MERAGA RASA LIMA PELUKIS ABSTRAK SEMARANG

lima pelukis

Lima Seniman kota Semarang   Dadang Taufik,  Goenarso, Heri Pallet, Tan Markaban, dan Tjetjep Rohendi, bersama Agung, Supervisor Pringsewu Restaurant (paling kiri) pada acara pameran Meraga Rasa di Pringsewu restaurant Kota Lama, Semarang, Kamis, 16/4/2026. 

Suasana di Pringsewu Restaurant, Kota Lama Semarang, Kamis (16/4/2026) terlihat berbeda. Tamu undangan, seniman, dan mahasiswa memadati ruang untuk menghadiri pembukaan pameran lukisan abstrak lima seniman kota Semarang, diantaranya Dadang Taufik, Goenarso, Heri Pallet, Tan Markaban, dan Tjetjep Rohendi.

lukisan jogja 1
lukisan Muhamad Taufiq dengan judul “Melamun” media Aklirik di atas kanvas ukuran 60 x 60

Pameran bertajuk Meraga Rasa ini dibuka oleh Agung, Supervisor Pringsewu Restaurant. Sebanyak 25 karya dipajang, di mana setiap seniman masing-masing menampilkan lima karyanya dengan karakteristik yang unik.

Tan Markaban melukis dengan gaya Abstrak Ekspresionisme yang mengutamakan sapuan kuas energik serta lapisan warna-warna kontras yang tebal. Teknik ini menciptakan tekstur dengan komposisi yang dinamis, kompleks, dan memberi kesan ruang. Sementara itu, Goenarso mulai serius melukis dan kini cukup produktif. Gaya lukisannya yang abstrak dekoratif memadukan warna-warna berani untuk menciptakan kesan emosional yang meditatif.

Beralih ke seniman berikutnya, Heri Pallet melukis dengan menciptakan tekstur menonjol, menampilkan dinamika visual yang luar biasa melalui penggunaan warna dan tekstur yang kaya. Melalui komposisi abstrak warna dan goresannya, ia berusaha membangkitkan memori sensoris, seperti aroma tanah setelah hujan atau suasana pedesaan yang tenang. Di sisi lain, Tjetjep Rohendi menghadirkan karya abstrak ekspresionis yang sering kali menonjolkan tekstur dan bentuk-bentuk naturalistik, sebagai cerminan nilai-nilai filosofi dan apresiasi terhadap alam. Kombinasi warna kontras dan berani dengan tekstur permukaan yang tebal menjadi karakteristiknya. Tak ketinggalan, Dadang Taufik melukis abstrak dengan penekanan pada kombinasi warna serta ekspresi emosi yang menarasikan kenangan, pengalaman keindahan, dan keseimbangan antara struktur dan spontanitas.

Pada konsep pameran Meraga Rasa, melukis abstrak dimaknai sebagai sebuah proses menuangkan emosi, jiwa, dan perasaan batin ke dalam bentuk visual garis, warna, tekstur, maupun bidang tanpa terikat pada representasi objek nyata. Dalam prosesnya, kondisi seniman seakan kerasukan keindahan rasa. Tubuh dan pikiran dikuasai, dipengaruhi, hingga diambil alih oleh keindahan perasaan dari pengalaman estetis bertegangan tinggi. Hal ini bermula dari dalam diri sendiri, atau rasa yang dirasakan orang lain yang kemudian diresapi oleh diri dan diekspresikan menjadi objek-objek rasa melalui bahasa visual.

lukisan jogja1
lukisan Goenarso dengan judul “Rindu Kampung” media Aklirik di atas kanvas ukuran 50 x 50cm, 2026

Pendekatan ini tentu bukan melukiskan objek kasat di luar diri seperti menggambar bentuk realis secara kasat mata dengan objek-objek yang ada di depan mata. Namun, lebih kepada mengungkapkan bentuk atau struktur bentuk yang berkelindan dalam perasaan, emosi, imajinasi, serta pengalaman tubuh terhadap objek. Proses ini semacam melukiskan ruh dari objek itu sendiri.

Oleh karena itu, Meraga Rasa ini semacam melakukan konsentrasi tinggi dengan menyatukan pikiran, perasaan, dan tubuh, yang bertujuan mencapai titik fokus, sensitivitas emosional, atau kesadaran diri yang lebih tinggi. Dengan demikian, seniman tidak sekadar menumpahkan warna atau mencorat-coret garis pada suatu media dengan melibatkan emosi, jiwa, dan kepekaan batinnya semata. Dia juga berusaha menyatukan perasaan pribadi dengan unsur-unsur warna, garis, dan tekstur yang memberi kesan bahwa karyanya memiliki narasi serta mampu melibatkan emosi penikmatnya.

Ekspresi dalam Meraga Rasa yang dilahirkan dari cipta, karsa, dan rasa menjadi alat untuk berkomunikasi, baik terhadap lingkungan atau dengan dirinya sendiri. Sehingga, melalui Meraga Rasa, terbentuklah karakter atau identitas pribadi serta lingkungan sosialnya. Kemampuan berbahasa visual ini pada akhirnya membantu pemahaman dalam berinteraksi di luar diri dan menyampaikan ide pemikiran unik seniman terhadap fenomena atau perkembangan sosialnya.

Upaya memvisualisasikan suasana, bentuk, dan jenis citarasa perasaan berdasarkan pengalaman tubuh dengan meraga rasa merupakan perjuangan menemukan inti terdalam, hakikat semesta, dan kesadaran sejati. Berkarya seperti ini membutuhkan keberanian, kesabaran, serta pelepasan dari keramaian untuk mengubah energi negatif menjadi cinta kasih. Ini adalah jalan sempit yang harus dialami sendiri untuk mencapai perubahan total, yakni dari materi benda menjadi ruh dan rasa batin yang abstrak. Prosesnya seperti mengungkapkan rahasia semesta yang ada di dalam diri sendiri ke atas media kanvas.

Sebagai penutup, Meraga Rasa adalah proses lima seniman Semarang yang konsisten berkarya dan telah malang-melintang berkesenian, namun ini baru pertama kali bagi mereka melakukan pameran bersama di kotanya sendiri. Dari mereka ini semua, diharapkan kontribusi yang turut menghidupkan seni rupa Semarang. *)

Yogyakarta, 16 April 2026

In Memoriam Masjidi
Baca Tulisan Lain

In Memoriam Masjidi


Apakah artikel ini membantu?

Tulisan Lain dari Penulis :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *