PUISI Husni Hamisi

husni 1000

LIMA PERIHAL YANG TAK DITEMUI
DI BUKU PUISI MANAPUN, SELAIN DISINI.

1/ Hantu Penawar Harga

Di pasar lama Depok, udara penuh riwayat
bau bawang, cacing hujan, dan nostalgia.

Dahulu hantu perempuan pengembara
membawa keranjang bambu betung
berisi kesabaran dan senyuman kecil.

Siapa menawar kasar, bibirnya retas
siapa dengan ramah, dagangnya laris.

Kini dia berdiri di sudut kios lama
seperti ibu tua yang tak lagi
dikunjungi anaknya.

Pasar riuh : tapi tak lagi manusia.

Harga lebih tinggi dari kulkas dua pintu
dan orang saling curiga pada kebutuhan
yang sama-sama sederhana.

makan, tawa, bercinta & membeli kafan.

Di wajah-wajah yang lelah terlihat
kecemasan menumpuk seperti bumbu
ajinomoto kadaluwarsa.

Pasar bukan hilang
hanya berubah jadi asing
dimana salam lebih jarang dari sampah
yang berceceran di setiap arah pandang.

Dan hantu itu masih menunggu
satu orang yang menawar
dengan rasa hormat.

Mungkinkah itu, diri kau?

SAJAK Juniarso Ridwan
Baca Tulisan Lain

SAJAK Juniarso Ridwan

2/ Penyeberangan yang Tahu Segala Rahasia

Jembatan Panus mengingat langkah
dari zaman pedati hingga ojek online.

Di bawahnya, arsip arwah penumpang
mengalir bersama sungai yang meluah
melihat dunia kekerasan
adalah cara bertahan.

Malam hari, jembatan ini
sering merintih pelan, katanya
bukan karena kematian
tapi orang-orang milih sering
membiarkan luka jadi warisan.

Wajah-wajah asing melintas
tanpa sempat berbalas tatap
seolah mata adalah pintu
yang berbahaya untuk dibuka.

Di atas Jembatan Panus,
terdengar seruput kopi
dari warung kecil
pemuda yang ingin pulang happy
berbekal paket kecil berwarna suram.

Jembatan itu terdiam.
Ia tahu, orang Depok bukan tak ingin bahagia
mereka hanya lupa tuk cara saling percaya.

PUISI Husni Hamisi
Baca Tulisan Lain

PUISI Husni Hamisi

3/ Sumur yang Pernah Menyembuhkan

Di Pancoran Mas, air bukan sekadar air
ia pernah memandikan rindu
dan permohonan.

Ada sumur tua dijaga lumut hijau
airnya mampu memulihkan luka
yang tak terlihat dokter mana pun.

Suatu hari, sumur itu merintih.
Orang-orang datang membawa harapan
dan pulang membawa remah curiga
pada tetangga yang berbeda
cara menyembah.

Air memantulkan wajah yang gusar
sering sibuk memilih sisi
ketimbang memilih belas kasih.

Dan di sebuah sudut gang, seorang bocah
menangis mencari kakaknya
yang tak kembali dari pesta tengah malam
ditelan gelap serbuk yang tak pernah jujur
pada siapa pun.

Sumur itu kini menyimpan sunyi
bukan rahmat atau keramat.
Dan malam merawat luka kota ini
lebih telaten daripada manusia
yang tinggal di dalamnya.

PUISI Ayie S Bukhary
Baca Tulisan Lain

PUISI Ayie S Bukhary

4/ Para Arwah yang Pulang Terlambat

Terminal Depok adalah perut kota:
menelan, memuntahkan, mengulang begitu lagi.

Di antara bus yang menyerah pada suara knalpot
ada arwah para pelajar berseragam putih abu
tersesat antara jadwal sekolah dan pulang.
Mereka berkata, “Jangan jadi kami
belajar bukan sekadar nilai,
mestinya menemukan cahaya
sebelum dunia memadamkanmu.”

Tapi kita sibuk memaki kemacetan
lebih dari memeluk anak sendiri.

Terminal penuh.
Bukan hanya penumpang
tapi juga rencana, kecemasan
dan rindu yang tak pernah diantar.

Pada kursi besi, malam mencatat
betapa mudah kita mencemooh
mimpi yang belum kuat berdiri.

Dan serbuk putih itu
menunggu di tikungan,
seperti iblis berpakaian pendeta.

SAJAK-SAJAK Widi S Kudo
Baca Tulisan Lain

SAJAK-SAJAK Widi S Kudo

5/ Kerajaan Gaib

Di perbatasan sunyi dekat Gunung Putri
ada kerajaan yang hanya terlihat
oleh hati yang tak kelelahan.

Rajanya bermahkota awan hitam
permaisurinya mengenakan doa
setipis embun pagi.

Mereka menjaga Depok
seperti ibu menjaga anak
yang mulai lupa pada rumahnya.

Namun kini kerajaan itu
memproduksi kabut lebih rapat
bukan untuk menyembunyikan diri
melainkan karena risau pada kita
yang sibuk mengukur iman orang
dan lupa merawat jiwa sendiri.

Di lereng itu, desir angin bersuara
“Manusia yang kehilangan empati
lebih menakutkan dari hantu dimana pun itu.”

Dan kita mestinya percaya
suatu hari jika kota ini sembuh
kerajaan akan membuka gerbang
membawa lentera yang hilang

Dari lubuk jiwa & mata hati kita.

-2025

PUISI Rachman Sabur
Baca Tulisan Lain

PUISI Rachman Sabur


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *