Fajar belum lagi merebak di langit Semarang, Oktober 1945. Udara pesisir yang biasanya lengas oleh bau garam kini pekat oleh anyir darah dan belerang. Di sudut Kampung Bustaman, sebuah dapur darurat rahasia di balik dinding-dinding bambu yang jelagaan. Asap tipis mengepul dari sebuah dandang tembaga besar, berusaha menyaru dengan kabut pagi agar tak mengundang cula tentara Kidobutai yang sedang kalap.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Mbok Sinto berdiri di depan tungku. Kedua matanya perih, lantaran asap kayu bakar yang menusuk netra, juga karena air mata yang sudah mengering menjadi kerak di pipinya yang keriput. Baru kemarin sore, gendongan lurik cokelat miliknya pulang tanpa isi. Di dalamnya, jasad utuh anak tunggalnya, Giyarto, telah ditinggalkan di dekat parit Lawang Sewu, tertembus peluru Arisaka milik tentara Jepang.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
“Mbok… sampun, Mbok. Giyarto sampun tenang. Sampeyan mboten sah maksa raga—Ibu… sudah, Ibu. Giyarto sudah tenang. Anda tidak usah memaksakan,” bisik Parmi, tetangga sebelah rumah, sembari meletakkan sebakul kecil beras afkir—sisa karung terakhir yang berhasil disembunyikan dari jarahan Kempeitai.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Mbok Sinto enggan menoleh. Tangannya yang gemetar hebat tetap mengaduk nasi yang mulai mengembang. “Giyarto pancen wis rampung, Mi. Tapi bocah-bocah sing ning Tugu Muda, sing ning barikade pinggir kali… mereka iku sik butuh urip. Nek wetenge ngelih, kepriye carane nyekel bedhil?—Giyarto memang sudah selesai (perjuangannya/hidupnya), Mi. Tapi anak-anak muda yang di Tugu Muda, yang di barikade pinggir sungai… mereka itu masih butuh hidup. Kalau perutnya lapar, bagaimana caranya memegang senapan?” Suaranya serak, berat, dan sarat akan keteguhan yang lahir dari keputusasaan terdalam.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Hari itu, Pertempuran Lima Hari sedang mencapai titik paling berdarah. Pemuda-pemuda PETA, BKR, dan segenap arek-arek Semarang hanya bermodalkan bambu runcing dan beberapa pucuk senjata rampasan. Mereka bertahan di garis depan, menahan gempuran serdadu Jepang yang terlatih. Dan di Bustaman, garis belakang yang senyap, Mbok Sinto mengambil alih peran sebagai jantung yang memompa darah ke urat nadi perjuangan.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Dengan cekatan, dibersihkannya daun-daun jati yang dipetik dari pekarangan belakang. Daun jati pilihan—lebar, tebal, dan beraroma khas. Di atas daun jati itulah, Mbok Sinto menuangkan nasi hangat yang masih mengepulkan uap, memberinya sejumput garam abu, lalu melipatnya dengan tali bambu yang diiris tipis.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Siji… loro… telu…(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
“Giyarto, le…” Mbok Sinto berbisik lirih, jarinya yang bergetar hebat memekarkan lembar demi lembar daun jati di atas telapak tangannya. “Iki sega anget sing seneng kokpangan mbiyen. Saiki tak bungkuske nggo kanca-kancamu sing sik berjuang ning jaba…—Ini nasi hangat yang suka kamu makan dulu. Sekarang Ibu bungkuskan untuk teman-temanmu yang masih berjuang di luar…”(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Air matanya luruh, jatuh tepat di atas permukaan daun yang kasar, merembes pelan ke dalam bulir-bulir nasi yang masih mengepul. Ia buru-buru menyekanya dengan ujung kebaya yang sudah kusam, seolah takut air mata dukanya akan membuat nasi itu cepat basi.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Setiap kali tangannya melipat ujung daun dan mengikatnya dengan tali bambu, dadanya kembang kempis menahan sesak yang teramat sangat.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
“Tolong diterke ning garis depan, Mi. Kandani bocah-bocah kuwi… iki sega anget seko ibune—Tolong diantarkan ke garis depan, Mi. Bilang ke anak-anak muda itu… ini nasi hangat dari ibunya,” lirih Mbok Sinto sembari menata puluhan nasi bungkus ke dalam keranjang bambu besar.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Parmi mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia memanggul keranjang itu, menyelinap di antara gang-gang sempit Bustaman, menuju ke arah kawasan Tugu Muda yang bergemuruh oleh rentetan senapan mesin dan dentuman mortar.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Sembari menanti Parmi kembali dari garis depan, Mbok Sinto menyapu pandangannya ke sekeliling dapur. Matanya tertuju pada sebuah caping bambu yang tergantung di tiang rumah. Ingatannya langsung berputar ke masa beberapa minggu lalu, sebelum kota ini bergolak menjadi lautan api.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Giyarto adalah tipe anak yang tak bisa melihat ibunya kelelahan. Setiap kali Mbok Sinto selesai menanak nasi, pemuda tanggung itu pasti langsung datang mendekat, merebut kipas anyaman bambu dari tangan ibunya.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
“Sampun, Mbok. Ndang lenggah, kersane Giyar sing ngipasi segane ben cepet adem—Sudah, Ibu. Cepat duduk, biar Giyar saja yang mengipasi nasinya,” ucap Giyarto waktu itu, sambil tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Mbok Sinto selalu membalasnya dengan usapan lembut di kepala Giyarto. Anak itu selalu lahap memakan nasi bungkus daun jati buatannya, walau lauknya hanya sambal korek atau secuil tahu. Giyarto selalu bilang kalau tidak ada masakan di dunia ini yang bisa menandingi harumnya nasi buatan ibunya sendiri.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Bayangan senyum tulus anak tunggalnya itu mendadak buyar saat terdengar suara gaduh dari arah luar gang. Siang merayap meredup. Kampung Bustaman mendadak mencekam. Suara derap sepatu lars melangkah kasar di atas tanah kering, memecah keheningan gang. Kidobutai bertindak liar. Mereka mengendus adanya jalur logistik dari kampung-kampung pinggiran yang menyuplai para pejuang di pusat kota.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Brak!(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Pintu dapur darurat ditendang hingga jebol. Tiga serdadu Jepang masuk dengan bayonet terhunus. Tatapan matanya merah, dipenuhi amarah bercampur kelelahan yang teramat sangat. Seragam hijaunya koyak di bagian bahu, bersimbah peluh dan debu jalanan Semarang yang menyengat. Di bawah topi bajanya, gurat wajah perwira itu sebenarnya menyiratkan keputusasaan seorang prajurit yang rindu rumah, terombang-ambing di ujung perang yang sudah kalah.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Di dalam ruangan itu, mereka hanya mendapati seorang perempuan tua yang sedang bersimpuh di depan tungku, dengan tangan yang masih memegang selembar daun jati terakhir. Di sampingnya, sebuah dandang kosong masih menyisakan aroma nasi yang harum bercampur wangi pekat daun jati.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Seorang perwira Jepang maju, mencengkeram kerah kebaya lusuh Mbok Sinto, lalu memaksanya berdiri. “Kura! Di mana… gudang beras?!” Perwira Jepang itu membentak, napasnya memburu menahan geram. Lidahnya kelu mengeja kata demi kata, terdengar ganjil dan tersendat-sendat di sela deru amarahnya. “Kalian… kirim makan… sama pemberontak… di mana?! Bicara!”(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Mbok Sinto menatap tajam mata perwira itu. Tak nampak sedikitpun ketakutan di wajah Mbok Sinto. Kehilangan Giyarto sepertinya juga telah merenggut rasa takutnya. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman memilukan siapapun yang melihatnya.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
“Sega iku wis ning wetenge para pejuang, Ndoro. Lan bakal dadi getih sing bakal ngusir kowe kabeh seko tanah iki—Nasi itu sudah berada di dalam perut para pejuang, Tuan. Dan (nasi itu) akan menjadi darah yang bakal mengusir kalian semua dari tanah ini,” jawab Mbok Sinto tenang, dalam bahasa Jawa kedaton.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Mendengar jawaban itu, sang perwira naik pitam. Ia menghempaskan tubuh rentan itu ke lantai tanah. Bayonet berkilau diterpa cahaya api tungku yang mulai meredup.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Jleb.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Tubuh tua Mbok Sinto langsung ambruk, ambruk begitu saja di atas tanah dapur yang lembap. Darah segar merembes cepat, membasahi selembar daun jati terakhir yang lepas dari genggamannya yang mulai kaku.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Di sisa kesadarannya yang makin menipis, pandangan Mbok Sinto mulai kabur. Bibirnya yang pucat bergerak sedikit, berbisik pelan, hampir tak terdengar di tengah sunyinya ruangan itu.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
“Giyarto… Mbok nyusul, Le…—Giyarto… Ibu menyusul, nak”(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Sore harinya, pertempuran di Tugu Muda mulai mereda di bawah gencatan senjata yang rapuh. Di balik barikade parit yang hancur, seorang pemuda pejuang duduk bersandar pada dinding karung pasir. Wajahnya cemong oleh mesiu, lengannya terbalut perban berdarah.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Dengan tangan bergetar karena lelah, ia membuka sebuah bungkus nasi daun jati yang diantarkan Parmi tadi siang. Nasi itu sudah mulai dingin, namun aroma daun jatinya masih begitu kuat, menenangkan jiwanya yang koyak oleh perang.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, pemuda itu mendadak berhenti mengunyah. Matanya melebar, menatap dengan tatapan yang terguncang ke arah bungkusan daun jati di genggamannya. Aroma nasi hangat yang bercampur wangi jati itu langsung menusuk dadanya. Rasa ini—rasa nasi tanakan yang pulen dengan sejumput garam abu—terasa begitu akrab di lidahnya. Rasanya persis seperti masakan yang selalu tersaji di rumah.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
“Ibu…” bisik pemuda itu, suaranya tercekat dan bergetar hebat.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Ingatannya langsung terlempar ke dapur rumahnya sendiri, ke senyum ibunya yang selalu menanti di ambang pintu tiap kali ia pulang. Nasi bungkus ini rasanya laksana sebuah pelukan hangat seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya di tengah berkecamuknya perang.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)
Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya runtuh juga, mengalir deras membasahi pipinya yang kotor penuh jelaga dan mesiu. Sambil menyuap sisa nasi dengan tangan yang gemetar, ia menangis sesenggukan, membiarkan air matanya jatuh bercampur dengan nasi yang ia kunyah. Dia mendekap bungkusan daun jati itu erat-erat ke dadanya, meraba sisa kehangatan yang tertinggal di sana.(Source: kosapoin.com/nasi-bungkus-daun-jati)

NEED NOT TO KNOW
Negara: Poland (Pomerania)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown
