Mukadimah Edisi 113

mokadimah 113

JEUJEUR QOLBIYAH

Majelis Ilmu Muhammad Ainun Nadjib Edisi ke-113 ini menjadi momentum Milad yang ke-10, sekaligus upaya kami untuk meleburkan diri dalam Dawamusy Syukri 73 tahun Mbah Nun. Melalui tema “Jeujeur Qolbiyah” kami ingin terus saling mencolek, menepuk, merangkuli, dan memapahkan langkah batin tetap kepada pemilik-Nya.

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya,”. (Q.S.Al-Fajr: 28)

Dekonstruksi Etimologis: Dari Alat Lahiriah Menuju Hakikat Batiniah

Jeujeur Qolbiyah merupakan perkawinan dua terminologi yaitu Sunda dan Arab. Keduanya saling melengkapi, mengasyiki, dan mewasilahi menuju kedalaman samudera-Nya. Jeujeur (Bahasa Sunda): Secara harfiah berarti joran atau alat yang digunakan untuk memancing ikan. Karakteristik utama dari sebuah jeujeur yang semestinya adalah ia harus lurus, lentur namun kuat, tidak mudah patah, dan memiliki poros yang stabil. Dalam bahasa simbolik masyarakat Sunda, jeujeur sering digunakan sebagai metafora untuk pedoman hidup, tiang pancang, atau kompas moral yang menjaga manusia agar tetap lurus (ajeg) dalam melangkah. Qolbiyah (Bahasa Arab): Berakar dari kata “Qalb” yang berarti hati atau jantung. Dalam epistemologi Islam dan tasawuf, qalb bukan sekadar segumpal daging materi, melainkan sebuah Lathifah (pemberian halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah) yang menjadi pusat persepsi, kesadaran, dan keimanan manusia. Penambahan akhiran “ya” nisbah membuatnya bermakna “segala sesuatu yang bersifat atau berkaitan dengan hati”.

Makna Gabungan: “Jeujeur Qolbiyah” sebagai Joran Jiwa

Ketika kedua frasa ini disatukan, Jeujeur Qolbiyah bertransformasi menjadi sebuah konsep spiritual yang mendalam: “Joran Hati” atau “Pedoman Pancang Kalbu”. Secara literer dan filosofis, Jeujeur Qolbiyah adalah sebuah metode atau kesadaran batin di mana seorang manusia menjadikan hatinya sebagai “poros yang lurus dan ajeg” untuk memancing atau menarik keridaan Allah SWT. Jika joran pancing lahiriah digunakan untuk mendapatkan ikan di kedalaman air, maka Jeujeur Qolbiyah adalah instrumen ruhani yang digunakan oleh seorang hamba untuk menyelami kedalaman samudra makrifat, menarik ketenangan (tumaninah), dan menangkap pancaran cahaya ilahi (nur ilahi).

Sisi Budaya: “Nguseup” sebagai Refleksi Kehidupan Orang Sunda

Masyarakat Sunda tradisional memiliki kedekatan yang erat dengan alam, salah satunya melalui aktivitas nguseup (memancing). Bagi masyarakat agraris dan pedesaan, memancing bukan sekadar hobi mencari lauk-pauk, melainkan sebuah laku tirakat yang membutuhkan kesabaran (Sabar) saat menunggu umpan dimakan; keheningan (Khusyuk) agar tidak mengejutkan ikan; dan kepekaan (Eling) untuk merasakan getaran halus pada ujung joran. Budaya ini kemudian diislamkan secara subtil oleh para ulama dan sesepuh Sunda terdahulu. Mereka mengambil filosofi memancing ini sebagai analogi berzikir dan berkhalwat. Menghadapkan jeujeur ke air yang tenang adalah simbol dari menghadapkan hati (qalb) yang lurus hanya kepada Allah, menjauhi riuh rendahnya keduniawian demi mendapatkan esensi kehidupan yang sejati.

Sisi Tasawuf: Meluruskan Poros Hati Menuju Makrifat

Dalam perspektif tasawuf (sufisme), Jeujeur Qolbiyah adalah representasi dari konsep Istiqomah, Hanif (condong kepada kebenaran),dan Khudur (kehadiran hati bersama Allah). Poros yang Lurus (Istiqomah): sebuah joran harus lurus agar senar pancing bisa terulur sempurna.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…” (QS. Ar-Rum [30]: 30)

Dalam tasawuf, ini adalah simbol dari hati yang bersih dari penyakit batin seperti syirik khofi (syirik tersembunyi), riya, takabur, dan hasad. Hati harus di-jeujeur-kan—diluruskan niatnya—hanya untuk Lillahi Ta’ala.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (Istiqamah)…” (QS. Fussilat [41]: 30).

Kelenturan yang Kuat (Tawakal dan Ridha): Sifat joran yang lentur namun tidak patah saat ditarik ikan besar melambangkan sikap tawakal dan ridha. Ketika badai ujian hidup datang menerpa, hati seorang sufi yang mengamalkan Jeujeur Qolbiyah tidak akan patah atau putus asa. Ia akan melar mengikuti alur takdir Allah (lentur), namun tetap kokoh menggenggam syariat dan tauhid (tidak patah).

Getaran Ujung Joran (Muraqabah): Seorang pemancing yang andal tahu kapan umpan dimakan hanya dari getaran halus di ujung jeujeur. Dalam tasawuf, ini setara dengan makam Muraqabah—kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita. Hati yang sensitif terhadap “getaran spiritual” akan langsung terjaga (eling) ketika ada godaan dosa atau bisikan nafsu yang mendekat.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah (wajilat) hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka…” (QS. Al-Anfal [8]: 2).

ig : @lingkardaulatmalaya Fb : Maiyah Lingkar Daulat Malaya #lingkardaulatmalaya  #manggihbungahkupanggih #ldmmei2026  #jeujeurqolbiyah  #edisi113

Lingkar Daulat Malaya

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *