Seni Gerilya Taring Padi di Venesia: Merebut Narasi, Mengguncang Fasisme Baru

Seni Gerilya Taring Padi di Venesia Merebut Narasi Mengguncang Fasisme Baru

YOGYAKARTA | Di sebuah sudut ruang di Yogyakarta, ingatan kolektif tentang perlawanan, sensor, dan solidaritas global kembali berkelindan. Kolektif seni kerakyatan Taring Padi menggebrak ulang panggung internasional. Kali ini, mereka menancapkan taji di Venesia, Italia, lewat pameran independen bertajuk People’s Liberation: Collective Banners 2023-2026 yang berlangsung dari 3 Mei hingga 31 Juli 2026.

Pameran ini bukan sekadar unjuk karya. Ini adalah ruang konseptual bagi Taring Padi untuk merebut kembali (reclaim) narasi seni mereka setelah badai kontroversi yang menjatuhkan banner raksasa People’s Justice di ajang documenta fifteen (2022) di Jerman akibat tuduhan anti-Semitisme.

Menjawab Masa Lalu Lewat Aliansi Progresif

Ditemui di sekretariat Taring Padi di Yogyakarta pada Selasa (26/5/2026), perwakilan kolektif Fitri Dwi Kurniasih membuka suara dengan jernih terkait peristiwa masa lalu tersebut.

“Pertama, kami ingin menggarisbawahi bahwa kami meminta maaf kepada mereka yang tersakiti oleh ikonografi dalam karya-karya kami,” ujar Fitri.

Sekretariat Taring Padi Yogyakarta dan Dodi Irwandi militan kolektif Taring Padi

Namun bagi Taring Padi, meminta maaf bukan berarti tunduk dan berhenti. Pameran di Venesia justru menjadi konsekuensi logis dari keberlanjutan kerja politik mereka. Trauma sensor di Jerman melahirkan pendekatan kehati-hatian baru yang transformatif: metode belajar bersama dalam aliansi progresif.

Enam banner raksasa yang kini dipajang di Venesia merupakan hasil kerja keroyokan dengan jaringan kolektif internasional, mulai dari komunitas Kendeng (Jawa Tengah), Palestina, Italia, hingga São Paulo (Brasil).

“Dari aliansi ini, kami saling memahami sejarah masing-masing dan manifestasi visualnya yang selalu tergantung konteks kultural dan teritorial,” jelas Fitri. Melalui proses ini pula, Taring Padi membaca adanya pola imperialisme visual, di mana interpretasi terhadap sebuah ikonografi sering kali didominasi oleh kekuatan politik global tertentu.

Okupasi Ruang Otonom di Luar Sirkuit Resmi

Taring Padi tidak mendarat di Venesia untuk melantai di karpet merah korporasi seni. Mereka memilih jalur gerilya.

Pameran mereka bertempat di Sale Docks, sebuah bekas gudang garam yang sejak 2007 dialihfungsikan menjadi ruang aktivis otonom. Melalui pesan singkat, kurator Alex Supartono menegaskan bahwa gerakan ini berdiri di luar lingkaran resmi Venice Biennale 2026.

italy 1
Pembukaan Pameran Taring padi di Sale Dock, Venesia, Italia

“Pameran ini sama sekali bukan bagian dari paviliun resmi negara manapun. Kami menolak masuk dalam daftar collateral event resmi Venice Biennale,” ujar Alex.

Aktivisme ini adalah motor penggerak kampanye Aliansi Seni Anti Genosida (Art Not Genocide Alliance / ANGA) yang menolak kehadiran paviliun resmi Israel di Venice Biennale 2026, tegasnya.

Aksi nyata di lapangan dibuktikan dengan produksi 7 poster cukil kayu bertema perlawanan. Poster-poster ini menjadi “senjata visual” utama yang memicu demonstrasi dan aksi mogok kerja massal saat pembukaan Biennale pada awal Mei lalu.

Tak berhenti di situ, Taring Padi juga menggoreskan mural skala besar di dinding eksterior Laboratorio Occupato Morion, markas gerakan sosial independen di Venesia. Bagi Fitri, atmosfer Morion membawa dejavu kuat pada bekas kampus ISI Gampingan Yogyakarta tempat Taring Padi menempa ideologi mereka pada tahun 1998.

Mural tersebut diresmikan pada 25 April, sebuah tanggal sakral yang menandai hari perayaan kemenangan atas fasisme tahun 1945 di Italia.

Menariknya, meski bergerak di jalur bawah tanah, tagar seniman paviliun partikelir terkait Taring Padi justru viral di media sosial. Algoritma global membawa gerakan independen ini bersanding ketat dengan pemberitaan Paviliun Resmi Indonesia.

Menghantam Fasisme Baru dengan Ekonomi Lumbung

Secara visual, karya-karya terbaru Taring Padi merupakan respons langsung terhadap lanskap geopolitik hari ini. Mereka menyoroti kelindan gelap antara: Menguatnya neofasisme dan techno-fasis. Kolusi militerisme global. Kapitalisme ekstraktif yang merusak bumi. Toxic philanthropy (filantropi beracun) yang mencuci uang industri merusak lewat kedok seni.

Situasi di Gaza, Palestina, yang terus membara sejak Oktober 2023 menjadi titik episentrum yang membuat Taring Padi semakin intensif menyuarakan solidaritas kemanusiaan.

lukisan pink

Seniman Taring Padi, Hestu A. Nugroho (Setu Legi), lewat telpon menyatakan bahwa ekosistem seni arus utama (mainstream) saat ini sudah terlalu terkontaminasi oleh logika pasar dan kepentingan institusional yang sengaja mengabaikan gerakan akar rumput.

“Polemik di Venesia ini adalah perjuangan anti-imperialisme dan anti-kolonial melawan struktur modal, militerisme, serta kekerasan institusional. Sensor adalah konsekuensi logis dari sikap seni politik kami, dan itu harus terus dilawan dengan kerja nyata,” tegas Setu Legi.

Demi menjaga independensi radikal ini, Taring Padi menerapkan prinsip ekonomi lumbung. Seluruh pendanaan proyek Venesia dihimpun secara mandiri melalui penjualan karya, negosiasi, dan urunan proyek kolektif. Tidak ada satu rupiah pun dana yang dipasok oleh institusi elit maupun negara.

Diplomasi Akar Rumput: Menuju South-to-South

Ketika malam mulai larut di Yogyakarta, Fitri Dwi Kurniasih menutup perbincangan dengan sebuah visi jangka panjang yang kokoh tentang arah diplomasi akar rumput yang mereka usung.

“Harapan kami adalah terbangunnya aliansi progresif ini di semua tingkat—lokal, nasional, regional, hingga internasional dalam bentuk solidaritas South-to-South (Selatan-ke-Selatan),” pungkas Fitri.

Bagi Taring Padi, Venesia hanyalah satu dari sekian banyak medan laga. Mereka akan terus melakukan apa yang telah mereka pelihara selama hampir tiga dekade: menjadikan seni sebagai alat politik rakyat.*)

Jajang R. kawentar

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *