Dahan Kawat

elegi citra karya doni muhamad nur kosapoin.com

Dom menyesap kopi saset premium yang kemasannya menjanjikan cita rasa autentik petani pegunungan, walau ia menyadari sepenuhnya bahwa cairan hitam itu hanyalah hasil ekstraksi mesin industri yang dingin. Ia duduk di tengah galeri bonsai miliknya, tempat pohon-pohon kerdil itu dipaksa meliuk dalam kawat tembaga demi memenuhi standar estetika yang kaku. Di atas meja kerjanya yang minimalis—sebuah visual yang ia tebus dari katalog gaya hidup demi memahat persona intelektual efisien—laptop mahal berpijar menampilkan draf esai terbaru. Ia sedang tekun mengutak-atik narasi bertajuk “Passion sebagai Penderitaan Suci”. Di dalam tempurung kepalanya, penderitaan bukan lagi rasa sakit yang bersifat privat, melainkan sebuah jenama. Ia memahami betul eksistensi pasar ide saat ini; penderitaan merupakan dagangan dengan nilai tukar paling mahal, asalkan dikemas menggunakan fon elegan dan diksi yang melangit. Dalam draf itu, Dom merangkai kalimat yang membius: “Gairah bukanlah sekadar dorongan kreatif, melainkan sebuah altar purba yang menuntut sublimasi rasa sakit; kita tidak sedang mencipta, kita sedang merayakan perih sebagai benteng terakhir sebelum roh kita sepenuhnya lumat oleh mekanisasi pasar.” Namun, bagi Dom, setiap teori besar membutuhkan tumbal nyata, dan wajah Lintang adalah personifikasi kurban yang paling segar di ingatannya.

Ingatannya melayang pada peristiwa siang tadi, kala seorang kontributor muda bernama Lintang duduk di hadapannya dengan punggung membungkuk takzim. Lintang membawa manuskrip puisi berkertas lecek yang menguapkan aroma keringat serta antusiasme jujur, seolah membawa sepotong cahaya langit yang belum terjamah polusi. Di tengah lembaran itu, sebait puisi Lintang berbunyi: “Ayahku tak pernah bicara tentang api / ia hanya menjadi kayu yang paham cara hangus tanpa mengaduh kepada abu.” Dom memandang naskah tersebut bukan sebagai sebuah karya, melainkan bahan mentah yang menanti proses pengemasan ulang agar laku dijual. “Lintang,” ujar Dom sembari memutar-mutar pena mahalnya, “puisimu ini terlalu telanjang. Tidak ada nilai komersialnya. Kamu harus menyadari bahwa dalam industri literatur masa kini, orang tidak membeli puisi; orang membeli penderitaan si penyair. Kamu perlu terlihat lebih rusak, lebih organik, atau pembaca tidak akan sudi melirikmu.” Lintang tampak kebingungan, sepasang matanya berkedip ragu. Cahaya ketulusan di matanya meredup seketika saat berhadapan dengan kegelapan ego sang editor. “Akan tetapi, saya menulis ini menggunakan hati, Mas Dom. Perihal bapak saya yang menjadi buruh cuci.”

Dom menyunggingkan senyum sinis, sebuah ekspresi yang ia pelajari dari berbagai seminar manajemen citra. “Hati tidak memiliki harga di pasar, Lintang. Masukkan unsur eksistensial. Ubah penderitaan bapakmu menjadi sesuatu yang estetis. Sebab, produk kapitalis memang harus dibuat cantik demi kosmetik, agar luka yang paling perih sekalipun tetap terlihat menggiurkan di etalase. Terapkan prinsip ekonomi kata; sedikit bicara, sebaliknya harus memukul. Jangan menjadi patah, jadilah tak tergoyahkan oleh antitesis.” Kata-kata itu meluncur dari bibir Dom dengan presisi yang mematikan, mencerminkan sebuah mekanisme berpikir yang telah lama kehilangan sentuhan kemanusiaannya. Sebab rasionalitas, yang dianggap penjaga transendental pikiran, terjebak juga dalam berbagai pemihakan kontekstualnya. Artinya, rasionalitas yang otonom, atau yang murni, mulai terpinggirkan oleh tipe rasionalitas lain, yaitu rasionalitas instrumental. Rasionalitas instrumental adalah tipe rasionalitas yang telah mengalami skematisasi sedemikian rupa, sehingga fungsi idealnya digantikan oleh fungsi operasionalnya.

Dom merasa bahwa fungsi operasional batinnya sedang bekerja maksimal hari ini; ia sedang mematikan kemurnian Lintang demi menghidupkan sebuah komoditas yang bisa ia kendalikan. Ia menyaksikan Lintang mengangguk-angguk kecil, walau kilat kekecewaan gagal disembunyikan oleh anak muda itu. Dom bersikap masa bodoh. Baginya, baris tentang kayu dan hangus milik Lintang adalah berlian mentah yang harus ia hancurkan demi membangun mahkota pribadinya. Lintang hanyalah satu lagi konsumen yang terjebak dalam ekosistem gairah semu yang ia ciptakan. Dom merasa telah berhasil menjajakan produk berupa standar kecantikan baru dalam sastra; sebuah ruang tempat yang tulus wajib dipoles agar terdengar liris, dan yang jujur mesti dirombak supaya tampak puitis demi memuaskan hawa nafsu pasar yang gila hormat.

Kembali ke kesunyian kamarnya, Dom mulai merasakan kegelisahan yang menusuk tajam. Ia menatap draf naskahnya sendiri yang kini bertajuk Elegi Citra. Di dalam naskah itu, Dom menulis dengan nada dogmatis yang liris, seolah ia nabi yang sedang menggugat dunia: “Kemanusiaan kita sedang sekarat di bawah telapak kaki citra. Kita harus kembali pada keheningan api, pada kayu yang hangus tanpa butuh penyaksikan abu. Tanpa kejujuran yang telanjang, sastra hanyalah bangkai yang bersolek.” Ia tertawa getir menyadari dirinya sedang mengkhotbahkan kemurnian menggunakan diksi curian yang ia rampas dari Lintang. Ia memandangi deretan bonsai yang rimbun tetapi terpenjara, menyadari bahwa naskahnya memiliki nasib yang sama: dipangkas dan ditekuk demi kepuasan mata yang memandang.

Ia membandingkan naskahnya yang penuh kosmetik dengan puisi Lintang yang begitu kokoh hingga tak satu pun antitesis mampu merobohkan maknanya. Dom kemudian membaca draf puisinya sendiri: “Fragmen lara ini menyublim dalam dialektika sunyi / di mana orkestra duka menari di atas altar eksistensi yang tak bertepi.” Ia menyadari betapa barisan kata itu hanyalah riasan tebal yang menyembunyikan wajah aslinya yang kerontang. Kalimat demi kalimat yang ia susun terasa menyerupai barang pecah belah yang direkatkan paksa dengan lem murahan; mudah retak, anjlok, serta kehilangan jiwa. Ia tersadar bahwa selama ini dirinya telah menjadi budak dari sistem kapitalis yang ia kutuk sekaligus ia puja. Ia menjajakan gairah sebagai jalan keluar dari kesengsaraan, sementara ia sendiri justru kian terperosok ke dalam kubangan penderitaan baru: ketakutan akut akan kehilangan pengakuan.

Transisi antaryang tertulis di layar terasa sangat kasar, merefleksikan betapa hancurnya struktur batinnya sendiri. Ia mencoba mengembangkan bagian saat tokoh dalam Elegi Citra berdiri di ambang kehancuran, akan tetapi langkahnya terhenti. Ia mustahil menuliskan kejujuran jika jiwanya sendiri sedang terbelenggu dalam haus pujian yang akut. Ia mulai menghalalkan segala cara dalam alam pikirnya; mungkin esok ia akan kembali menyunting naskah Lintang yang lain dan menyelipkan beberapa ide cemerlang anak itu ke dalam tulisannya sendiri. Ia berniat menelan cahaya bintang itu demi menerangi naskahnya yang mulai redup dan kehilangan arah. Ya, sebagaimana ada banyak cara untuk menjadi Aku Ada. HakikatAku Ada bisa tercipta dari atmosfir mimesis yang dibacanya. Sedangkan makna leksikal dari Aku Ada yang ia yakini saat ini, dalam proses kreatif yang tengah ia jalani, tentu saja sebagai upaya pewujudan eksistensi dari hasil sebuah proses kreatif yang sudah dilakukan oleh seorang dalam hal apa pun. Dom memegang erat prinsip tersebut sebagai tameng; baginya, mencuri atau meminjam ide hanyalah bagian dari atmosfer mimesis yang sah demi mewujudkan eksistensinya sebagai “Aku yang Ada” di panggung literasi.

Inilah katarsis pahit bagi Dom. Ia tersadar bahwa dirinya telah menjadi produk sempurna dari pasar yang haus akan kepalsuan. Penderitaan yang ia alami malam ini—denyut di pelipis dan rasa hampa di rongga dada—bukan lagi penderitaan organik. Ia muak melihat bayangan dirinya sendiri yang haus pujian, sebaliknya ia merasa dengki pada keheningan puisi Lintang yang tak butuh pengakuan apa pun untuk menjadi abadi. Ini adalah penderitaan seorang pedagang yang barang jaminannya mulai membusuk, walau tetap dipajang di etalase dengan label harga selangit. Ia tersiksa bukan karena ia mencintai sastra, melainkan karena ia terobsesi pada derajat hormat yang diberikan dunia kepadanya.

Ia menatap barisan plakat penghargaan berbahan akrilik dingin di dinding yang tertata dengan simetri yang kaku; semuanya tampak seperti label harga yang tertempel pada sekujur mayat. Dom mulai mengetik lagi dengan tangan gemetar, tangannya kini sibuk membedah naskah Lintang, memutilasi kejujuran anak itu untuk menyumbat lubang-lubang kosong dalam esainya sendiri. Setiap kata yang meluncur justru semakin menegaskan betapa ia telah tersesat dalam labirin gairah yang ia bangun demi memuaskan dahaga pujian yang tidak akan pernah kenyang. Di bawah temaram layar yang mulai memburam oleh kabut kantuk, sisa-sisa rasionalitasnya perlahan luruh dan menyisakan kengerian yang telanjang. Menjelang kembang lelapnya, ia menyadari satu hal paling mengerikan: ia tidak lagi menulis untuk hidup. Ia menulis untuk membeli sekeping rasa penting yang fana, sekalipun ia harus menginjak-injak setiap kejujuran yang tersisa di dalam diri. Tajuk Elegi Citra itu kini bukan lagi sekadar nama naskah, melainkan sebuah pengakuan dosa yang ia tutup-tutupi dengan bedak kosmetik terakhir sebelum ia tertidur dalam kepalsuan. Judul itu adalah nisan bagi hati nuraninya yang telah ia gadaikan demi sekeping tepuk tangan. []

HOROR 
Baca Tulisan Lain

HOROR 


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *