SAJAK Mohammad Rohamudin

calangap

SUNGAI YANG MENGAJARKAN SUJUD
‎(Source: kosapoin.com/sajak-mohammad-rohamudin)


‎Dalam senyap yang tak pernah benar-benar diam, Sumatera dan Aceh kembali diterpa deras air yang turun bagai beban yang tak tertahan.
‎
‎Dari langit yang gelap, terdengar gema yang hanya dapat disimak oleh hati yang mau mendengarkan: sebuah percakapan lirih tentang malapetaka, tentang hidup yang seketika berubah menjadi kisah kehilangan.
‎
‎Banjir bukan lagi sekadar musim yang berganti, melainkan penanda tergesernya keseimbangan yang dulu dijaga oleh hutan, akar, tanah, dan kehati-hatian manusia.
‎
‎Di tepian sungai yang meluap, jejak kehidupan mengambang bersama lumpur yang menguasai halaman rumah.
‎
‎Ada mereka yang ditemukan dalam kesunyian terakhir, dan ada pula yang belum pulang, seakan ditelan oleh arus yang terlalu terburu. Korban-korban itu bukan angka; mereka adalah cerita yang terputus, doa yang mendadak terhenti, dan pelukan yang tak sempat kembali.
‎
‎Dalam benak masyarakat, luka itu mengendap menjadi duka yang sulit terucap, seolah bumi menghela napas panjang memandang apa yang terjadi atas dirinya.
‎
‎Bagi sebagian orang, musibah ini terasa seperti ajakan untuk menundukkan kepala. Bukan karena kalah, melainkan karena menyadari betapa rapuhnya manusia di hadapan perubahan yang mereka ikut ciptakan sendiri.
‎
‎Dalam kacamata psikologi bencana, tragedi seperti ini sering menjadi cermin yang memantulkan konsekuensi dari tindakan yang terus diulang tanpa jeda.
‎
‎Pembakaran di hulu, penebangan yang tak mengenal batas, dan perusakan yang diam-diam menyiapkan panggung bagi air untuk mengamuk tanpa kendali.(Source: kosapoin.com/sajak-mohammad-rohamudin)

PUISI Rachman Sabur
Baca Tulisan Lain

PUISI Rachman Sabur

Kesedihan itu tumbuh seperti kabut yang turun dari lereng. Di hulu, manusia dulu begitu asyik dengan kebiasaan yang tampak remeh: membuka lahan dengan api, menggusur pepohonan dengan cepat, mengabaikan akar yang seharusnya menahan tanah dari hanyutnya harapan.
‎
‎Dari batang-batang yang tumbang itu, lahirlah puisi yang getir:
‎Hutan yang pergi adalah payung yang patah,
‎Sungai yang keruh adalah air mata bumi yang terlalu lama diam.
‎
‎Ketika daun tak lagi memecah derasnya hujan, dan tanah kehilangan genggaman, air hanya menjadi saksi yang setia.
‎
‎Datang bukan sebagai musuh, melainkan sebagai pesan yang tak pernah manusia sempat baca. Maka banjir bukan semata bencana; ia adalah catatan panjang tentang kebiasaan yang keliru, yang dibiarkan tumbuh menjadi ancaman.
‎
‎Di tengah itu semua, percakapan dalam hati berdesir kembali:
‎Berapa banyak lagi yang harus hilang agar kita belajar membaca tanda-tanda yang telah lama diberikan oleh alam?
‎
‎Dan pada akhirnya, setelah duka mengendap di antara lumpur, di celah reruntuhan, dan di balik hujan yang perlahan mereda, kita hanya mampu menyalakan sebaris harapan:
‎Semoga esok lebih jernih daripada hari ini.
‎
‎Agar hutan kembali bernapas, sungai kembali mengenali jalannya, dan manusia menapaki bumi dengan langkah yang lebih penuh rasa.
‎
‎Harapan itu kecil, tetapi tetap menyala, laksana cahaya terakhir yang bertahan meski angin berulang kali ingin memadamkannya.(Source: kosapoin.com/sajak-mohammad-rohamudin)

PUISI Yoyo C. Durachman
Baca Tulisan Lain

PUISI Yoyo C. Durachman


Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.62
Negara: Unknown (Unknown)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *