Budaya Suku Sasak di Desa Sade, Lombok, sering dianggap unik karena cara mereka memandang hubungan antara manusia, alam, hewan—terutama sapi—dan bahkan kotorannya. Jika dibedah lebih dalam, fenomena ini bukan sekadar tradisi aneh, melainkan sebuah kesatuan sistem ekologis, spiritual, dan praktis. Bagi masyarakat Sasak tradisional, hubungan dengan alam bukanlah eksploitasi, melainkan koeksistensi di mana alam diposisikan sebagai ruang hidup bersama dan bukan sekadar objek. Tanah yang dipijak diyakini memiliki jiwa fungsi yang harus dijaga keseimbangannya, sehingga pembangunan rumah pun menggunakan bahan lokal seperti tanah liat, bambu, dan alang-alang. Seluruh siklus hidup, mulai dari lahir, nikah, hingga mati, senantiasa terikat pada ritme alam yang menunjukkan bahwa manusia bukanlah penguasa, melainkan bagian dari ekosistem yang serupa dengan konsep kosmologi Nusantara lainnya.
Dalam tatanan ini, sapi memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar ternak atau sumber ekonomi. Di Desa Sade, sapi merupakan simbol status sosial dan keberlangsungan hidup yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pertanian tradisional serta ritus adat tertentu. Sapi masuk ke dalam lingkaran kehidupan dan tidak dipandang sebagai komoditas semata. Hal inilah yang mendasari hubungan unik manusia dengan kotoran sapi, sebuah praktik yang sering disalahpahami namun memiliki makna simbolik dan fungsi nyata yang mendalam.
Secara praktis, kotoran sapi digunakan untuk melapisi lantai rumah dengan campuran tanah liat. Langkah ini berfungsi sebagai antiseptik alami sekaligus pengusir serangga, yang secara ilmiah dapat dijelaskan karena kotoran sapi kering mengandung bakteri relatif stabil. Ketika dicampur tanah dan dikeringkan, material ini menghasilkan permukaan keras, tahan debu, serta mampu mengurangi bau dan hama. Oleh karena itu, praktik ini bukanlah sesuatu yang jorok, melainkan teknologi tradisional berbasis sumber daya lokal. Konsep steril dalam versi lokal ini merujuk pada kebersihan fungsional yang tidak berbahaya dan aman dalam siklus lingkungan mereka, sehingga tidak membawa “penyakit sosial” seperti bau atau hama. Standar kebersihan tersebut bersifat kontekstual dan bukan absolut.
Secara filosofis, terdapat pesan mendalam bahwa apa yang dianggap kotor oleh manusia justru menjadi penopang kehidupan dalam siklus alam. Praktik ini merupakan dekonstruksi konsep antara najis dan suci secara ekologis sekaligus pengingat bahwa limbah adalah sumber daya dalam sistem yang benar. Tradisi ini bertahan karena memenuhi tiga aspek sekaligus: efektif secara praktis dalam menciptakan rumah yang kuat dan adem, selaras dengan lingkungan yang zero waste, serta didukung nilai budaya yang diwariskan sebagai identitas. Namun, diperlukan perspektif kritis agar tidak terjebak dalam romantisasi berlebihan; harus diakui secara jujur bahwa tidak semua praktik tradisional otomatis higienis menurut standar medis modern. Risiko patogen tetap ada jika tidak dikelola dengan benar, dan modernisasi terkadang membawa alternatif yang lebih aman. Sikap yang bijak adalah memahami konteks dan mengadaptasinya dengan pengetahuan baru, karena kebersihan serta makna tidak selalu bersumber dari teknologi modern, melainkan dari pemahaman mendalam tentang siklus alam.
Jika mempertajam sisi spiritual-ekologisnya, hubungan antara manusia, tanah, dan kesadaran di Desa Sade merupakan sistem yang terstruktur dan membentuk realitas hidup sehari-hari. Dalam kosmologi tradisional, tanah bukanlah benda mati atau sekadar properti, melainkan entitas hidup yang menghidupkan dan menyimpan jejak leluhur serta energi kehidupan. Hubungan manusia dengan tanah bersifat timbal balik, sehingga memperlakukan tanah secara sembarangan berarti merusak keseimbangan diri sendiri. Di sini, ekologi dipahami melampaui dimensi biologis karena melibatkan dimensi batin. Manusia berperan sebagai perantara di tengah pola langit sebagai kesadaran dan tanah sebagai manifestasi kehidupan. Tugas manusia adalah menjaga aliran, mengolah tanpa merusak, dan mengembalikan apa yang diambil melalui penggunaan bahan alami serta pemanfaatan limbah organik.
Dalam hal ini, pemanfaatan kotoran sapi menjadi simbol transformasi kesadaran di mana limbah bukan dianggap sebagai akhir, melainkan fase perubahan. Kotoran yang dianggap rendah justru bertransformasi menjadi fondasi lantai rumah yang menopang kehidupan, sejalan dengan prinsip siklus lahir-hidup-mati dan transformasi energi dalam siklus biogeokimia. Kesadaran di sini bukanlah sekadar refleksi pikiran, melainkan cara mengalami hidup tanpa ilusi keterpisahan antara diri dan alam. Dampaknya adalah munculnya rasa cukup dan rasa hormat terhadap siklus kehidupan tanpa adanya eksploitasi ekstrem.
Sistem ini memang berbenturan dengan paradigma modern yang cenderung linear, eksploitatif, dan individualis. Banyak orang saat ini ingin kembali ke alam namun tetap menggunakan pola pikir eksploitasi, sehingga alam hanya dijadikan objek estetika untuk wisata atau healing sementara tetap dirusak secara sistemik. Inti paling tajam dari hubungan manusia dan tanah sebenarnya bukanlah soal lingkungan, melainkan bagaimana manusia memposisikan dirinya dalam realitas. Jika manusia merasa menjadi bagian dari siklus, mereka tidak akan takut pada hal yang dianggap kotor atau hancur, karena mereka sadar akan kewajiban menjaga. Relevansinya bagi kehidupan modern sangatlah personal: cara kita memperlakukan hal kecil, melihat kegagalan sebagai fondasi baru, serta menentukan keseimbangan antara rakus dan cukup adalah cerminan dari ekologi batin kita. Sebab pada akhirnya, ekologi luar hanyalah pantulan dari ekologi yang ada di dalam diri.
Sekian Terimakasih
Bandung, 30 April 2026









