SAJAK-SAJAK Imas Utami Lokayanti

ilustrasi
bukan mimpi

BUKAN PEMIMPI

Ketika surya terus memanas
Ada suara suara bergumam
Berteriak..!! tertawa, mencibir
Dan traktor itu terus menggilas menggelinding menyapu bersih
Kota mulai di tata…
Kali di gali…
Rumah kardus besi beton disapu
Teriak…
Tertawa!!..
Mencibir!!..
Namun tak ada tangis
Wajah wajah pendusta
Wajah wajah pembohong
Hasut sana…hasut sini
Mereka terdiam….
Mereka…….tenang
Mereka sadar
Karena cinta kotanya
Karena Pemimpinnya…
Bukan Pemimpi.!!

Bandung, 04072025

nyinyir

NYINYIR

Jalanan macet……… nyinyir
Penataan kali rumah pinggir kali nempel
Di bongkar di nyinyirkan
Nyinyir di viralkan

Setiap langkah tak suka Nyinyir
jatah di sunat nyinyir
Tak utak atik di utak atik
Nyinyir ….rakyat miskin dibela nyinyir

Premanisme bubar rumah kardus tumbang
Bantaran kali di tembok diam
Kala dibongkar nyinyir
Berdalih anak bangsa terdolimi …nyinyir

Uang BPJS raib di gasab pejabat diam
Banjir di mana mana hanya diam
Di otak hanya duit…duit..duit
Hati busuk pikiran kotor otak molor

Nyinyir…mulut busuk bau amis
Nyumpah berbuih busa sampah
Mulut kemunafikan tebar bau amis
Jiwa hitam seperti galian comberan

Nyinyir lihat orang kerja
Nyinyir karena tak bisa
Nyinyir gudang penyakit hati
fitnah meraja

Bandung, 03.06.2025

jangan kalu recoki

JANGAN RECOK KALAU TAK KECOCOK

Cakrawala indah menawan
Hamparan sungai bersih
Tumbuh pepohonan di kota hujan
Telah menyeka air bah yang terus mengalir

Ada kenikmatan yang terampas
Buat para Elite koruptor
Lautan sampah tersapu
Anak pelajar berjalan kaki

Kenakalan remaja tumbuh kau redam
Kemandirian anak tersaji
Mental anak terarah
Di tatar pasundan

Dia Pemimpin kami
Ditatar pasundan telah merubah rasa
Dari rasa tidak percaya
Melumerkan Es batu karang kedhaliman

Selamat datang keadilan
Gubernur tatar Pasundan
Luar nalar para elite politi
Dia datang bawa damai

Suara keangkuhan para koruptor
Menuai prahara elite politik
Terbiasa tamak
Terbiasa korup

Jangan kau ganggu
Jangan menjauh
Tatar pasundah puser dayeuh leluhur
Menyuarakan keadilan

Pahlawan brantas kemiskinan
miskin Hati, Miskin pola pikir
Rakus bak tikus got
Jangan recok kalau tak kecocok

Bandung, 08062025

braga penuh cinta

BRAGA PENUH CINTA

Kusulut sebatang rokok
Jarak pandang antara cafe-cafe
Tempat remaja melarung cinta
Bersetubuh dengan alam

Clik..clik..kick… pose-pose
penuh cinta, gerimis mengiris kalbu
Braga bawa cerita
Patah hati, para pencari kerja, putus sekolah

Semua manjakan hati
Diantara lampu-lampu bergantung
Diantara kursi kursi
Batu-batu bulat persis lato-lato kecil

Diantara pohon tabebuya
Angan melayang pada kenangan
Ulang tahun Braga tahun lalu
142 tahun Noni belanda pergi

Awan putih bergulung cerah
Gadis kecil melukis di kanvas
Pinggiran trotoar
Cantik mungil penuh manja

Para pelukis senyum bercengkrama
Berseloroh penuh suka cita
Titipan rindu menoreh abadi di hati
Tepian kisah menata ruang hati pelancong

Semarak lukisan tepian trotoar
Awan berarak riang menuju siang
Seorang gadis sedang di lukis
kekasihnya ….. asyik memandang pejalan kaki..

bersandal jepit rambut tergerai
Hmmmm…seyum dikulum penuh pesona
Braga menoreh sejarah 75 kanvas bunga cinta terpampang di gedung GPK

Itulah Cinta kasihku.braga…
Tak bosan pandang
Disana penuh torehan cinta
Torehan luka, tapi tak jemu bertandang

Bandung, 10 02 2025

sisa hujan semalam

SISA HUJAN SEMALAM

Sisa hujan semalam
Jalanan becek berseliweŕ kendaraan
Lalu lalalang saling berburu maju
Dalam riak genangan air

Wajah sumringah menembus dingin
Ada sesuatu jelas tergambar
Engkau Maha Kuasa
Tetap menabur rezeki pada siapa yang taat

Pada siapa yang lalai
Pada siapa pun tiada sekat
Manusia tinggal memilih
Seperti lotre.

Bandung, 30 07 2025

pagar laut

PECUNDANG PAGAR LAUT

Gemuruhnya air laut
Gemuruh dada dunia
Dunia kelautan … dunia pagar laut
Dalam Negara ada Negara

Dalam Laut ada pagar Negara
Biasanya pagar di pasang di halaman rumah
Sebentar lagi payung payung akan dipasang di langit Negara baru

Ada tangis tak terlihat
Ada yang tertawa tak henti henti
Rakyatkah yang Dungu?
Atau kedunguan itu sudah terpancang

Lama di tubuh tubuh para penindas
Senyum burung camar murung
Perahu nelayan bingung
Sekarang di lautan ada lorong kayu

Seperti pelantar akan dibuat pasar
Para pecundang sembunyi
Para penyihir pergi
Ada lukisan mega mendung di sana

Kemana sembunyinya karang karang laut
Laut bersertifikat
Laju maju perahu nelayan
menyusuri pagar-pagar cukong

Kuping memerah tunjuk kan paras
Tak kunjung tiba.
Bongkarrrr… bongkarrrr angkara murka
Mereka bungkam, cukong diam, para elite gamang

Bandung, 14 01 2024

SAJAK Mohammad Rohamudin
Baca Tulisan Lain

SAJAK Mohammad Rohamudin


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *