Sebuah naskah monolog dari adaptasi naskah Amangkurat-amangkurat karya Goenawan Mohamad
Amangkurat
Panggung
Panggung sehamparan halaman berserak dedaunan yang tanggal semalam. Berlatar kesuraman pagi. Hanya ada sebah bangku kampung yang panjang, kayu tanpa serutan, dimana diatasnya tersimpan sebutir kelapa muda, yang sudah dikupas bagian atasnya siap untuk diteguk. Di kejauhan sesekali terdengar gonggongan anjing kampung dalam irama malas, dan selebihnya suasana alam hadir dalam sepi.
Amangkurat hadir terseok, menahan beban pisik dan batin yang terkoyak, rasa marah, rasa malu, rasa sesal bersembunyi dalam tubuh yang rapuh, di tanah penyingkiran.
[lampu fade in dalam suasana pagi yang redup]
Titah seorang raja di tanah Jawa, terkadang melebihi sabda Sang Hyang Widhi sendiri. Setidaknya itulah yang terjadi, ketika ayahku, Sultan Agung Hanyokrokusumo yang perkasa itu memilih aku sebagai penggantinya. Tak ada satu suarapun yang terdengar dari ratusan mulut penghuni keraton yang sebelumnya begitu hingar binger melontarkan berbagai kemungkinan pengganti sinuwun bila saatnya tiba.
Kemudian baginda perlaya, pergi dengan meninggalkan aura yang masih tersisa dari sitihinggil sampai hamparan pasir di pantai selatan. Dan perlahan aura itu berubah, elama empat bulan setelahnya hujan abu turun, Merapi memuntahkan laharnya.
Aku membaca sasmita, selamanya akan ada yang membangkang, selamanya akan ada yang tak bersedia menyatakan sujud kepada raja baru. Ada yang menjilat, namun ada juga yang menyingkir dan diam-diam menyiapkan pemberontakan.
Aku tidak suka, saat raja dinobatkan dan pangeran-pangeran berebut. Selalu ada pemberontakan, selalu ada peperangan, selalu ada …, sejak dulu. Sebelum Mataram an nanti setelah Mataram. Aku tidak suka kerajaan didirikan dengan menyobek mulut banyak orang.
[mulai tersengal, kemudian meneguk air kelapa]
Aku tahu adikku, pangeran Alit bukanlah orang yang suka iri hti dan tak ingin membangkang dengan sat Mataram yang menyebabkan orang-orang ingin mendapatkan sesuatu. Para bangsawan berkomplot untuk menegakkan sultan mereka sendiri. Mereka mempersiapkan barisan mereka untuk menentangku. Dan nasib, nasib telah membujuk Alit ada di dalamnya. Sebuah pemberontakkan yang mudah ditebak.
Dari arah alun-alun lor Alit dan pasukannya mengamuk, menyerangku, dan dari sitihinggil aku melihatnya. Aku serukan dengan lantang, aku larang pasukan Mataram untuk membunuhnya.
“ jangan kalian sentuh adikku dengan senjata, tebas semua pasukan yang mengiringinya, tapi jangan sentuh Alit sedikitpun juga “
Namun Alit tak tahu diri, pasukannya kecil, kacau, ketakutan, sehingga dengan mudah mereka dihabisi. Tapi ia terus saja maju, turun dari kudanya, membunuh lima orang pengawalku, sebelum akhimya ia mati tertusuk kerisnya sendiri. Tertusuk oleh kerisnya sendiri. Aku menyayangi Alit lebih dari siapapun di Mataram ini, namun aku tak dapat membiarkan siapapun mengusik kekuasaan ini. Aku bersedih, aku berkabung untuknya.
[kembali tersengal dan meneguk air kelapa]
Dan kini, disini aku berada. Di dusun pengungsian pesisir utara tanah Jawa. Pasukan Trunojoyo dan Karaeng Galesong telah mendesak dan menduduki ibukota Plered. Hampir selama tujuh tahun orang Madura itu memerangiku, dan kini ia menguasai Plered. Aku ingin pemberontak itu ditangkap, dipenggal kepalanya, lantas di cocok dengan tombak untuk di pajang di depan gerbang istana.
Tak seharusnya aku lari dari istana meninggalkan Plered. Namun sakit ini seperti penjara, membuatku terbaring gering. Dan telik sandiku menyampaikan, anakku, yang akan menggantikan aku walau aku tak suka telah berkhianat dan bersekongkol dengan pemberontak Sampang itu, sehingga dengan mudah mereka dapat menerabas masuk dan menjarah wilayah kerajaan Mataram.
Rupanya ada dendam yang disimpannya ketika mengetahui aku memerintahkan untuk menghabisi kakeknya, pangeran Pekik dari Surabaia, karena tidak becus menjaga Roro Hoyi, yang hendak kujadikan selir. Disamping itu kurasa ada bara dendam yang lain yang dipendamnya, saat kuperintahkan dia untuk membunuh Roro Hoyi dengan tangannya sendiri, yang telah direngutnya dariku dan disuntingnya menjadi istri.
Sementara dilain waktu, para ulama mulai resah. Sepuluh ulama mengatakan; kota ini dan seluruh Mataram penuh dosa, sepuluh ulama mengatakan dan seribu ulama lain menirukannya di tiap Jumat di masjid-masjid. Tentu saja aku marah, murka, wibawaku telah mereka rongrong, rakyatku telah mereka hasut, dengan mengatakan tanganku, tahtaku, juga hasratku berselimut dosa. Mereka menganggap diri mereka paling suci. Mereka dapat mengutuk dan menghakimi aku dengan hukum langit, tapi aku dapat menghakimi mereka dengan kekuasaan lain, Mataram. Siapa menganggap Mataram berdosa, berarti telah mengutukku, berarti telah menghilangkan tata yang sudah terbentuk, dan akulah yang menentukan tata itu .
Kemudian kutitahkan untuk mengumpulkan mereka semua di alun-alun. Tak kurang dari lima ribu orang banyaknya. Kemudian lewat satu isyarat jentikan jari, mereka ditumpas musnah. Dimana selama enam bulan setelahnya bau anyir tak hilang-hilang dan meneror kawasan itu. Biar mereka rasakan sakit hati yang mereka tanam di lubuk hatiku selama ini.
[ menuguk air kelapa ]
Masa laluku memang menakutkan. Penuh gugat, penuh darah dan khianat, seperti yang sering diceritakan oleh seorang juru taman di setiap kesempatan. Tapi semua itu bukanlah salahku, Sultan Agung yang bersalah, ia memilih aku untuk menggantikannya. la gagal, ia berkuasa tapi ia gagal seperti aku. Ah, sinar apa itu, sinar terang apa yang begitu menyilaukan seperti itu. Padamkan, padamkanlah sinar terang itu, biarkan aku sendirian menjemput ajalku … [lampu fade out]
Selesai
monolog amangkurat 2026


