SAJAK-SAJAK Yoyo C. Durachman

topeng

Topeng – Topeng (1)
(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Mereka datang dengan senyum rapih
bersetelan rapi, berbicara fasih.
Di balik sorotan kamera dan tepuk tangan
tersimpan gigil darah dan suara yang dimatikan.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Tangannya mencium bendera
namun kakinya menginjak nyawa.
Ia mengajar moral di podium kaca
sementara tamaknya mengiris bumi dan sesama.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Topeng mereka bukan dari kain
tapi dari gelar, pangkat, dan pencitraan.
Mereka tertawa di ruang pendingin
sementara hutan terbakar dan laut menangis sunyi.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Anak-anak kehilangan masa depan
tapi mereka menulis janji di atas papan.
Angka-angka yang dimanipulasi jadi dogma
sambil tangan yang lain merogoh uang rakyat tanpa suara.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Mereka duduk di kursi empuk
tapi hati mereka penuh rongsokan dusta.
Lidah mereka pandai berdansa
tapi lidah itu juga memotong hak manusia.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Di dunia ini
topeng bukan sekadar penutup wajah
tapi alat tukar antara kuasa dan kesalahan
antara dosa dan penghargaan.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Dan kita pun terbiasa bersalaman
dengan tangan yang tak tahu darah siapa yang melekat.
Sebab dunia kini lebih percaya topeng
daripada wajah yang jujur meski berlumur peluh.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

8/6/25(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

SAJAK-SAJAK Pardesela
Baca Tulisan Lain

SAJAK-SAJAK Pardesela

Topeng-Topeng (2)
(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Di istana cermin mereka menari
dengan wajah dari lilin dan mata dari kaca patri.
Setiap senyum adalah lukisan palsu
dipahat dari janji yang membatu.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Mereka bukan manusia
mereka bayangan yang lihai menyamar
menggenggam bunga dari racun
dan menabur garam ke luka yang mereka buat sendiri.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Mulut mereka melafal harapan
tapi lidahnya bercabang dua seperti ular tua.
Langkahnya membawa berkat di siang hari
dan membakar ladang di malam sunyi.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Hutan-hutan tak mengenal nama mereka
tapi mengenang bekas luka gergaji yang mengoyak akarnya.
Sungai-sungai tak mau mengalir lagi
sebab airnya penuh dengan tangis yang tak terdengar di televisi.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Mereka meminum darah dari gelas kristal
dan menyuap emas pada hati yang pernah bersumpah setia.
Korupsi mereka berbau dupa
dibalut dalam khutbah, rapat, dan kata ‘demi bangsa’.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Wajah mereka bersih
karena dosa diseka dengan protokol dan fotogenik.
Dan ketika rakyat berseru,
mereka pura-pura tuli di atas karpet merah janji.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Mereka membangun surga dari puing-puing neraka,
dan menyebutnya kemajuan.
Mereka menanam patung diri mereka sendiri
di taman yang dulu dipenuhi burung dan pohon rindang.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

Di zaman ini
iblis tidak lagi bertanduk atau berbau belerang.
Ia berjas, berparfum,
dan hadir di layar dengan tangan yang selalu memberi hormat.(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

15/6/25(Source: kosapoin.com/sajak-sajak-yoyo-c-durachman-3)

PUISI Lintang Ismaya
Baca Tulisan Lain

PUISI Lintang Ismaya


Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.204
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *