‘Tamu Agung’ dan Catatan Kritis di Balik Napas Baru Longser Tasikmalaya

tamu agung 4 1

TASIKMALAYA – Sabtu malam, 11 Juli 2026 | Lapang Bale Kota Tasikmalaya berubah menjadi ruang perayaan teater rakyat yang hangat. Di tengah udara malam yang dingin, puluhan warga berkumpul untuk menyaksikan “Tamu Agung”, sebuah pagelaran Longser Progresif yang menyatukan tawa, nostalgia, dan kritik sosial. Area pertunjukan disulap memikat dengan puluhan cempor dan obor kayu, menghadirkan atmosfer masa lampau yang membangkitkan rasa haru. Di belakang panggung, berdiri sebuah gunungan terbelah dua dengan ukuran raksasa yang menjadi latar utama pertunjukan, sementara seperangkat gamelan Sunda ditata mengelilingi arena, menegaskan bahwa malam itu bukan sekadar pementasan, melainkan sebuah upaya sungguh-sungguh untuk menghidupkan kembali semangat panggung rakyat.(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Pementasan yang digagas oleh LESBUMI PCNU Kota Tasikmalaya dan Yayasan Silih Anjang Sono ini, dengan dukungan Dana Indonesiana dan LPDP, melibatkan lebih dari 30 seniman dari berbagai komunitas di bawah arahan sutradara Pongkir Wijaya. Naskah pertunjukan ini merupakan hasil adaptasi kreatif dari karya Nikolai Gogol yang digarap dengan cukup tajam oleh penulis May Ramadan. Kehadiran bintang tamu legendaris, Ki Daus, cukup sukses menjadi daya tarik utama yang memicu gelak tawa penonton dari berbagai kalangan.(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Refleksi Pimpinan dan Harapan Pemerintah(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

R Dicky Candranegara
Raden Diky Candranegara saat memberi sambutan. dok. foto. Syifa Siti Sofia

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Diky Candranegara, hadir memberikan penegasan baik saat pembukaan maupun penutupan acara. Dalam sambutan pembukanya, Dicky menegaskan bahwa selama ini kesenian tradisional cenderung kehilangan value (nilai), sehingga Dicky berharap kesenian ini dapat kembali menjadi tuntunan, bukan sekadar tontonan.(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Pada sesi penutupan, Raden Diky Candranegara kembali tampil menyampaikan apresiasinya. Meski Dicky secara jujur mencatat masih terdapat beberapa kekurangan secara teknis dalam pementasan, Dicky menekankan bahwa tradisi ini jangan sampai hilang. Pandangan ini pun diamini oleh Amang S. Hidayat selaku pimpinan Longser (Ki Panjak), yang dalam ucapan penutupnya juga mengakui masih banyak kelemahan yang harus dibenahi demi kualitas pementasan ke depan.(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Akar Sejarah dan Transformasi Pakem Longser(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Longser merupakan seni teater rakyat khas Jawa Barat yang berkembang sejak zaman kolonial. Pertunjukan ini memadukan drama, tari, dan musik dalam alur yang menghibur. Karakter jenaka dan dialog spontan menjadi daya tarik utamanya. Dalam kurun waktu lebih dari 100 tahun, Longser telah mengalami evolusi besar, dimulai dari fase doger[1] (ngadoger), lengger,[2] hingga menjadi longser[3].(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Kesenian ini merunut pada sosok seniman legendaris, Bang Tilil. Sekitar tahun 1915, ketika doger dan ketuk tilu mulai memudar, Bang Tilil memperkenalkan istilah longser melalui kelompok “Longser Bang Tilil”. Di kelompok inilah Ateng Japar, atau yang populer dengan nama Bang Tuweuw, belajar sebelum akhirnya mendirikan “Longser Pancawarna” pada tahun 1930. Menurut Yoyo C. Durachman dalam bukunya Teater Tradisonal & Teater Baru yang diterbitkan oleh Sunan Ambu Press (2009), menekankan bahwa perubahan pakeum (pakem) dari generasi ke generasi menandakan bahwa seni rakyat bersifat elastis, tidak kaku, dan terus berkembang sesuai zamannya tanpa kehilangan esensi dasarnya.(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Dinamika ini menunjukkan bahwa perkembangan Longser sangat bergantung pada visi sang penggarap. Berikut adalah beberapa transformasi struktur dramaturgi Longser dari masa ke masa:(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

1. Pakeum Era Bang Tilil (Sekitar 1915)(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Struktur yang dirintis saat istilah longser diperkenalkan sebagai respons atas memudarnya doger dan ketuk tilu meliputi:(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

  1. Tatalu: Komposisi musik pembuka oleh nayaga (penabuh) sebagai tanda dimulainya pertunjukan dan pemanggil perhatian penonton agar berkumpul.
  2. Tarian Ketuk Tilu: Pertunjukan tari pergaulan yang menyajikan gerak dinamis sebagai inti hiburan untuk membangun kegembiraan.
  3. Bobodoran: Bagian banyolan atau lawakan khas Sunda yang berfungsi sebagai elemen pencair suasana dan wadah interaksi jenaka antara pemain dan penonton.

2. Pakeum Era Ateng Japar / Bang Tuweuw (Sejak 1930)(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Murid Bang Tilil yang mendirikan Longser Pancawarna ini mengembangkan dramaturgi menjadi lebih kompleks dengan menambah struktur:(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

  1. Tatalu: Komposisi musik pembuka sebagai penanda ritual dimulainya acara.
  2. Wawayangan: Sesi masuknya para ronggeng ke tengah arena untuk menari dan bernyanyi bersama guna memikat perhatian penonton.
  3. Cikeruhan: Bagian khusus yang menampilkan perpaduan tari dan musik dengan irama yang lebih khas dan variatif.
  4. Bobodoran: Bagian lawakan sebagai jembatan komunikasi antara panggung dan penonton.
  5. Lakon/Cerita: Inti pertunjukan berupa alur drama atau kisah kehidupan sehari-hari.

Perkembangan ini tidak sampai di sini, Ateng Japar menambahkan dua pakeum lagi dalam Garapan-garapan longser berikutnya:(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

  1. Tari Langlayangan: Menggambarkan keceriaan anak-anak dengan gerakan meniru aktivitas bermain layang-layang.
  2. Penca Bodor: Seni pertunjukan yang menggabungkan unsur pencak silat dengan banyolan.

catatan khusus: dalam longser Atang Japar, kidung diambil alih oleh sinden dan dikawihkan. Sementara di longser generasi kiwari, kidung dan atau rajah suka dibawakan oleh panjak. (Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

3. Pakeum Toneel Bandung (Pimpinan Giri R Mustika, Sejak 2003)(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Sebagai bentuk inovasi yang lebih ringkas dan fokus, Toneel Bandung mengembangkan pakem 6 babak sebagai berikut:(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

  1. Tatalu: Komposisi musik pembuka sebagai penanda awal pertunjukan.
  2. Rajah: Pembacaan mantra atau kidung doa sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan sebelum memulai lakon.
  3. Ronggeng: Penampilan tari tradisional yang menjadi identitas estetis dan daya tarik utama dalam panggung Longser.
  4. Lawak Tunggal: Bagian banyolan yang dilakukan secara solo (stand-up comedy tradisional) untuk membangun kedekatan emosional dengan penonton.
  5. Lakon: Inti penceritaan yang mengangkat drama kehidupan, konflik, dan pesan moral.
  6. Penutup: Bagian akhir pertunjukan yang berisi kesimpulan cerita serta ajakan apresiasi penonton.

4. Pakeum Longser Bandoengmooi (Pimpinan Mang Hermana, Sejak 2010)(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Sebagai bentuk perkembangan kontemporer, diterapkan 12 babak terstruktur yang menjaga ritme pertunjukan:(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

  1. Tatalu: Musik pembuka sebagai sinyal awal.
  2. Lagu Bubuka: Pemain memutari obor sambil bernyanyi dan menari.
  3. Amitsun: Tahap pembukaan berupa kidung, rajah, serta atraksi dedebusan (seperti murak kalapa).
  4. Pencak Silat: Seni bela diri tradisional sebagai wujud ketangkasan.
  5. Tari Tema Cerita/Ketuk Tilu: Tarian yang menggambarkan tema besar cerita.
  6. Carita Adegan 1: Pemaparan masalah awal dan banyolan.
  7. Tari Ketuk Tilu: Tarian transisi.
  8. Carita Adegan 2: Pengembangan konflik cerita.
  9. Tari Ketuk Tilu: Tarian transisi.
  10. Cerita Adegan 3 & Pencak Silat: Puncak masalah (klimaks) yang diselingi silat.
  11. Carita Adegan 4: Penyelesaian masalah dan kesimpulan.
  12. Tari Penutup: Penampilan terakhir yang mengajak penonton menari bersama (ngibing bareng).

5. Struktur Khusus: Longser “Tamu Agung”(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Menegaskan sifat dinamisnya, pementasan “Tamu Agung” di Tasikmalaya memiliki struktur unik yang disesuaikan oleh sutradara:(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

  1. Amitsun: Ritual pembukaan melalui rajah atau kidung permohonan keselamatan.
  2. Tari: Suguhan gerak untuk membangun estetika panggung.
  3. Wawayangan: Sesi pengenalan tokoh melalui nyanyian dan tarian pemain.
  4. Cerita 1: Pemaparan konflik pertama dan banyolan.
  5. Tari: Gerak transisi untuk menjaga ritme.
  6. Cerita 2: Pengembangan konflik hingga puncak masalah.
  7. Tari Penutup (Bajidoran): Penampilan akhir untuk mengajak penonton bersukacita.

“Tamu Agung”: Meminjam Gogol dengan Bahasa Rakyat(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Keberagaman pakem yang telah diulas menegaskan bahwa Longser adalah ruang kreasi yang elastis dan hidup. Dalam “Tamu Agung”, naskah Revizor karya Nikolai Gogol yang diadaptasi oleh May Ramadan menjadi kendaraan bagi para seniman untuk mengkritik birokrasi melalui humor slapstik yang merakyat. Namun, pementasan ini membuktikan bahwa tantangan terbesar bukanlah soal pakem, melainkan pada eksekusi.(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Meskipun rajah pembuka dan aksi Bebegig Sukamantri cukup berhasil menghadirkan nuansa ritual yang kuat, tempo pertunjukan secara keseluruhan terasa kaku. Improvisasi aktor yang dimaksudkan untuk menghidupkan suasana justru terasa berlebihan dan melampaui batas, sehingga memecah alur cerita dan membuat kritik sosial yang disampaikan kurang “renyah” untuk dinikmati audiens. Hal ini sejalan dengan catatan kritis Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Diky Candranegara, maupun pimpinan Longser (Ki Panjak), Amang S. Hidayat, yang secara jujur mengakui bahwa masih banyak ruang untuk berbenah.(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Meski demikian, keberanian untuk berevolusi dan mendobrak kebiasaan tetap layak diapresiasi. “Tamu Agung” menjadi pengingat penting bagi komunitas seniman di Tasikmalaya bahwa tradisi akan selalu relevan selama para penggarapnya memiliki kerendahan hati untuk belajar dari kegagalan teknis, terbuka terhadap evaluasi, dan terus merawat tradisi dengan keberanian untuk berbenah. Pada intinya, keberhasilan pementasan tidak hanya diukur dari sejauh mana kita mampu berinovasi, tetapi juga bagaimana kita menjaga spirit tradisi tetap bernapas melalui eksekusi yang matang, disiplin, dan berintegritas. [](Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

***(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

[1] Doger adalah sebutan lain untuk ronggeng, yaitu perempuan yang memiliki kemampuan menyanyi dan juga menari. Bentuk pertunjukannya serupa dengan Ketuk Tilu.(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

[2] Menurut Wikipedia (Diakses 11 Juli 2026) Lengger atau disebut juga ronggeng adalah kesenian asli Banyumas berupa tari tradisional yang dimainkan oleh 2 sampai 4 orang serupa wanita yang didandani(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

[3] istilah Longser berasal dari kata Long, yang artinya “melong”; dan ser kependekan dari “seredet” yang artinya tergugah. Jadi, Longser diartikan barang siapa yang melihat atau menonton pertunjukan seni tersebut, maka hatinya akan tergugah, mengingat seni Longser mempunyai maksud dan tujuan tertentu (Hidayat, 1997:21).(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)

Dom Puntila

(Source: kosapoin.com/tamu-agung-dan-catatan-kritis-di-balik-napas-baru-longser-tasikmalaya)


Apakah artikel ini membantu?
IP: 46.248.189.127
Negara: Poland (Pomerania)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *