Sang Pahlawan Revolusi di Bawah Sarung

Sang Pahlawan Revolusi di Bawah Sarung

Indonesia adalah negeri yang luar biasa subur, bukan hanya untuk padi dan palawija, tetapi juga untuk segala urusan yang berkaitan dengan kejantanan pria. Dari ujung barat hingga ujung timur, bumi nusantara ini seperti tidak pernah kehilangan stok ramuan, mitos, hingga metode yang menjanjikan keperkasaan; mulai dari pasak bumi di Kalimantan, purwaceng di Dieng, minyak lintah di Papua, tangkur buaya, hingga telur bebek campur madu yang rutin disajikan oleh warung-warung jamu pinggir jalan di saban malam. Kita adalah bangsa yang secara kultural sangat terobsesi dengan simbol keperkasaan, tempat di mana harga diri seorang lelaki diukur dari apa yang tersembunyi di sebalik helai kain mereka. Di tengah riuhnya pasar malam industry kejantanan inilah, muncul satu nama legendaris yang tidak sekadar menawarkan jamu atau suplemen instan, melainkan sebuah metode radikal yang kelak mengubah peta kepercayaan diri lelaki Indonesia secara massal.

Bicara soal pahlawan, sejarah kita sering kali terlupakan pada mereka yang mengankat senjata atau berdarah-darah di medan perang. Namun, dalam urusan “medan perang” di atas ranjang, ada satu nama legendaris yang jasanya melampaui batas generasi dan kelas sosial. Beliau adalah Mak Erot. Lahir di Cigadog, Caringin, Cisolok, Sukabumi pada tahun 1878 dan wafat dalam usia legendaris—konon mencapai usia lebih dari 130 tahun—pada tanggal 5 Juli tahun 2008, Mak Erot adalah sosok yang mempelopori “revolusi” kepercayaan dari kaum pria Indonesia hingga namanya mendunia dan konon sering di undang ke luar negeri untuk praktik refleksi. Dari jejaknya yang jelas itu, sudah saatnya kita melihat Mak Erot bukan sekadar sebagai dukun pijat tradisional, melainkan sebagai seorang pahlawan revolusi alat vital yang kini mulai terlupakan.

Masyarakat Sunda mengenal istilah cawokah—sebuah gaya bicara yang blak-blakan, menembus batas tabu seputar seksualitas, tetapi disampaikan dengan humor yang jujur, segar, dan tanpa pretensi jorok. Mak Erot adalah personifikasi nyata dari semangat cawokah ini. Di tengah masyarakat yang sering kali hipokrit—malu-malu tapi mau jika bicara soal ukuran alat vital—Mak Erot hadir membawa solusi konkret lewat pijatan, doa, dan ramuan herbalnya. Beliau memecah ketakutan terbesar kaum pria dan harapan terpendam kaum wanita dengan keahlian yang diakui seantero negeri. Ketika sains modern belum sepopuler sekarang dalam urusan urologi kosmetik, Mak Erot sudah menjadi “pusat restorasi” harga diri lelaki.

Andai saja Mak Erot hidup di zaman Kekaisaran Romawi kuno, tepatnya di era Kaisar Caligula yang terkenal gila urusan ranjang dan pesta pora itu, sejarah dunia pasti akan ditulis ulang. Kata kang Abi Gehel sambil membetulkan posisi sarungnya, “lamun si Caligula panggih jeung Mak Erot, moal aya carita Roma runtuh gara-gara perang. Nu aya mah urang Roma rarebah rorompokna sabab ‘pakarangna’ maranjang teuing meunang ngurut ti Cigadog! Rek kumaha perang, Caligula ge geus sibuk ngagilir selir-srlirna bari pamer ukuran anyar!” Celetukan cawokah ala kang Abi Gehel ini sebenarnya tamparan jujur: urusan ukuran dan vitalitas itu bukan sekadar obrolan warung kopi, melainkan penggerak peradaban, penentu perdamainan dalam rumah tangga, bahkan mungkin sejarah dunia.

Seberapa besar dampak revolusi Mak Erot? Lihat saja bagaimana namanya menggetarkan kebudayaan popular kita. Beliau bukan sekadar praktisi, tapi sudah menjadi ikon budaya (pop icon). Di dunia literasi, nama besar Mak Erot menginspirasi Moammar Emka untuk menulis Ade Ape Dengan Mak Erot, sebuah potret sosial bagaimana masyarakat urban memandang seksualitas. Bahkan, fenomena ini melahirkan novel satire berjudul Big Size karya Akoer, yang memotret obsesi pria terhadap ukuran tubuh bagian bawah mereka. Industri film kita pun tidak mau ketinggalan. Film komedi XL, Antara Aku, Kau dan Mak Erot memparodikan sosoknya lewat larakter “Mak Siat”. Ini adalah bukti bahwa Mak Erot telah menembus alam bawah sadar koletif bangsa ini sebagai simbol vitalitas.

Ironisnya, setelah beliau berpulang pada tahun 2008, warisan Mak Erot mengalami nasib yang serupa dengan beberapa pahlawan kita: namanya dicatut di mana-mana demi keuntungan komersial, sementara esensi dan sejarah aslinya perlahan kabur. Di pinggir-pinggir jalan kota besar, kita kerap melihat plang kumal bertuliskan “Cucu Asli Mak Erot”. Yang entah benar-benar cucunya atau sekadar taktik pemasaran modal nekat, toh banyak sudah kita membaca beberapa kasus yang dilaporkan baik oleh pihak keluarga asli pun oleh pasiennya yang merasa tertipu. Sementara Mak Erot yang asli adalah bagian dari sejarah pengobatan etnomedisin Indonesia. Beliau menciptakan sebuah “revolusi” di mana urusan ukuran fisik tidak lagi menjadi kutukan yang harus disembunyikan dalam sunyi, melainkan sesuatu yang bisa diikhtiarkan—lewat tradisi, pijatan, dan tentu saja, sedikit selera humor cawokah yang membuat hidup lebih hidup. Sudah sepatutnya kita mengenang Mak Erot bukan dengan bisik-bisik mesum di pojokan, melainkan sebagai maestro budaya yang dengan caranya sendiri, telah menyelamatkan ribuan rumah tangga dari krisis percaya diri. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *