MASIH DALAM MIMPI
Masih ada angin,
Datang bercerita tentang diri mu.
Ada mata,
berkelip seperti kunang.
Terbang dalam sunyi dari balik daun dan ranting.
Ada nyanyian sepi.
Mengabarkan rindu dari bilik-bilik pondok.
Dan’ lelaki terpana memandangi bintang.
Seperti gadis yang ditemui dalam mimpi.
“Masihkah ada cerita tentang mata mu.
Tentang diri mu.
Sebab di jalan simpang, saat perjalanan hampir usai.
Kita pasti berpisah.” Bisik lalaki itu dalam hati.
Tapi angin berhembus kencang.
Terrbangkan bintang sembunyi dalam malam kelam.
Lelaki itu hanya tersenyum.
Toh gadis itu hanya dijumpai dalam mimpi.
Pun cintanya sebatas dalam larik bait puisi.
22 April 2026

PUISI Yesmil Anwar
TAK ADA, TUAN …
“Tak ada, tuan…”
Begitu jawab mu saat ku tanya.
Namun mata mu yang datang dalam mimpi bagai kerlip bintang, memberikan jawaban berbeda.
Ada senyum dibelai awan,
yang mengalir direnda angin.
Menyimpan cerita panjang.
Ada kata yang bermakna dalam sunyi.
Aku jumputi untuk coba menerka.
Apa sebetulnya yang tersembunyi dari mimpi.
Kadang benderang.
Kadang kelam,
yang tiada henti meruntuhkan air mata di gisik muara hati.
Tapi jawab mu, “Tak Ada, Tuan…”.
Kediri, 28 April 2026

SAJAK-SAJAK Ayie S. Bukhary
NEGERI BASA BASI
Negeri yang penuh tipu tipu.
Tipu sana tipu sini,
ujung ujungnya cari untung sendiri.
Ini pesan agar orang kecil lebih hati-hati.
Sebab tak bisa dipungkiri,
saban hari hampir pasti.
Orang orang kuat pejabat negeri, semakin hari mencari tumbal demi kepentingan pribadi.
Waspada, kita harus waspada.
Ketika keadilan sudah tak lagi merata.
Hukum tak mempan bagi penguasa.
Suap menyuap merajalela
dan korupsi dianggap budaya.
Adab bungkam mulut sudah dianggap biasa.
Saat itulah kehidupan menjadi tak sewajarnya.
Waspada ! Waspada !
Sebab negeri sedang penuh tanda tanya.
Kediri, 20 April 2026

PUISI: Yesmil Anwar
AH NAMA MU
Aku pinjam nama mu
Untuk cerita dalam sepi sebab mata mu.
Ada rindu yang menggantung pada angin, dan waktu berlalu dibawa risau.
Tertambat pada kenangan pilu.
Namun, kini tersisa keluh yang rapuh, bersujud pada sunyi.
Pada buku yang lalu, ada mimpi berbisik tentang bulan di bawah kerudung.
Mata bening mu terselip seperti bintang.
Berkelip di antara cahaya dan embun.
Menetes bagai gerimis.
Sayang cerita itu sebatas mimpi, yang telah punah dibawa angin entah kemana.
Tapi kau seperti udara yang terus mengalir dalam deru nafas ku.
Menembus hati, dan menggenang di kedalamannya.
Tiada henti membisikkan nama mu.
Kediri, 7 Maret 2026



