sebuah naskah monolog dari adaptasi naskah Antigone karya Sopocles
Julungwangi
[Antigone berwastra Djawa]
Panggung
Panggung kosong, hanya ada daun-daun kering yang berbentuk lingkaran. Kemudian terdengar suara jengkerik sore menjelang malam. Sehembus angin membawa gema suara gamelan serta lantunan sepenggal tembang yang terdengar lamat-lamat, menuntun sulur-sulur cahaya matahari menerangi keremangan panggung, dimana Julungwangi duduk bersimpuh membelakangi penonton.
Ngawit :
Jeriting panandang oh Gustiku | suworo tangis kang kalayung | trenyuh sak jroning ati | angadepi pacoban iki | manuso tan biso anyelaki | pepati kang nggegirisi | titah tanpo doyo | angadepi pacoban iki |
Lihatlah aku | dengan denyut hidup masih kuat di dalam jantungku | aku melangkah menuju akhir perjalanan hidupku | sambil melihat untuk terakhir kalinya | cahaya kemilau sang surya |.
Belum kawin dan masih dara | belum pernah kudengar mantra perkawinan di nyanyikan | kini dewa maut | naik bahtera menjemputku | bagai mempelai laki-laki | ia akan membimbing tanganku ke alam sana |.
Sungguh | aku tak ingin mati sebagai pahlawan | aku tak ignin mati menjadi dongengan | aku ingin hidup dan mati seperti orang kebanyakan | namun nasib membawaku pada akhir yang getir |.
Silsilah keluargaku terbentang | dinasti keluargaku dulu jaya | sangat perkasa dan juga berjasa | sampai kemudian semuanya musnah | di kutuk oleh dewata | tanpa ia ketahui | ayahku kawin dengan ibunya | setelah sadar ia mengungkapkan dosanya | kemudian menusuk kedua matanya hingga buta | Putri Menail yang menjadi istri namun juga ibunya sendiri | mati menggantung diri | selanjutnya dua saudaraku berselisih faham | membela negara yang berbeda | berperang | saling berbunuhan | mati bersama dalam medan payudan |.
Inilah warisan ayah pada diriku | dilimpahkannya unggun penderitaan | duka demi duka | dari terhina semakin terhina |.
Wariga yang memihak negeri Pawukon | gugur dan dianggap pahlawan | di makamkan dengan iringan upacara agung | serta di elu-elukan seluruh negeri | sementara Warigadean yang memihak negeri Wewaran | mati serta dianggap pemberontak | sehingga jenazahnya dilarang untuk dikuburkan | di biarkan terkapar tanpa ratapan | tanpa pemakaman | tanpa upacara | menjadi mangsa burung bangkai dan serigala |.
Pamanku Watugunung | yang sekarang berkuasa atas negeri Pawukon | telah mengeluarkan undang-undang untukitu | dan hukuman mati bagi yang menentangnya |.
Undang-undang seharusnya dibuat untuk menghindari kekacauan | untuk menjaga keadilan | untuk menjaga ketertiban | menjaga kehidupan | bukan untuk melanggengkan kekuasaan | serta kebenaran sendiri |.
Tentu saja ini kesewenangan seorang penguasa | yang merasa kebenaran hanya miliknya seorang | dengan perlindung di belakang kekuasaan | dia buat undang- undang untuk membentengi kepentingannya sendiri |.
Memang tak ada orang yang sempurna | yang bisa benar dalam segala peristiwa | namun orang yang bijaksana | adalah orang yang mau mencatat dan mengingat pendapat orang pandai lainnya | bukan orang yang hanya suka bicara tapi tak suka mendengar |.
Dan untuk kesewenang-wenangan itu | untuk segala kezaliman itu | hanya ada satu kata |lawan..!|
Kemudian kutimbun jenazah Warigadean dengan cukup rapat | dan melakukan upacara pemakaman untuknya | sehingga terhindar dari segala kutukan di udara yang terbuka | aku siap menghadapi kematian jika itu taruhannya | bagiku tak ada kematian yang lebih mulia | daripada mati membela kebenaran | dan jika ini dianggap sebagai kejahatan | inilah kejahatan yang direstui para dewa |.
Warigadean sudah mati | tak perlu ia di hukum lagi | mengapa orang mati harus di bunuh lagi ?
Orang yang hidupnya kosong | tidak memiliki pendirian | sementara aku tak bisa berdiam diri | melihat jenazah saudaraku tak diberi upacara se bagaimana layaknya |.
Bukankah upacara pemakaman adalah upacara agama | dengan begitu masuk dalam wilayah undang-undang dewata | aku tak menganggap bahwa undang-undangseorang penguasa lebih tinggi dari undang-undang surga |
Betapapun | manusia itu bersifat fana | sementara undang-undang surga itu baqa | kita akan menghadapinya nanti | tanpa dijatuhi hukuman matipun | aku toh akan mati juga | jadi apa bedanya mati lebih pagi ? | dan bagiku tak ada alasan mati yang lebih mulia dari ini | mati membela upacara agama untuk seorang saudara | karena aku tak mungkin memutus tali persaudaraan |
dan tidak mempengaruhi upacara pemakaman menurut agama |.
Begitulah | ketika akhimya aku tertangkap | aku dijatuhi hukuman mati | tanpa pengadilan dan pembelaan | meskipun aku korban ketidak-adilan | aku salah menurut raja | walaupun benar menurut alam | aku dianggap pembangkang | dan dikubur hidup-hidup di dalam gua |
Walau kekasihku putra mahkota Perangbakat mendebat | mengeluarkan pendapat dengan hebat | bahwa keputusan sang raja kurang tepat | tentang keadilan yang bertentangan dengan kebijaksanaan yang diucapkan | sehingga menjadi gunjingan rakyat | namun Watugunung tetap pada pendiriannya | bahkan menuduh kekasihku berat sebelah | karena telah dibutakan oleh racun asmara |.
Walau ada pertapa yang membuka nujuman di depannya | tentang berita yang dibisikkan alam | tentang altar pemujaan yang telah ternoda | rahasia negeri yang akan tertimpa petaka | dimana nyawa akan dibayar nyawa | mayat dibayar mayat | Karena raja telah memutuskan | menguburkan nyawa yang mestinya masih hidup di dunia | dan menahan jasad di dunia yang semestinya dengan khidmat diantar ke akhirat |
Yang semua ia tafsirkan setel ah menyajikan korban di altar | dupa tak menyala waktu di bakar | empedu kurban meledak di api | dan tak ada lemak di tulang kaki | sebuah rahasia yang harus diurai | di pikir dan di tafsir | agar terbuka dan tak menimbulkan tanya |.
Namun sinuwun Watugunung tak bergeming | tekadnya membatu walau hatinya mulai was-was | nujuman Arakangurukung tak pernah salah | apa yang dilihat itu yang diucap | apa yang tertulis itu yang dieja | dia yang renta dengan mata Syiwa | lidahnya tajam kata-katanya sangat bertuah |.
Walau Dewi Landep adikku juga membela | menyampaikan bahwa tidak pada tempatnya aku dianiaya | karena melakukan tindakan mulia | namun sinuwun marah berkilah | bahwa apa yang kuperbuat adalah anarki | tindakan yang sangat berbahaya | ibarat tentara tanpa aturan |.
Para kawulapun hanya bisa diam | tak berani membuka suara | walaupun mereka berpihak pada diriku | namun kuasa raja yang dominan | memaksa mereka tutup mulut bungkam seribu basa |.
Inilah kisah dari sebuah negeri pada hari ini | sepenggal tragedy yang penuh teka-teki | penguasa melawan rakyat jelata | generasi tua melawan generasi muda | turunan Adam melawan turunan Hawa | tercatat dalam silsilah berwarna darah | terbungkus kisah dalam sejarah |
Wahai …| lihatlah aku | dengan denyut hidup masih kuat di dalam jantungku | kini aku terkurung di gua batu | gua ini setengah mirip kuburan | setengah kamar pengantin | pintu gerbang menuju dunia seberang sana bagiku |.
Oh Syiwa dewanatha | aku berlutut dan berdoa | bila temyata menurut dewa | Watugunung yang bersalah | aku mohon | semoga ia menerima bencana | yang sama berat dengan deritaku ..!!! |.
Bersamaan dengan akhir kalimat yang diucapkan oleh Julungwangi, tiba-tiba angin bertiup dengan kencang, mendung menggulung, hujan menderas, dengan suara petir menggelegar bersahutan, alam mengamuk dengan ganas.
Selesai
monolog Julungwangi 2026


