Pandangan tentang Muslihat pada Buku “Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda” di Instagram

Pandangan tentang Muslihat pada Buku Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda di Instagram

Perdebatan mengenai sejarah hari jadi Tatar Sunda sesungguhnya bukan sekadar soal tanggal, naskah, atau legitimasi akademik. Karena di baliknya, terdapat pertarungan tafsir tentang identitas, memori kolektif, dan arah kebudayaan masyarakat Sunda hari ini. Ketika muncul sebuah dugaan “muslihat” dalam narasi sejarah, masyarakat perlu melihatnya dengan kepala dingin dan kesadaran kritis. Sebab sejarah tidak selalu hadir sebagai ruang netral; ia sering dipengaruhi kepentingan politik, kekuasaan, pencitraan budaya, bahkan kebutuhan legitimasi zaman tertentu. Namun, penting dibedakan antara: kesalahan penafsiran sejarah, rekonstruksi akademik, dan manipulasi yang disengaja.

Jika kritik terhadap buku “Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda” muncul, maka kritik itu sebaiknya diarahkan sebagai upaya menjaga kejernihan sejarah, dan bukan untuk memecah masyarakat Sunda sendiri. Budaya Sunda sejak lama memiliki tradisi intelektual yang halus namun tajam: adu gagasan tanpa kehilangan adab. Masalah terbesar pada hari ini bukan hanya kemungkinan distorsi sejarah, melainkan rendahnya tradisi literasi masyarakat terhadap sumber-sumber sejarah Sunda. Akibatnya, masyarakat mudah menerima narasi simbolik tanpa proses kaji ulang yang mendalam.

Padahal Tatar Sunda memiliki warisan sejarah yang sangat luas: dari kerajaan-kerajaan Sunda kuno, tradisi naskah, kearifan agraris, hingga filosofi hidup masyarakat adat. Karena itu, momentum peringatan hari jadi Tatar Sunda semestinya menjadi ruang pembangkitan kesadaran budaya dan intelektual, bukan sekadar seremoni identitas. Sejarah yang sehat itu bukan sejarah yang dipaksakan menjadi suci dan tak boleh dipertanyakan. Justru sejarah yang hidup adalah sejarah yang terbuka diuji, ditelaah, dan dikaji ulang dengan jujur.

Sebab pada akhirnya, yang paling sangat penting itu bukan hanya “kapan Tatar Sunda lahir,” tetapi: apakah nilai-nilai Sunda masih hidup dalam perilaku masyarakatnya hari ini. Ketika silih asih hilang, silih asah melemah, dan silih asuh ditinggalkan, maka peringatan sejarah hanya tinggal seremoni tanpa ruh. Budaya akan tetap hidup bukan karena slogan, melainkan karena diwariskan dalam kesadaran, laku hidup, dan keberanian menjaga kebenaran sejarahnya sendiri.

Kesan dan pesan tentang hari lahirnya Tatar Sunda, acara ini kesan nya diperkuat oleh KDM Sebagai Gubernur Jawa Barat—ada kesan mengangkat spirit kembali Tatar Pasundan yang telah lama energi budaya lokalnya dilupakan masyarakat nusantara.

Hari lahir Tatar Sunda dalam suasana hari ini itu memang terasa bukan sekadar seremonial budaya, tetapi seperti upaya membangunkan kembali ingatan kolektif masyarakat Pasundan. Ada kesan kuat bahwa acara tersebut ingin menghidupkan kembali ruh Sunda sebagai peradaban—bukan hanya identitas etnis, tetapi nilai hidup yang berakar pada harmoni, tata krama, gotong royong, keselarasan dengan alam, dan martabat manusia.

Kehadiran Dedi Mulyadi (KDM) memperkuat simbol kebangkitan itu. Banyak masyarakat melihat bahwa pendekatan beliau bukan hanya administratif sebagai gubernur, tetapi juga kultural: mencoba menghadirkan kembali narasi tentang Tatar Pasundan yang selama bertahun-tahun terasa tenggelam oleh arus modernisasi, industrialisasi, dan budaya instan perkotaan.

Ada beberapa kesan yang terasa kuat dari momentum tersebut:

  • Sunda tidak ingin hanya dikenang sebagai folklor atau hiburan panggung, tetapi sebagai sumber nilai hidup masyarakat.
  • Budaya lokal ditempatkan kembali sebagai fondasi moral dan sosial, bukan sekadar ornamen wisata.
  • Ada upaya menghubungkan kembali masyarakat dengan akar tradisi: lemah cai, leuweung, seni, bahasa, tata hormat, dan spiritualitas hidup Sunda.
  • Acara itu seperti mengirim pesan bahwa modernitas tidak harus memutus hubungan dengan leluhur.

Di tengah Nusantara yang semakin seragam oleh budaya global, kebangkitan spirit Tatar Pasundan memberi kesan bahwa identitas lokal masih memiliki daya hidup. Bukan untuk menjadi eksklusif atau primordial, tetapi untuk mengingatkan bahwa Indonesia dibangun dari kekuatan kebudayaan daerah yang hidup.

Pesan yang terasa muncul dari peringatan itu adalah: “Budaya bukan benda masa lalu. Ia adalah energi hidup masyarakat. Ketika budaya lokal dilupakan, masyarakat kehilangan akar batin dan arah peradaban.” Tatar Sunda sendiri sejak lama memiliki filosofi yang sangat relevan untuk masa kini: silih asih, silih asah, silih asuh — saling mengasihi, saling mencerdaskan, dan saling menjaga. Nilai seperti ini justru terasa penting di tengah masyarakat modern yang makin individualistik.

Ada pula kesan bahwa kebangkitan budaya Sunda hari ini bukan nostalgia romantik semata, tetapi usaha mencari keseimbangan baru: antara tradisi dan modernitas, antara pembangunan dan kelestarian alam, antara kemajuan ekonomi dan ketenteraman sosial. Karena itu, peringatan hari lahir Tatar Sunda menjadi lebih bermakna ketika ia tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi gerakan kesadaran budaya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Barat dan Nusantara.

Sekian Terimakasih
Salam Kebajikan: Budaya Lokal Jati Diri Bangsa
Pun Tabe Rahayu Jaya Waluya SapapanjangNa

Bandung, 24.Mei.2026

Dody Satya Ekagustdiman

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *