Tahun Baru Islam : Ganti Kalender atau Upgrade Karakter?

Tahun Baru Islam Ganti Kalender atau Upgrade Karakter

Setiap kali Tahun Baru Islam tiba, suasana kita sering mirip ponsel yang mendapat notifikasi pembaruan sistem. Semua orang ramai membicarakan “versi terbaru”, tetapi tidak sedikit yang akhirnya menekan tombol “ingatkan nanti”. Begitulah kadang kita memperlakukan pergantian tahun Hijriah. Spanduk berganti, poster bertebaran, pawai dan seremoni digelar, tetapi diri yang lama – yang menjadi pengikut setia malas malasan, terlena kesenangan dunia, masih nyaman bercokol di dalam dada dan tingkah laku kita. Padahal Allah SWT telah mengingatkan,

 إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini seolah menegaskan bahwa pergantian waktu hanyalah penunjuk arah; yang menentukan perjalanan adalah langkah kaki kita sendiri.

Momentum hijrah Nabi Muhammad SAW yang menjadi dasar penanggalan Hijriah sesungguhnya bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Ia adalah revolusi kesadaran, transformasi mental, spiritual, dan sosial. Karena itu Rasulullah SAW bersabda, وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْه

“Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”

Hadits ini merupakan bagian dari hadits yang lebih panjang, di antaranya berbunyi,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini sangat relevan dengan momentum Tahun Baru Hijriah karena menegaskan bahwa hakikat hijrah bukan hanya berpindah tempat, melainkan berpindah dari kebiasaan buruk menuju ketaatan kepada Allah SWT.

 Jika setiap Muharram kita hanya sibuk menghitung umur kalender tanpa menghitung kualitas amal, maka kita sedang merayakan angka, bukan makna. Ibarat seseorang yang bangga membeli buku baru setiap tahun, tetapi halaman pertama pun belum pernah dibaca.

Dalam tradisi hikmah para ulama, terdapat nasihat terkenal dari Imam Hasan Al-Bashri, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu ikut pergi”. Kalimat ini mengandung sindiran yang halus sekaligus menohok. Tahun baru bukanlah pertambahan waktu yang kita miliki, melainkan berkurangnya jatah hidup yang tersisa. Banyak orang berdoa panjang umur saat tahun baru, tetapi lupa berdoa agar panjang manfaatnya. Padahal umur tanpa kebermanfaatan hanyalah angka statistik yang berjalan. Implementasi doa’ yang seharusnya adalah ekspresi kerinduan kepada Allah, maka doa itu urusan kemesraan bukan materialistik. Kalau istilah dari Mbah Nun ( Muhammad Ainun Nadjib ), “doa’ itu menyapa bukan meminta”. Kita berdoa agar supaya panjang umur dan bermanfaat tetapi kita masih setengah setengah dalam berbuat kebaikan dan kebermanfaatan, malah cenderung pilih pilih orang dalam tindakannya. Disinilah diskoneksi antara doa dan perbuatan kita, sehingga doa’ hanya jadi pelipur lara semata. Pun demikian dengan momentum Muharram yang tak lepas juga dari doa’ akhir dan awal tahun.

Karena itu, Muharram semestinya menjadi ruang evaluasi, bukan sekadar ruang perayaan. Kita perlu bertanya: apakah selama setahun terakhir hati kita semakin lapang, ibadah semakin khusyuk, ilmu semakin bertambah, dan manfaat bagi sesama semakin luas? Jika jawabannya “belum”, maka tahun baru adalah kesempatan memperbaiki arah. Sebab dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Dengan demikian, ukuran keberhasilan pergantian tahun bukanlah seberapa meriah acara yang diselenggarakan, melainkan seberapa jauh kita bertumbuh menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah dan lebih berguna bagi kehidupan.

Akhirnya, Tahun Baru Islam selalu menghadirkan pertanyaan yang sama; apakah kita hanya sedang mengganti kalender di dinding, atau sedang memperbarui karakter dalam diri? Sebab kalender baru dapat dibeli di toko, tetapi jiwa yang baru hanya lahir dari kesungguhan bertobat, keberanian berhijrah, dan kerendahan hati untuk terus belajar. Maka Muharram bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan undangan Ilahi untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin. Jika tidak ada perubahan apa-apa selain angka tahunnya, jangan-jangan yang bertambah hanya usia, sementara kualitas diri masih jalan di tempat. Mari kita belajar mengubah momentum menjadi ultimatum bagi diri yang belum sungguh sungguh terbangun.

Ihsan Farhanuddin

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *