Ada sepenggal ruang di tatar Sukapura yang selama sepuluh tahun ini konsisten merawat kesunyian dari hiruk-pikuk keserakahan, lalu menggantinya dengan kemesraan. Ruang itu adalah Simpul Maiyah Lingkar Daulat Malaya. Sejak bertumbuh pada pertengahan 2016, wadah silaturahim ini hadir bukan sekadar mengemas kesenian, melainkan menjadi ruang pencerahan bagi pendidikan politik, kebudayaan, hingga kemanusiaan yang multikultural. Sebuah gerakan cinta yang menjembatani kebaikan antarmanusia, agar nilai kasih yang hakiki tidak diabaikan, apalagi ditinggalkan.
Malam minggu di minggu ini, tepatnya pada Sabtu, 30 Mei 2026, Lingkar Daulat Malaya kembali memanggil siapa saja untuk datang dan melingkar di Gedung Dakwah Islamiyah Kota Tasikmalaya. Pertemuan rutin bulanan yang telah menginjak edisi ke-113 ini terasa sangat istimewa karena bertepatan dengan momentum tasyakur satu dekade perjalanan simpul, sekaligus milad ke-73 tahun guru kita bersama, Muhammad Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Mbah Nun.

Dimulai pukul 20.00 WIB hingga selesai, majelis kali ini mengalir dalam harmoni tema “Jeujeur Qolbiyah”, sebuah ajakan untuk kembali menata pilar-pilar di dalam hati. Lingkar Daulat Malaya, sebagai bagian dari jejaring komunitas Maiyah Nusantara—bersanding bersama Padhang Mbulan di Jombang, Kenduri Cinta di Jakarta, BangBang Wetan di Surabaya, Gambang Syafaat di Semarang, Mocopat Syafaat di Yogyakarta, Maiyah Re-legi di Malang, Paparandang Ate di Makassar, Jamparing Asih di Bandung, hingga Maiyah Cirrebes di Cirebon—Lingkar Daulat Malaya konsisten menawarkan iklim sinau bareng yang sehat.
Di forum ini, berlaku konsep satu panggung seribu podium. Panggung bukanlah pementasan yang menciptakan sekat antara penonton dan yang ditonton, bukan pula wadah pamer kekuatan perorangan atau golongan. Semua orang berdiri di atas kedaulatan yang sama untuk mengemukakan pendapat tanpa terbebani oleh apa pun dan siapa pun, dengan tetap dijaga oleh pagar etika dan estetika. Komunikasi yang jernih, pikiran objektif, dan hati nurani yang diliputi kasih menjadi fondasi utamanya.
Pertemuan ini juga menjadi ruang untuk merefleksikan kembali teori Nasionalisme Maiyah. Di dalam Maiyah, kita menyadari ada banyak wajah, warna, kecenderungan, dan pilihan yang hidup menampilkan dirinya masing-masing sebagai sebuah kebhinekaan. Namun, perbedaan itu tidak untuk memicu perselisihan, karena diikat oleh prinsip ke-ika-an—sebuah komitmen kolektif untuk saling menyelamatkan dan menyejahterakan, persis seperti berita gembira berdirinya Republik Indonesia dulu.
Heterogenitas di Maiyah cukup dijaga oleh satu prinsip: kesepakatan untuk saling menyetorkan kebaikan, kemaslahatan, dan memperuntukkan diri bagi kebersamaan. Itulah Maiyah. Mari luangkan waktu, bawa hati yang lapang, kita saling menyetorkan kebaikan dalam lingkaran kemesraan ini. Bagi sedulur atau kawan-kawan media yang ingin bertegur sapa atau membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini, sila hubungi kami melalui Ihsan Farhanuddin via WA : 089514990938. []




