ARSITEKTUR PUING

puing arsitektur posa ismaya lintang com.kosapoin

Kembali aku membacamu dari jarak terdekat. Ada yang tetap melekat meski tak bisa erat. Ruang itu tetap ada dan tersimpan di sebalik dadamu. Catatan-catatan silam di masa belia: kenangan, dan harapan yang dikuburkan itu cerminan setia dari irisan waktu hidupmu, yang lebih indah dari semua kenyataan. Gulita yang membatu itu penuh dengan notasi indah yang tak terhingga. Masih kuingat benar jerit dan tangismu di kamar itu kala surgamu menutup rapat celah dan mengunci langkahmu dari seorang lelaki pendosa yang dirajam sunyi.

Di antara pahit lidah dan rimba gigantik terjamah, tinggal gigil dan gerimis, kala hari begitu sopan dalam pelan—melipat mendusinmu. Adakah kau tahu tentang dirinya pasca senyap, sementara kau ayunkan lengan dalam biru di pelaminan melati itu. Wahai Yang Maha Hidup, pengadilan apakah yang sesungguhnya tengah Engkau pertontonkan padaku, mengapa pula aku harus menjadi saksi dalam alur asmara mereka? Bagaimana tidak; alangkah senyap kepasrahan dari dua insan itu, seperti dua bulir embun yang susul-menyusul di pagi hari, kala menetes perlahan dari duri berbunga.

Sekali lagi, di hari ini pasca dua dekade lebih aku tak pernah bertemu dengan keduanya, tapi kini kembali aku membaca mereka dari jarak terdekat. Kembali aku membaca dingin pada tahun-tahun yang terlupakan dari dua hati yang lirih kembali berdentang. Meski kehampaan nampak membatu pada detik-detik sunyi dari dua ruh, tapi aku melihat dengan tegas bunga-bunga mendadak ligar di wajah mereka, laju saling menyesap wangi, seterusnya bertukar tempat di kalbu yang sama-sama patah. Lengan-lengan mereka seolah bercahaya dari damai menyirna, dan meski tanpa suara—dua kepala itu saling mendedah kisah dari masa silam dan masa kini bagai sengat.

Sekali dan sekali lagi; akulah si pengembara yang kembali menjadi saksi berat dari dua pasang kelopak mata yang sama-sama memancarkan muram, kembali menyeruak seperti mentari pagi yang menyibak gelap. Panorama yang membara, tangga-tangga berlumut dan kesenyapan merdu dari hijau. Gemerisik gaun perempuan itu membuatnya sekaku pilar dan di benaknya bangkit bayang silam kala itu ia baru saja tiba dari kota kembara, perempuan itu menjemputnya dengan payung merah jambu—malam hari di bawah curah hujan—mereka berjalan bergandengan tangan. 

Dari lubuk mata yang paham: Hujan semalam menyegarkan tanah, sementara sepasang kutub rindu saling dekap dalam hangat yang terdedah. Waktu melesat: mereka telah memulung setiap remah napas untuk membangun atap, tepat sebelum seluruh liang nyawa itu dipasak mati secara paksa. September yang dingin menulis-kitabkan catatan kelam dari rudapaksa sang surga—memancung tali kasih tepat di pangkalnya. Langkah patah. Batinnya ceruk lembap; tempat masa lalu membusuk gerimis. Menetes pelan, mengikir waras hingga tandas. Detik membatu. Kenangan hanyalah nisan tanpa nama bagi harapan yang mampus dini.

Dalam jejak dua nestapa, rasa sakit yang tak tertahankan itu kini hanya sekadar alur kenang. Meski tak bisa kembali erat dalam kalang saling mengikat, tapi ruang itu tetap ada dan tersimpan di sebalik dada. Dan gambar-gambar rindu-biru itu dalam cerminan hati tak bisa dikebiri dari irisan waktu hidup. Enigma segala jalan bermuara dari yang tersia dan yang tetap menjadi rahasia. Langkah-langkah itu sering kali hanyala gema dari kesempatan yang dibuang—membangun rute di atas puing-puing rencana yang gagal. Mereka tidak pernah benar-benar sampai; mereka hanya belajar berdamai dengan tanya yang tak kunjung menemukan jawabannya. [2022]

PAGI MEREVISI PAGI
Baca Tulisan Lain

PAGI MEREVISI PAGI


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *