RACUN PUJIAN

Racun Pujian opini Bambang Subarnas

fKDM (Bapak Aing) dan warga JABAR. Foto, tangkapan layar oleh Bambang Subarnas. olah design AI.

Akhirnya saya hanya bisa menyaksikan acara “Kirab Napak Tilas Pajajaran – Mahkota Ajeg Ki Sunda” dari live streaming youtube akun humas Jabar di layar hape, karena sedang dalam perjalanan dari luar kota. Acara ini merupakan puncak dari “Kirab Napak Tilas Pajajaran” dengan membawa mahkota Binokasih dari tempat penyimpanannya di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang, berkeliling ke Kabupaten/Kota Jawa Barat. Ihwal sejarah mahkota Binokasih, silakan anda googling sendiri. Puncak acara tadi malam (16 Mei 2026, mulai pukul 20.00) menampilkan ragam kesenian dari seluruh kabupaten kota di Jawa Barat.

Masyarakat tumpah-ruah sepanjang jalan menyambut kirab yang dimulai dari Kiara Arta Park di Kiaracondong hingga di halaman Kantor Gubernur. Puncak acara berupa helaran dimana setiap Kabupaten/Kota menampilkan kamonesannya didepan tribun utama. Para penampil mendapatkan saweran dari pak Gubernur KDM (kang Dedi Mulyadi), sebagai salah satu bentuk apresiasi beliau kepada para penampil. Uang merah bertaburan membuat para penampil kian bergairah. Seluruh rangkaian kegiatan kirab itu dinyatakan sebagai simbol kebangkitan Ki Sunda.

Saya ikuti seluruh rangkaian acara. Ada moment yang membuat saya terhenyak, yaitu ketika pak Gubernur masuk ke arena pertunjukan silat dari Kabupaten Garut yang tengah berarak memutar, seperti mosh pit pada pertunjukan musik metal. Tiba-tiba tubuh pak Gubernur diangkat kemudian di lempar ke atas. Puluhan pasang tangan teracung ke atas seperti tarian kecak dan siap melempar kembali ke atas. Terompet dan kendang penca berhentak dalam irama padungdung. Terdengar penonton bersorak penuh euforia.

Sejujurnya, saya terdiam menyaksikan adegan itu, bukan karena ada tubuh yang terlempar, tetapi adegan itu saya rasakan sebagai simbol dari puncak penerimaan luar biasa masyarakat bawah terhadap pak Gubernur. Gaya pak Gubernur yang merakyat, gaya komunikasi yang tanpa jarak, peduli kepada kaum papa, serta hasil kerja nyata yang dirasakan, telah menuai banyak pujian. “Bapa Aing” sebagai brand kepemimpinan pak Gubernur, nyata diakui bahwa Gubernur adalah bapa aing (Sunda: bapak ku). Pujian terhadap kinerja Gubernur Jabar bukan hanya datang dari warga Jawa barat, tetapi juga dari beberapa warga provinsi lain.

Ya, pujian. Di medsos, nyaris tanpa kritik, walau terdengar satu, dua tapi luluh oleh kerja-kerja terpujinya. Keterdiaman saya pada moment itu justru karena saya menangkap sisi sebaliknya yang bisa lebih mengerikan, yaitu keterlenaan. Pujian bisa berubah seperti ectasy yang melenakan dan memabukkan, membuat gerak langkah orang bisa limbung tak terkontrol. Sama seperti kerja algoritma, yang bisa mengarahkan berpikir pada satu hal secara terus menerus hingga kita kehilangan perspektif yag lebih luas. Dalam kondisi seperti itu, pujian bukan lagi sebagai bentuk apresiasi, tetapi secara pelahan bisa berubah menjadi racun yang mematikan tanpa disadari. Saya berharap itu tidak terjadi. Maka yang diperlukan adalah penawar racun yaitu kontrol penyeimbang. KDM perlu partner yang bisa diajak sparing, bukan hanya tepuk tangan dan pujian yang melenakan.

Salam, 17/05/2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *