yang lalu. Sedangkan saya sendiri diaspora dari Belanda dan sudah dinaturalisasi jadi warga NKRI harga mati. Nama saya Morgan Van Persis. Saya jadi mualaf sejak lima tahun lalu juga.
SABITA: Syukurlah kalian sudah jadi mualaf. Saya juga mantan seorang mualaf yang kini telah jadi muslimah. Keluarga saya berasal dari keturunan inggris dan portugis. Saya jadi jadi mualaf karena menikah dengan cicitnya King Sulaiman dari Turki.
GALMON: Oh, ibu ini menikah dengan seorang bangsawan keturunan Kerajaan Otoman rupanya.
SABITA: Ya seperti itulah.
GALMON: Kembali pada persoalan rumah. Apakah luas tanah dan bangunannya sesuai dengan apa yang ibu cantumkan di Instagram?
SABITA: Luas bangunan 2000 meter persegi 5 tingkat, luas tanahnya 3000 meter persegi. Jadi luas keseluruhan persis setengah hektar. Saya sudah iklankan semuanya di berbagai platform sosial media.
GALMON: Ya, saya telah membaca iklannya tapi ibu tidak mencantumkan berapa harganya.
SABITA: Sudah saya jelaskan dalam iklan untuk tanya harga silahkan DM, INBOX, Japri atau telepon.
GALMON: Ya, makanya saya telpon ibu karena saya ingin tanya berapa harganya.
SABITA: Saya jual tanah, rumah beserta seluruhnya isinya seharga 100 T tidak kurang tidak lebih.
GALMON: Sebentar bu, apa saya gak salah dengar?
SABITA: Kenapa? Kamu kaget? 100 T itu sudah sangat murah untuk jaman sekarang. Apa lagi saya jual rumah saya dengan seluruh isi dan perabotannya dari mulai barang-barang elektronik, furniture sampai benda-benda kuno dan antik. Ada guci giok peninggalan Dinasti Ming, Lemari Ratu Balqis, sepatu Kubilaikhan, Pisau Cukur Hitler, Tasbih Ayatullah Komaeni, empedu pangeran carles grand piano peninggalan bethoven, gitar milik Freddy Mercury, Jersey bertandatangan Maradona, sarung tinju Muhamad Ali, Topi laken Mikel Jackson, anting Cleopatra, gelang bahar Firaun, jubbah Judas, keris Mpu Gandring, tusuk konde Dayangsumbi, kursi unta Abu Jahal, lampu Aladin, tongkat Nabi Musa, dudukuy Bah Gopal, iket kepala Mickel Cahya dan lain sebagainya termasuk ranjang ajaib peninggalan Prabu Duryudana. Rumah ini saya jual beserta ranjang ajaibnya.
GALMON: Ranjang ajaib gimana maksudnya?
SABITA: Di dalam rumah ini terdapat ranjang ajaib. Sebuah ranjang yang bisa mengajak kita bermimpi sesuai dengan apa ingin kita impikan sebelum tidur. Jadi sangat murah jika rumah ini dijual seharga 100 T. Kapan rencananya Nak Galmon mau melihat-lihat rumah ini?
GALMON: Sekarang juga saya akan melihat rumahnya.
SABITA: Saya harus pergi sekarang juga, ada urusan mendadak. Bagaimana kalau nanti sore saja. Jam empat pas saya sudah ada di rumah. Nanti saya sharelok alamatnya. Gampang kok cari rumahnya. Jalan Riung Dulur Kaler nomer 345. Gampang kok cari rumahnya. Tanya saja Rumah Juragan Ganteng semua orang di Riung Dulur sudah pada tau.
GALMON: Baiklah Bu Sabita, jam empat teng saya dan Daesuke diusahakan sudah sampai di Rumah Juragan Ganteng.

HP SABITA YANG LAIN BERBUNYI.

SABITA: Aduh, hp saya yang satu lagi bunyi. Maaf Nak Galmon saya harus menjawab telpon lain. Sampai ketemu nanti sore di sini. Assalamualaikum.
GALMON: Semoga Tuhan memberkati.

SABITA MENGAKHIRI PEMBICARAAN LALU MENGAMBIL HP LAIN DI TAS NAMUN HP-HP LAIN BERDERING PULA.

SABITA: Waduh waduh waduuh bagaimana ini hp saya tujuh-tujuhnya pada bordering. Jawab yang mana dulu ya, ah yang ini saja. Halo Assalamualaikum.
SUARA: Apa saya bicara dengan Ibu Tarigan?
SABITA: Salah sambung! (LANGSUNG MENUTUP TELPON DAN MENGAMBIL HP YANG LAIN) Assalamualaikum.
SABITA: Halo. Assalamualaikum. (BEAT) Oh Iya Pak Umar, sebentar lagi saya berangkat. Maaf saya agak sedikit telat. (BEAT) Iya Pak, segera. (SABITA MENUTUP TELEPON TAPI TIBA-TIBA ADA TELPON BERBUNYI LAGI). Awas kalau salah sambung lagi. Halooo…!
YASTIN: (MENANGIS) Sabita.
SABITA: Yastin ada apa lagi?
YASTIN: (MENANGIS) Sabita saya mau minta tolong. Suami saya sudah seminggu tidak pulang, gas di rumah habis, token listrik bunyi terus, wifi mati, anak anak minta jajan. Saya mau pinjam uang dulu sama kamu Sabita.
SABITA: Kamu butuh uang berapa, Tin?
YASTIN: (MENANGIS) Berapa saja saya terima, asal cukup buat hidup sehari-hari. Nanti kalau saya punya rezeki pasti diganti.
SABITA: Iya nanti saya transfer seratus pas saya sudah sampai kantor.
YASTIN: (MENANGIS) Terimakasih Sabita. Jangan lupa seratusnya.

TERDENGAR LAGI BUNYI DERING HP YANG LAIN. SABITA MELIHATNYA DAN MENJAWABNYA. SABITA MENJAWAB TELEPON DUA ORANG SEKALIGUS PADA DUA HANDPHONE.

SABITA: Halo. Assalamualaikum. (BEAT) Oh Iya Pak Umar, saya otewe sekarang juga.
YASTIN: (MENANGIS) Sabitaa…
SABITA: Maaf Tin, saya tutup dulu telponnya. Saya harus segera pergi. Bos sudah memanggil. Nanti kita sambung lagi. Assalamualaikum.
YASTIN: (MENANGIS) Walaikum salam.

SEBELUM PERGI SABITA MEMERIKSA RUMAHNYA UNTUK MEMERIKSA DAN MEMASTIKAN APA PINTU RUMAHNYA SUDAH TERKUNCI ATAU BELUM. SABITA MEMASUKAN KUNCI RUMAH KE DALAM TAS DAN DARI DALAM TAS IA MENGAMBIL MOBIL LALU MELANGKAH PERGI MENINGGALKAN RUMAH ITU. TIBA-TIBA TELEPON SABITA BERDERING LAGI.

SABITA: Awas kalau salah sambung lagi! Halo.
SUARA: Oh ini pasti salah sambung ya? Maaf!
SABITA: Bangkeeee….! (JEDA) Kok ini orang nomernya beda-beda. (PERGI)

SETELAH SABITA PERGI, DARI DALAM MUNCUL SEORANG LAKI-LAKI DUA BERAMBUT PUTIH, BERJENGGOT DAN BERKUMIS PUTIH, BERPAKAIAN SERBA PUTIH, BERJALAN MEMAKAI TONGKAT PUTIH SERTA BERALAS KAKI PUTIH. DIALAH JUGALI SEORANG LELAKI YANG TELAH BERUSIA LEBIH DARI SERATUS TAHUN TAPI TAMPAK SEPERTI BERUSIA KEPALA ENAM PULUHAN TAHUN KARENA KONON IA PERNAH MEMINUM RAMUAN AWET MUDA. IA BERJALAN KE ARAH DEPAN DAN MULAI MENATAP PENONTON KEMUDIAN MENYAPANYA.

JUGALI: Apa kabar wahai para pecinta matahari. Semoga kalian semua sedang bersenang hati dan akan senantiasa menyayangi matahari sampai akhir khayat sebagaimana matahari pun selalu menyayangi kita tanpa rasa jenuh. Hanya orang-orang yang tak punya hati yang tidak mencintai matahari. Mereka tidak sadar bahwa mereka akan mati tanpa adanya sinar mentari. Matahari tak pernah berhenti memperlihatkan sinarnya untuk menerangi alam semesta sehingga terjadilah kehidupan. Saudara-saudara, tadi kalian telah menyaksikan seorang perempuan di tempat ini. Perempuan yang bernama Sabita Salsabila Rokaesih. Dia adalah salah satu cicit saya. Dia merupakan cucu pertama anak saya dari istri saya yang ketiga. Oh iya saudara-saudara. Perkenalkan nama saya Jugali, biasa dipanggil Juragan Ganteng. Saya ini merupakan seorang laki-laki yang sangat bahagia karena mempunyai lima orang istri yang tinggal dalam satu atap bahkan tidur di bersama dalam satu ranjang. Usia saya sudah lebih dari seratus tahun tapi orang-orang menyangka saya ini baru berusia kepala enam puluh tahunan. Ya, karena saya dan keempat istri saya itu pernah meminuman ramuan awet muda yang sangat mujarab sehingga penampilan sangat jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Saya akan memberitahukan pada saudara-saudara kenapa dulu kedua orangtua saya memberi saya nama Jugali. (PAUSE) Ketika ibu saya akan melahirkan saya dengan pertolongan dukun beranak bernama Bi Erus, bapak saya berada di samping ibu. Dia ingin menyaksikan anak pertamanya lahir ke dunia ini. Saat Bi Erus berhasil mengeluarkan saya dari perut ibu, konon katanya bi Erus tertegun menatap wajah seorang bayi yang sangat tampan. Lalu Bi Erus memandang ayah saya dan berteriak “Ya Ampuuun, Juragan… ganteng sekali” Karena teriakan itulah Bapak dan Ibu memberi nama anaknya Jugali; Juragan Ganteng Sekali. (DIA MELANGKAH MENUJU KURSI YANG TERSEDIA DI SERAMBI RUMAH LALU DUDUK) Sabita Salsabila Rokaesih, cicit saya itu akan menjual rumah ini. Saya tidak setuju. Sangat tidak setuju! Rumah ini penuh sejarah dan kenangan. Susah payah saya membangunnya. Dan kini si Sabita mau menjualnya begitu saja? Ini tidak bisa dibiarkan. Harus segera ditindak! (TERDENGAR SUARA TERIAKAN PEREMPUAN DARI ATAS LOTENG )

SUARA NARSISTA: Sayaaaang…. Sayang lagi di mana…..?…. Sayaaang……!!
JUGALI: Itu suara Narsista. Istri pertama saya. (PADA NARSITA) Papih di sini Miiiih. Di bawah di depan rumah.
SUARA NARSISTA: Sayaaang besok ke undangan mau pakai jas yang mana? Ini coba pilih sayang.
JUGALI: Dia seorang perancang mode. Dia sangat pandai menjahit pakaian dan punya dalam bidang fotografy. Saya menikah dengan Narsista tahun tanggal 2 bulan 3 tahun 1923. Saat itu usianya 16 tahun lebih muda 6 tahun dari saya. Kami dikaruniai 18 orang anak yang telah tersebar di berbagai kecamatan.
SUARA NARSISTA: Stelaaaa…!
SUARA STELA: Ya Nyonyaaaa……!
JUGALI: Itu suara Stela, salah satu pelayan kami yang bertugas untuk melayani Narsista.
SUARA NARSISTA: Tolong bawakan baju-baju ini biar dipakai sama juragan
JUGALI: Stela lah yang selalu melayani kelima istri saya.

(MUNCUL NARSISTA DAN STELA KE HALAMAN DEPAN RUMAH MENGHAMPIRI JUGALI SAMBIL MEMBAWA BEBERAPA JAS DAN BAJU PAKAI HANGER DORONG)

NARSISTA: Nah sayang, bagaimana kalau pakai yang ini biar couple sama mamih . Mamih besok pakai yang ini. Tapi kalu sayang besok mau pakai stelan yang ini berarti pakai yang ini. Serasi kan?
STELA: Yang ini juga sepertinya cocok Nyonya buat dipakai kondangan.
NARSISTA: Oh iya, ini juga bagus-bunga ada kombaninasi bunganya, papih perasaan belum pernah pakai jas ini semenjak mamih belikan. Pakai yang ini saja ya, kebetulan mamih punya pasangannya. Ayo sayang, dicoba dulu jas sama kemeja dan celananya, sekalian sepatunya juga. (JUGALI MENCOBA MEMAKAI STELAN JAS KEMEJA DAN CELANA). Oh iya sayang hampir lupa, lusa kan ada pemotretan untuk model keluarga sarimbit, produk baru brand mamih. Papih saja ya yang jadi model kakeknya, hanya gunta-ganti baju dua puluh kali kok. Stela coba ambilkan kamera di ruang kerja saya.
STELA: Baik nyonya.

(SAMBIL MASUK KE DALAM RUMAH DAN TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL LAGI MEMBAWA KAMERA YANG DIBERIKAN PADA NARSISTA. NARSISTA MENYURUH JUGALI UNTUK MELAKUKAN BEBERAPA POSE PEMOTRETAN. NARSISTA TERUS MELAKUKAN KEGIATAN MOTRET-MEMOTRET DENGAN ASIKNYA SEHINGGA JUGALI MELAKUKAN BEBERAPA GAYA PEMOTRETAN DENGAN BERBEDA-BEDA POSE).

NARSISTA: Ayo sayang, ganti gaya dengan senyum yang lebih ceria. Coba berputar tangan kanan di pinggang. Bagus. Senyum sekali lagi. Lebih lebar senyumnya. Jangan terlalu lebar, gak bagus. Nah segitu. Mantap! Ganti baju lagi, pakai warna yang jreng.

SAAT ITU PULA TERDENGAR TERIAKAN PEREMPUAN LAIN DARI RUANG ATAS. KEPALANYA NONGOL DARI JENDELA LOTENG. NAMANYA RODRINA.

RODRINA: Halo Abiiii, apa kabar Abiii, sedang apa Abi, Selamat pagi Abiii.
JUGALI: (PADA PENONTON) Dia Rodrina, istri kedua saya. (PADA RODRINA) Hai Umi, apa kabar umi? Abi lagi dipotret Mi.
RODRINA: Hai kakak Narsista.
NARSISTA: Hai dede Rodrina. Sini ikut dipotret.
RODRINA: Ah dede kan tidak tidak ada bakat jadi model kak, lagian Dede takut kesohor. Raifaaa….!
SUARA RAIFA: Saya lagi mandi, Nyonya.
RODRINA: Oh ya sudah.
JUGALI: Raifa itu pelayan kami yang bertugas mendampingi Raifa.
RODRINA: Stelaaa..! Karena Raifa sedang mandi, tolong ente siapkan peralatan kedokteran, ane mau periksa kesehatan abi.
STELA: Baik nyonya. (HENDAK PERGI KE DALAM RUMAH)
NARSISTA: Stela, sekalian bawakan lensa 200.
STELA: Siap nyonya. (HENDAK PERGI KE DALAM RUMAH)
JUGALI: Stelaaa.
STELA: Ya Juragan
JUGALI: Bikinkan saya kopi pahit.
STELA: Baik Juragan. (HENDAK PERGI KE DALAM RUMAH)
PENONTON: Stelaaa…!
STELA: Ya, kenapa?
PENONTON: Haaaai…!
STELA: Ih siapa sih? (PERGI KE DALAM RUMAH)

SEMENTARA NARSISTA TERUS MELANJUTKAN KEGIATAN POTRET MEMOTRETNYA, JUGALI BERBICARA PADA PENONTON.

JUGALI: Setelah 20 tahun saya berumahtangga dengan Narsista, saya menikah lagi dengan dokter Rodrina. Seorang dokter perempuan berparas cantik dan pandai membuat ramuan obat-obatan. Setelah pensiun dari rumah sakit dia menjadi dokter pribadi saya dan dokter pribadi istri-istri saya yang lain. Saya menikah dengan Rodrina pada tanggal 4 bulan 3 tahun 1943. Kami dikaruniai 15 orang anak yang tersebar di berbagai kota kabupaten.

MUNCUL STELA MEMBAWA BERBAGAI PERALATAN KEDOKTERAN MEMAKAI MEJA DORONG. IA JUGA MEMBAWA LENSA KAMERA YANG LANGSUNG DIBERIKAN PADA NARSISTA. NARSISTA MENERIMANYA DAN LANGSUNG MENGGANTI LENSA KAMERANYA UNTUK MELANJUTKAN PEMOTRETAN. TAK LAMA KEMUDIAN RODRINA MUNCUL DI DEPAN RUMAH MENEMUI JUGALI.

RODRINA: Nanti kalau sudah selesai pemotretannya, umi periksa lagi tensi darah dan periksa jantung Abi, ya.
JUGALI: Siap Umi. Demi Umi terkasih apapun siap Abi lakukan.
NARSISTA: Sebentar lagi beres pemotretannya, tinggal 17 pose lagi. Ayo Pih bergaya lebih gagah lagi. Lebih ceria. Lebih seru. Ayo Pih yang lebih heboh. Naah keren!

SETELAH BERES PEMOTRETAN, JUGALI DUDUK DI KURSI. RODRINA MEMANGGIL RAIFA.

RODRINA: Raifaaa…!
SUARA RAIFA: Ya Nyonya dokter.
RODRINA: Ente sudah selesai mandinya?
SUARA RAIFA: Sudah, Nyonya dokter, tapi sekarang sedang mengeringkan rambut. (TERDENGAR SUARA HAIRDRAYER)
RODRINA: Ya sudah, sekarang ke sini gak apa-apa sambil ngeringin rambut juga.
SUARA RAIFA: Siapa Nyonya dokteeeer..! Sebentaaar…! (MUNCUL SAMBIL RAMBUT DI TUDUNG HANDUK)
RODRINA: Raifa. Tolong ente periksa tensi darah Juragan. Alatnya sudah tersedia di meja.
RAIFA: Siaaap..!

RAIFA MEMERIKSA TENSI DARAH JUGALI. STELA MENDAMPINGINYA. NARSISTA TERUS MEMOTRET BERBAGAI PERISTIWA YANG TERJADI.

RODRINA: Bagaimana Raifa? Normalkah tensinya?
RAIFA: Mendingan Nyonya dibanding kemarin. Sekarang tensinya 120-129. Kemaren 212-345. Detak nadinya baik.
RODRINA: Tekanan darah Abi sudah agak mendingan dibanding tiga hari yang lalu. Detak nadi cukup baik, suhu badan normal. Oke, sekarang kita periksa detak jantungnya. (DIA MEMERIKSA DETAK JANTUNG JUGALI MENGUNAKAN STETOSKOP) Detak jantung lebih cepat dari biasanya mungkin karena terlalu bersemangat dipotret. Sekarang minum vitamin ini ya Abi. Biar abi semakin sehat dan kuat. Oke sekarang Abi hirup nafas 5 hitungan. Satu, dua, tiga, empat, lima. Tahan lima hitungan, satu, dua, tiga, empat, lima hembuskan lima hitungan juga. Satu, dua, tiga, empat, lima. Sekali lagi Abi. Tarik nafaaaas, satu… dua…. Tigaaa… empaaat… lima… ya teriakan!
JUGALI: (BERTERIAK) Haaaaa…!!!
RODRINA: Baguuuus!! Sekali lagi abi. Tarik nafaaaaaas……, tahaaaaaan…., teriak lebih panjang!
JUGALI: (BERTERIAK) Haaaaaaaaa…!!! NARSISTA Stela, coba lihat agenda Juragan hari ngapain saja.
STELA: (MEMERIKSA BUKU AGENDA) Hari ini juragan tidak ada jadwal kemana mana. Besok juga tidak ada. Tapi lusa Juragan harus berpidato dalam rangka kampanye sebagai paslon bupati KBBB aliasKabupaten Bandung Baru Banget.
NARSISTA: Nah sayang, coba sekarang berlatih berpidato untuk kampanye lusa. Biar bajunya mami siapkan yang cocok buat kampanye.
RODRINA: Ayo Abi, pidato Abi. Abi! Abi! Abi.
STELA & RAIFA: Jugali! Jugali! Jugali!
JUGALI: Baik Umi, baik mami. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh.
NARSISTA, RODRINA, STELA, RAIFA: Walaikum salam warrahmatullahi wabarokatuh.
JUGALI: Innal hamda lillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh, wana’udzu billahi min syururi anfusina, wamin sayyiaati a’maalinaa, mayyahdihillahu falaa mudhilaa lah, wamayyudhlil falaa haadiya lah. Asyhadu alla ilaaha illalllah wahdahu laa syarika lah, wasyhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuuluh. Allahumma shalli wasallim wabarik’ala sayyidina muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. Amma ba’du. Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, yang kita memuji-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita dan dari keburukan amal-amal perbuatan kita.
RAIFA: Nyonya dokter, juragan ini mau kampanye apa mau khutbah di masjid?
RODRINA: Iya Abi, Abi itu latihan buat kampanye, bukan latihan khutbah jumat.
JUGALI: Abi kan berdo’a sebelum kampanye. Biar Kampanye Abi lancar dan sukses, umi.
NARSITA: Iya betul Papih, sayang. Papih tidak salah. Sudah Raifa kamu jangan mengganggu juragan. Dede juga jangan banyak protes. Ayo pih lanjutkan latihan kampanyenya.
JUGALI: Baik Umi, baik mami. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh.
NARSISTA, RODRINA, STELA, RAIFA: Walaikum salam warrahmatullahi wabarokatuh.
JUGALI: Sampurasuuun.
NARSISTA, RODRINA, STELA, RAIFA: Rampeeees.
JUGALI: Hom Swastiastu, Namo Budaya, Salam kebajikan. Saudara-saudaraku warga Kabupaten Bandung Baru Banget yang kucintai dan kuhormati. Ijinkan saya dalam kesempatan yang indah ini mengingatkan kepada anda semua untuk memilih saya Jugali & Dede Sumpena disingkat Judes, sebagai calon bupati dan calon wakil bupati Kabupaten Bandung Baru Banget. Kami pasangan Judes sangat mengharapkan dukungan anda sekalian. Jika kami terpilih jadi bupati dan wakil bupati maka saya akan saya akan memberikan makan dan minum gratis buat seluruh rakyat pagi siang sore dan malam. BBM, Internet, Pendidikan, Rumah Sakit dan keperluan sembako akan saya gratiskan.
RODRINA: Abi, kalau semua digratiskan terus pemerintah dapat uang dari mana? Ketahuan bohongnya, Abi.
RAIFA: Jangan semuanya serba gratis dong Juragan. Nanti jasa para pembatu gratis dong gak digajih sama majikan.
JUGALI: Biasa kalau kampanye kan begitu hahaaa…!!
RODRINA: Raifa, coba kamu beri conto juraganmu bagaimana cara berkampanye yang benar.
RAIFA: Baik nyonya (MAJU KE SUATU TEMPAT UNTUK KAMPANYE).
RODRINA: Ayo Abi, perhatikan Raifa yang mau memberi contoh berkampanye.
STELA: Saya ikutan jadi wakilnya ya, nyonya. (BERDIRI DI SAMPING RAIFA)
RAIFA: Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu. Dalam kesempatan yang bahagia ini, saya Rifa Risnawani…
STELA: Dan saya Wati Kusuma Stela…
RAIFA: Disingkat Ririwa. Kami berdua adalah paslon cabup dan cawabup KBBB.
STELA: Alias Kabupaten Bandung Baru Banget.
RAIFA: Pada hari kami hadir di hadapan bapak dan ibu untuk merayu, namun juga untuk memberikan janji dan harapan. Saya siap mendengar aspirasi, keluhan, dan keinginan kalian..
STELA: Serta berkomitmen, melaksanakan tugas saya dengan penuh integritas, ketulusan dan keberanian. Allhahu Akbar!
RAIFA: Jika kami terpilih sebagai pemenang pilwalgub KBBB maka program yang pertama-tama akan kami laksanakan adalah mensejahterakan warga!
STELA: Dan kami berjanji jika kami menang, maka kami akan menghadiahkan untuk semua warga masing-masing sebuah mobil sedan mewah merek Lamborgino!
JUGALI: Ah! Masa setiap warga mau dikasih mobil?
STELA: Biasa, kalau kampanye kan gitu hehehe..
JUGALI: Ah! Sudah ah saya mau minum dulu. (JUGALI DUDUK DAN MINUM)
NARSISTA: Dede Rodrina, apa ramuan obat anti keriputnya masih ada?
RODRINA: Tentu saja masih banyak Kaka. Tapi wajah kaka masih segar tidak perlu minum ramuan anti keriput lagi. Usia kakak seratus tahun lebih tapi masih terlihat seperti remaja. Kalau minum lagi nanti malah jadi seperti bayi. Ah atau Kaka minum ramuan terbaru ini.
NARSISTA: Ramuan untuk apa itu, De?
RODRINA: Ramuan ini bisa dijadikan obat anti mati muda.
JUGALI: Wah dahsyat! Abi juga kepengen minum obat anti mati muda.
NARSISTA: Tapi kan papi sudah tua, percuma saja papi minum obat anti mati muda.
JUGALI: Kalau begitu beri saya ramuan obat anti mati tua!
RODRINA: Tidak bisa Abi. Kematian di saat usia tua itu sudah kodratullah.
RAIFA: Betul, Juragan. Manusia tidak akan bisa melawan kodratullah.
STELA: Tapi Nyonya, seandainya seorang anak muda meminum obat anti mati muda, kemudian dia mengalami kecelakaan missal kelindas kereta api.
RODRINA: Ya ringsek lah badan orang itu, langsung tewas ditempat. Nyawanya langsung dicabut oleh malaikat.
STELA: Oh Modyar!
RODRINA: Karena sudah takdirnya untuk mati. Ramuan anti mati muda hanyalah mencegah terjadinya berbagai penyakit bagi anak muda dan mengurangi jumlah anak muda yang meninggal karena penyakit. Tapi lain soal kalau itu memang persoalan takdir.

TERDENGAR SUARA PEREMPUAN LAIN LAGI DARI DALAM RUMAH.

SUARA LYSISTRATA: Wahai suamiku tercinta dimanakah gerangan engkau?
SUARA JEMBAR PANGARTOS: Juragan sedang berada di luar, Nyonya. Sedang berjemur dan mendapatkan perawatan dari Nyonya Dokter serta sedang melakukan pemotretan sama Nyonya Narsista ditemani Raifa dan Stela.
NARSISTA: Hmm… Ini, ini parah ini..!
RODRINA: Tenaang.. Tenaaang…!
SUARA LYSISTRATA: Jembaaaar…..!
SUARA JEMBAR PANGARTOS: Ya Nyonya Lysistrata yang cantik jelita…
SUARA LYSISTRATA: Tolong kau siapkan kursi kesayanganku di halaman, aku mau bergabung.
SUARA JEMBAR PANGARTOS: Ya Nyonya Lysistrata yang cantik jelita.
JUGALI: Itu suara istri saya yang ketiga, namanya Lisystrata. Dia seorang deklamator dan seorang aktris teater yang sering memerankan tokoh drama karya shopocles, euripedes dan lain sebagainya. Pernah juga memerankan tokoh Juliet dalam naskah pengarang inggiris William Shakespeare yang berjudul Romeo & Juliette. Uniknya istri saya yang ketiga ini gaya bicara dalam keseharian pun tah ubahnya seperti dalam panggung sandiwara. Lysistrata ini paling suka mengurus dan merawat tanaman. Bunga-bunga yang menghiasi keindahan rumah ini, dialah yang menanamnya. Nah, keturunan Lysistrata inilah kelak yang akhirnya melahirkan Sabita Salsabila Rokaesih. Saya menikahi Lysistrata persis 20 tahun setelah saya menikah dengan Rodrina, tepatnya saya nikahi Lysistrata pada tahun 1963. Kami dikarunia 12 orang anak yang tersebar di berbagai provinsi. Lysistrata juga mempunyai seorang pelayan khusus yang bernama Jembar Pangartos. Si Jembar itu gaya bicaranya sudah terpangaruh oleh cara bicara Lysistrata, bahkan lebih ekstrim! Jadi kalau saya mendengarkan Lysistrata dan si Jembar Pangartos bicara, serasa lagi nonton pertunjukan teater.

MUNCUL JEMBAR PANGARTOS MEMBAWA KURSI DENGAN GAYA TEATER TUBUH. LALU IA TARUH KURSI ITU DI ANTARA JUGALI DAN PARA ISTRINYA.

JEMBAR PANGARTOS: Permisi wahay juragan ganteng sekali. Hamba mendapat titah dari Nyonya Lysistrata yang cantik jelita, untuk meletakan kursi ini, di sini.
JUGALI: Wahai Jembar Pangartos yang budiman. Silahkan letakkan kursi itu, di situ!
JEMBAR PANGARTOS: Terimakasih, Juragan. (PERGI LAGI KE DALAM)

MUNCUL LYSISTRATA, BERJALAN PERLAHAN LALU BERHENTI DI SUATU SUDUT SAMBIL BERKATA

LYSISTRATA: Duhai pagi yang cerah. Kulihat butiran-butiran embun masih melekat di dedaunan hijau sehingga daun-daun pun menggigil kedinginan. (MELIHAT BUNGA ANGGREK DI POT LALU MENGHAMPIRINYA) Duhai bunga anggrek merah kesukaanku. Kau tampak semakin mekar, semekar hatiku yang sedang berbunga-bunga ini. Stela, jangan lupa untuk kau sirami bunga bunga ini setiap hari.
STELA: Sekalipun tak pernah hamba lewatkan hari, untuk menyirami bunga-bunga ini Nyonya Lysistrata. Hamba sangat faham bahwa hidup tanpa bunga ibarat sayur tanpa bumbu.
RAIFA: Ibarat sambel tanpa cabe!
JUGALI: Ibarat dunia tanpa matahari.
LYSISTRATA: Ibarat lilin tanpa api.
NARSISTA: Ibarat baju tanpa celana.
RODRINA: Ibarat Vave tanpa likuid.
SUARA JEMBAR PANGARTOS: (NYANYI) Ibarat air di daun keladi…
LYSISTRATA: Wahai Kak Narsista dan Kak Rodrina. Sudah berapa lama kau mendampingi suami kita di sini?
NARSISTA & RODRINA: Kami ada sebelum engkau ada. Kami di sini sebelum engkau di sini. Kami sudah bangun dari mimpi pada saat engkau masih tertidur pulas dan masih bertualang dalam mimpi.
NARSISTA: Saya sudah melakukan pemotretan untuk promosi baju-baju brand Jugali’S.
RODRINA: Saya telah melakukan checkup kesehatan agar suami kita tetap bugar dan tegar.
LYSISTRATA: Wahai Kak Narsista.
NARSISTA: (MENIRU GAYA BICARA LYSISTRATA) Iya kenapa?
LYSISTRATA: Maukah engkau memotret aku? NARSISTA (MENIRU GAYA BICARA LYSISTRATA) Tentu saja mau. Kapan?
LYSISTRATA: Sekarang.
NARSISTA: (MENIRU GAYA BICARA LYSISTRATA) Silahkan berpose.
LYSISTRATA: Baik. (BERPOSE) Eh Sebentar. Jembaaaar….
SUARA JEMBAR PANGARTOS: Ya Nyonya Lysistrata yang cantik jelita.
LYSISTRATA: Tolong kau bawakan topiku yang terbaru.
SUARA JEMBAR PANGARTOS: Siap, Nyonya Lysistrata yang cantik jelita.
LYSISTRATA: Sebentar Kakak Narsista. Aku menunggu topiku dulu.

MUNCUL JEMBAR PANGARTOS MEMBAWA TOPI.

JEMBAR PANGARTOS: Topi ini telah hamba bawakan untukmu wahai Nyonya Lysistrata…
NARSISTA, RODRINA, STELA, RAIFA: Yang cantik jelita.
JEMBAR PANGARTOS: (MEMANDANG PADA NASRSISTA, RODRINA, STELA DAN RAIFA SAMBIL MENGACUNGKAN IBU JARI TANGAN) Mantaaap!!! (LALU PERGI LAGI KE DALAM RUMAH)
LYSISTRATA: Aku sudah siap untuk kau potret, Kakak Narsista.
NARSISTA: Bagus! Silahkan berpose. (MEMOTRET) Satu.. Dua… Tiga! Sudah!
LYSISTRATA: Terimakasih!
NARSISTA: (MENIRU GAYA BICARA LYSISTRATA) Sama-sama!

TERDENGAR LAGI SUARA SEORANG PEREMPUAN DARI ARAH JALAN. DIA ISTRI KE EMPAT JUGALI YANG BARU PULANG BELANJA. NAMANYA NOTASIMI.

SUARA NOTASIMI: (BERNYANYI) Aku pulang dari pasar, / belanja beras dan sayuran / Tak lupa buah-buahan / untuk dimakan bersama.
NARSISTA , RODRINA , LYSISTRATA, RAIFA & STELA: (BERNYANYI) Syalalaa.. syalala lala.. Syalalaa.. syalala lala..
JUGALI: Itu dia, istri nomer 4 datang, Notasimi namanya. Dia seorang perempuan yang gemar bernyanyi bahkan dalam kehidupannya tak berhenti bernyanyi. Saya menikah dengannya pada tahun 1983. Dikaruniai dua orang anak karena berpedoman slogan 2 anak cukup. (MUNCUL NOTASIMI BERSAMA DUA ROBOT PEKERJA STELI & STELO JUGA DIDAMPINGI 5 MUSISI/REOG). Itulah tampang Notasimi istri saya. Dia pulang dari pasar bersama Afrida dan Aslina kedua cicitnya, ditemani pelayan khusus bernama Timpani juga ditemani oleh dua robot pekerja ciptaan saya yang saya berinama Steli & Stelo. Keduanya sangat setia melayani kami.

AFRIDA DAN ASLINA, KEDUA GADIS KECIL ITU MENGHAMPIRI JUGALI.

AFRIDA: Selamat pagi Mbah Jugali.
ASLINA: Selamat pagi juga Mbah Jugali.
JUGALI: Selamat pagi Afrida, selamat pagi juga Aslina.
AFRIDA: Mbah Jugali, kapan mbah mau kasih cerita lagi buat Afrida?
ASLINA: Iya Mbah, Aslina juga sudah lama enggak dengar cerita mbah. Aslina sudah kangen pingin dengerin cerita mbah lagi.
AFRIDA: Iya Mbah Jugali, Afrida juga sudah rindu sekali diberi dongeng sama mbah.
JUGALI: Nanti ya Nak, kalau Mbah sudah punya cerita baru, pasti mbah akan bercerita buat kalian.
AFRIDA: Asiiiik…! Mbah Jugali mau bercerita lagi.
ASLINA: Horeee! Ceritanya pasti seru!
NOTASIMI: (BERNYANYI) Timpani, cepat bawa mereka ke dalam / Agar tak mengganggu embahnya Suruh mereka bermain di dalam / Mengasuh boneka seperti biasanya

TIMPANI MENGHAMPIRI AFRIDA DAN ASLINA

TIMPANI: Afrida, Aslina, ayo kita mainnya di dalam. Mbah lagi rapat penting. Nanti kalau rapatnya sudah selesai, Afrida sama Aslina boleh nemui mbah lagi. Yu kita ke dalam, sayang.
AFRIDA: Ooooh mbah lagi miting.
ASLINA: Mbah lagi rapting.
AFRIDA: Apa itu rapting?
ASLINA: Rapat penting.

TIMPANI MENGAJAK AFRIDA DAN AFRIDA PERGI KE DALAM RUMAH

NOTASIMI: (BERNYANYI) Steli dan Stelo cepatlah kalian bawa / belanjaan ini ke dapur sana / Masaklah makanan yang lezat rasanya / untuk sarapan kami bersama //
STELI & STELO: (BERNYANYI) Baiklah Nyonya yang cantik jelita / Kami akan segera ke dapur sana / memasak makanan yang enak rasanya / untuk santapan juragan dan nyonya-nyonya //

STELA DAN STELO PERGI KE DALAM RUMAH SAMBIL MEMBAWA SEMUA KERANJANG BELANJAANNYA.

NOTASIMI: (BERNYANYI) Rupanya kalian sedang berkumpul di sini / Menemani suami tercinta si ganteng Jugali / Tapi tak kulihat Neng Tantrum si kemelinti / Kenapa dia tak berada di sini //
NARSISTA , RODRINA, LYSISTRATA & STELA: (BERNYANYI) Neng Tantrum belum bangun dari Kasur / Neng Tantrum masih tidur dan mendengkur / Neng Tantrum semalaman begadang / Menemani suami kita tersayang //

TERDENGAR SUARA KERAS NENG TANTRUM DARI KAMAR.

SUARA NENG TANTRUM: Aduuuuh kok pada berisik sih? Jangan pada berisik dong aah!
JUGALI: Itu suara istri saya yang ke empat, namanya Arum Sekartitin, biasa dipanggil Neng Tantrum. Saya menikah dengan Neng Tantrum pada tahun 2003 dan sampai sekarang belum juga dikaruniai seorang anak. Dia itu istri saya yang paling muda. Mempunyai hobi menari. Saking hobinya dia tak pernah berhenti menari-nari. Setiap waktu dia melakukan gerakan dan tarian bahkan saat berbicara pun dia tetap bergerak dan menari. Dia juga mempunyai seorang pelayan khusus namanya Ujang Gabut. Seorang pelayan cerewet walaupun dia seorang tuna wicara.
SUARA UJANG GABUT: (TERIAK-TERIAK BISU) Waa.. cacacacaaa… waawahuuu… hoowwaa…. eeeooo…
JUGALI: Itu suara istri saya
NOTASIMI: (BERNYANYI) Neng Tantrum cepatlah bangun dan mandi / Lihatlah hari sudah hampir siang / Mari berkumpul bersama kami di sini / Untuk menemani suami kita tersayang //
JUGALI: Karena Neng Tantrum lahir di generasi milenial maka gaya bicara dan tutur katanya terasa sangat modern dan bernuansa millennium.
SUARA NENG TANTRUM: Jangan berisik heeey! Aku kan lagi héés!
JUGALI: Tuh kan?
NARSISTA: Neng Tantrum mah kacau ya, bicaranya tidak mendidik!
RODRINA: Iya betul, Neng Tantrum mah angger!
LYSISATRATA: Sungguh tidak terpelajar itu Neng Tantrum sungutnya!
NOTASIMI: (BERNYANYI) Berkali-kali aku peringatkan agar / Neng Tantrum bicara benar. Tapi Neng Tantrum keras kepala, / orangnya susah dicawad //
NARSISTA , RODRINA, LYSISTRATA & STELA: (BERNYANYI) Neng Tantrum keras kepala. / Neng Entin susah dicawad. / Susah dicawad, / susah dicawad!
RODRINA: (BERNYANYI) Susah dicawad! Jreng! Jreng! Jreng!

DARI KACA JENDELA LOTENG TERLIHAT BAYANGAN NENG ENTIN SEDANG MENARI. LALU NENG TANTRUM MELIHAT KEADAAN DI BAWAH; DEPAN RUMAH. BERSAMA UJANG GABUT.

NENG TANTRUM: (MENARI) Oh kalian di situ, rupanya. Saya pikir kalian pada berisik di rohangan belakang eh taunya lagi pada di beranda hareup.
RODRINA: Sini Neng Tantrum, ikut gabung sama kami!
NARSISTA: Iya Neng Tantrum, cepat kemari.
NENG TANTRUM: (MENARI) Sebentar, saya mau kadinya.
LYSISATRATA: Iya geuwatlah ke mari.
JUGALI: Stelaaa…!
STELA: Ya Juragan.
JUGALI: Badan saya sudah mulai terasa pegal. Tolong pijitin.
STELA: Siap, Juragan.

STELA MEMIJAT PUNGGUNG JUGALI. PARA ISTRI JUGALI SALING PANDANG CEMBURU.

RODRINA: Mulai.
NARSISTA: Ssst.. jangan cemburu!
JUGALI: Raifa, tolong kamu juga temani Stela menijat punggung

RAIFA MENEMANI STELA MEMIJAT PUNGGUNG JUGALI.

RODRINA: Mulai! Mulai!
NARSISTA: Ssst.. jangan cemburu! Ssst.. Jangan cemburu!

MUNCUL NENG TANTRUM SAMBIL MENARI-NARI DIRINGI OLEH EMPAT ATAU LIMA ORANG MUSISI/REOG.

NENG TANTRUM: (MENARI) Hey kalian, apa kalian sudah pada ngejo?
STELA: Semua belum pada makan Nyonya Tantrum. Steli dan Stelo masih masak di dapur.
NENG TANTRUM: (MENARI) Oh begitu nya.
STELA: Iya begitu, Nyonya Tantrum.
NENG TANTRUM: (MENARI) Halo ayah sayang.
JUGALI: Halo bunda sayang.
NENG TANTRUM: (MENARI) Dooh enak banget ya ayah ada yang mencétan. Stela, nanti saya pencétan juga ya. Pegel nih badan goyang-goyang terus.
JUGALI: Timfaniiii…!
SUARA TIMPANI: Ya Juragaaaaan!!
JUGALI: Kamu pijit saya juga, temani Raifa dan Stela.
TIMPANI: Baik Juragaaaan. (MUNCUL DAN BERGEGAS MENGHAMPIRI JUGALI MEMIJAT BAHUNYA)
RODRINA: Mulai! Mulai! Mulai!
NARSISTA: Ssst.. jangan cemburu! Sssst cemburu! Sssstt Jam cemburu!

MUNCUL STELI & STELO MEMBAWA BEBERAPA PIRING BALA-BALA DAN DITARONYA DI MEJA TERAS DEKAT JUGALI.

STELO: Juragan, Nyonya, silahkan dimakan bala-balanya.
STELI: Bala-balanya silahkan dimakan, Juragan, Nyonya.
STELO: Makanan beratnya masih belum matang.
STELI: Masih belum matang makanan beratnya.
STELO: Bala-bala dulu sementara.
STELI: Sementara bala-bala dulu.
STELO: Lumayan untuk mengganjal perut.
STELI: Untuk mengganjal perut lumayan
STELO: Yu ah saya ke dapur lagi.
STELI: Ke dapur lagi Yu ah saya.

STELI DAN STELO KEMBALI KE DAPUR.

MUSISI 1: Asiiik bala-bala!
MUSISI 2: Bala-bala asyiiik!
MUSISI 3: Kenapa? Kalian mau? Kalau kalian mau ambil saja.
MUSISI 1: Takut dimarahin.
MUSISI 3: Takut sama siapa? Mereka semua tidak melihat kita. Hanya penonton yang melihat kita tapi tidak dengan mereka.
MUSISI 4: Teteh..! (MENCOLEK BADAN NENG ENTIN) Teteh..!
NENG TANTRUM: (MENARI) Iiih siapa yang menoél saya. (PADA NARSISTA) Kamu?
NARSISTA: (MENARI) Enggak!
NENG TANTRUM: (PADA RODRINA SAMBIL MENARI) Maneh?
RODRINA: (MENARI) No! Henteu! Tidak!
NENG TANTRUM: (PADA LYSISTRATA SAMBIL MENARI) Engkau?
LYSISTRATA: (MENARI DAN GELENG KEPALA) Tak!
NENG TANTRUM: (PADA NOTASIMI SAMBIL MENARI) Dirimu?
NOTASIMI: (MENARI SAMBIL NYANYI) Nehiiii…! Nehiiii…! Nehiiii…!
NENG TANTRUM: (PADA RAIFA) Diri kau?
RAIFA: Diriku tidak.
NENG TANTRUM: (PADA STELA SAMBIL MENARI) Sia nya!?
STELA: (MENARI) Nda Nyonya, swer! (PADA PENONTON) Nyonya Tantrum itu memang suka kasar kalo bicara.
NENG TANTRUM: (PADA STELA MARAH SAMBIL MENARI) Apaaa..!!?
STELA: (MENARI) Apa wong aku Cuma ngomong dalam hati, kok!
NENG TANTRUM: (MENARI) Ooooh..! Lalu siapa atuh yang tadi yang tual-toél sama saya? (PADA UJANG GABUT) Kamu?
UJANG GABUT: (MARAH DAN MEMBENTAK) Waaaaa!!! Wacowacooo… huwawawaaa….!!
NENG TANTRUM: (KAGET) Anjir..! Aku reuwas, anjir!! Aku ngagebeug!
MUSISI 4: (KEMBALI MENCOLEK BADAN NENG ENTIN) Teteh..! Ai teteh teh bener gak ngeliat saya.
NENG TANTRUM: (MENARI) Iih ada yang noel lagi. (PADA MUSISI 4) Enggak! Ceritanya saya teh nggak ngeliat kamu. Kalian itu hanya bisa dilihat sama penonton. (PAUSE) Siapa sih dari tadi yang noel saya terus. Masa sih ada hantu di siang berlubang begini.
JUGALI: Siang berlubang?
NENG TANTRUM: (MENARI) Siang bolong, ayah. Siang molongo alias siang molongpong.
JUGALI: Oooh siang doblong! Siang gorowong!
MUSISI 4: (KEMBALI MENCOLEK BADAN NENG ENTIN) Teteh..! Boleh saya ngambil bala-balanya?
NENG TANTRUM: (MENARI) Nya cokot we ari kamu kamu hayang mah. Teu kudu bebeja sagala. Kunaon didinya lapar teh.
MUSISI 4: (MENARI) Aslina Teh, lapar pisan.
NENG TANTRUM: (MENARI) Nya eunggeus cokot. Kop beakeun!

MUSISI 4 MENGHAMPIRI MEJA DAN MELAHAP BALA-BALA DIIKUTI OLEH MUSISI 1, 2 & 3 MEMAKAN BALA-BALA HINGGA HABIS. JUGALI, STELA DAN PARA ISTRI JUGALI TIDAK MELIHAT KEBERADAAN MEREKA. PARA ISTRI JUGA KEHERANAN MELIHAT BALA-BALA DI PIRING SUDAH LUDES TANPA MELIHAT SIAPA YANG MEMAKANNYA.

RODRINA: Loh kenapa bala-balanya habis? Saya kan belum kebagian.
NARSISTA: Eh iya bala-balanya habis.
STELA: Loh kenapa bala-balanya bisa begitu cepat?
LYSISATRATA: Jadi siapa yang menghabiskan bala-bala itu?
NARSISTA: (MENIRU INTONASI LYSISTRATA) Saya tidak tahu.
NOTASIMI: (BERNYANYI) Saya juga tidak tahu.
NENG TANTRUM: (MENARI) Sungguh keterlaluan orang menghabiskan bala-bala itu. Sungguh tidak punya cedo! Ayo siapa yang menghabiskan bala-bala ngaku! (PADA NARSISTA) Kamu?
NARSISTA: (MENARI) Enggak Neng Entin, Enggak. Sumpah!
NENG TANTRUM: (MENARI) Kok Neng Entin, nama aku Neng Tantrum.
NARSISTA: (MENARI) Maaf saya masih pakai naskah lama.
NENG TANTRUM: (MENARI) Eee sudah ganti nyaho!
NARSISTA: (MENARI) Iya lupa.
NENG TANTRUM: Jadi saha dong yang meakeun bala-bala ituh. (PADA RODRINA) Maneh?
RODRINA: (MENARI) No! Henteu! Tidak!
NENG TANTRUM: (PADA LYSISTRATA SAMBIL MENARI) Engkau?
LYSISTRATA: (MENARI DAN GELENG KEPALA) Tak!
NENG TANTRUM: (PADA NOTASIMI SAMBIL MENARI) Dirimu?
NOTASIMI: (MENARI SAMBIL NYANYI) Nehiiii…! Nehiiii…! Nehiiii…!
NENG TANTRUM: (PADA RAIFA) Diri kau? RAIFA: Diriku tidak.
NENG TANTRUM: (PADA STELA SAMBIL MENARI) Sia nya!?
STELA: (MENARI) Nda Nyonya, swer! (PADA PENONTON) Nyonya Tantrum itu memang suka kasar kalo bicara.
NENG TANTRUM: (PADA STELA MARAH SAMBIL MENARI) Apaaa..!!?
STELA: (MENARI) Apa wong aku Cuma ngomong dalam hati, kok!
NENG TANTRUM: (MENARI) Ooooh..! Lalu siapa atuh yang tadi yang menghabiskan bala bala? (PADA NARSISTA LAGI) Kamu?
UJANG GABUT: (MARAH DAN MEMBENTAK) Huaaawaaa… ciacaiaaaiaia…. Wrereeaaa!!
NENG TANTRUM: (KAGET) Anjir..! Aku reuwas lagi, anjir!! Ngagebeug lagi!

MUSISI 1 MENGHAMPIRI NARSITA LALU MENCOLEK TUBUHNYA.

MUSISI 1: (MENCOLEK) Teteh meuni geulis euy.
NARSISTA: (KAGET) Hey!!! Siapa yang mencolek tubuh saya. (PADA RODRINA) Kamu ya?
RODRINA: Enggak!
NARSISTA: Jadi siapa?
RODRINA: Ya nggak tau!
NENG TANTRUM: (MENARI) Tuuh kan?
MUSISI 1: Wah bener, mereka nggak lihat kita.
MUSISI 2: Memang begitu ceritanya. Kita hanya bisa dilihat sama penonton.
MUSISI 3: Naaah kalau dia (MENUNJUK RUANG HAMPA) penonton juga tidak bisa melihat. Hanya kita yang bisa melihat dia (MENUNJUK LAGI RUANG HAMPA)
MUSISI 1: Iya bener.
MUSISI 4: Maksudnya gimana?
MUSISI 2: Jumlah kita ini kan berlima. Satu, dua, tiga, empat (MENUJUK RUANG KOSONG) lima. Nah yang nomer lima ini penonton saja gak bisa melihat. Hanya kita yang bisa melihat.
MUSISI 4: Oh si eta, budak baong!
MUSISI 5: (…………?)
MUSISI 1: Si eta jatuh!
MUSISI 2: Eh iya.
MUSISI 3: Eh dia ketawa.
MUSISI 4: Eh berdiri.
MUSISI 1: Dia jalan!
MUSISI 2: Ikutin ah. (MENGIKUTI MUSISI 5 YANG TIDAK TERLIHAT) Hey mau kemana? Eh malah keluar. (MENGIKUTI MUSISI 5 HINGGA KELUAR PANGGUNG) Hey mau ke mana?

MUSISI 5 MUNCUL LAGI DIIKUTI OLEH MUSISI 2. TAPI KALI INI MUSISI 5 BETUL-BETUL NYATA TERLIHAT OLEH PENONTON.

MUSISI 5: (….?….)
MUSISI 2: Hey mau kemana?
MUSISI 5: (BERSIN)
MUSISI 1: Eh dia bersin!
MUSISI 5: (BERSIN)
MUSISI 3: Eh bersin lagi.
MUSISI 2: Sepertinya penonton bisa melihat dia sekarang.
MUSISI 5: (MENEPUK BADAN STELA)
STELA: Siapa yang menepuk badan saya?
NENG TANTRUM: (MENARI) Mana saya uninga.
MUSISI 4: Si eta baong!

TIBA-TIBA JUGALI YANG SEDANG DIPIJAT STELA, BATUK-BATUK.

LYSISTRATA: Dia mulai batuk-batuk lagi.
NARSISTA: Stela lekas kasih juragan minum air putih hangat campur setetes minyak kayu putih.
STELA: (SAMBIL BERANJAK) Baik Nyonya Narsista.
RODRINA: Ya ampun suamiku lupa belum makan obat paru-parunya. Stela cepat bawakan obatnya yang biasa juragan minum.
STELA: (SAMBIL BERANJAK) Baik Nyonya Rodrina.
PENONTON: Stelaaa…!
STELA: Siapa sih dari tadi manggil-manggil saja! (SAMBIL PERGI KE DALAM)
NENG TANTRUM: (MENARI) Biar saya yang nerusin mencetannya.
NOTASIMI: (MENYANYI) Jugali suamiku yang ganteng sekali / Semoga kau lekas sembuh dan sehat lagi / Agar kita bisa kembali bercengkrama / Sambil merasakan betapa nikmatnya dunia //

STELA DATANG SAMBIL MEMBAWA AIR MINUM DAN OBAT-OBATAN YANG KEMUDIAN MEMBERIKANNYA PADA JUGALI.

STELA: Sini biar saya lagi yang mijat, Nyonya.
NENG TANTRUM: (MENARI) Sudah kamu layani saja Juraganmu, keun ku saya saja. Saya kan sudah lama tidak mencétan salaki.
STELA: Kalau gitu baiklah Nyonya. (MELAYANI JUGALI)
LYSISTRATA: Oh ya, dokter Rodrina bagaimana diagnose penyakit suami kita setelah melihat hasil rongent dan mrc kemain.
RODRINA: (AGAK BERBISIK) Hasil diagnosa menyatakan keadaan suami kita tidak baik-baik saja.
STELA: Apa?!
LYSISTRATA: Tidak baik-baik saja bagaimana maksudnya, dokter?
RODRINA: (AGAK BERBISIK) Suami kita mengidap berbagai berbagai penyakit kronis, konplikasi antara tipes, diabetes, asma, lemah jantung, kelainan ginjal, meningitis, leukeumia, pheunomia, tubercolusa, tumor ganas, kanker hati, anemia, demam akut, radang otak, prostat, flu, amandel, lupus, varises, rabies, vertigo dan alzheimer
LYSISTRATA: Oh em ji.
NARSISTA: Apa semua penyakitnya itu bisa disembuhkan, dede Rodrina?
RODRINA: (AGAK BERBISIK) Sulit kakak. Menurut perhitungan hasil diagnosa laboratorium, umur suami kita hanya tinggal sepuluh hari lagi.
LYSISTRATA: Apa kau tidak sedang bercanda Rodrina?
NARSISTA: Iya, dede. Dede pasti bercanda. Suami kita sehat-sehat saja kan De?
RODRINA: (AGAK BERBISIK) Saya tidak bercanda, Kakak. Saya serius. Saya berani sumpah pocong! Suami kita menderita berbagai penyakit yang sangat berbahaya!
NARSISTA: Dede Rodrina. (BERSIMPUH) Dede adalah seorang dokter. Tolong sembuhkan suami kita. Kaka belum siap kehilangan Jugali. Ayolah Dede Rodrina, selamatkan Jugali kita.
NOTASIMI: (MENYANYI) Penyakit yang dideritanya / Bukan hanya penyakit biasa / Tapi penyakit yang tiada obatnya / Setiap waktu dirinya tambah luka / / Ayolah Kaka Rodrina / Buatkan obat istimewa / / Agar suami yang penuh derita / Kembali bahagia serta ceria / Agar suami yang penuh derita / Kembali bahagia serta ceria //

MUNCUL IBUNDA

IBUNDA: Bukan hanya penyakit badan yang diderita Jugali.
PARA ISTRI: Ibunda!!
AYAHANDA: Tapi dia juga menderita penyakit hati.
PARA ISTRI: Ayahanda!!
IBUNDA: Penyakit badan yang dideritanya berasal dari sakitnya hati
AYAHANDA: Para wanita yang selama ini mengelilinginya telah menciptakan lubang luka yang terdalam di lerung jiwanya.
PARA ISTRI: Ayahanda, Ibunda kenapa kalian datang? Bukankah kalian telah lama meninggal dunia?
AYAH/BUNDA: Kami ada, kami tak pernah tiada. | Kami selalu hidup dalam diri anak kami Jugali. | Sayangi dan kasihi dia, jangan kalian buat hidupnya semakin derita.
JUGALI: Jugali selalu bahagia, Ibu. Hati Jugali selalu meriah, Ayah. Jugali selalu merasa nyaman dan tentram bersama para istri mulia. Jugali tak pernah sedih dan merintih. Jugali senantiasa bernafas dalam ketenangan hati.
IBUNDA: Sungguh anakku berjiwa mulia, ia tak pernah menampakan dukanya pada manusia padahal hatinya tersiksa.
AYAHANDA: Hatinya tersiksa oleh kenelangsaan yang tiada tara.
AYAH/BUNDA: Kutitipkan Jugali pada kalian. | Hapuskanlah segala luka dan deritanya. | Kutitipkan Jugali pada kalian. | Hapuskanlah segala luka dan deritanya. | Kutitipkan Jugali pada kalian. | Hapuskanlah segala luka dan deritanya. | Kutitipkan Jugali pada kalian. | Hapuskanlah segala luka dan deritanya. | Kutitipkan Jugali pada kalian. | Hapuskanlah segala luka dan deritanya. (PERGI DAN MENGHILANG)
RODRINA: Mungkinkah kita ini sedang bermimpi. Ibunda dan Ayahanda yang telah lama meninggal tiba-tiba datang memberi peringatan pada kita.
NARSISTA: Ini bukan impian. Ini kenyataan.
LYSISTRATA: Kalian dengar apa yang telah dikatakan ayahanda barusan? Perempuan yang berada di sekelilingnya telah membuat jugali menderita. Pada siapa lagi perktaan itu ditujukan jika bukan pada kita. (BEAT) Jugali muak dalam hatinya melihat Kakak Narsista yang lebih berkaca dicermin dibanding ngulek didapur, Jugali murka melihat Kakak Rodrina yang lebih banyak mengurus orang lain ketimbang suaminya. Benci pada Notasimi yang lebih mementingkan karirnya untuk jadi penyanyi kesohor dibanding mengurus suami dan anak-anak. Kesal pada Neng Tantrum yang penuh ego dan apatis pada berbagai persoalan keluarga dan rumah tangga. Kerjanya hanya menari, menari dan menari.
NENG TANTRUM: Selalu! Selalu! Selalu saja saya yang disalahkan! Apa kalian tidak pernah melihat perngorbanan apa yang telah saya bere pada salaki saya. Poé demi poé saya lalui hanya untuk kabagjaan salaki dan barudak. Kamu jangan asal menyalahkan orang Kakak Lysis. Kamu juga sering membuat Jugali tersiksa oleh kata-kata kamu yang tajam dan menyakitkan. Setiap hari ngomel membuat kuping para tetangga nyeri dan linu. Semua omelanmu bisa membuat orang-orang mendadak paéh!
NARSISTA: Betul Lysistrata, kamu harus bercermin dan berkaca pada diri sendiri apakah selama ini kamu telah menjadi manusia yang benar. Apa kamu merasa telah menjadi seorang manusia yang tak pernah punya kesalahan. Hari ini kamu telah membuat hati saya tersinggung dengan kata-katamu yang menyakitkan hati.
NOTASIMI: Kita haruuuus…..
NARSISTA: (PADA NOTASIMI) Diaaam!!!
RODRINA: Sudah jangan ribut. Pertengkaran diantara kita tidak akan menyelesaikan masalah. Mulai saat ini, kita harus salik koreksi diri sendiri dan tidak mengulangi lagi kesalahan. Hormatilah suami, jangan membuat hatinya gundah gulana.
NENG TANTRUM: Ya sudah, ayo kita kembali bahagiakan suami kita.

STELA, RAIFA, TIMPANI BERKUMPUL DI SUATU SUDUT. DIIKUTI OLEH UJANG GABUT DAN JEMBAR PANGARTOS YANG KELUAR DARI DALAM RUMAH.

TIMPANI: Sudah berapa lama kita jadi pelayan ini?
STELA: Rasanya sudah beraba-abad.

RAIFA: Hidup jadi pelayan bukanlah cita-citaku, tapi takdir yang telah menentukan perananku di dunia ini.
JEMBAR PANGARTOS: Pada hakekatnya semua manusia adalah pelayan. Tuhan menciptakan kita bukan untuk dilayani tapi untuk melayani. Semua umat beragama pasti berdoman bahwa jalan kehidupan adalah petunjuk dari Tuhan. Jika kita menuruti perintah Tuhan, artinya, kita dengan setia telah melayani Tuhan. Kita adalah pelayan.
STELA/RAIFA/TIMPANI: Memang kita ini pelayan.
RAIFA: Dengan kata lain setiap orang pernah merasakan jadi pelayan. Majikan majikan kita pun pernah melayani. Bahkan seorang Bos Perusahaan besar dia langsung serta merta jadi bos karena ia pernah mempunyai bos. Orangtua yang membesarkan dia adalah bos bagi anak-anaknya.
UJANG GABUT: Whuyaaauoo…saaa..!
STELA: (PADA UJANG GABUT) Iya, benar.
UJANG GABUT: Shagahyaaauoo.. baaa!
TIMPANI: (PADA UJANG GABUT) Bagaimana?
UJANG GABUT: Shagahyaaauoo.. baaa!
TIMPANI: (PADA UJANG GABUT) Oh, gitu!
UJANG GABUT: Haa hooua gaaa…!
JEMBAR PANGARTOS: (PADA UJANG GABUT) Oh belum tentu!
UJANG GABUT: Fufufafa! Fufufafa!
JEMBAR PANGARTOS: (PADA UJANG GABUT) Nah itu baru betul.
STELA: (PADA UJANG GABUT) Jadi solusinya bagaimana?
UJANG GABUT: Wgahuhhhiyuau hoooo huuuuiiiha waouoateoteooocacaca… papaaa,,,, wiuwiuwikwoooooaaaudsdf… saaaahueudsssaaa….!
TIMPANI: Ujang Gabut, saya tahu kamu itu hanya bisu kesingnya saja tapi saya yakin kalau hatimu itu tidak bisu. Sekarang kamu berbicaralah dalam hati biar penonton mengerti.
UJANG GABUT: Ujang Gabut bicara dalam hati. (JEDA) Adalah orang tolol jika ingin dilahirkan jadi seorang tuna wicara. Sejak kecil aku sudah tak bisa bicara. Aku minum tiner satu kaleng sejak usia empat bulan. Tuhan telah mentakdirkanku untuk menjadi si gagu! Sungguh menyedihkan jika pengalamnku terjadi pada kalian. Tapi ada kebahagiaan yang kurasakan dalam menjalani hidup sebagai sigagu. Dengan begini aku tidak pernah punya kata-kata untuk melukai hati manusia. Bahkan jika aku bicara seringkali orang tertawa mendengarnya. Tapi tidak apa-apa. Aku justru senang karena telah bisa menghibur mereka meskipun hati ini nyelekit. Biarkan mereka mentertawakan deritaku.
MUSISI 1: Si eta monolog.
MUSISI 2: Bisaan nya?
MUSISI 3: Ssssttt…! Kita dengarkan lagi.
UJANG GABUT: Banyak manusia di dunia yang nasibnya serupa denganku! Beribu kaum disabilitas hidup di dunia. Orang-orang normal hanya bisa berkata “oh Kasihan” tanpa melakukan apapun. Banyak teman-temanku dan banyak juga para pejabat yang iba padaku tapi hanya sekedar iba dan tak mampu membantu membuat aku bisa bicara. Banyak pula yang apatis terhadap nasib kami. Banyak pula mereka yang peduli sama kami apalagi menjelang pemilu atau pilkada datang. Para calon pemimpin seolah menjadi orang yang paling peduli pada kami, padahal sebelumnya mereka cuek-cuek saja. Dasar oportunis! Mau cari untung senfiri!
MUSISI 4: Anjir kritik pedas!
MUSISI 5: Satir euy satiiir.
MUSISI 1: (MAKAN CEMILAN)
MUSISI 4: Makan apa kamu?
MUSISI 1: Kritik pedas!
MUSISI 2,3,4,5: Kiripik!
NARSISTA: (MENANGIS) Saya belum siap untuk ditinggalkan.
RODRINA: (MENANGIS) Saya belum mau jadi janda.
LYSISTRATA: (BICARA NORMAL) Sama, Kakak Rodrina. Saya juga belum siap bergabung dengan komunitas IJIN; Ikatan Janda Indonesia.
RODRINA: Lysistrata, kamu bisa bicara normal?
LYSISTRATA: Saya tiba-tiba menyadari kalau hidup itu bukan sandiwara.
NOTASIMI: (TANPA NYANYI) Ya, kehidupan bukanlah panggung sandiwara, tapi panggung sandiwara harus hidup.

MUNCUL JEMBAR PANGARTOS MENGHAMPIRI LYSISTRATA.

JEMBAR PANGARTOS: (BICARA NORMAL) Nyonya Lysistrata yang cantik jelita, menurut jadwal agenda harian, sekarang sudah waktu nyonya untuk senam aerobic.
LYSISTRATA: Hari ini senamnya libur dulu, Jembar. Saya sedang tidak ada gairah.

MUNCUL TIMPANI MENGHAMPIRI NOTASIMI

TIMPANI: Maaf nyonya, sekarang sudah waktunya berlatih vocal di studio.
LYSISTRATA: Tidak hari ini, Timpani. Saya sedang suntuk. Bosan!
TIMPANI: Tapi nyonya harus tetap semangat berlatih vocal setiap hari, supaya suara tidak selalu fales.
NOTASIMI: (MARAH) Sudah saya bilang saya sedang suntuk! Bosan!
NARSISTA: Stela coba kamu periksa lagi agenda kegiatan Juragan. Apa betul hari ini jadwal Juragan kosong?
STELA: Perasaan kosong, Nyonya. (MEMBUKA BUKU AGENDA) Eh tapi Nyonya. Masya Allah. Nyonya…
NARSISTA: Kenapa Stela?
STELA: (BERBISIK) Hari ini Juragan ulang tahun.

BEGITU MENDENGAR INFORMASI DARI STELA TANPA BILANG PADA JUGALI NARSISTA MENGAJAK SEMUA ISTRI JURAGAN UNTUK BERKUMPUL DI SUATU SUDUT DAN BEREMBUK UNTUK MEMBUAT SURPRISE PADA JUGALI YANG SEDANG BERULANGTAHUN. PARA MUSISI MENGIKUTINYA DAN IKUT BERKUMPUL.

NARSISTA: Dede-Dedeku coba sini kita berkumpul sebentar. (LALU BERBISIK-BISIK)
RODRINA: Sebaiknya kita udunan untuk membeli kueh ulang tahun.
LYSISTRATA: Sungguh ide yang sangat bagus.
SEMUA: (MENIRU CARA BICARA LYSISTRATA) Iyaa!
NARSISTA: Mari kita udunan sekarang juga. Uangnya kumpul di istri bungsu, Neng Tantrum.
NENG TANTRUM: (MENARI) Ayo cepat kumpulin artosnya sekarang juga. (SEMUA MENYERAHKAN SEJUMLAH UANG PADA NENG ENTIN MALAH SALAH SEORANG DARI PARA MUSISI ADA YANG MEMBERIKAN UANG LOGAM LIMA RATUS RUPIA.) Ini siapa yang ngasih lima ratus? (PADA NARSISTA) Kamu?
NARSISTA: (MENARI) Enggak! NENG TANTRUM: (PADA RODRINA SAMBIL MENARI) Maneh?
RODRINA: (MENARI) No! Henteu! Tidak!
NENG TANTRUM: (PADA LYSISTRATA SAMBIL MENARI) Engkau?
LYSISTRATA: (MENARI DAN GELENG KEPALA) Tak!
NENG TANTRUM: (PADA NOTASIMI SAMBIL MENARI) Dirimu?
NOTASIMI: (MENARI SAMBIL NYANYI) Nehiiii…! Nehiiii…! Nehiiii…!
NENG TANTRUM: (PADA STELA SAMBIL MENARI) Sia nya!?
STELA: (MENARI) Nda Nyonya, swer! (PADA PENONTON) Nyonya Entin itu memang suka kasar kalo bicara.
NENG TANTRUM: (MENARI) Kamu lagi ngomong dalam hati ya.
STELA: (MENARI) Loh kok tau?
NENG TANTRUM: (MENARI) Ooooh..! Lalu siapa atuh yang Cuma ngasih lima ratus? (PADA NARSISTA LAGI) Kamu?
UJANG GABUT: (BEGERAK SEPERTI AKAN MEMBENTAK)
NENG TANTRUM: (KAGET) Anjir..! Aku reuwas lagi, anjir!! Tiga kali ngagebeug!! Hatrick!!!
NARSISTA: Ayo semua uangnya serahkan pada Stela. Biar dia belanja sekarang juga. (NENG TANTRUM MEMBERIKAN SEMUA UANGNYA PADA STELA) Nah Stela uang ini belikan kueh ulang tahun, lilin, balon, kembang api, badut, penyanyi dan orkes dangdut. Tapi jika uang tidak cukup. Biar hanya beli kueh ulang tahun saja.
STELA: Siap Nyonya, saya berangkat. (STELA PERGI) NARSISTA: Dede-dedeku sekalian, sambil menunggu Stela, mari kita membuat surprise untuk merayakan hari jadi suami kita tercinta.

MEREKA MEMBENTUK SEBUAH KOOR UNTUK MEMBERI KEJUTAN PADA JUGALI. MUSIK BERTALU. LANTAS PARA ISTRI MELAKUKAN KOREGRAFI. MENARI-NARI.

KOOR: One Two Three For. Eee Eee Aaaaa! Eee Eee Aaa! Wow! Wow! Wow wow wow! Wadidaw! Wadidaw. Ee aa… Eee aaa… selamat hari jadi, buat Jugali suami tercinta, Juragan Ganteng, horsa horsa ee ee aaa. Selamat hari tahun untuk Jugali si Juragan ganteng horsa horsa ee ee aa. Horsa! Horsa! Maju maju maju. Mundur mundur mundur, minggir minggir minggir. Jugali Jugali, panjang umurnya panjang rezekinya, panjang barokahnya, selamat dunia akhirat. Horsa Horsa ee ee aaa. Wadidaw! Wadidaw. Wow! Wow! Wow! Barrakallahu Fii Umrik, Barrakallahu Fii Umrik.
JUGALI: Saya baru ingat, hari ini saya berulangtahun tapi saya tidak ingat telah berapa tahun usia saya di dunia ini.
NARSISTA: (PADA JUGALI) Selamat ulang tahun papih sayang.
JUGALI: Terimakasih mamih sayang.
RODRINA: (PADA JUGALI) Semoga panjang usia Abi ganteng.
JUGALI: Terimakasih Umi cantik.
LYSISTRATA: Semoga bahagia wahai Bapa yang macho.
JUGALI: Terimakasih wahai Ibu yang smart.
NOTASIMI: (NYANYI) Semoga semakin penuh rahmat dan kasih oh daddy.
JUGALI: Terimakasih oh Momsky.
NENG TANTRUM: (MENARI) Semoga semakin kuat dan tegar duhai Ayah yang edun!
JUGALI: Terimakasih duhai Bunda yang edan!
PARA ISTRI: Selamat ulang tahun suamiku tercinta.
JUGALI: Saya tidak tahu berapa jumlah usia saya sekarang
NARSISTA: Semakin tua kita lupa pada usia
RODRINA: Kita selalu merasa muda.

SALAH SEORANG MUSISI MENARUH MIC DI TENGAH DEPAN PANGGUNG.

JUGALI: Eh ada mik, ayo kita nyanyi bersama di hari ulang tahun saya ini.
PARA ISTRI: Mari! Mari! Mariiii!

MEREKA BERBARIS DAN MELAKUKAN ANTRIAN DENGAN MEMBANJAR KE BELAKANG LALU BERNYANYI SATU PERSATU DIMULAI OLEH JUGALI.

JUGALI: Kita komunitas lansia / Di seantero dunia
NARSISTA: Hatinya selalu bahagia / Serta merasa muda
RODRINA: Kami tetap berupaya / Membangun cita-cita
LYSISTRATA: Kelak tak mau masuk neraka / Tapi ingin masuk surga
NOTASIMI: Rutin periksa kesehatan
RAIFA: Agar penyakit tak berdatangan
NENG TANTRUM: Kembangkan bakatmu / Saluyu dengan kabisamu
TIMPANI: Kita komunitas lansia / Di seantero dunia
JUGALI: Hatinya selalu bahagia
NARSISTA: Serta merasa muda
RODRINA: Serta merasa muda
LYSISTRATA: Serta merasa muda
NOTASIMI: Thankyou
NARSISTA: Oh iya, Papih sayang, sebentar lagi kue ulang tahun segera tiba. Stela sedang membelinya.
JUGALI: Kalau begitu sembari menunggu kueh ulang tahun tiba, saya akan memanggil Mang Asgar. (JUGALI MENGAMBIL HP LALU MENELPON MANG ASGAR. PARA ISTRI MEMANDANG JUGALI SERAYA MEMATUNG) Haloo.. Mang Asgar apa kabar?
SUARA MANG ASGAR: Alhamdulillah baik juragan. Juragan sendiri bagamana kabarnya
JUGALI: Oh iya Mang hari ini saya ulang tahun. Saya ingin terlihat rapi. Sekarang Mas Asgar cepat kesini tolong rapihkan jenggot, kumis dan jambang saya biar rapi.

MANG ASGAR TIBA-TIBA DAN SEGERA BERLARI MENDATANGI JUGALI. TENTU SAJA JUGALI KAGET MELIHAT KEDATANGAN MANG ASGAR YANG BEGITU CEPAT.

MANG ASGAR: Saya sudah datang, Juragan.
JUGALI: Loh? Kok cepat sekali?
MANG ASGAR: Dari tadi saya nunggu adegan di wing itu, Juragan.
JUGALI: Oh pantesan

MANG ASGAR MENGAMBIL POSISI DAN TEMPAT YANG TIDAK TERLALU DARI TEMPAT JUGALI LALU MEMPERSIAPKAN PERALATAN MENCUKUR. PARA ISTRINYA MASIH TETAP MEMANDANGNYA.

MANG ASGAR: Silahkan duduk di kursi saya ini, Juragan.

JUGALI BERANJAK DARI TEMPAT DUDUKNYA, BERJALAN MENDEKATI MANG ASGAR UNTUK DUDUK DI KURSI CUKUR DIBAWA OLEH MANG ASGAR. MANG ASGAR MENUTUPI TUBUH JUGALI DENGAN KAIN PUTIH CUKUR. MANG ASGAR MULAI MERAPIKAN KUMIS DAN JENGGOT JUGALI. JUGALI MULAI MENYADARI BAHWA IA DITATAP OLEH KELIMA ISTRI DAN PARA MUSISI/REOG.

JUGALI: (PADA KELIMA ISTRINYA) Heei…! Kenapa kalian terus memandang saya dengan tatapan tajam seperti itu?
MANG ASGAR: Maaf Juragan. Juragan itu sedang berbicara sama siapa?
JUGALI: Sama mereka.
MANG ASGAR: Mereka siapa Juragan? Di sini tidak ada siapa-siapa selain saya sama Juragan.
JUGALI: Mereka ke lima istri saya. Apa kamu tidak melihatnya.
MANG ASGAR: Tidak Juragan.
JUGALI: Tapi saya betul-betul melihat mereka. Sedari tadi saya berbincang dengan mereka.
MANG ASGAR: Maaf Juragan, sebaiknya Juragan jangan selalu tenggelam pada kehidupan masa lalu. Juragan harus bisa menerima kenyataan kalau kelima istri juragan itu sudah lama meninggal dunia. Mereka mati bersama 32 tahun yang lalu pada kecelakaan pesawat terbang di tahun 2017. Sebaiknya Juragan senantiasa menoakan kelima istri juragan itu agar selalu mendapat kebahagiaan di alam sana.

PADA SAAT MANG ASGAR SEDANG BERBICARA, NARSISTA, RODRINA, LYSISTRATA, NOTASIMI DAN NENG ENTIN BERJALAN PERLAHAN DAN MASUK KE DALAM RUMAH SAMBIL BERNYANYI BERSAMA. SEDANGKAN PARA MUSISI/REOG BERJALAN KE ARAH LAIN.

KOOR: Manusia adalah aktor sejati / bertualang di panggung sampai mati / mengemban tugas dari sutradara / hingga lari menuju hampa //
JUGALI: Matahari penuh cinta pada dunia / Ia adalah saksi dari berbagai peristiwa / Yang paling kutakutkan dalam hidup ini / Jika ditinggalkan matahari //
MANG ASGAR: Manusia harus pemberani / Sebagaimana halnya sebatang lilin / Yang rela berkorban lelehkan tubuhnya / Untuk menerangi kehidupan sementara //
JUGALI: Nyala lilin bukanlah pengorbanan / Lilin menyala karena dikorbankan / Ia bisa terang karena kita memaksanya / Tapi Tuhan memberi kekuatan pada matahari / Untuk bisa menyala sendiri //

MASUK ORANG-ORANG YANG MEMBAWA BALON-BALON, UMBUL UMBUL , KERTAS-KERTAS DAN BENDERA-BENDERA BERWARNA KUNING YANG DIPASANG DI SEKELILING RUMAH. MANG ASGAR MASIH TETAP MERAPIHKAN KUMIS, JENGGOT DAN RAMBUT JUGALI. BALON-BALON ITU MASIH ADA YANG DITIUPNYA. SETELAH MENGHIAS RUMAH DENGAN BERBAGIAN ATRIBUT BERWARNA KUNING ORANG-ORANG ITU KEMBALI MENINGGALKAN PANGGUNG. MUNCUL STELA MEMBAWA KUEH DENGAN LILIN-LILIN MENYALA DI ATASNYA.

STELA: Selamat ulang tahun Juragan. Silahkan ditiup lilinnya.
JUGALI: Simpan saja kue itu di meja sana, Stela. Biarkan lilinnya tetap menyala hingga dia meleleh. Saya tak tega meniup api yang sedang gembira.
STELA: Baiklah Juragan, akan saya simpan kuenya di meja. (STELA BERJALAN MENUJU MENGHAMPIRI MEJA DAN MELETAKAN KUE ULANG TAHUN DI ATASNYA. STELA MEMPERHATIKAN KEADAAN DI SEKELILING RUMAH) Loh? Kok sepi? Istri-istri juragan pada kemana?
JUGALI: Mereka pergi entah kemana.
STELA: Tadi katanya mau merayakan pesta ulangtahun bersama. Kok malah pada pergi.
MANG ASGAR: Sudah selesai, Juragan. Juragan sudah tampak semakin rapi sekarang.
JUGALI: Berapa saya harus bayar?
MANG ASGAR: Tidak usah bayar, Juragan. Buat juragan gratis. Juragan sudah terlalu sama saya.
JUGALI: Tapi kan kamu pasti perlu uang untuk kebutuhan keluarga kamu.
MANG ASGAR: Tidak apa-apa, Juragan. Masih banyak kesempatan saya untuk mendapatkan rezeki. (SAMBIL MEMBERESKAN KEMBALI PERALATAN CUKURNYA)
STELA: Juragan? Juragan berbicara sama siapa? Kok Juragan berbicara sendiri.
JUGALI: (BERDIRI) Bicara sendiri? Apa kamu tidak melihat saya sedang bicara sama Mang Asgar?
STELA: Mang Asgar mana? Mang Asgar tukang cukur?
JUGALI: Iya. Apa kamu nggak lihat?
STELA: Aaah Juragan jangan nakut-nakutin saya aaaah. Mang Asgar tukang cukur itu kan sudah lama mati. Sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
JUGALI: Tapi ini Mang Asgar…. (MANG ASGAR SUDAH TIDAK ADA DI TEMPAT. KURSI CUKUR SUDAH TIDAK ADA. JUGALI BERJALAN MENDEKATI KURSI LAIN YANG TADI DIDUDUKINYA) Stela, badan saya masih kerasa pegal. Ayo pijitin lagi.
STELA: Siap, Juragan. STELA KEMBALI MEMIJATI JUGALI. TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL GALMON DAN DAESUKE FUJITA.
GALMON: Permisi. Selamat sore.
JUGALI: Sore.
DAESUKE FUJITA: Apa betul ini rumahnya Ibu..
JUGALI: Sabita Salsabila Rokaesih.
GALMON: Oh, berarti betul.
DAESUKE FUJITA: Apa Ibu Salsabilanya sudah ada di rumah?
JUGALI: Dia masih belum pulang. Kalian tunggu saja sampai dia datang. Kalian yang akan membeli rumah ini kan?
GALMON: Ya betul. Tapi kami baru ingin melihat-lihat saja.
JUGALI: Ayo Stela lebih kenceng lagi mijitnya.
STELA: Baiklah, Juragan. (MEMIJAT LEBIH KENCANG)
DAESUKE FUJITA: Bapak barusan bicara sama siapa?
JUGALI: Saya bicara sama Stela yang sekarang sedang memijit saya.

GALMON DAN DAESUKE FUJITA SALING PANDANG KEHERANAN.

GALMON: Tapi saya hanya melihat bapak sendirian.
DAESUKE FUJITA: Saya juga tidak melihat Stela.
STELA: Uuuh angel! Angel!
JUGALI: Stela kamu bisa melihat mereka?
STELA: Bisa.
JUGALI: Tapi katanya mereka tidak bisa melihat kamu.
STELA: Ya sebodo amat!
JUGALI: Sepertinya badan saya harus banyak bergerak. Jenuh juga diam di sini terus. Saya perlu sedikit refresing. Stela antar aku pergi jalan-jalan cari udara segar.
STELA: Ayo Juragan.
JUGALI: (PADA GALMON & FUJITA) Nama saya Jugali, salah seorang moyangnya Sabita Salsabila Rokaesih. Kalian tunggulah sampai dia datang. Bilang sama Sabita bahwa Jugali tidak setuju kalau rumah ini dijual! Mari Stela kita pergi.
STELA: (SAMBIL BERJALAN) Juragan, sebenarnya mereka berdua itu bisa kok melihat saya. Cuma mereka pura-pura saja gak melihat.
JUGALI: (SAMBIL BERJALAN) Kok kamu begitu yakin kalau mereka bisa melihat kamu.
STELA: (SAMBIL BERJALAN) Wong setiap hari kita latihan bareng kok.

JUGALI DAN STELA PERGI MENINGGALKAN PANGGUNG. TINGGAL GALMON DAN DAESUKE FUJITA YANG BERADA DI PANGGUNG. TERDENGAR SUARA SABITA SEDANG BERBICARA DENGAN TELEPON GENGGAMNYA.

SUARA SABITA: Sudahlah jangan percaya lagi sama janji-janji palsu. Biasa, pada saat butuh dia terus nempel sama kita. Eh pas sudah jadi, dia senguja melupakan kita, dihubungi susah bahkan nomer kontaknya diganti.
GALMON: Itu pasti Ibu Salsabila.
DAESUKE FUJITA: Ya, semoga dia yang datang.

LALU MUNCUL SABITA SALSABILA

SABITA: Oh iya, terimakasih sudah menghubungi. (MENUTUP TELPON TAPI KEMBALI ADA BUNYI DERING HP) Halo.
SUARA: Apa saya bicara dengan Ibu Tarigan?
SABITA: Salah sambung! (SABITA MENUTUP TELEPON TAPI KEMBALI HP LAIN BERBUNYI) Halooo…
YASTIN: (MENANGIS) Sabita.
SABITA: Yastin ada apa lagi?
YASTIN: (MENANGIS) Sabita saya mau curhat.
SABITA: Mau curhat apa lagi Yastin?
YASTIN: (MENANGIS) Sabita suami saya kawin lagi sama orang lain.
SABITA: Aduh kasihan benar nasib kamu Yastin. Tapi Yastin, sekarang ini saya sedang kedatangan tamu. Nanti disambung lagi ya curhatnya.
YASTIN: (MENANGIS) Iya Sabita.
SABITA: (MENUTUP TELPON LALU BICARA PADA GALMON DAN DAESUKE FUJITA) Ini pasti Nak Galmon.
GALMON: Betul, Bu.
SABITA: Dan ini…
DAESUKE FUJITA: Daesuke Fujita.
SABITA: Gampang kan cari alamat saya.
DAESUKE FUJITA: Tadi kami diberi petunjuk sama orang tinggi besar.
GALMON: Namanya Haji Bahrumi
SABITA: Ada tompel di pipinya?
GALMON: Betul, Bu.
SABITA: Masya Allah! Haji Bahrumi itu sudah lama meninggal dunia.
GALMON & DAESUKE FUJITA: Hah!
SABITA: Haji Bahrumi meninggal dunia terserang covid 3000.
GALMON: Kami juga barusan berbincang disini dengan pak tua namanya Jugali.
SABITA: Masya Allah! Masya Allah! Masya Allah!
DAESUKE FUJITA: Sekarang ini Pak Jugali sedang pergi jalan dengan namanya…
GALMON: Stela.
SABITA: Astgfirulahhaladziiim! Astagfirulahhaladziiim! Astagfirulahhaladziiiiiim!
GALMON & DAESUKE FUJITA: Kenapa Bu?
SABITA: Jugali dan Stela itu sudah almarhum dan almarhumah sejak saya belum lahir ke dunia ini. Saya cuma tau cerita tentang dari orang tua saya.
GALMON: Jugali bilang dia tidak setuju kalau rumah ini akan dijual.
SABITA: Aduh saya sakit perut, saya ijin ke belakang dulu. Nanti kita lanjutkan bicara tentang penjualan rumah ini. (SABITA BERGEGAS KE DALAM RUMAH TAPI HAP BERDERING LAGI. SABITA MENGANGKAT HP DAN MEMERIKSA NAMA PENELPON) Hah? Bola? (RAGU-RAGU BICARA) Halooo…
SUARA BOLA: Sabita ini Bola, Bola mau ngabarin berita duka cita.
SABITA: Dukacita apa Bola?
SUARA BOLA: Kamu tahu kan teman kita Yastin.
SABITA: Iya tau, barusan juga saya telponan sama Yastin.
SUARA BOLA: Ah masa Sabita? Yastin itun sudah meninggal gantung diri lima hari yang lalu.
SABITA: Tapi tadi Yastin bilang kamu sudah meninggal tiga hari yang lalu.
SUARA BOLA: Iya emang. SABITA: Terus kenapa kamu menelpon saya?
SUARA BOLA: Karena saya ingin ngasih tau kamu kalo Yastin juga sudah meninggal.
SABITA: Yastin ngbarin Bola meninggal, Bola ngasih tau Yastin meninggal, aaaah pusiiiiing (LARI KE DALAM RUMAH MENINGGALKAN MORGAN DAN DAESUKE FUJITA).

SUASANA HENING. DAESUKE SABITA DAN MORGAN SEDANG MENUNGGU SABITA. MUNCUL ORANG-ORANG DISUSUL DENGAN ARAK-ARAKAN KERANDA MAYAT.

ORANG SATU: Cepat bawa mayatnya ke dalam rumah. Kita lakukan penguburan besok saja.
ORANG DUA: Tapi kuburan sudah siap.
ORANG SATU: Kita beri kesempatan semua keluarganya berkumpul.

DIANTARA ORANG-ORANG ITU TERDAPAT SESEORANG YANG BERPAKAIAN ANEH. MORGAN DAN MENGHAMPIRINYA.

GALMON: Siapa yang meninggal Pak?
PECERIN: Yang meninggal namanya Sabita Salsabila Rokaesih, pemilik rumah ini.

GALMON DAN SABITA SALING PANDANG DAN TERBENGONG BENGONG.

DAESUKE FUJITA: Kapan meninggalnya dan kenapa pak.
PECERIN: Dia sudah koma selama satu tahun di rumah sakit dan meninggal tadi malam.
SESEORANG: Pak, bapak kok ngomong sendiri?
PECERIN: Saya tidak ngomong sendiri. Dengan kedua orang ini namanya Galmon dan Daesuke…
DAESUKE FUJITA: Fujita
PECERIN: Fujita. Apa kamu melihatnya?
SESEORANG: Tidak. Saya tidak melihat siapa-siapa kecuali bapak.
PECERIN: Ya saya tahu kamu pasti tidak melihatnya. Saya sedang berbicara dengan Daesuke Fujita yang dalam Bahasa Jepang berarti…
DAESUKE FUJITA: Lapangan untuk membantu seseuatu yang besar.
PECERIN: Dan Galmon yang artinya…
GALMON: Gagal move on.
PECERIN: (PADA GALMON DAN DAESUKE FUJITA) Kalian bisa melihat orang ini?
DAESUKE FUJITA: Bisa Pak.
GALMON: Saya juga melihatnya Pak.
PECERIN: Kalau orang yang di sebelah kiri kalian apa kalian bisa melihatnya?
GALMON & DAESUKE FUJITA: Tidak
PECERIN: Sama, saya juga tidak bisa melihat dia dan dia juga tidak melihat kita, karena memang di situ tidak ada siapa-siapa. Tapi sama orang ini betul kalian bisa melihat?
GALMON & DAESUKE FUJITA: Tidak
PECERIN: (PADA SESEORANG) Tuh, mereka bisa melihat kamu, kenapa kamu tidak bisa melihat mereka?
SESEORANG: Aaah boa edan! Lieur! Lieur! (PERGI) Jelema gelo!
GALMON: Pak, kenapa bapak bisa tahu nama kami berdua?
PECERIN: Karena saya ditakdirkan untuk jadi orang yang serba tahu. Saya tahu pada akhirnya kalian lah yang memiliki rumah ini.
GALMON: Tapi Pak, kemungkinan saya jadi berminat untuk membeli rumah ini.
DAESUKE FUJITA: Betul Pak, kami tidak lagi berminat untuk membelinya
PECERIN: Jika saya menginginkan kalian membeli rumah ini, maka kalian pasti membeli rumah ini. (GALMON & DAESUKE FUJITA SALING PANDANG KEHERANAN TAK MENGERTI MAKSUD DARI PEMBICARAAN PECERIN) Sekarang saya ingin kalian jongkok.
GALMON & DAESUKE FUJITA: (BERJONGKOK)
PECERIN: Sekarang saya ingin kalian berdiri kembali.
GALMON & DAESUKE FUJITA: (BERDIRI)
GALMON: Kenapa kita nurut?
PECERIN: Karena saya ingin kalian nurut.
DAESUKE FUJITA: Kok begitu?
PECERIN: Karena saya ingin begitu. (PAUSE) Sekarang dengarkan dengan seksama cerita saya. Sepeninggal Sabita Salsabila Rokaesih, rumah ini didiami selama setahun oleh cucunya, lalu cucunya itu menjual rumah ini sama kalian dan kalian membelinya.
GALMON: Tapi kami tidak pernah merasa membeli rumah ini
DAESUKE FUJITA: Iya, kami tidak pernah membelinya.
PECERIN: Sayalah yang telah membuat kalian lupa bahwa kalian telah membeli rumah ini.
GALMON: Saya baru sekali ini datang ke tempat ini. Saya tinggal di sini pun belum satu hari.
PECERIN: Sengaja saya buat kamu untuk merasa belum satu hari pun berada di sini. Tapi sebenarnya kalian sudah beratus-ratus tahun berada di sini. Lihatlah rumah itu. Ketika perkau datang rumah ini sangat indah, rapid an bersih. Tapi sekarang lihatlah rumah ini penuh lumut, sarang laba-laba, daun-daun kering, ilalang dan kotoran-kotoran hewan. Lihat tulisan di rumah itu. Dulu tulisannya Rumah Juragan Ganteng. Sekarang huruf-huruf telah tertutup daun berjatuhan sehingga tulisannya jadi “AH RAGA ANTENG.”
DAESUKE FUJITA: Betul. Banyak sekali perubahan yang terjadi di tempat ini.
PECERIN: Dengarkan lanjutan cerita saya. Setelah kalian beli rumah ini, akhirnya kalian hidup di sini selama berpuluh-puluh tahun hingga akhirnya akhirnya kalian meninggal sepuluh tahun setelah kalian pulang dari tanah suci dan kalian dikubur di halaman rumah ini. Kalihan meninggal bersamaan sekitar seratus tahun yang lalu. Coba kalian lihat dua kuburan di sana itu, perhatikan dengan jelas kuburan siapa itu.

GALMON DAN DAESUKE FUJITA MENGHAMPIRI KUBURAN

GALMON: Batu nisan ini bertuliskan Morgan Van persis. Ini namaku.
DAESUKE FUJITA: Dan yang ini bertuliskan Daesuke fujita. Ini juga namaku.
PECERIN: (SAMBIL MELANGKAH PERGI) Ya itu adalah kuburan kalian. Kalian telah lama mati. Sejak tadi kalian telah berjumpa dan berbicara dengan orang orang yang telah mati.
DAESUKE FUJITA: Kami ini masih hidup Pak.
PECERIN: Karena saya telah membuat kalian hidup.
DAESUKE FUJITA: Tadi bapak bilang kami telah mati.
GALMON: Pak, sebenarnya bapak ini siapa?
PECERIN: Saya adalah Pengarang Cerita Ini. (PERGI MENGHILANG)

GALMON DAN DAESUKE FUJITA TERTEGUN BERDUA DI ATAS KUBURAN.

GALMON & DAESUKE FUJITA: Kehidupan dan kematian adalah takdir yang kita tak kuasa menentangnya. Kita tak pernah menduga kapan kita lahir dan kapan kita meninggal. Kita akan mengalami keduanya. Hakikat hidup adalah kebenaran mutlak yang harus hayati. Hidup harus penuh makna dan penuh kedamaian. Hidup harus saling memeriksa kekurangan diri dan saling bercermin pada kehidupan itu sendiri. Seadangkan hakikat kematian adalah proses untuk menuju pulang. Kita tak bisa kekal. Kita akan menjadi bangkai!

LALU TERLIHAT BADAN MEREKA MASUK KE DALAM KUBURAN DAN MENGHILANG. SUASANA HENING SEJENAK PERSIS SAMA KETIKA AWAL PERTUNJUKAN. TERDENGAR SUARA SABITA DARI DALAM RUMAH. MUNCUL AYAHANDA DAN IBUNDA BERSAMAAN DENGAN MUNCULNYA KOOR.

IBUNDA & AYAHANDA: Wajah tersenyum hati merana | Mengenang pilu masa lama | Raga bernyanyi jiwa merintih | Terbayang masa nanti kan pedih || Belajar dan bekerjalah anakku | Dalam ibadah yang sejati | Berenang dan menyelamlah cucuku | Dalam kolam kebenaran yang hakiki || Damai dan sentausalah jagad raya | Carilah di sumsum di darah dan kepala | Bukan di lautan, di langit atau cahaya | Untuk mengetahui dalamnya Tuhan. ||
KOOR: Masa kini, masa nanti, masa lalu, bersatu dalam ruang imaji… | Hidup dan kematian satu padu dalam Misteri Rumah Jugali…. | Masa kini, masa nanti, masa lalu, bersatu dalam ruang imaji… | Hidup dan kematian satu padu dalam Misteri Rumah Jugali…. ||
SABITA: Aaaahahaaaa.. ada-ada saja. Oh ya? Aduh, aduh sampai segitunya. (JEDA) Iya, iya. Ahahahaa… Hah? Masya Allah. HPnya kecemplung laut. Waduh. Apa? Hahahahaaa.hahahaha..hahahaaa.. sudah, sudah ah. (TERDENGAR SUARA HP LAIN BERBUNYI) Sudah dulu ya Acong di saya ada telpon masuk lagi.. Iya, iya, oke sampai ketemu. (MENUTUP TELPON LALU MENJAWAB TELPON LAIN). Halo…
SUARA: Oh saya salah sambung ya. Maaf!
SABITA: Bangkeeee…!!!

SUNYI SEJENAK. KEMUDIAN DARI SEBUAH KEKOSONGAN TIBA-TIBA MUNCULAH ROMBONGAN ORANG YANG DATANG DARI BERBAGAI ARAH. MASING-MASING MENGIBAR-NGIBARKAN BENDERA KUNING DI KEDUA TANGAN. LALU BERTEMU DAN BERNYANYI.

Walau sandiwara hanya pura-pura / Tapi sandiwara bukan hura-hura / Dalam sandiwara banyak perkara / Ada cerita asmara ada prahara / Bewara tentara perwira / Suara rakyat sengsara / Ada kisah duka lara / Ada cerita gembira / Yang direka sutradara / Masa kini, masa nanti, masa lalu / Berpadu di dalam ruang imaji / Hidup dan kematian satu padu / Dalam Misteri Rumah Jugali / Walau sandiwara hanya pura-pura / Tapi sandiwara bukan hura-hura / Tapi sandiwara bukan hura-hura //

TAMAT
Yusef Muldiyana, Bandung 13 November 2024

JOKER ?
Baca Tulisan Lain

JOKER ?


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *