Awal Sebuah Cerita: Bukan Sekadar Jatuh Cinta
Setiap anak lahir dari sebuah cerita—sebelum ada tawa, tangis, atau jejak kaki mungil di lantai rumah, semuanya dimulai dari satu hal sederhana, yaitu dua orang jatuh cinta. Terdengar manis, ya? Namun cinta itu tak selalu siap menjadi orang tua. Karena di balik senyum-senyum saat menyiapkan kamar bayi, membeli baju lucu, atau memberi nama yang terdengar penuh harapan, ada satu hal yang sering luput dipikirkan, apakah kita benar-benar siap membesarkan manusia lain, bukan sekadar punya anak?
Banyak dari kita menjadi orang tua karena “sudah waktunya”. Karena umur, tekanan keluarga, semua teman sudah punya anak, ingin memperbaiki masa lalu. Atau karena kita pikir, “kalau punya anak, hidup akan lebih lengkap.” Tidak ada yang salah memang, semua alasan itu manusiawi. Akan tetapi menjadi orang tua bukan soal kesiapan finansial atau kesiapan membeli popok, itu hanya permukaan. Tantangan yang jauh lebih besar sebetulnya adalah, menguji kesiapan batin dan ego kita sendiri. Sanggupkah kita memberikan kehadiran yang utuh ketika anak mulai mengekspresikan jati diri mereka yang sebenarnya?
Sebelum membahas lebih jauh bagaimana cara mendidik anak yang tepat, sebaiknya kita terlebih dahulu melihat kebelakang proses saat menemukan pasangan masing-masing. Tentunya dengan tujuan untuk menyadari berbagai kesalahan yang tanpa sadar dilakukan pada saat itu. Hal tersebut harus dilakukan agar kesalahan yang pernah dilakukan secara tanpa sadar dahulu, kita tularkan kepada anak-anak. Hal tersebut dilakukan agar tumbuh kembang anak tetap terjaga demi menjadi generasi yang bertanggungjawab terhadap diri sendiri maupun lingkungannya.
Kebanyakan dari kita, sejak kecil dibekali bahwa cinta itu sebagai sesuatu yang manis. Dalam dongeng, cinta datang tiba-tiba seperti keajaiban, di mana pangeran tampan menunggang kuda putih, atau putri jelita yang terbangun karena ciuman kasih. Dan, tanpa disadari, imajinasi itu tumbuh dalam kepala kita hingga dewasa. Bahwa cinta itu muncul dari pandangan pertama. Bahwa jatuh cinta itu cukup dengan melihat senyum seseorang, mendengar suaranya, atau menatap matanya dalam-dalam.
Saya pun memiliki pemahaman demikian. Pada awalnya, saya-pun jatuh cinta hanya karena rupa. Wajahnya menarik, caranya berjalan anggun, tutur katanya lembut. Hati saya berdetak kencang. Namun, belakangan saya sadar bahwa ternyata, saya jatuh cinta kepada bayangan yang saya ciptakan sendiri, bukan pada sosok asli di hadapan saya.
Kita sering tertipu oleh tampilan luar. Kita jatuh cinta pada versi ideal seseorang, bukan versi lengkapnya, dengan segala luka, marah, kekhawatiran, dan kebiasaannya yang menyebalkan. Kita tertarik pada kulit yang mulus, tapi tidak menanyakan bagaimana dia menghadapi luka batin. Kita terpikat pada senyuman, tapi tidak peduli dari mana ia belajar tersenyum meski sedang lelah luar biasa.
Saat itu, saya belum tahu bahwa mencintai bukan sekadar menyukai penampilan. Mencintai butuh keberanian untuk melihat sisi gelap, mendengarkan suara-suara yang tak terdengar, dan menerima kejujuran yang kadang tidak nyaman.
Ketika saya dan pasangan memutuskan untuk saling mengenal lebih dalam, barulah cerita sebenarnya dimulai. Kami saling menunjukkan kebiasaan buruk, trauma masa kecil, cara kami menghindar dari konflik, dan kebingungan kami masing-masing terhadap makna “bahagia”. Saat itulah saya paham, bahwa cinta sejati tidak datang dari kesempurnaan. Ia tumbuh justru dari ketidaksempurnaan yang diterima, dipeluk, dan dirawat bersama.
Pernah suatu malam, pasangan saya berkata, “Kalau suatu hari aku tidak secantik ini lagi, apakah kamu masih mau di sampingku?”
Saya jawab dengan jujur, “Saya ingin mencintaimu lebih dari sekadar cantikmu. Tapi saya juga sedang belajar.”
Cinta, bagi saya, ternyata bukan hanya perasaan. Ia adalah keputusan. Keputusan untuk tetap hadir, tetap mendengarkan, tetap bertahan, bahkan ketika rasa itu sendiri mulai redup. Karena dalam hidup yang panjang ini, rasa bisa naik turun, tapi komitmen dan penghargaan terhadap proses bersama, itulah yang membuat kita tetap berjalan beriringan. Bukankah cinta sejati justru teruji saat kita bisa mencintai tanpa syarat?
Peran Masing-Masing dalam Hubungan
Ketika hubungan mulai serius, pelan-pelan kami masuk ke fase yang sering kali lebih pelik daripada fase jatuh cinta, yaitu menentukan peran masing-masing.
Saya dibesarkan di keluarga yang, seperti kebanyakan keluarga Indonesia, masih memegang teguh pola “laki-laki bekerja, perempuan di rumah”. Sementara pasangan saya tumbuh di keluarga yang lebih cair, di mana ayahnya bisa mencuci piring dan ibunya ikut rapat pembangunan desa. Maka ketika kami memutuskan untuk hidup bersama, kami seperti membawa dua peta yang berbeda. Kadang kami nyasar, kadang kami bertabrakan, tapi pada akhirnya kami belajar membuat peta baru, milik kami sendiri.
Peran itu bukan sesuatu yang otomatis. Ia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, tapi oleh kesepakatan dan kesiapan. Awalnya saya berpikir, tugas saya cukup mencari nafkah dan jadi “pelindung”. Akan tetapi kenyataannya, jadi suami bukan hanya tentang mengisi ATM. Saya juga perlu hadir ketika pasangan saya bingung, capek, atau hanya butuh dipeluk tanpa banyak kata. Saya juga harus belajar canggung seperti mengganti popok, memasak nasi, atau membersihkan kamar saat istri saya bangun dengan kepala pening.
Sementara pasangan saya pun tidak otomatis menjadi “istri sempurna”. Ia juga manusia, dengan rasa capek, kejenuhan, dan keresahan yang tidak bisa selalu diungkapkan. Ia bukan mesin pengatur rumah tangga. Maka kami sepakat bahwa, tidak ada “kerja laki-laki” atau “kerja perempuan” di rumah ini, yang ada adalah kerja sama. Apa pun yang bisa dikerjakan, kami kerjakan. Kadang bareng-bareng, kadang bergiliran. Kadang sambil adu argumen dan berantem kecil, kadang sambil saling ledek.
Peran dalam hubungan bukanlah peran panggung yang harus selalu rapi. Justru kadang ia berantakan, berubah-ubah, dan tidak terdefinisi secara kaku. Tegasnya, selama ada rasa saling menghormati, peran-peran itu akan menemukan bentuknya sendiri. Kami belajar untuk tidak membandingkan siapa yang lebih lelah, siapa yang lebih banyak berkorban. Karena dalam rumah ini, lelahmu adalah lelahku juga.
Saya percaya, anak-anak kami nanti, tidak hanya belajar dari kata-kata apa yang kita ucapkan. Melainkan belajar dari cara kita menjalani hidup. Ketika mereka melihat ayahnya menyapu lantai tanpa gengsi, dan ibunya membaca buku sambil minum teh, mereka belajar tentang kesetaraan. Ketika mereka melihat kami duduk dan menyelesaikan konflik tanpa teriak-teriak, mereka belajar tentang dialog. Dan ketika mereka melihat kami saling meminta maaf, mereka belajar bahwa manusia itu tidak harus selalu benar, tapi harus selalu bersedia tumbuh. (jbp 23/06/2026)









