Di pangkal malam, ia duduk di hadapanku dan bercerita tentang banyak hal. Aku mendengarkan sambil menahan senyum. Ada sesuatu dalam caranya berbicara yang membuatku merasa sedang dipilih, meski ia tak pernah mengatakan demikian. Sesekali matanya menatapku lebih lama, lalu kembali pada ceritanya. Aku tak bertanya apa arti semua itu. Barangkali karena aku takut pertanyaan akan mengusir sesuatu yang sedang terasa begitu indah. Dari kata-katanya, diam-diam aku membangun sebuah rumah—rumah yang belum pernah ia janjikan, tetapi sudah telanjur kutinggali sendirian.(Source: kosapoin.com/bintang-dalam-hujan)
Sebelum pulang, ia memelukku sebentar. “Terima kasih sudah mau mendengarkan,” katanya. Sesederhana itu. Setelah pintu tertutup, aku masih berdiri di tempat yang sama. Pelukan tadi kembali terlintas, bersama tatapan dan berjuta kata yang sejak tadi kusimpan sebagai tanda. Namun semakin kuingat, semakin sunyi maknanya. Tak satu pun kalimat yang benar-benar menjanjikan apa-apa. Air mataku jatuh tanpa suara. Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa terlalu luas untuk kutinggali seorang diri.(Source: kosapoin.com/bintang-dalam-hujan)
Malam semakin larut. Aku menatap pintu yang telah tertutup, lalu menengadah ke lengkung kelam semesta. Mungkinkah Engkau membelokkan hatinya ke arahku? Pertanyaan itu lama menggantung. Tak ada jawaban. Hanya kesunyian yang perlahan memenuhi ruangan. Aku memandang rumah yang kubangun dari kata-katanya, lalu membayangkan sebuah pintu yang tak pernah ia buka. Untuk sesaat aku ingin tetap tinggal. Namun kakiku bergerak menjauh. [](Source: kosapoin.com/bintang-dalam-hujan)

GUNTING PENYUNTING
(Source: kosapoin.com/bintang-dalam-hujan)
Negara: Poland (Pomerania)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

