PUISI Husni Hamisi

husni hamisi 1 jpg

SEBELUM ISYARAT

(1)

Kami tidak bermimpi apa-apa malam itu.
Itulah yang paling mencurigakan.

Jam bertiktak di dinding
Bayangan kipas angin berputar
Seolah menjaga sesuatu
Agar tak melarikan diri.

Di dapur,
Pisau-pisau saling menatap
Dengan lirikan rahasia kematian.

Kami duduk.
Tak ada yang saling bicara.

Nama-nama kami
Mengendap di tenggorokan.

Seseorang berkata:
“Tenang saja, belum waktunya.”

Tapi tubuh kami tahu
Sesuatu telah lebih dulu berangkat
Tanpa meninggalkan pesan.

Doa-doa kami tak gugur
Ia membusuk pelan
Di antara dua napas.

Tuhan terasa terlalu dekat
Untuk dipanggil,
Terlalu jauh
Untuk disangkal.

Kami mulai menghitung
Hal-hal kecil yang hilang
Rasa asin air mata,
Bunyi langkah ibu di pagi hari,
Alasan kenapa kami dulu
Tak takut mati.

Tak ada api.
Tak ada asap.

Hanya dada yang hangus
Oleh kemungkinan
Yang belum diberi nama.

Isyarat itu belum datang.
Namun di dalam tubuh
Sesuatu sudah menggali liang
Bukan untuk kami,
Melainkan untuk semua
Yang selama ini kami tunda.

Dan malam terus berjalan
Seperti saksi yang memilih diam
Agar kami tak bisa lagi mengaku
Tak tahu apa-apa.

PUISI Diro Aritonang
Baca Tulisan Lain

PUISI Diro Aritonang

(2)

Kami masih hidup
Tapi sesuatu di dalam tubuh
Sudah mengubur diri
Tanpa pamit.

Pagi lewat seperti orang asing
Yang pura-pura tak mengenal kami.

Air di keran berbau doa semalam.
Nama kami pecah
Saat digiling pelan.

Tak ada api.
Tak ada bunyi.

Hanya bibir yang menghitam
Oleh kalimat yang tak pernah
Kami ucapkan
Kepada siapa pun
Yang seharusnya tahu.

Kami tersenyum
Itu kesalahan terakhir
Sebelum nurani
Belajar berjalan timpang.

Isyarat belum datang.

Tapi setiap malam
Sesuatu duduk di tepi ranjang
Menghitung
Berapa lama lagi
Kami bisa berpura-pura
Tak kehilangan apa-apa.

PUISI Ayie S Bukhary
Baca Tulisan Lain

PUISI Ayie S Bukhary

(3)

Kami masih hidup.
Namun di dalam dada
Sesuatu tlah mati lebih dulu.

Pagi datang, tapi tidak menyentuh.
Air mengalir baunya pahit, seperti koar
Busuk di antara gigi yang hilang.

Kami membuka mulut
Yang keluar adalah serpihan
Kata yang dulu kami pelihara
Lalu dicekik pelan-pelan
Agar tak merepotkan siapa pun.

Tak ada api.
Tak ada tanda.

Hanya tubuh yang belajar sendiri
Bagaimana rasanya ditinggal oleh dirinya sendiri.

Malam ini, kami tidur menghadap dinding
Sementara bayangan melingkar di kaki ranjang
Menghitung tulang, kulit, dan rahim yang pernah ada, bukan untuk menyelamatkan
Hanya untuk memastikan.

Kehilangan ini nyata,
Bukan sekadar pura-pura kuat.

Kami mendengar sesuatu
Merayap di antara paru-paru kami
Mengukir suara yang tidak bisa ditelan.

Dan kami tahu : setiap detik

             Sesuatu di dalam kami

       Sedang menggali liang

Menandai sebagai saksi

Dari semua yang selama ini ditunda.

Yang tak bisa lagi dikunyah perlahan.

-Jakarta, Jelang Tahun 2026

PUISI Yesmil Anwar
Baca Tulisan Lain

PUISI Yesmil Anwar


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *