Sore itu tepatnya tanggal 1 Mei 2026, hari Jumat, selepas Jumatan di Masjid Asy-Syu’ara yang ada di kampus, saya memutuskan untuk meluangkan waktu sejenak. Rasa kangen pada masa kuliah membawa kaki saya melangkah ke tempat legendaris yang penuh kenangan. Terus saya duduk di Taman Buaya. Terang dan jelasnya sejarah Taman Buaya itu tidak tahu, tapi mahasiswa sejak masih bernama ASTI, STSI sampai ISBI secara turun temurun menyebutnya begitu. Saya duduk di sana, di antara kursi beton melingkar dinaungi pohon beringin yang bisa dikata sebagai salah satu paru-paru Buah Batu. Sambil melakukan sedikit kilas balik Kampus Biru ISBI Bandung ini, saya bertemu dengan senior saya, Kang Asep Budiman, atau yang akrab dipanggil Kang Asbud.
Di tengah suasana sejuk itu, Kang Asbud mulai berbagi pemikirannya. Beliau berujar bahwa di tengah riuh kota, Beton hadir di ruang publik sebagai suara yang lahir dari dinding-dinding keras. Sebuah monolog yang mengajak kita berhenti sejenak, mendengar, dan merasakan bahwa ruang publik bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang hidup bersama. Dengan memanfaatkan ruang publik sebagai panggung, karya ini mengajak masyarakat untuk kembali merasakan denyut kehidupan kota melalui bahasa teater.
Obrolan kami semakin dalam saat membahas filosofi karya tersebut. Bagi beliau, Beton bukan sekadar monolog, melainkan refleksi tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan ruang yang keras, dingin, sekaligus penuh cerita. Setiap kata yang diucapkan, setiap jeda yang ditawarkan, menjadi jembatan antara seni dan keseharian warga. Dengan menghadirkan monolog Beton di ruang terbuka, kita merayakan seni sebagai bagian dari kehidupan kota. Sebuah undangan terbuka bagi siapa pun untuk menyaksikan, merenung, dan mungkin menemukan kembali makna ruang yang selama ini dianggap biasa.
Kang Asbud kemudian menjelaskan rincian acaranya secara otentik. Sebuah pertunjukan teater monolog berjudul “Beton” karya & sutradara Asep Budiman, Aktor Hendra Mbot akan digelar pada 17 Mei 2026, pukul 20.00 WIB di Lapang Parkir ISBI Bandung persembahan Indonesiana LPDP Kementrian Kebudayaan. Pertunjukan ini menghadirkan eksplorasi artistik tentang kerasnya kehidupan, dinding-dinding yang membatasi, serta daya tahan manusia menghadapi tekanan zaman. Beliau menambahkan bahwa monolog Beton bukan sekadar cerita, melainkan pengalaman ruang dan suara yang memantulkan energi batin. Penonton diajak menyelami kesunyian di balik keramaian, luka yang tersembunyi, dan harapan yang tetap tumbuh meski terhimpit realitas.

Ada satu kalimat yang sangat ikonik dari Kang Asbud: “Monolog Beton adalah ajakan untuk tidak menyerah. Di balik kerasnya dunia, selalu ada celah kecil tempat harapan tumbuh.” Oleh karena itu, ia menekankan bahwa pertunjukan ini terbuka untuk publik dan diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus perayaan seni yang menggugah. Melihat binar matanya, saya membayangkan suasana malam pementasan nanti, di mana pertunjukan ini akan digelar dan akan bertransformasi menjadi panggung yang tak biasa. Beton yang biasanya dingin dan kaku, malam itu akan menjadi saksi bisu dari sebuah perjalanan batin. Ia menyingkap pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini kita simpan rapat: Apakah kita sedang membangun, atau justru terperangkap dalam beton kehidupan? Apakah kita masih mampu mendengar suara hati di tengah kebisingan dunia?
Harapan Kang Asbud adalah terjadinya perubahan fungsi ruang. Malam itu, Lapang Parkir ISBI Bandung bukan hanya menjadi tempat parkir kendaraan, melainkan ruang parkir pikiran dan perasaan. Sebuah ruang di mana seni hadir untuk mengguncang, menggetarkan, sekaligus menyembuhkan. Tentunya beliau tidak sendirian, beliau menyebutkan bahwa pertunjukan ini didukung oleh Aktor Hendra Mbot, Penata Musik Aiman Surya, Penata Suara Radi Tajul Arifin, Penata Lampu Moch Zam zam Mubarok, Videomaker Maping C. Sukma dan Bojeng Adiryal Haq, Penata Artistik Ade II Syqrifudin.

Sebagai penutup obrolan kami di bawah naungan beringin, Kang Asbud merangkum misi besar ini, bahwa program pendayagunaan ruang publik melalui pertunjukan monolog Beton merupakan inisiatif untuk menghadirkan seni pertunjukan di tengah masyarakat. Dengan menjadikan ruang publik sebagai panggung, kegiatan ini bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap seni, sekaligus menegaskan fungsi ruang publik sebagai wadah ekspresi dan interaksi sosial.
Sebelum kami berpisah, Kang Asbud membisikkan bahwa malam ini akan ada latihan di lokasi pementasan. Maka, ketika hari mulai gelap, diam-diam saya mengintip proses latihan itu dari kejauhan sambil mencoba mengabadikan setiap momen magis yang tercipta melalui lensa kamera gawai saya. Melihat bagaimana energi Hendra Mbot beradu dengan dinginnya beton parkiran (Gedung Buleud yang mangkrak), saya hanya bisa bergumam: kalian akan benar-benar menyesal jika melewatkan pertunjukan ini. Sebab, apa yang mereka siapkan bukan sekadar tontonan biasa, melainkan sebuah hantaman batin yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. []









