Ada kata yang terdengar begitu biasa sampai kita tidak lagi merasa perlu memikirkannya. Kita mengucapkannya dalam percakapan sehari-hari, menggunakannya untuk menjelaskan gerak yang sederhana: berhenti sebentar sebelum meneruskan perjalanan. Singgah.(Source: kosapoin.com/singgah)
Seorang musafir singgah di sebuah kota, seorang pengendara singgah di warung pinggir jalan, dan seseorang singgah di rumah kerabat sebelum kembali pulang. Tidak ada yang istimewa; ia hanya berhenti untuk sementara, lalu pergi lagi.(Source: kosapoin.com/singgah)
Tetapi beberapa kata memiliki kehidupan yang lebih panjang daripada pengertiannya. Singgah adalah salah satunya. Ia bukan sekadar berhenti; di dalamnya terdapat perjalanan yang telah ditempuh, tempat yang menjadi jeda, dan perjalanan lain yang belum selesai. Orang yang singgah datang bukan untuk mengakhiri perjalanan, melainkan karena untuk beberapa saat jalan memberinya alasan untuk berhenti. Karena itu, singgah selalu membawa dua arah sekaligus: kedatangan dan kepergian.(Source: kosapoin.com/singgah)
Seseorang yang datang masih menyimpan kemungkinan untuk tinggal, dan seseorang yang tinggal bahkan telah mengambil keputusan untuk menetap. Tetapi seseorang yang singgah datang dengan sifat yang berbeda—ia hadir sambil tetap menjadi bagian dari perjalanan. Ada sesuatu yang sementara di dalamnya, namun kesementaraan tidak selalu berarti ketidakpentingan. Justru di sinilah kata itu mulai menarik.(Source: kosapoin.com/singgah)
Hujan bisa singgah hanya beberapa menit. Tetapi setelah hujan berhenti, halaman berubah, jalan menjadi basah, udara menjadi lebih dingin, dan bau tanah naik dari permukaan bumi. Seseorang yang sejak tadi duduk di dekat jendela tiba-tiba teringat kepada rumah masa kecilnya. Hujan telah pergi, tetapi sesuatu yang dibawanya masih tinggal.(Source: kosapoin.com/singgah)
Senja pun demikian. Ia tidak pernah datang untuk menetap; cahaya perlahan turun, warna langit berubah, lalu malam mengambil tempatnya. Bahkan karena tahu ia sebentar, kita sengaja memperhatikannya. Ada keindahan yang lahir dari keterbatasan waktu, sebab kita tidak selalu menghargai sesuatu karena ia lama berada di hadapan kita, melainkan karena kita tahu ia akan segera hilang.(Source: kosapoin.com/singgah)
Begitu pula manusia. Ada orang yang hadir dalam hidup kita hanya sebentar—tidak cukup lama untuk disebut bagian dari seluruh perjalanan, tetapi cukup lama untuk mengubah arahnya. Sebuah pertemuan dapat berlangsung satu sore dan dikenang puluhan tahun. Sebuah percakapan selesai dalam beberapa menit, tetapi satu kalimat di dalamnya terus bekerja dalam kepala seseorang sepanjang hidup. Sebuah tangan mungkin hanya menggenggam sebentar, tetapi rasa aman yang ditinggalkannya tidak mudah hilang. Yang sebentar tidak selalu kecil; yang singgah tidak selalu berlalu tanpa bekas.(Source: kosapoin.com/singgah)
Mungkin cinta adalah tempat paling rumit untuk memahami kata ini. Ketika seseorang tinggal, kita mulai membangun kebiasaan, membuat rencana, dan menyusun masa depan. Tetapi ketika seseorang singgah, ada kesadaran yang lain: ia pernah menjadi bagian dari hari-hari kita, namun ada kemungkinan ia tidak akan berada di sana selamanya. Kesadaran itu sering kali baru muncul setelah semuanya selesai.(Source: kosapoin.com/singgah)
Kita terbiasa mengira bahwa kedekatan adalah jaminan. Selama seseorang masih berada di samping kita, kita menganggap hari esok akan menyediakan tempat yang sama. Kita membuat kepemilikan dari sesuatu yang sebenarnya hanya dipinjamkan oleh waktu, mengucapkan kalimat-kalimat kepemilikan seolah manusia adalah benda yang dapat dipegang.(Source: kosapoin.com/singgah)
Padahal, seseorang boleh mencintai kita tanpa menjadi milik kita. Ada cinta yang berakhir bukan karena tidak ada rasa, tetapi karena dua perjalanan tidak selalu mempunyai tujuan yang sama. Ada yang datang untuk tinggal bertahun-tahun, ada yang hanya beberapa musim, dan ada yang sebentar saja. Tetapi lamanya kebersamaan tidak otomatis menentukan kedalaman pengaruh. Seseorang yang singgah mungkin justru memperkenalkan keberanian, kelembutan, kehilangan, atau bahkan memperkenalkan diri kita sendiri, sebelum akhirnya ia pergi dan yang tersisa adalah perubahan yang ditinggalkannya.(Source: kosapoin.com/singgah)
Mungkin begitulah cinta bekerja ketika kita berhenti memaksanya menjadi kepemilikan. Ia tidak selalu meminta seseorang tinggal; kadang cinta hanya meminta kita benar-benar hadir ketika seseorang masih berada di hadapan kita. Kepergian seseorang tidak selalu membuatnya hilang sepenuhnya. Tubuhnya dapat pergi, suaranya tidak lagi terdengar, dan kursinya kosong, tetapi anehnya ia dapat muncul kembali melalui hal-hal yang tidak direncanakan: sebuah lagu, aroma masakan, jalan yang pernah dilewati, baju di sudut lemari, atau cahaya sore yang jatuh ke lantai.(Source: kosapoin.com/singgah)
Ingatan tidak bekerja seperti arsip yang dibuka saat diinginkan; ia lebih menyerupai tamu yang datang tanpa mengetuk—ketika bekerja, mengemudi, membaca, atau ketika malam terlalu sunyi. Seseorang yang telah bertahun-tahun pergi bisa singgah lagi dalam pikiran hanya karena kita mencium aroma yang sama. Ia tidak kembali, hanya ingatannya yang datang, tetapi bagi hati, keduanya terasa hampir sama. Barangkali karena itulah ada manusia yang sudah tidak kita temui bertahun-tahun, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan kehidupan kita. Mereka tidak tinggal sebagai kehadiran; mereka tinggal sebagai bekas.(Source: kosapoin.com/singgah)
Kesedihan dan kebahagiaan memiliki sifat yang sama: mereka bergerak. Kesedihan bisa datang pada malam tertentu, lalu bergeser ketika pagi menjelang. Kebahagiaan tidak menolak sore atau menghentikan malam. Kita sendiri tumbuh melalui pergantian yang serupa: kanak-kanak, remaja, dan masa muda berlalu. Rumah yang dahulu terasa besar menjadi kecil ketika dewasa, dan kamar yang pernah menjadi dunia kita akhirnya menjadi ruangan biasa. Kita sering menyebutnya “masa lalu”, padahal ketika menjalaninya, kita merasa sedang tinggal—baru setelah ia berlalu kita memahami bahwa kita sebenarnya hanya singgah.(Source: kosapoin.com/singgah)
Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kesementaraan di sini. Singgah adalah keadaan antara: antara datang dan pergi, antara memiliki dan melepaskan, antara bertemu dan kehilangan. Barangkali manusia memang hidup di ruang semacam itu. Kita tidak pernah sepenuhnya memiliki hari ini karena ia bergerak menjadi kemarin; kita tidak pernah sepenuhnya memiliki seseorang atau tempat karena semuanya berubah. Bahkan tubuh yang kita sebut “aku” tidak pernah benar-benar diam—sel berganti, wajah berubah, dan diri yang kita kenal sepuluh tahun lalu perlahan menjadi orang lain.(Source: kosapoin.com/singgah)
Lalu apa yang sebenarnya kita pertahankan ketika kita berkata ingin “tinggal”? Alam tidak pernah menjanjikan keabadian kepada apa pun. Hujan turun lalu berhenti, angin bergerak, daun jatuh, dan embun menghilang ketika matahari naik. Kita melihat semua itu setiap hari, tetapi tetap saja hidup seolah segala sesuatu akan tersedia besok dalam bentuk yang sama. Padahal waktu bekerja terus-menerus dalam diam.(Source: kosapoin.com/singgah)
Kesadaran bahwa segala sesuatu hanya singgah seharusnya tidak membuat hidup menjadi muram, melainkan mengajarkan perhatian. Jika kita tahu sebuah pertemuan mungkin tidak terulang, kita akan mendengarkan lebih sungguh-sungguh. Jika kita tahu orang tua dan anak-anak tidak selamanya bersama kita dalam bentuk yang sama, kita akan lebih menghargai setiap detik keberadaannya. Kita sering baru belajar menghargai ketika kehilangan mulai mengetuk, padahal kesadaran tentang persinggahan saja sudah cukup.(Source: kosapoin.com/singgah)
Lalu kehidupan membawa kita kepada pertanyaan yang lebih berat: setelah semua yang kita kumpulkan dan tinggalkan, apa yang sebenarnya berubah karena kita pernah berada di sini?(Source: kosapoin.com/singgah)
Seorang musafir tidak hanya meninggalkan tempat dengan barang-barangnya, tetapi juga jejak. Kehadiran kita selalu mempunyai akibat: luka, keberanian, pengetahuan, kasih sayang, atau sebuah kalimat yang diingat seseorang di masa sulitnya. Karya lahir dari kegelisahan semacam itu. Manusia menulis karena tubuhnya terbatas, membuat musik karena suaranya suatu hari akan berhenti, dan melukis karena matanya tidak selamanya melihat. Karya adalah coretan kecil di dinding perjalanan: aku pernah melewati tempat ini. Tubuhnya telah pergi, tetapi sesuatu yang pernah ia buat masih berjalan dari satu manusia ke manusia lain, mendapatkan kehidupan kedua.(Source: kosapoin.com/singgah)
Namun karya pun tidak kebal terhadap waktu. Buku dapat rusak, lagu dilupakan, dan nama terhapus. Tidak ada jaminan bahwa jejak kita akan bertahan, dan memang tidak perlu ada jaminan. Sebuah kebaikan, cinta, atau karya tidak menjadi sia-sia hanya karena tidak dicatat sejarah. Yang penting bukan seberapa panjang sesuatu bertahan, tetapi apa yang terjadi ketika sesuatu itu hadir.(Source: kosapoin.com/singgah)
Kematian membuat kata singgah terasa semakin dekat. Kita lahir tanpa jadwal kepulangan, tumbuh membuat rencana, membeli sesuatu untuk masa depan, dan membayangkan tahun-tahun yang belum datang. Suatu hari tubuh yang kita rawat akan berhenti menjadi tempat bagi kita. Rumah akan tetap berdiri, kursi akan tetap menunggu, dan dunia tidak akan berhenti ketika seorang manusia pergi. Menyakitkan, tetapi juga membebaskan, sebab kita tidak dituntut untuk menguasai dunia, melainkan hanya mendapat kesempatan untuk berada di dalamnya.(Source: kosapoin.com/singgah)
Barangkali yang paling sulit bukan menerima bahwa kita akan pergi, melainkan menerima bahwa kita tidak dapat menentukan apa yang terjadi setelah kita pergi. Ketidakpastian itu membuat manusia berusaha meninggalkan sebanyak mungkin tanda. Padahal kehidupan tidak berlangsung di masa depan; ia berlangsung di sini—pada percakapan yang sedang terjadi, pada orang yang duduk di depan kita, pada sore yang sebentar lagi menjadi malam. Persinggahan hanya berarti jika kita benar-benar hadir di tempat kita sedang berada.(Source: kosapoin.com/singgah)
Maka singgah bukan kata yang menyuruh kita bersedih, melainkan cara memandang kehadiran. Seseorang yang singgah layak disambut, tempat yang kita singgahi layak dihormati, dan waktu yang diberikan layak dijalani dengan penuh perhatian. Kita tidak harus memiliki seseorang untuk mencintainya, tidak harus mempertahankan masa lalu untuk menghargainya, dan tidak harus hidup selamanya agar kehidupan mempunyai nilai. Cukup hadir, cukup memberi arti, dan cukup meninggalkan sesuatu yang tidak membuat dunia lebih buruk daripada ketika kita datang.(Source: kosapoin.com/singgah)
Kita tidak pernah tahu kapan sebuah persinggahan selesai. Itulah sebabnya tidak ada gunanya menunggu waktu yang sempurna untuk hadir. Katakan terima kasih ketika masih ada yang mendengar, minta maaf sebelum pintu tertutup, peluk orang yang masih bisa dipeluk, dan temani seseorang yang membutuhkan kehadiran tanpa merasa harus memiliki.(Source: kosapoin.com/singgah)
Suatu hari nanti, kita akan meninggalkan semua tempat yang pernah kita sebut rumah. Orang-orang akan melanjutkan kehidupan mereka, dan yang tersisa hanyalah waktu yang pernah diberikan kepada kita: waktu untuk datang, berhenti, mengenal, mencintai, membuat sesuatu, lalu meneruskan perjalanan. Kita tidak tahu seberapa panjang jalan yang masih tersisa, tetapi kita tahu satu hal: kita sedang berada di dalam perjalanan itu sekarang.(Source: kosapoin.com/singgah)
Hadir bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai seseorang yang tahu bahwa tempat ini akan ditinggalkan. Jaga apa yang ditemui, hargai siapa yang berjalan bersama, dan tinggalkan sesuatu yang baik jika mampu. Kemudian, ketika waktunya tiba, berangkatlah tanpa terlalu banyak menggenggam. Sebab tidak ada seorang pun yang benar-benar tinggal. Kita datang, berhenti, mencintai, kehilangan, lalu jalan kembali terbuka. Singgah.(Source: kosapoin.com/singgah)
Musabab itulah aku tulis Surat Rindu(Source: kosapoin.com/singgah)
Mungkin kau lupa akan raut wajahku
Mungkin kau lupa akan bentuk tulisanku
Tapi aku masih setia padamu(Source: kosapoin.com/singgah)
Kau mampu menarik pintu sukmaku
Dengan doa-doa paling inti
Dengan tali kesabaran kau
Mampu menuruni bahkan memahami
Palung jiwaku yang kelam(Source: kosapoin.com/singgah)
Rindu Cahaya Maha Cahaya
Datanglah dengan segenap rindu
Ke ranjang hatiku yang sunyi!(Source: kosapoin.com/singgah)
2002(Source: kosapoin.com/singgah)
catatan kaki: (Source: kosapoin.com/singgah)
Sajak “Surat Rindu” ditulis pada 2002 dan pertama kali dimuat di Pikiran Rakyat pada tahun yang sama dengan menggunakan nama asli penulis. Pada tahun 2013, puisi ini diterbitkan kembali dalam antologi puisi tunggal penulis Dua Musim dengan menggunakan nama pena. Seluruh teks “Surat Rindu” kemudian digunakan dalam cerpen Bulan Retak, yang ditulis pada tahun 2015 dengan menggunakan nama pena, dan kini kembali hadir sebagai bagian penutup esai “Singgah” ditulis pada tahun 2017 sempat dimuat di https://rumahdomunur.blogspot.com/(Source: kosapoin.com/singgah)

Pengaruh Seni Sastra Yunani Kuno secara Globalisasi
Negara: Indonesia (West Java)
Device: Desktop
OS: Linux, Browser: Chrome








