Malam Kontemplasi di Rancakalong
SUMEDANG, 10 JUNI 2026 | Malam telah larut di kawasan Rancakalong, Sumedang. Udara dingin pegunungan perlahan turun, menyelimuti pekarangan rumah Dr. Rony Hidayat Sutisna yang membentang luas. Di sinilah, di bawah langit malam yang bersih, riuh rendah dunia akademis seolah melebur dengan kesunyian alam. Di salah satu sudut pekarangan, Kang Rony tampak sedang duduk santai di atas sebuah bangku bambu—sebuah kursi panjang hasil kerajinan anyaman khas Sunda yang kokoh tapi tetap membumi. Di atas meja bambu di sampingnya, mengepul asap tipis dari secangkir kopi hitam hangat. Aromanya yang kuat beradu dengan wangi bako, tanah basah sisa jejak hujan dan dedaunan malam, hingga menciptakan ketenangan yang magis.
Pekarangan luas ini bukan sekadar halaman biasa, melainkan sebuah ekosistem kecil yang hidup sebagai rumah bagi budidaya berbagai ragam jenis lebah madu (meliponikulturi). Di kegelapan malam, siluet pohon beri yang rimbun berdiri anggun di sudut halaman. Berjejer pula stup-stup (kotak sarang) tempat bernaung lebah teuweul (lebah tanpa sengat) yang menghasilkan madu berkhasiat tinggi, hingga jenis lebah yang super kecil seukuran semut hitam bersayap yang unik.
Saat angin malam berembus perlahan, menggoyang ranting pohon beri, sianci, murbai, ragam pohon bunga dan Panama—menyisakan suara gemerisik yang lembut, Kang Rony menyeruput kopinya perlahan. Di atas bangku bambu itu yang tanpa sadar—sekali lagi—ditemani eksotisme peternakan lebah dan malam Rancakalong yang magis, ditambah lagi dengan konsep-konsep filosofis tentang buku KALA CAKRA dan kesadaran terhadap semesta tampaknya lahir dari ruang-ruang kontemplasi seperti ini. Gusti, leres-leres matak waas… sebuah potret kedamaian sejati di mana manusia, tradisi, dan alam hidup berdampingan dalam satu frekuensi yang sunyi, sekaligus sarat makna.
Kedatangan saya malam itu ke rumah Kang Rony sebenarnya didasari rasa penasaran yang besar. Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, bagaimana mungkin sebuah naskah kuno nusantara bisa diteliti dengan begitu tekun selama lima tahun penuh? Sambil membetulkan posisi duduk di bangku bambu dan menikmati kehangatan kopi dan bako linting khas Rancakalong, saya pun mulai membuka obrolan mengenai BUKU KALA CAKRA yang diterbitkan oleh Penerbit Ceria Space Projek, pada tahun 2026.
“Sebenarnya untuk siapa buku KALA CAKRA ini ditulis, Kang? Dan apa target utamanya?” tanya saya membuka obrolan malam itu.
Kang Rony tersenyum, menggeser sedikit cangkir kopinya lalu menjawab, “Buku ini bukanlah sebuah rujukan dan tidak ditujukan untuk kalangan tertentu, tapi saya berharap ada sebuah nilai yang bisa diambil dari isi yang tercurahkan berdasarkan kajian dan analisis sederhana yang dilaksanakan hampir selama lima tahun penelusuran data tentang KALA CAKRA ini. Sebagai akademisi di bidang kajian budaya, saya pribadi merasa punya tanggung jawab moral untuk tidak sekadar melihat objek ini dari teori di atas meja, melainkan terjun langsung ke lapangan. Dengan segala kerendahan hati tanpa niat menggurui ataupun memperbandingkan antara BENAR dan SALAH atau BAIK dan BURUK, saya mencoba mengkaji salah satu warisan leluhur Bangsa Nusa-Antara ini dengan tujuan mengadopsi pengetahuan lama yang sangat bernilai bagi saya pribadi sebagai pedoman agar senantiasa berlaku SADAR terhadap SEMESTA. Langkah ini penting agar pengetahuan luhur kita tidak hanya mandek menjadi pajangan sejarah.”
Suasana pekarangan terasa kian hening, hanya terdengar sayup gemerisik dedaunan dari ragam pohonan yang tertiup angin malam. Saya kembali melirik catatan saya. “Lalu, apa yang sebenarnya ingin Akang selamatkan lewat pendokumentasian buku ini?” sela saya sambil menyimak.
“Saya mencoba mendokumentasikan keseluruhan data yang berupa manuskrip dan artefak beserta isi pengetahuannya sebagai upaya pelestarian nilai-nilai budaya yang tentu saja dapat dijadikan objek sebagai bahan penelitian, bahan kajian, serta bahan renungan untuk saya sendiri. Lebih jauhnya mungkin dapat dimanfaatkan oleh khalayak umum, baik oleh kalangan peneliti, kalangan akademisi, lembaga atau pemerintahan, serta masyarakat secara umum agar kita punya dokumen literasi Nusantara yang memang valid dan bisa dipertanggungjawabkan. Selama kurang lebih lima tahun, saya menelusuri dan mengumpulkan data-data melalui observasi, wawancara, dan studi terhadap dokumen kuno berupa manuskrip, serta melakukan telaah pada artefak-artefak pendukungnya. Dalam proses panjang ini, pendekatan kualitatif dan ilmu etnopedagogi sengaja saya gunakan sebagai pisau analisis agar data yang didapat tetap otentik. Proses observasi dilakukan bersama-sama dengan pemegang warisan manuskrip beserta pengetahuan di dalamnya. Selama itulah, saya melakukan wawancara untuk menggali data-data serta penjelasan dari pengetahuan yang terdapat pada manuskrip ini.”
Dari kejauhan, stup-stup lebah teuweul yang berjejer rapi tampak samar di bawah temaram lampu pekarangan. Saya teringat akan seluk-beluk data yang sangat spesifik dalam buku ini. “Siapakah sosok kunci di balik data manuskrip ini. Bisa diceritakan, Kang?” tanya saya lagi.
Mata Kang Rony berbinar penuh rasa hormat saat menyebut nama narasumbernya. “R. Ahmad Jaelani, adalah orang yang diwarisi manuskrip beserta pengetahuannya dari orang tua serta gurunya yang menjadi tonggak estafet generasi ke generasi dari para nenek moyangnya. Kehadiran beliau di sini bukan sekadar pelengkap, tapi sebagai narasumber kunci yang memberi ruh, kedalaman, sekaligus bukti validitas pada isi buku ini. Bersama beliaulah saya merancang pembukuan pengetahuan yang dimilikinya dengan tujuan membuat pendokumentasian supaya pengetahuan ini dapat diwariskan ke generasi KALA CAKRA berikutnya. Setidaknya buku ini dapat menjadi sebuah tempat atau lahan dalam upaya menyelamatkan pengetahuan warisan dari leluhur bangsa Sunda, agar tidak hilang digerus oleh zaman.”
Malam semakin larut dan kopi di cangkir kami mulai mendingin. Sebelum mengakhiri kunjungan di Rancakalong yang penuh arti ini, saya mengajukan satu pertanyaan pemungkas. “Menarik sekali, Kang. Ada pesan khusus atau catatan penting dari Akang bagi pembaca saat membedah keilmuan masa lalu ini?”
Beliau menarik napas dalam-dalam, menatap langit malam Rancakalong sejenak, lalu memberikan catatan filosofisnya yang sangat mendalam. “ya, tentu saja ada satu catatan bahwa ketika kita mengkaji keilmuan lama, maka keilmuan kita harus menyebrang dulu ke masa lampau. Tidak bisa dikaji sepenuhnya oleh keilmuan sekarang. Bisa jadi keilmuan sekarang hanya sebagai pembanding. Sejatinya ilmu itu perlu yang namanya pembanding. Buku pertama tentang KALA CAKRA ini hanya sebatas pengenalan yang memungkinkan banyak hal untuk diperbaiki dan jauh dari sebuah karya buku yang bermutu, dan hanya pengenalan dasarnya dulu. Untuk pembahasan lebih terperincinya, direncanakan dalam penyusunan buku-buku selanjutnya dalam masing-masing tema bab. Saya menyadari berbagai kelemahan serta keterbatasan keilmuan yang saya miliki, dan tanpa mengurangi rasa hormat pada setiap pembaca, saya mengharapkan perbaikan, kritikan, dan koreksinya.”
Sambil mangut-mangut mendengarkan paparan penutupnya, ingatan saya melayang pada rekam jejak pria yang lahir di Sumedang pada 6 Agustus 1982 ini. Pertemuan malam ini kian menegaskan mengapa ia begitu gigih melakukan riset ini. Sebagai lulusan S3 Prodi Sastra Peminatan Kajian Budaya FIB UNPAD tahun 2021, fokus disertasi dan penelitian yang ditekuni Kang Rony memang konsisten berada di jalur kebudayaan lokal serta penyelamatan tradisi. Tidak mengherankan jika kesehariannya sebagai Dosen di Universitas Sebelas April dihabiskan untuk mengampu mata kuliah yang sarat akar budaya seperti Etnopedagogi, Seni Budaya, Budaya Sunda, dan Pendidikan Seni.

“Riset mandiri lima tahun untuk buku pertama ini adalah wujud nyata kegelisahan akademis sekaligus kecintaan Akang pada tanah leluhur, ya?” ujar saya memecah keheningan yang sempat merayap kembali.
Kang Rony mengangguk pelan. Di sela-sela kesibukannya mengajar, saya tahu ia memang sangat aktif dalam Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di bidang pelestarian budaya dan lingkungan, bahkan sering menjadi narasumber di berbagai kegiatan berbasis budaya. Langkah nyata ini menjadi jembatan kokoh yang menghubungkan teori akademis dengan realita kearifan lokal di masyarakat. Salah satu gebrakan nyatanya yang konsisten beliau rawat adalah Kemah Budaya yang dilaksanakan di Gedung Geo Theater, sebuah agenda yang sudah menjadi kegiatan rutin semenjak tahun 2021. Pengakuan atas dedikasinya pun bukan main-main, beberapa penghargaan telah didapatkan, di antaranya penghargaan dari Gubernur dalam bidang pelestarian olahraga panahan tradisional.
“Buku ini adalah buku pertama yang berbasis filosofi tentang pengetahuan lokal Sunda yang disusun berdasarkan penelitian mandiri selama kurang lebih 5 tahun,” tambah Kang Rony, memecah lamunan saya tentang dedikasinya. “Rencana ke depan, tulisan-tulisan di buku ini akan dikembangkan ke dalam bentuk jurnal ilmiah nasional maupun internasional, serta pengembangan ke buku-buku selanjutnya dengan basis pengetahuan yang sama sebagai bukti komitmen jangka panjang dalam merawat warisan leluhur.”
Angin malam Rancakalong kembali berembus membawa aroma wangi bako linting dan kopi khas Rancakalong yang kian menipis di dasar cangkir. Namun, obrolan kontemplatif di bangku bambu ini menyisakan satu keyakinan di kepala saya: lewat Kala Cakra, Kang Rony tidak sedang sekadar merilis sebuah buku baru, melainkan sedang mematok sebuah prasasti literasi agar peradaban masa lalu nusantara kembali menemukan denyut nadinya di masa depan. []









