PUISI PAMFLET Bambang Oeban

puisi pamplet bambang oeban

MELATI – KASTURI
(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Penyair
serupa taman Kasturi,
dan aku memilih jadi Melati
mungil, menyepi, menepi,
menyulam kata-kata,
menjadi puisi,
menjadi aroma
tembang.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Aku tak ingin
menulis di atas belacu
agar namaku terlihat besar
ketika kain itu dibentangkan
di lelang tepuk tangan.
Dan aku pun
tak mengulir kata
di gugus awan sutera
bermandi pelangi,
hanya supaya puisiku
terlihat indah dari kejauhan
namun tak dapat dipijak
oleh jiwa manusia.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Aku hanya ingin
menaruh kata
di tanah.
Di tanah pijakan petani.
Di tanah yang basah
oleh keringat buruh.
Di tanah halaman sekolah
tempat anak-anak berlari
sambil membawa buku
yang kadang lebih berat
daripada isi dompet
orang tuanya.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Aku ingin puisiku
berbau tanah.
Bukan berbau parfum
penghargaan kamuflase.
Aku ingin kata-kataku
dapat didengar
oleh mereka yang
tak mengerti sastra,
tak pernah membaca teori,
oleh ibu-ibu yang sedang
menanak nasi, bapak-bapak
yang menghitung pengeluaran
sambil menghela napas
di akhir bulan.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Kalau
puisiku terlalu tinggi,
biarlah angin membawanya.
Kalau terlalu rendah,
biarlah akar menyimpannya.
Aku hanya ingin
kata-kata itu
menjadi jembatan.
Bukan pagar.
Sebab terlalu banyak
manusia pandai membuat
pagar, lupa bagaimana
caranya membuat
jembatan.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Aku melihat dunia
semakin ramai berbicara
dan semakin sepi mendengarkan.
Semua ingin menjadi guru.
Semua ingin menjadi hakim.
Semua ingin menjadi komentator
di pertandingan kehidupan orang lain.
Yang belum selesai mengurus
rumah tangganya
mengajari bangsa
tentang keharmonisan.
Yang masih berutang kesabaran
memberi ceramah
tentang ketenangan.
Yang belum berdamai
dengan dirinya sendiri
berbicara panjang
tentang perdamaian dunia.
Yang lupa menelepon ibunya
membuat unggahan
tentang cinta kepada
kemanusiaan.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Ah, manusia!
Kadang kita ini lucu.
Sangat lucu.
Kita bisa menulis:
“Jangan sombong!”
Dengan huruf paling besar
di dinding media sosial.
Kita bisa mengatakan:
“Jangan merasa paling benar!”
Sambil memblokir semua orang
yang tidak setuju dengan kita.
Kita mengajak orang lain
untuk berpikir terbuka,
tetapi pintu rumah pikiran kita
selalu digembok dari dalam.
Kita mengaku sederhana,
tetapi marah kalau kursi
yang diberikan bukan
kursi paling depan.
Kita berkata
tak mengejar dunia,
tetapi panik
ketika nama kita
tidak disebut dalam
daftar undangan.
Aku tak sedang
menertawakan
siapa-siapa.
Aku sedang mencoba
menertawakan diri sendiri.
Mungkin, akulah
manusia itu.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

───
Wahai
anak-anak negeri,
Belajarlah.
Tetapi jangan belajar
hanya untuk menjadi manusia
yang pandai menjawab soal.
Belajarlah
agar engkau mampu bertanya.
Sebab bangsa yang hanya pandai
menjawab akan mudah mengikuti
siapa pun yang memegang mikrofon.
Tetapi bangsa yang mampu
bertanya akan mencari jalan
ketika semua peta
sengaja disembunyikan.
Pendidikan bukan sekadar
menghafal nama-nama besar.
Pendidikan adalah keberanian
untuk menemukan
siapa dirimu
ketika tidak ada orang
yang bertepuk tangan.
Pendidikan bukan hanya
mengumpulkan ijazah.
Karena ijazah
bisa digantung di dinding,
tetapi akal sehat
harus digantungkan
pada hati nurani.
Ada orang
dengan ijazah tinggi
tetapi ketika melihat sampah
di depan rumahnya
ia berkata:
“Ini bukan urusan saya.”
Ada orang
yang tidak pernah duduk
di bangku universitas,
tetapi ketika melihat
tetangganya lapar
ia membagi nasi
tanpa bertanya:
“Latar belakang akademikmu apa?”
Maka janganlah kita
terlalu cepat menyembah gelar.
Gelar adalah pakaian.
Ilmu adalah tubuh.
Kebijaksanaan adalah jiwa.
Dan kemanusiaan
adalah napasnya.
Kalau pakaian kita mahal
tetapi tubuh kita sakit,
apakah kita sehat?
Kalau gelar kita panjang
tetapi hati kita pendek,
apakah kita benar-
benar tinggi?(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Aku pernah
bertemu dengan
manusia-manusia
yang begitu bangga
menjadi pintar.
Mereka mengutip buku
untuk memenangkan
perdebatan.
Mereka menyebut
nama filsuf seperti
menyebut merek
kendaraan.
Mereka berbicara
tentang Plato,
Aristoteles,
Socrates,
Nietzsche,
Kant,
dan entah siapa lagi.
Lalu pulang ke rumah
dan membentak istrinya
karena garam kurang.
Aku tersenyum.
Bukan mengejek.
Hanya heran.
Mungkin Plato
juga akan bingung
kalau tahu namanya dipakai
untuk memenangkan perdebatan
tentang siapa paling hebat
di warung kopi.
Mungkin Socrates
akan bertanya:
“Apakah engkau benar-
benar tahu?”
Dan kita menjawab:
“Tentu!”
Socrates mungkin tersenyum:
“Nah, itu masalahnya.”
Karena manusia yang paling sulit
belajar bukan manusia yang
tidak tahu.
Tetapi manusia
yang merasa
sudah tahu
semuanya.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

───
Aku memilih
menjadi Melati Mungil.
Bukan karena Kasturi salah.
Kasturi memiliki harumnya
sendiri.
Ia dicari,
dihargai,
menjadi lambang
keharuman yang kuat.
Tetapi Melati Mungil
juga punya hak
untuk tumbuh.
Tak perlu iri
kepada Kasturi.
Tak perlu marah
kepada Mawar.
Tak perlu memusuhi Anggrek.
Kebun akan menjadi indah
justru karena
tidak semua bunga
berbau sama.
Mengapa manusia
sulit memahami
hal sederhana itu?
Mengapa kita ingin
semua orang berpikir
seperti kita?
Mengapa perbedaan
selalu dianggap ancaman?
Mengapa orang yang berbeda
pendapat langsung kita
masukkan ke dalam
keranjang musuh?
Padahal perbedaan
tidak selalu berarti
permusuhan.
Dua mata kita berbeda,
tetapi keduanya bekerja sama
melihat dunia.
Dua telinga kita berada
di sisi yang berbeda,
tetapi keduanya membantu
mendengar kehidupan.
Tangan kanan dan tangan kiri
tidak pernah sama tugasnya,
tetapi ketika keduanya bekerja sama
kita bisa mengangkat beban.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Maka mungkin
yang perlu kita pelajari
bukan bagaimana
membuat semua manusia sama.
Tetapi bagaimana
hidup bersama
dengan perbedaan
tanpa kehilangan
akal sehat.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Negeri ini kaya.
Terlalu kaya.
Kita punya laut,
gunung,
hutan,
sungai,
tambang,
sawah,
dan manusia-manusia
yang selalu mengatakan:
“Negeri kita luar biasa!”
Ya.
Memang luar biasa.
Tetapi kadang
yang membuatku bingung
adalah:
Mengapa negeri yang luar biasa
sering melahirkan
keluhan-keluhan biasa?
Mengapa kita bangga
menyebut kekayaan alam,
tetapi malu
mengakui kemiskinan
pendidikan?
Mengapa kita begitu
semangat membangun
gedung tinggi,
tetapi lupa meninggikan
mutu manusia?
Gedung boleh menjulang.
Jalan boleh mulus.
Lampu kota boleh berkilau.
Tetapi kalau akal sehat
semakin berlubang, siapa
yang akan memperbaikinya?
Jangan-jangan
kita sibuk menambal jalan
tetapi lupa menambal
cara berpikir.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

───
Aku tidak ingin
menghakimi para pemimpin.
Menjadi pemimpin
bukan pekerjaan ringan.
Menjadi rakyat
juga bukan pekerjaan mudah.
Masing-masing memikul beban
yang kadang
tidak kita lihat.
Tetapi sebagai manusia
kita punya hak
untuk bertanya.
Dan sebagai pemimpin
kita punya kewajiban
untuk tidak alergi
kepada pertanyaan.
Kritik bukan selalu
kebencian.
Kadang kritik
adalah bentuk cinta
yang sedang kehilangan
cara untuk tersenyum.
Seorang anak
menangis kepada ibunya
bukan karena membenci ibunya.
Kadang ia menangis
karena ia percaya
ibunya akan mendengar.
Begitu pula rakyat.
Ketika rakyat bertanya,
jangan selalu dianggap
sedang mencari musuh.
Mungkin mereka
hanya mencari jawaban.
Dan ketika pemimpin menjawab,
rakyat pun sebaiknya
tidak selalu mencari kesalahan
di antara setiap kata.
Sebab kita tidak akan sampai
ke mana-mana
kalau rakyat dan pemimpin
terus bermain
siapa paling benar.
Bangsa bukan arena debat
yang hadiahnya
tepuk tangan.
Bangsa adalah rumah.
Kalau atap bocor,
jangan kita berdebat
siapa yang pertama kali
melihatnya.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Mari cari ember.
Mari tutup kebocoran.
Setelah itu,
baru kita bicara
mengapa atapnya
bisa bocor.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Humor adalah
salah satu cara Tuhan
menyelamatkan manusia
dari kesombongannya sendiri.
Bayangkan dunia
tanpa tawa.
Mengerikan!
Semua orang berjalan
dengan wajah serius.
Tetangga lewat
tidak boleh tersenyum.
Anak kecil tertawa,
langsung dipanggil:
“Saudara, apa dasar filosofis
dari tertawa Anda?”
Ia menjawab:
“Tidak tahu, Om.”
“Kalau begitu, jangan tertawa!”
Aduh!
Kalau hidup seperti itu,
mungkin ayam pun
akan minta pindah negara.
Kita perlu tertawa.
Bukan untuk menertawakan
penderitaan.
Tetapi untuk mengingatkan diri
bahwa kita manusia.
Manusia bisa salah.
Bisa jatuh.
Bisa lupa.
Bisa tersandung
oleh batu kecil
setelah berpidato
tentang pembangunan jalan raya.
Manusia bisa memberi nasihat
tentang hidup sehat
sambil mencari gorengan.
Manusia bisa berbicara
tentang kesederhanaan
dengan tiga telepon genggam
di atas meja.
Dan manusia bisa berkata:
“Saya tidak peduli
apa kata orang!”
Lalu lima menit kemudian:
“Eh, tadi dia bilang apa
tentang saya?”
Begitulah kita.
Lucu.
Menyedihkan.
Mulia.
Kerdil.
Sombong.
Rendah hati.
Semua berkumpul
di dalam satu tubuh
yang bernama manusia.
Maka jangan terlalu cepat
membenci manusia.
Kita semua sedang
belajar.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Kepada
anak-anak muda,
Jangan buru-buru
ingin terkenal.
Terkenal bukan dosa.
Tetapi menjadikan ketenaran
sebagai tujuan hidup
adalah jalan panjang
menuju kelelahan.
Hari ini engkau terkenal.
Besok ada orang lain
yang lebih terkenal.
Hari ini namamu
ada di puncak pencarian.
Besok orang mencari
nama yang lain.
Jangan habiskan hidup
mengejar sorotan.
Jadilah lampu.
Sebab lampu
tidak mengejar cahaya.
Ia menghasilkan cahaya.
Jangan hanya bertanya:
“Bagaimana agar orang
mengenal saya?”
Cobalah bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan
agar hidup saya
bermanfaat bagi orang lain?”
Sebab nama
bisa terkenal
tanpa menjadi berarti.
Dan seseorang
bisa berarti
meski namanya
tidak dikenal.
Berapa banyak petani
yang tidak pernah
masuk televisi, tetapi
memberi kita makan?
Berapa banyak guru
yang tidak memiliki jutaan
pengikut tetapi membuat
seorang anak berani
bermimpi?
Berapa banyak ibu
yang namanya tidak tercatat
dalam buku sejarah
tetapi melahirkan manusia
yang kemudian mengubah sejarah?
Maka jangan terlalu sedih
kalau belum terkenal.
Bahkan bunga Melati
tidak pernah meminta
namanya dipasang
di papan reklame.
Ia cukup mekar.
Dan wanginya
menemukan
jalannya sendiri.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Ada satu penyakit
yang menurutku
semakin sering kita pelihara.
Penyakit itu bernama:
ingin terlihat baik.
Bukan ingin menjadi baik.
Tetapi ingin terlihat baik.
Ini berbeda.
Sangat berbeda.
Orang yang ingin menjadi baik
kadang bekerja diam-diam.
Orang yang ingin terlihat baik
sering membutuhkan kamera.
Orang yang ingin menjadi baik
tidak selalu dapat tepuk tangan.
Orang yang ingin terlihat baik
bisa kecewa kalau tidak ada
yang menyaksikan.
Kita hidup di zaman
dokumentasi.
Makan,
tidur,
menolong orang,
bersedekah,
menangis pun
didokumentasikan.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Aku tak mengatakan
semua dokumentasi salah.
Tidak.
Dokumentasi bisa
memberi inspirasi.
Bisa memberi informasi.
Bisa menjadi bukti.
Tetapi mari kita bertanya
kepada diri sendiri:
Kalau tidak ada kamera,
apakah aku tetap melakukan
kebaikan itu?
Kalau tidak ada yang memuji,
apakah aku masih mau menolong?
Kalau namaku tidak disebut,
apakah aku masih mau bekerja?
Pertanyaan-pertanyaan kecil
kadang lebih tajam
daripada pidato besar.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Aku pernah melihat
orang bertengkar
hanya karena berbeda pilihan.
Aku bertanya:
“Apakah setelah pertengkaran ini
harga beras turun?”
Tidak.
“Apakah listrik menjadi gratis?”
Tidak.
“Apakah utang kita lunas?”
Tidak.
“Lalu mengapa kalian begitu marah?”
Jawabannya panjang.
Sangat panjang.
Lebih panjang
daripada daftar masalah
yang seharusnya mereka
selesaikan.
Kadang manusia
lebih senang berkelahi
tentang sesuatu
yang tidak bisa diubah hari ini
daripada memperbaiki
sesuatu yang bisa diperbaiki
sekarang.
Kita bisa berdebat berjam-jam
tentang siapa paling benar.
Tetapi lupa
menyapa tetangga
yang sudah tiga hari
tidak keluar rumah.
Kita sibuk menyelamatkan
dunia di kolom komentar.
Tetapi lupa
menyelamatkan hubungan
di meja makan.
Padahal perubahan besar
sering dimulai
dari ruang kecil.
Dari rumah.
Dari cara kita berbicara.
Dari keberanian mengatakan:
“Maaf, saya salah.”
Ah!
Kalimat itu.
Sederhana.
Tetapi beratnya
kadang melebihi
mengangkat
lemari.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Kepada
para guru,
Terima kasih.
Saya tahu
menjadi guru
tidak selalu mudah.
Mengajar bukan sekadar
memindahkan isi buku
ke dalam kepala murid.
Mengajar adalah
menyalakan kemungkinan.
Tetapi izinkan aku
mengajukan satu permohonan.
Jangan hanya mendidik anak
untuk takut salah.
Ajari mereka, bagaimana
memperbaiki kesalahan.
Jangan hanya memberi jawaban.
Ajari mereka
mencari pertanyaan.
Jangan hanya mengajari mereka
cara mendapatkan pekerjaan.
Ajari mereka
cara menjadi manusia
ketika tidak punya pekerjaan.
Ajari mereka
bahwa kegagalan
bukan akhir dari kehidupan.
Karena terlalu banyak anak
tumbuh dewasa
dengan ketakutan.
Takut nilai jelek.
Takut tidak lulus.
Takut tidak diterima.
Takut tidak kaya.
Takut tidak terkenal.
Takut berbeda.
Takut gagal.
Padahal hidup
bukan ujian
yang selalu memiliki
jawaban pilihan A, B, C, atau D.
Kadang hidup
meminta kita
menciptakan jawaban sendiri.
Dan kadang
jawaban terbaik
belum pernah tersedia
di buku mana pun.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Kepada
para orang tua,
Anak bukan proyek
untuk memperbaiki
kegagalan kita.
Jangan paksa anak
menjadi apa yang dulu
kita gagal menjadi.
Anak bukan papan tulis
tempat kita menulis
ambisi yang tertunda.
Mereka memiliki jiwa.
Memiliki jalan.
Memiliki musim.
Tugas kita
bukan memegang
tangan mereka selama-lamanya.
Tetapi mengajari mereka
bagaimana menggunakan
tangannya ketika suatu hari
kita tidak berada di sana.
Berikan pendidikan.
Tetapi jangan lupa
memberikan waktu.
Belikan buku.
Tetapi jangan lupa
membaca kehidupan
bersama mereka.
Ajari mereka
menghormati orang tua.
Tetapi jangan lupa
menghormati mereka
sebagai manusia kecil
yang sedang belajar
memahami dunia.
Kadang seorang anak
tidak membutuhkan
nasihat panjang.
Ia hanya ingin didengar.
Mungkin sesederhana itu.
Duduklah.
Matikan telepon genggam.
Lihat matanya.
Tanyakan:
“Hari ini kamu bahagia?”
Lalu dengarkan.
Jangan buru-buru
menjawab.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Aku memilih
menjadi Melati Mungil
karena aku mulai memahami:
Tidak semua yang kecil
tidak berarti.
Jarum kecil
dapat menjahit kain
yang robek.
Kunci kecil
dapat membuka pintu besar.
Satu kata dapat
menyembuhkan.
Satu kata
dapat melukai.
Satu senyuman
dapat menyelamatkan
hari seseorang.
Satu keputusan kecil
dapat mengubah hidup.
Maka jangan meremehkan
hal-hal kecil.
Bangsa besar
tidak selalu runtuh
karena ledakan besar.
Kadang ia runtuh
karena kebiasaan kecil
yang dibiarkan.
Sedikit berbohong.
Sedikit curang.
Sedikit menyuap.
Sedikit mengambil
yang bukan hak.
Sedikit tidak peduli.
Sedikit membuang sampah
di tempat yang salah.
Sedikit berkata:
“Ah, semua orang juga begitu.”
Nah!
Kalimat itulah
yang kadang menjadi pupuk
bagi kerusakan besar.
Semua orang juga begitu.
Kalau semua orang
melakukan yang salah,
apakah kesalahan
menjadi kebenaran?
Tidak.
Seribu orang
yang tersesat bersama-sama
tetap tidak menemukan
jalan pulang.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Aku tidak ingin
menjadi hakim.
Sebab aku tahu
betapa sulitnya
menghakimi diri
sendiri.
Setiap malam
manusia seharusnya
memiliki pengadilan kecil.
Bukan untuk menghukum diri.
Tetapi untuk bertanya:
Hari ini
siapa yang telah kusakiti?
Hari ini
siapa yang telah kutolong?
Hari ini
apakah kata-kataku
membuat orang lain
lebih kuat
atau lebih lemah?
Hari ini
apakah aku belajar sesuatu?
Hari ini
apakah aku masih mampu
mengucapkan terima kasih?
Dan kalau jawabannya belum baik,
besok masih ada kesempatan.
Itulah kabar baiknya.
Selama matahari
masih bersedia terbit,
manusia masih diberi
kesempatan berbenah diri.
Jangan sia-siakan.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

───
Kritik sosial
bukan palu
untuk memukul kepala.
Kritik sosial
seharusnya seperti cermin.
Kadang kita tidak suka
melihat wajah sendiri.
Ada kerutan.
Ada noda.
Ada luka.
Tetapi apakah kita
harus memecahkan cermin
karena tidak suka
dengan apa yang kita lihat?
Tidak.
Lebih baik
mencuci wajah.
Memperbaiki yang
bisa diperbaiki.
Menerima yang memang
merupakan bagian
dari kehidupan.
Begitulah kritik.
Kalau ada yang menunjukkan
kesalahan kita,
jangan langsung bertanya:
“Dia siapa?”
Kadang pertanyaan yang
lebih penting:
“Apakah yang dikatakannya benar?”
Kalau benar,
ambil manfaatnya.
Kalau salah,
jawablah dengan tenang.
Tidak semua pertanyaan
harus dibalas kemarahan.
Tidak semua perbedaan
harus berakhir permusuhan.
Dan tidak semua orang
yang tidak setuju dengan kita
harus menjadi
musuh.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Negeri ini
membutuhkan
lebih banyak orang
yang mau bekerja
daripada orang
yang hanya ingin
terlihat bekerja.
Kita membutuhkan
lebih banyak pemikir
daripada pengulang slogan.
Lebih banyak pembaca
daripada penyebar judul.
Lebih banyak pendengar
daripada pemegang mikrofon.
Lebih banyak manusia
yang berani mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Daripada manusia
yang menjawab semua
pertanyaan dengan penuh
keyakinan meski sebenarnya
baru saja membaca judul
beritanya.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Ah, zaman sekarang
memang luar biasa.
Dulu orang belajar bertahun
untuk menjadi ahli.
Sekarang cukup membaca
dua paragraf
dan menonton tiga video.
Besok pagi
sudah menjadi pakar.
Pakar ekonomi.
Pakar kesehatan.
Pakar politik.
Pakar sepak bola.
Pakar hubungan rumah tangga.
Padahal hubungan dengan
dirinya sendiri
masih sering gagal.
Tetapi tidak apa-apa.
Mari tertawa.
Lalu belajar.
Sebab kebodohan
yang disadari
masih bisa menjadi
pintu ilmu.
Yang berbahaya
adalah kebodohan
yang memakai mahkota
kesombongan.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Aku tidak ingin
menulis puisi
untuk menjadikan
manusia takut
kepadaku.
Aku ingin menulis
agar manusia
berani bercermin.
Termasuk aku.
Kalau puisiku tajam,
biarlah ketajamannya
lebih dahulu mengarah
kepada diriku sendiri.
Kalau puisiku keras,
biarlah kekerasannya
membangunkan kesadaran,
bukan membangunkan
kebencian.
Kalau puisiku lucu,
biarlah tawanya
menjadi obat
bukan ejekan.
Kalau puisiku sedih,
biarlah kesedihannya
tidak membuat manusia
menyerah.
Sebab puisi
bukan sekadar
susunan kata.
Puisi adalah
cara manusia
menyapa
manusia.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Wahai kehidupan,
Engkau tlah mengajariku
bahwa tidak semua
kemenangan harus
dirayakan.
Ada kemenangan
yang lebih baik
disimpan dalam diam.
Dan tidak semua kekalahan
harus ditangisi.
Ada kekalahan
yang sebenarnya
adalah jalan baru
menuju pemahaman.
Aku pernah ingin
menjadi besar.
Kemudian aku belajar
bahwa menjadi besar
tidak selalu berarti
menjadi tinggi.
Pohon yang tinggi
memang terlihat dari jauh.
Tetapi rumput kecil
menyelamatkan tanah
dari erosi.
Aku pernah ingin
menjadi terkenal.
Kemudian aku bertanya:
Untuk apa?
Kalau setelah terkenal
aku masih tidak mengenal
diriku sendiri.
Aku pernah ingin
dipahami semua orang.
Kemudian aku sadar:
Aku sendiri
kadang belum selesai
memahami diriku.
Maka sekarang
aku memilih belajar.
Sedikit demi sedikit.
Seperti Melati Mungil
yang tidak memaksa
semua orang
mencium wanginya.
Ia hanya mekar.
Itu saja.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Dan jika suatu hari
ada yang bertanya kepadaku:
“Wahai Penyair,
mengapa engkau tidak menulis
dengan bahasa yang lebih tinggi?”
Aku mungkin menjawab:
“Karena tidak semua orang
memiliki tangga yang sama.”
Lalu ia bertanya lagi:
“Mengapa tidak membuat
kata-kata yang lebih indah?”
Aku menjawab:
“Karena kadang
kebenaran sederhana
lebih diperlukan
daripada keindahan yang rumit.”
Ia mungkin bertanya:
“Mengapa puisimu
kadang lucu?”
Aku menjawab:
“Karena manusia yang
mampu tertawa kepada
dirinya sendiri lebih sulit
dikuasai kesombongan.”
Dan jika ia bertanya:
“Mengapa engkau mengkritik?”
Aku akan menjawab:
“Karena aku tinggal di rumah ini.”
Kalau rumahku kotor,
aku tidak harus membakarnya.
Aku bisa menyapu.
Kalau dindingnya retak,
aku tidak harus mengutuk
arsiteknya setiap hari.
Aku bisa mencari semen.
Kalau atapnya bocor,
aku tidak harus pindah
sambil mencela semua orang.
Aku bisa membantu
menaruh ember
dan memperbaiki atapnya.
Itulah yang ingin kupelajari.
Bukan menjadi manusia
yang paling keras mengkritik
rumah, tetapi manusia
yang ketika selesai berbicara
masih bersedia
mengambil sapu.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

───
Penyair seperti
kumpulan Kasturi.
Harumnya kuat.
Namanya dikenal.
Jejaknya panjang.
Dan aku?
Aku memilih menjadi
Melati Mungil.
Tidak menantang Kasturi.
Tidak memusuhi Mawar.
Tidak iri kepada Anggrek.
Aku hanya ingin tumbuh
di tempat yang masih
menyediakan tanah.
Aku ingin menyepi
bukan membenci manusia.
Tetapi karena kadang
untuk memahami manusia
kita perlu diam sejenak
dari keramaian manusia.
Aku ingin menyulam kata-kata.
Bukan untuk membuat jubah
bagi kesombonganku.
Tetapi mungkin
menjadi saputangan
bagi seseorang
yang sedang menangis.
Aku ingin menjadi puisi.
Bukan patung.
Aku ingin menjadi tembang.
Bukan slogan.
Aku tak ingin
menulis di atas belacu
hanya agar tulisan itu
dibawa berkeliling
dan namaku dielu-elukan.
Tetapi aku juga
tak ingin mengulir
di gugus-gugus awan sutera
bermandi pelangi,
hanya agar orang berkata:
“Betapa indah!”
Lalu pergi
tanpa membawa apa pun
ke dalam kehidupannya.
Aku ingin menulis
di antara keduanya.
Di antara tanah
dan langit.
Di antara kenyataan
dan harapan.
Di antara tawa
dan tangis.
Di antara kritik
dan kasih sayang.
Di antara keberanian berbicara
dan kerendahan hati
untuk mendengarkan.
Sebab hidup
mungkin memang begitu.
Tidak selalu hitam.
Tidak selalu putih.
Ada senja.
Ada kabut.
Ada warna-warna
yang tidak bisa kita beri nama.
Dan manusia
terlalu rumit
untuk diputuskan
hanya dengan
satu kalimat.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

───
Maka datanglah,
wahai anak muda.
Datanglah dengan
pertanyaanmu.
Jangan malu
kalau belum tahu.
Datanglah,
wahai orang tua.
Datanglah dengan
pengalamanmu.
Jangan merasa
karena telah tua
maka tak perlu belajar.
Datanglah,
wahai guru.
Bawalah ilmu.
Tetapi sisakan ruang
untuk keheranan.
Datanglah,
wahai pemimpin.
Bawalah kekuasaan.
Tetapi jangan tinggalkan
pendengaran.
Datanglah,
wahai rakyat.
Bawalah suara.
Tetapi jangan lupa
membawa tanggung jawab.
Datanglah,
wahai penyair.
Bawalah kata-kata.
Tetapi jangan lupa
membawa hati.
Mari duduk
di bawah pohon kehidupan.
Tidak perlu ada
yang paling tinggi kursinya.
Tidak perlu ada
yang paling keras suaranya.
Mari belajar.
Mari salah.
Mari memperbaiki.
Mari tertawa
ketika kita terlalu serius
membesarkan
kesombongan sendiri.
Mari menangis
ketika kemanusiaan
mulai kehilangan rumah.
Mari mengkritik
tanpa membenci.
Mari memuji
tanpa menjilat.
Mari berbeda
tanpa bermusuhan.
Mari berani
tanpa merasa paling benar.
Mari rendah hati
tanpa kehilangan
harga diri.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Karena pada akhirnya,
yang akan tinggal
bukan berapa banyak
orang bertepuk tangan.
Bukan berapa panjang
gelar di belakang nama.
Bukan berapa tinggi
panggung tempat kita berdiri.
Bukan berapa banyak
orang mengenal wajah kita.
Yang mungkin tinggal
hanyalah pertanyaan sederhana:
Apakah kehadiran kita
pernah membuat kehidupan
seseorang menjadi sedikit
lebih baik?
Kalau jawabannya:
“Ya.”
Walau hanya
kepada satu orang,
hanya satu kali,
tanpa kamera,
tanpa penghargaan,
tanpa pujian.
Maka mungkin
hidup kita tidak
sepenuhnya sia-sia.
Aku memilih menjadi
Melati Mungil.
Kecil.
Mungkin tak terlihat
di antara bunga-bunga besar.
Tetapi kalau suatu malam
ada seseorang yang lelah,
berjalan pulang
melewati taman kehidupan,
lalu ia mencium
sedikit harum
dan tersenyum,
mungkin
itulah cukup.
Aku tidak ingin
menjadi matahari
yang memaksa
semua orang
menatap cahayaku.
Aku cukup menjadi
Melati Mungil.
Menyepi.
Menyulam kata-kata.
Menjadi puisi.
Menjadi kumpulan tembang.
Menjadi tawa
bagi yang terlalu tegang.
Menjadi pertanyaan
bagi yang terlalu yakin.
Menjadi cermin
bagi yang lupa
wajahnya sendiri.
Menjadi pelukan bagi yang
sedang kehilangan arah.
Menjadi kritik
tanpa kebencian.
Menjadi renungan
tanpa menghakimi.
Menjadi pesan
tanpa mendikte.
Dan kalau dari seluruh kata
yang pernah kutulis
ada satu manusia saja
yang kemudian berkata:
“Aku ingin menjadi
sedikit lebih baik hari ini.”
Maka biarlah.
Aku tak perlu menjadi Kasturi.
Biarlah para Kasturi
mengharumkan dunia
dengan keagungan mereka.
Aku akan tetap
menjadi Melati Mungil.
Tumbuh di sudut taman.
Tidak meminta disembah.
Tidak meminta dipuja.
Tidak marah
kalau tidak disebut.
Tidak menangis
kalau tidak terkenal.
Aku hanya ingin mekar
pada waktuku.
Mengirimkan harum
sebatas yang mampu.
Lalu suatu hari
ketika musim selesai
dan kelopak-kelopakku
kembali kepada tanah,
biarlah bumi berkata:
“Ia pernah hidup.
Ia pernah menyulam kata.
Ia pernah membuat manusia
berhenti sejenak.
Berpikir.
Tertawa.
Merenung.
Dan pulang
menjadi manusia.”
Itulah puisi.
Itulah pendidikan.
Itulah filsafat hidup.
Bukan merasa
telah sampai
pada kebenaran.
Tetapi terus berjalan
menuju kebaikan.
Bukan menunjuk
siapa yang paling salah.
Tetapi bertanya:
“Apa yang bisa kita perbaiki?”
Bukan mendikte manusia
bagaimana harus hidup.
Tetapi berbagi
jalan-jalan yang pernah
kita tempuh,.lubang-lubang
yang pernah membuat kita jatuh,
dan cahaya-cahaya kecil
yang pernah menolong kita
bangkit kembali.
Karena sesungguhnya
kita semua adalah pejalan.
Tidak ada yang benar-benar
memegang peta sempurna.
Kita hanya berbeda
dalam jarak perjalanan.
Ada yang berjalan lebih dahulu.
Ada yang datang kemudian.
Ada yang tersesat.
Ada yang berhenti.
Ada yang berlari.
Ada yang merangkak.
Tetapi selama kita
masih mau saling mengingatkan
tanpa saling merendahkan,
masih mau mengkritik
tanpa saling menghancurkan,
masih mau tertawa
tanpa menertawakan luka,
masih mau berbeda
tanpa saling membenci,
masih mau belajar
meski usia bertambah,
maka harapan
belum meninggalkan kita.
Dan selama masih ada
satu Melati Mungil
yang memilih mekar
di antara kerasnya dunia,
selama masih ada
satu kata jujur
yang ditulis tanpa pamrih,
selama masih ada
satu anak yang berani bertanya,
satu guru yang sabar mendengar,
satu pemimpin yang rendah hati,
satu rakyat yang tak kehilangan
akal sehat,
satu manusia yang
bersedia berkata:
“Aku mungkin belum benar.
Mari kita cari jalan terbaik bersama.”
Maka negeri ini belum kehilangan
masa depannya.
Dan aku,
sekali lagi,
tidak ingin menjadi
suara yang paling keras.
Aku hanya ingin
menjadi suara
yang ketika keramaian selesai,
masih tinggal
di dalam hati manusia.
Suara kecil.
Seperti Melati.
Seperti angin malam.
Seperti tembang
yang dinyanyikan perlahan.
Mengatakan:
Hiduplah dengan ilmu,
tetapi jangan kehilangan
kebijaksanaan.
Berpikirlah dengan akal,
tetapi jangan meninggalkan hati.
Berkritiklah dengan keberanian,
tetapi jangan membunuh
kasih sayang.
Tertawalah, karena hidup
terlalu indah untuk selalu
dikerutkan oleh
kesombongan.
Belajarlah,
karena manusia yang
berhenti belajar pelan-pelan
berhenti memahami kehidupan.
Dan jadilah dirimu sendiri.
Tidak perlu menjadi Kasturi
kalau jiwamu adalah Melati.
Tidak perlu menjadi petir
kalau tugasmu adalah embun.
Tidak perlu menjadi gunung
kalau engkau dapat menjadi mata air.
Tidak perlu memenuhi langit
untuk memberi manfaat.
Kadang,
cukup tumbuh
di sudut kecil kehidupan,
cukup memberi harum,
cukup memberi teduh,
cukup memberi satu alasan
kepada manusia
untuk percaya bahwa:
di tengah dunia yang
semakin gaduh,
masih mungkin hidup
dengan pikiran yang jernih,
hati yang hangat,
tawa yang segar,
kritik yang tajam,
dan cinta yang tidak perlu
berteriak-teriak.
Aku memilih menjadi
Melati Mungil.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Dan malam ini,
di antara kumpulan Kasturi,
aku menyepi.
Menyulam kata-kata.
Menjadi puisi.
Menjadi kumpulan tembang,
bukan menguasai dunia,
memenangkan perdebatan.
menghakimi manusia.
Tetapi untuk mengingatkan:
Kita semua pernah salah,
masih belajar,
sedang berjalan.
Dan mungkin,
jalan terbaik
bukanlah jalan
yang membuat kita
menjadi manusia
paling hebat.
Tetapi jalan
yang membuat kita,
perlahan-lahan,
hari demi hari,
kata demi kata,
langkah demi langkah,
menjadi manusia
yang lebih manusiawi.(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

Desa Singasari,
Kamis, 27 Agustus 2026
00.09
(Source: kosapoin.com/puisi-pamflet-bambang-oeban)

PUISI Lintang Ismaya
Baca Tulisan Lain

PUISI Lintang Ismaya

Bambang Oeban

Apakah artikel ini membantu?
IP: 140.213.95.238
Negara: Indonesia (West Java)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *