Di sebuah amben kayu yang teduh di sudut desa, saya duduk menyimak sebuah narasi besar tentang dinamika dunia yang sedang dibedah melalui dialektika tajam akan tetapi tetap organik. Sebagai seorang wartawan, saya tidak hanya mencatat rentetan kata-kata, tetapi mencoba menangkap getaran kegelisahan yang melampaui batas desa ini. Pemikiran pertama muncul dari Si Kabayan, yang dengan kejernihan bersahaja membaca bahwa konflik internasional hari ini tidak lagi selalu diwujudkan melalui invasi militer terbuka. Baginya, negara-negara besar kini memanfaatkan instrumen ekonomi—seperti sanksi dan pembatasan perdagangan—sebagai alat strategis untuk menaklukkan lawan tanpa perlu meletuskan satu pun peluru.
Berangkat dari logika tersebut, saya mencatat poin penting Kabayan bahwa tekanan Amerika Serikat terhadap Iran dan Venezuela sebenarnya adalah bagian dari rivalitas global dengan China. Sebagai pusat manufaktur dunia, China sangat bergantung pada pasokan minyak berat yang stabil dari kedua negara tersebut untuk menggerakkan roda industrinya. Ketika sumber energi ini “dipagari” oleh sanksi internasional, biaya produksi global pun melonjak dan daya saing ekonomi lawan akan melemah secara perlahan tapi pasti. Inilah yang disebut Kabayan sebagai “perang energi”, sebuah penaklukan senyap yang dilakukan melalui pengendalian “kunci dapur” strategis di tingkat dunia.
Namun, pengamatan Kabayan yang sangat ekonomis itu segera diperdalam oleh perspektif Abah yang melihat dunia dalam skala yang lebih luas, yakni sebagai sebuah “Kosmografi Bara”. Bagi Abah, panggung global bukan sekadar soal hitungan dagang, melainkan urusan harga diri dan adu kekuatan yang dingin. Saya melihat matanya menatap tajam ke layar televisi di pojok rumah yang memancarkan cahaya infra-merah; di mana siluet kapal induk di samudra baginya adalah simbol jagoan tua yang sedang berusaha mempertahankan wilayahnya dari gangguan luar. Abah bicara dengan pragmatisme yang kaku, menekankan bahwa setiap ledakan di televisi itu bukan sekadar kembang api, melainkan tanda bahwa indeks saham di New York dan Tokyo akan berubah dalam hitungan detik.
Kecemasan Abah terhadap fluktuasi global ini membawa catatan saya pada kesimpulan bahwa ia memandang kawasan Teluk sebagai simpul nyawa yang jika diganggu, akan membuat seluruh sistem ekonomi dunia sesak napas. Ketegangan intelektual memuncak saat Abah menggebrak meja kecil dengan korannya sambil berseru, “Dasar Si Borokokok, yeuh buka matamu! Ini bukan sekadar urusan gorengan di pasar! Kalau jalan bensin di Selat Hormuz itu dikunci, seluruh kalkulasi fiskal kita rontok dan subsidi energi akan membengkak hebat! Kita butuh aksi nyata, bukan cuma duduk melamun!” Mendengar kegusaran mertuanya itu, Kabayan hanya terkekeh pelan sambil mengupas kulit kecapi dan menjawab santai, “Duh Abah, jangan terlalu tegang melihat layar kaca. Seberat apa pun teori langit yang dipakai, kita jangan sampai mau hanya disuruh menjaga pintu sementara juragan besar berebut kunci dapur. Buat apa pusing menghitung peluru orang kalau kita sendiri lupa menanam singkong di kebun sendiri.”
Sambil terus menulis perdebatan mereka, saya teringat pada analisis Prof. Yudiaryani, seorang begawan teater yang sering menekankan bahwa panggung dunia saat ini adalah sebuah teater global yang kolosal. Melalui kacamata Prof. Yudiaryani inilah, saya melihat bahwa pragmatisme Abah sebenarnya sedang membedah sebuah “dramaturgi politik” yang sangat presisi, di mana perang hari ini bukan hanya soal ledakan fisik, melainkan soal bagaimana sebuah spectacle atau tontonan diproduksi secara massal untuk mengelola emosi publik. Perspektif teater yang sering bersinggungan dengan pemikiran Michel Foucault dan Antonio Gramsci ini menjelaskan bahwa perang modern juga bekerja melalui pengaturan wacana dan produksi kebenaran, di mana kekuasaan tidak lagi bekerja lewat paksaan fisik semata, melainkan lewat pendisiplinan informasi yang membuat kita percaya pada narasi yang disodorkan di layar kaca.
Logika panggung ini pun menjelaskan mengapa hegemoni lama kini sedang menghadapi krisis identitas; simbol-simbol kekuatan seperti kapal induk raksasa mulai terlihat rentan di hadapan teknologi hipersonik dan drone murah yang sanggup menguras sistem pertahanan berlapis. Abah seolah melihat adanya “retakan simbolik” di mana mitos supremasi perlahan kehilangan aura psikologisnya, sementara perubahan kepemimpinan di Teheran pun dibaca bukan sekadar pergantian administrasi, melainkan penataan ulang intonasi kebijakan dalam sistem dunia yang menurut Immanuel Wallerstein, selalu menyerap krisis untuk mempertahankan sirkulasi modal. Alhasil, dalam perspektif teater kekuasaan ini, rudal yang meluncur dan kapal induk yang berpatroli tak lain adalah “properti panggung” yang sengaja dihadirkan untuk melegitimasi dominasi aktor-aktor tertentu di hadapan mata dunia.
Namun, segala kerumitan properti panggung dan dramaturgi tingkat tinggi ini mendadak terinterupsi oleh realitas yang lebih getir saat Lamsijan tiba dengan mandi keringat sambil menuntun motornya yang mogok. “Aduh, Kang Kabayan! Abah! Jangan cuma berdebat!” serunya terengah-engah dari pinggir jalan. “Saya baru dari pom bensin, antreannya sudah mengular sampai ke pinggir sungai! Katanya bensin mau naik lagi gara-gara ribut di luar negeri!” Kabar nyata dari jalanan ini disambut oleh Nyi Iteung yang muncul membawa nampan kopi sambil mengeluhkan harga minyak goreng dan emas yang melonjak gila-gilaan. “Tuh kan! Baru saja Iteung mau bilang, harga kebutuhan di pasar sudah kacau semua! Mending kopinya diminum dulu, biar otaknya tidak ikut meledak seperti rudal!” ketusnya sambil meletakkan nampan dengan sedikit kasar.
Kehadiran mereka seolah menjadi jembatan yang menarik teori-teori besar Abah kembali ke tanah. Saya teringat konsep Raymond Williams mengenai structures of feeling—bagaimana perubahan besar dalam politik global ternyata beresonansi langsung pada perasaan dan pengalaman sehari-hari rakyat jelata di pelosok desa. Di tengah hiruk-pikuk keluhan itu, Ambu kemudian melangkah keluar ke teras setelah menyimak seluruh perdebatan dari balik jendela sejak tadi. Ia meletakkan tampah gabahnya dengan tenang, memberikan penutup yang sangat berwibawa bagi liputan saya sore itu. Ambu menatap kami satu per satu lalu berujar pelan, “Sudah, sudah… Abah bicara jagoan, Kabayan bicara bumi, Iteung bicara emas, dan Lamsijan bicara bensin habis. Tapi kalian lupa kalau tanah kita ini luas. Mau dunia guncang seperti apa pun, selama kita tidak silau oleh barang luar dan memiliki ‘leuit’ atau lumbung yang penuh, bangsa ini akan tetap selamat.”
Saat senja mulai jatuh di desa itu, menyisakan semburat jingga yang serupa dengan warna bara di amben kayu, saya akhirnya sampai pada sebuah perenungan. Berpijak pada pisau analisis Prof. Yudiaryani tentang teater kekuasaan, saya menyadari bahwa posisi Indonesia haruslah kokoh. Mengacu pada Pierre Bourdieu, Abah mengingatkan agar bangsa ini tidak terjebak dalam “habitus” ketergantungan yang mematikan imajinasi strategis. Kedaulatan abad ke-21 menuntut kemandirian energi, pangan, dan ruang digital. Prinsip netral-aktif tidak boleh hanya menjadi slogan normatif, melainkan harus berpijak pada investasi jangka panjang dalam teknologi dan industri strategis nasional. Liputan di amben kayu ini membuktikan bahwa jika sebuah bangsa hanya terpaku pada cahaya ledakan spektakel di layar kaca, ia hanya akan menjadi figuran dalam naskah orang lain. Namun, dengan menggabungkan kejernihan logika perut Kabayan, pragmatisme Abah, dan filosofi lumbung Ambu, Indonesia memiliki peluang untuk menulis babak sejarahnya sendiri dengan kesadaran yang utuh dan keberanian yang terukur.









