Teguh Paino Seniman budayawan Kulonprogo, bersama seniman muda Kulonprogo, Anggita Cahyani dan Winarni di depan karya Anggita Cahyani. dok. foto Jajang kawentar.(Source: kosapoin.com/gebrakan-komunitas-sarang-seni-hidupkan-taman-budaya-kulon-progo-lewat-eksplorasi-visual-yang-estetik)
YOGYAKARTA | Di Galeri Taman Budaya Kulon Progo, sunyi berubah menjadi bunyi. Sepuluh pasang tangan dari Komunitas Sarang Seni berkumpul, merajut asa, dan menumpahkan jiwa dalam sebuah ruang bertajuk “Amba Rasa”. Dibuka sejak Sabtu (27/6) hingga Senin (6/7) mendatang, pameran ini bukan sekadar pajangan visual, melainkan sebuah ruang kontemplasi tempat tradisi bersinggungan dengan modernitas, sekaligus menjadi penanda nyata bahwa geliat seni rupa di Kulon Progo semakin menemukan gairah barunya.(Source: kosapoin.com/gebrakan-komunitas-sarang-seni-hidupkan-taman-budaya-kulon-progo-lewat-eksplorasi-visual-yang-estetik)

Secara harfiah, Amba merujuk pada laku menulis atau membatik, sementara Rasa adalah muara dari segala emosi manusia. Di bawah arahan kurator Angga Sukma Permana, makna ini menjelma menjadi jembatan intim yang menghubungkan batin sepuluh seniman lokal dengan kanvas, kulit, kain, hingga material sisa yang ditata sedemikian rupa agar setiap sudut galeri mampu bercerita lebih dalam kepada pengunjung.(Source: kosapoin.com/gebrakan-komunitas-sarang-seni-hidupkan-taman-budaya-kulon-progo-lewat-eksplorasi-visual-yang-estetik)
Menjelajahi 15 karya di galeri ini terasa seperti membaca diari emosional 10 perupa Kulon Progo diantaranya, Ade Kurniawan, Adi Maryanto, Anggita C, Damar Pradewa, Desy Rochmatul Budiarti, Juan Dali, Muhammad Arwan, Sidik Citra Nurgita, Vendi Anton Nugroho, dan Winarni, yang masing-masing menawarkan perspektif unik dalam merespons realitas.(Source: kosapoin.com/gebrakan-komunitas-sarang-seni-hidupkan-taman-budaya-kulon-progo-lewat-eksplorasi-visual-yang-estetik)
Kita diajak berdansa dalam kontradiksi melalui karya Winarni. Lewat lukisan dan kolase, ia membenturkan filosofi agung Batik Parang—sebuah simbol pengendalian diri—dengan deru mesin modern yang menjadi penanda ego manusia hari ini, sehingga menciptakan interpretasi visual yang menjadi pengingat tajam akan pentingnya keseimbangan di tengah arus perubahan.(Source: kosapoin.com/gebrakan-komunitas-sarang-seni-hidupkan-taman-budaya-kulon-progo-lewat-eksplorasi-visual-yang-estetik)

Di sudut lain, tradisi luhur berbisik lirih namun tegas lewat jemari Anggita Cahyani. Mahasiswi Kriya Kulit ISI Yogyakarta ini menghidupkan kembali kisah kesetiaan Rama dan Sinta melalui tatah sungging kulit sapi berfigur wayang motif teratai. Di atas pakem tradisional yang kaku, ia berhasil menyuntikkan napas kontemporer yang segar, hal ini semakin membuktikan bahwa warisan leluhur akan tetap relevan selama mampu beradaptasi dengan zaman.(Source: kosapoin.com/gebrakan-komunitas-sarang-seni-hidupkan-taman-budaya-kulon-progo-lewat-eksplorasi-visual-yang-estetik)
Keindahan pameran ini juga terletak pada keberanian para seniman melompati batas medium konvensional. Seperti yang dicatat oleh budayawan Teguh Paino, eksplorasi material non-konvensional menjadi kejutan yang manis. Keranjang buah bekas, limbah kertas semen, hingga rajutan benang di tangan Adi Maryanto dan Winarni berubah wujud menjadi artefak seni yang berharga. Mereka membuktikan bahwa keindahan bisa lahir dari apa saja yang kerap dilupakan manusia. Transformasi benda-benda yang kerap dilupakan manusia ini berhasil mengangkat nilai estetika dari objek yang semula dianggap tidak bernilai.(Source: kosapoin.com/gebrakan-komunitas-sarang-seni-hidupkan-taman-budaya-kulon-progo-lewat-eksplorasi-visual-yang-estetik)
“Amba Rasa” pada akhirnya adalah sebuah perayaan. Seperti yang diungkapkan Kepala UPT Taman Budaya Kulon Progo, Murdiono, ruang publik ini telah hidup dan merespons denyut nadi kreativitas lokal dengan sangat baik. Pameran ini adalah pemantik api, sebuah undangan bagi perupa-perupa muda Kulon Progo untuk terus konsisten berkarya, berani bersuara, dan menuliskan rasa mereka di atas panggung dunia, sebuah langkah awal yang diharapkan mampu terus menginspirasi penguatan ekosistem seni rupa, sebagai bukti nyata konsistensi dalam memperkokoh ekosistem seni rupa yang telah lama bertumbuh di daerah ini. *)(Source: kosapoin.com/gebrakan-komunitas-sarang-seni-hidupkan-taman-budaya-kulon-progo-lewat-eksplorasi-visual-yang-estetik)









