REPUBLIK MEDSOS
Di Republik Medsos dunia terasa sempit
Penduduknya saling kenal dan menyapa lewat Like dan Komen
Demokrasi terbukti sempurna
eksekutif, legislatif dan yudikatif menjadi hak semua warga
Semua boleh bicara mengungkapkan kehendak dan ambisi
Peristiwa viral merupakan alat bukti sah yang tidak terbantahkan
Keadilan di dunia medsos ditentukan nitezen, adil menurut nitizen adil menurut hukum..
Hakim tertinggi adalah nitizen
Republik Medsos tak mengenal waktu,
Bergulir dua puluh empat jam mengurus dan diurus nitizennya..
Hidup seperti guyub padahal sendirian.
Republik Medsos, tak punya raja
tak punya presiden, tak punya tentara apalagi polisi..
Yang berkelahi berhenti sendiri karena lelah
Yang menghujat berhenti sendiri karena puas
Yang berkotbah berhenti sendiri karena gak ada yang dengar.
Republik Medsos adalah tanya tak berjawab dan jawab tak bersambung..
Adalah kebebasan tanpa batas
Seperti angin lalu, berlalu bagai angin
Dibaca sambil lalu, di mobil, di stasiun, bandara mall, kantor, kamar dan ruang tunggu praktik dokter
Gemericik turun hujan,
lalu semakin lebat.
Kilat dan petir, membawa kabar banjir dan kabar medsos
Lalu lalang gambar dan komen yang belum tentu benar
Di Republik Medsos hati nurani begitu lentur, saling menerima dan memberi
Bagai ikan Salmon dan hulu sungai, yang dipadukan alam untuk kepentingan bersama..
Ya, di Republik Medsos
Warga net bebas keluar masuk
: tak perlu punya KTP
2020

PUISI Jose Rizal Manua
MERDEKA SATU SENTI
Merdeka satu senti adalah amin yang tertunda.
Lalu sejarah pun mengetuk pintu peradaban.
Setelah ribuan tahun tersesat dalam kegelapan,
aroma anyir darah pahlawan,
bukan cuma berisi slogan basi:
“maju terus pantang mundur, rawe-rawe rantas malang-malang putung.”
Setelah menggulung kemerdekaan
di kelosan benang sejarah,
bendera dikibarkan. Orang-orang bersorak.
Pancasila, UUD’45, Bhineka Tunggal Ika, dan Demokrasi
dipadupadan di kamar fiting politik yang megah penuh intrik.
Partai politik menuai panen kemerdekaan.
Langit menjadi ungu tua
ditumpahi tinta pemilu.
Bumi menjadi merah
ditumpahi darah rakyat.
“Kemerdekaan itu seperti menipu,” kata yang takkebagian kue kemerdekaan.
Buktinya? Bla, bla, bla ….
Merdeka satu senti
Layaknya fatamorgana, mimosa, dan busa deterjen di sela-sela jari jelata
Lalu kita ukur kemerdekaan yang dibacakan dalam pidato kenegaraan
dan dihadiri orang-orang yang merasa pantas.
Kita ukur dengan penggaris statistik, nilai dolar, income per kapita,
jumlah kendaraan, satuan pendidikan, dan besarnya pasak daripada tiang.
Para kreditor dunia bertepuk tangan dengan mimik imitasi
Mereka mengucurkan bantuan sambil mengobok-obok isi perut kita
Merdeka satu senti adalah luka para pendiri negara
adalah tangis para janda pahlawan di atas pusara
adalah duka para duda pahlawan di atas pusara
adalah lara para anak pahlawan tanpa nama, tanpa pusara
adalah nestapa para orang tua pahlawan tanpa tanda jasa
adalah pohon randu tua di ujung peradaban
Adalah kesedihan anak-anak pedalaman
yang memancing belut di lubang tanah tandus
Merdeka satu senti
adalah amin yang tertunda.
2018

SAJAK-SAJAK Imas Utami Lokayanti
ZONA NYAMAN
Dalam ruang dan waktu yang hening
Berbaring temaram melayang_mencapai titik nol
Buah tanjung bergesekan di tiup angin malam yang dingin_ menjaga kenyaman dan kehangatan pikiran yang menggapai zona nyaman dalam dunia kecil perenungan..
Kesendirian adalah hakekat kehidupan
Kita datang sendiri, pulang pun sendiri
Perjalanan hidup hanya sekedar numpang minum_lakon yang harus ditapaki…
Dunia besar kita tidak akan berhenti_kita hanyalah partikel kehidupan yang berkohesif dengan sesama mencari ruang zona nyaman yang kita kehendaki…
Terminal batin yang dirindukan setiap insan dalam zona nyamannya masing masing
Zona nyaman bukanlah terminal terakhir pemberhentian kereta api..
Bukan pula kebuntuan jalan kehidupan
Bukan penghambat status quo kemajuan_zona nyaman kita adalah kehidupan itu sendiri..
Yang akan maju memasuki situasi berikutnya yang dihadapi
Matahari berpasang matahati
Rembulan meracik perenungan
Zona nyaman sulit didefinisikan dalam bahasa velbal_ namun dirasakan semua orang
Di tegukan air putih terakhir
Suapan terakhir makan malam
Atau awalan yang tak berujung
Ya, zona nyaman adalah pilihan
kita tidaklah terasing
Dalam luka dan suka..
Sendirian atau bersama..
Memaknai masa muda di hari tua
Adalah anugrah yang mengalir abadi
Untuk menemukan zona nyaman
Bersama-Nya
2023

SAJAK-SAJAK Pardesela
R U M A H
Sebuah rumah pada mulanya adalah sebuah teka teki
Disana ada ruang-ruang kosong yang menyembunyikan jalan keteduhan
Yang masih harus disibakkan maknanya Dengan rasa cinta yang penuh dan nalar yang kukuh
Sebuah rumah mengapung dalam kabut mimpi-mimpi kita
Menawarkan sejuta kesetiaan tanpa pamrih, karena sebuah rumah adalah ibu yang sabar menanti tanpa ngesah
dan curiga
Sebuah rumah bukan sebuah benteng gelap yang angkuh
Tempat serdadu yang kalah dan luka-luka terbaring
Karena pada sebuah rumah ada terbuka jendela dan kisi-kisi tempat udara mengembara dan mentari menari
Sebuah rumah adalah nyanyian sederhana bagi istirah tubuh yang lelah
Sambil memandang jatuhnya hujan
dari balik kaca
Dan merenung tentang makna hidup
Yang diarungi
Yesmil Anwar, 1985
This poem, once published in the literary magazine ‘BASIS’ (1985).









