“Hadirin sekalian, malam ini kita tidak sedang menonton pertunjukan. Kita sedang berdoa dalam bentuk lain. Tapi doanya bukan pakai tasbih. Doanya pakai naskah, tubuh, dan kegelisahan yang tidak bisa dijual di Shoppee.
“Selamat datang di Studio Ngaos Art. Tempat di mana panggung bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk bertanya: dari mana datangnya barang, dan ke mana perginya harga diri?
“Malam ini kita akan menyaksikan sebuah pementasan yang sangat mencemaskan, merespon perang Iran dan Israel, getir, dan agak terlalu jujur. Tapi judulnya: “MADE IN CHINA.”
“Tapi tenang… semua pemainnya lokal, cuma kegelisahannya saja yang internasional. Dan tentu, malam ini tidak lengkap tanpa para penonton terhormat, yang kami curigai datang bukan karena diundang saja, tapi karena kesadaran. Mari kita lihat mereka dan cari kesalahannya… begitu mungkin dalam hatinya…” MC membuka acara dengan bahasa yang ‘lebay’ kalau kata anak sekarang.
Tapi itu sudah jadi bagian dari gaya Ngaos Art, komunitas seni yang aku ikuti dalam beberapa tahun terakhir ini. Aku mengikuti hampir seluruh program yang diselenggarakan, kecuali musik. Kalau sekadar nyanyi diiringi gitar sambil nongkrong saat tak ada jadwal latihan itu masih bisa aku ikuti. Tapi yang aku maksud seni kelas serius yang melahirkan kelompok serius pula. Dan dilirik oleh label-label lokal. Sebut saja Kataswara, BoyOut, dan Orkes Keroncong Ngaos Art yang disingkat OKN.
Malam itu aku pentas sungguhan. Selama ini juga sering pentas sih, tapi lebih sering di present sebagai sutradara atau untuk mengisi kelas-kelas dan laboratorium. Baru ini aku ditunjuk menjadi aktor utama yang akan mewakili kelompok tersebut di kancah Internasional dalam sebuah festival.
Dalam kegelapan, aku dan teman mainku sudah berada di atas panggung pada masing-masing posisi, ketika MC membuka acara. Pembawa acara yang dipanggil Dodoy itu memang punya sifat yang humoris dan tak terduga. Setelah menyampaikan kata-kata penuh makna, tiba-tiba dia mengabsen para penonton yang hadir. Menyebut namanya satu persatu dari daftar hadir di meja tamu. Sebuah ide brilian untuk mengulur waktu, tapi membuat penonton merasa ‘ada’.
Setelah daftar tamu habis, ia bertanya “Ketua Dewan Kesenian hadir?” Tentu tidak ada jawaban, karena memang tidak datang meski sudah diundang. Dodoy kemudian bertanya kembali, “Ketua BPK hadir?” Lah, apa hubungannya Ketua BPK dengan pentas di Studio Ngaos Art. Selama kita hidup sebagai komunitas belum pernah ada dana pemerintah yang mampir. Lalu Ia mencari satu nama lagi, “tapi Subhan hadir?”
Aku yang sedang mematung di posisiku jadi bertanya dalam kepala, “Subhan mana yang dimaksud?” Dan tak ada jawaban dari arah penonton. MC pun membacakan tata tertib pertunjukan, dimana penonton dipersilahkan untuk berekpresi sebebas mungkin, tak ada larangan, tapi tidak boleh mengganggu kenyamanan apresiator lain dan jalannya pentas. Dan pentas pun dimulai.
Setiap kali melangkah kaki pergi latihan, aku merapal doa. Meminta keluasan hati dan kerendahan serendah-rendahnya. Melapangan pikiran dan kesadaran agar tetap bisa berdiri ditengah mata-mata yang awas dengan nilai yang ketat. Tak pernah ada ucapan. Tapi aku mendengar kata-kata yang dipantulkan tembok empat sisi tersebut. Seperti semen dan batu: keras dan mengurung.
Dan selalu saja pikiran itu berputar-putar. “Apakah aku sedang berakting atau dilihat sedang gagal menjadi diriku sendiri?” Perutku jadi perih. Nafasku tersengal di setiap kali latihan. Membuat energi tidak terkontrol dan ritme yang babak belur. Aku ingin kabur dari situasi itu, tapi sampai kapan? Aku harus melawan—tapi nyatanya aku tak becus untuk mengenal diriku sendiri.
Seusai latihan, aku melewati malam sambil mengalihkan pikiran. Terkadang aku membayangkan Raja Hati itu datang di malam hari dengan sepeda motornya. Lalu kami mengobrol di pinggir jalan sambil haha hihi, sesekali bergelendotan, seperti lonte yang sedang negosiasi dengan pembeli. Seru juga ku pikir. Agak binal dan kasar, tapi tak peduli pandangan sekitar saat itu, meski entah bagaimana isi hatinya.
Kadang jika sedang tidak tahu malu, aku mengirim pesan pada teman perempuanku: “Beb, dimana?” Seketika ia tahu aku sedang galau, lalu datang menjemput untuk ngopi di kafe yang buka 24 jam. Tapi yang lebih sering, aku menangis sendirian. Sambil menunggu pukul 12 malam. Krisis apa yang sedang aku hadapi? Lalu di malam pentas ini, kenapa nama Subhan tiba-tiba disebut, padahal ia tak pernah ada di ruang latihan?
Aku duduk di anak tangga kedua dari bawah sambil memegang pensil dan membuat gambar di sebuah buku tak terpakai. Sayup-sayup dikejauhan terdengar suara yang baru aku tahu dikemudian hari sedang membaca puisi. Malam itu aku bertanya pada ibuku sumber suara yang mambuat aku merasa magis. Tapi mamah tidak memberikan jawaban pasti. Saat itu umurku 9 tahun. Ketika kami masih tinggal satu rumah.
Aku tidak tahu pasti. Tapi mungkin peristiwa itulah yang membawa rasa penasaranku pada puisi dan syair. Lalu terus mengembara pada dunia teater. Dunia yang mengobok-obok harga diri. Guruku bilang pujian adalah ujian yang sangat berat. Tapi sewaktu kecil, saat mamah masih mencari dirinya sendiri, ia bilang: “pujian adalah doa”.
Seringkali aku ingin menangis. Aku ingin memeluk dan dikuatkan. “Lihatlah, di depan sana ada panggungku. Aku akan mempersembahkan hidupku. Lalu banyak pasangan mata akan menilai. Dan seperti itulah aku berjalan di dunia ini. Punya teman main. Tapi semua harus dipertanggung jawabkan sendiri.”
Cengeng, getir, mengambang, seperti itulah dialog itu kuucapkan. Aku tak pernah ajeg dengan diriku sendiri. Tak ada cinta yang menemani aku tumbuh. Ayah dan Ibu sibuk dengan dirinya. Tapi mereka dewasa yang tak benar-benar siap. Mungkin seperti itu juga aku sekarang. Tapi ketika cinta itu datang, aku merasa bingung.
Tubuh ini bukan milikku. Ia milik penonton. Pun dengan pikiran dan rasa, ia adalah milik sutradara yang menyamar di kursi penonton. Atau mungkin penonton adalah sutradara sesungguhnya? Tapi mereka tidak pernah mau tahu dengan Lansoprazole yang aku telan setiap kali akan latihan.
Lampu hijau menyala perlahan. Diiringi paduan suara dan string yang mengalun pelan. Tubuhku yang diselimuti gelap mulai tampak. Aku bergerak perlahan menjadi anak-anak yang sibuk dengan mainan dan pertanyaan. Tapi apakah kita bisa melawan dengan pilihan yang kita buat?
Tapi menjadi anak-anak adalah laku yang menyenangkan. Bebas. Tak punya beban apalagi khawatir dengan masa depan. Tapi sutradara dituntut oleh hukum panggung yang dituntut pula oleh penonton. Hidup kita saling menuntut: komunikasi, keamanan, dan perhatian.
Wig longgar yang bergoyang-goyang menimbulkan kekhawatiran saat lawan main menyentuh kepalaku. Membuat aku menjadi waspada. Makin jelas kebodohaku di sana. Seperti dilucuti oleh tatapan dimana setiap tawa menjadi sindiran, dan diam adalah vonis. Diakhir pentas, tak ada katarsis. Tapi aku jadi mencari Subhan di balik kegagalan ini.
Lalu Subhan datang. Sambil tersenyum laju berkata dengan irama khas panturanya: “Aku ini aktor KW dari naskah agung – Tiruan aktor besar yang hanya memberi kesan tipis-tipis. Tapi sebagaimana barang KW, ia hanya memberi ilusi, meski bisa melindungi dari hujan dan panas, atau membuatmu keren di media sosial. Dan menjadi bagian dari hidupmu!”
Subhan ternyata hanya berbicara pada dirinya sendiri. Ia bahkan tak melihat aku. “Kadang lampu pertunjukan menyala sebelum waktunya, tirai pentas bisa tiba-tiba saja terjatuh karena kawatnya putus. Dan vas bunga ini tidak pecah karena terbuat dari steriofoam.” Katanya sambil menyentuh mural pada dinding yang menjadi latar seting pentasku malam itu. Tapi tubuhnya terserap masuk menjadi realisme sugestif sesungguhnya.
Penonton memberi tepuk tangan dan puja-puji omong kosong: “Aku kenal dia sejak kecil, tapi ini adalah pentas terbaiknya!”
“Dia merampok, seperti kata-katanya!”
“Natural, tidak ada kekurangan!”
Sambil melepas wig yang ku pakai, asam lambung perlahan mereda. Sutradara menghampiriku. Ia bilang: “Jembar. Kamu gak butuh Subhan, tapi yang kamu perlu adalah kaki.” []










Baru bisa nangis lagi membaca cerita sebagus ini. Hati tak bisa dibohongi hati sampai hati.