Aku pernah melihat sembilan wajah perempuan di antara catatan hariannya. Masing-masing tampak memiliki kehidupannya sendiri. Ada yang mengenakan toga, ada yang berdiri di depan gedung yang tak kukenal, ada yang tersenyum sambil memegang bunga. Aku membaca kisah mereka satu per satu sampai merasa sedang membaca daftar syarat untuk menjadi seseorang yang pantas berdiri di dekatnya. Lama-lama wajahku sendiri terasa asing dikelilingi sembilan dunia. Sementara aku hanya anak kolong yang pernah belajar di pesantren.(Source: kosapoin.com/sembilan)
Keesokan harinya aku bertanya kepada seorang sahabatnya tentang mereka. Ia menyebut beberapa nama, lalu tertawa ketika aku bertanya siapa yang paling cantik. “Buat apa?” katanya. Beberapa hari kemudian aku menemani lelaki itu membeli buku untuk ibunya. Ia mengambil sebuah buku dan mengatakan bahwa ibunya menyukai buku itu karena dulu aku yang merekomendasikannya. Aku terdiam. Aku bahkan belum pernah membacanya.(Source: kosapoin.com/sembilan)
Beberapa hari kemudian aku mampir ke rumahnya. Ibunya sedang membaca buku itu. Ia bercerita tentang bagian yang paling disukainya. Aku melihat halaman-halaman yang sudutnya terlipat. Ketika pulang, aku mencoba mengingat sembilan wajah itu. Anehnya, tak satu pun yang muncul. Justru wajah karibku yang mencuat di benakku saat dulu ia menunjukkan iklan buku itu kepada kami ketika mengantarku ke rumah lelaki itu. [](Source: kosapoin.com/sembilan)




