Esai Sebagai Jalan Tengah dalam Solusi Jernih

Esai sebagai jalan tengah

Mengamati perkembangan zaman yang kian rentan dengan arus globalisasi di segala sektor, kita mendapati sebuah realitas pahit bahwa ketahanan mental bangsa sedang diuji oleh informasi yang serba instan. Ada banyak hal yang harus dibenahi dalam dunia sastra, utamanya di lingkungan sekolah, sebagai benteng terakhir pertahanan karakter. Sebagai seorang pengajar yang saban hari berada di lingkungan sekolah sejak lulus kuliah pada tahun 2004 sampai kini, saya menyaksikan langsung pergeseran perilaku literasi tersebut secara nyata. Berdasarkan pengamatan saya selama dua dasawarsa, baik di lingkungan sekolah sendiri maupun sekolah lainnya, grafik penurunan kepekaan siswa terhadap realitas sekitar menunjukkan pola yang cenderung serupa. Sekolah tidak hanya berperan sebagai mesin pencetak prestasi numerik, melainkan laboratorium kemanusiaan dengan sastra sebagai katalisatornya. Salah satunya dengan cara diadakannya lomba menulis essai di tiap lingkungan sekolah, dengan tema-tema sederhana, tetapi tetap memiliki kedalaman makna. Misalkan, menulis tentang lingkungan sekolahnya, baik menyoroti prihal perpustakaan yang mungkin berdebu, kantin yang menjadi ruang interaksi sosial, fasilitas di ruang belajar yang bisa sajah ada yang sudah tak layak pakai, hingga aktifitas ekstra kulikuler yang membentuk kedisiplinan. Hal ini menjadi penting ketika seorang siswa dilatih memindahkan amatan visualnya ke dalam bentuk narasi, di sanalah proses identifikasi masalah dimulai secara sistematis.

Sebagaimana data empiris yang saya temukan di lapangan kian mempertegas bahwa menulis esai bukan sekadar aktivitas merangkai kata, melainkan sebuah proses “uji nyali: intelektual yang melatih kejujuran. Berdasarkan Buku Sekolah Elektronik Bahasa Indonesia Kelas 12 Kemendikbud, esai adalah sebuah karya tulis yang membahas suatu hal dari sudut pendang penulisnya. Istilah ‘esai’ sendiri berasal dari bahasa Prancis, ‘essayer’, yang berarti ‘mencoba’ atau ‘menguji’. Oleh karena itu, kala menulis esai, penulis seolah ‘mencoba’ untuk mengeksplorasi suatu ide atau gagasan dan ‘menguji’ pemahaman pembaca tentang topik tersebut. Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan esai sebagai sebuah tulisan prosa yang memberikan pandangan singkat tentang suatu isi dan perspektif pribadi penulis. Secara garis besar, esai menyampaikan informasi, gagasan, argument, serta ekspresi emosi penulis tentang subjek tertentu. Musabab itulah, berdasar hemat saya, esai adalah ruang bagi siswa untuk memanusiakan kembali pikiran mereka di tengah gempuran teknologi yang sering kali menumpulkan empati.

Ditambah lagi dalam menghadapi tantangan hidup di masa depan, ketika mereka lulus dari sekolah baik melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi maupun menghadapi dunia kerja. Persaingan global tidak hanya membutuhkan otot atau izasah, melainkan kemampuan menganalisa situasi yang rumit. Pengalaman saya mendampingi siswa selama lebih dari dua dekade membuktikan bahwa mereka terbiasa menulis memiliki pondasi mental yang jauh lebih kokokh dalam mengambil keputusan. Sikap respek pada lingkungan inilah yang menjadi latihan dasar dalam menghadapi realita yang ada. Tegasnya, tulisan esai melatih mereka untuk tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan, melainkan menjadi aktor yang mampu memberikan catatan kritis. Esai memberikan kebebasan dalam memilih topik dan tema. Tanpa Batasan dalam satu bidang tertentu. Penulis bisa mengeksplorasi berbagai fenomena memalui perspektif pribadi, mulai dari isu perubahan iklim hingga tren mode terkini yang tengah digandrungi. Sebab bagaimana pun dunia sastra selalu punya kontribusi besar dalam pengembangan kecerdasan sekaligus menjadi sensor sosial yang nyata. Disamping itu, sastra mampu memberikan kelembutan hati yang tidak diajarkan dalam rumus matematika sehingga kecerdasan yang dihasilkan adalah kecerdasan yang memilik empati.

Jika berbicara paradigma tentu saja hal ini semakin menegaskan bahwa dunia tidak bisa lepas dari wacana. Sebab dunia ini digerakkan oleh ide-ide yang tertulis dan terdokumentasi dengan baik. Dengan wacana, maka hal-hal yang sifatnya sensitif dapat terselesaikan melalui rumusan-rumusan atau gagasan yang lahir dari jejak baca di lingkungan sekitarnya. Sering kali esai berfungsi sebagai alat untuk merangsang debat atau diskusi yang sehat di antara pembaca. Berdasarkan definisi tersebut, esai pada dasarnya bersifat personal dan sangat bergantung pada perspektif penulis.

Katakanlah, sering kali konflik horizontal muncul karena kita kekurangan diksi dan narasi untuk menjelaskan keinginan kita dengan cara yang elegan. Selama ini jika kita mengamati perihal kolusi, korupsi dan nepotisme, hal itu terjadi karena rendahnya aksi dan reaksi di lingkungan sekitarnya. Korupsi tumbuh subur dalam diamnya masyarakat. Ketika masyarakat kehilangan kemampuan menuliskan keberatannya, ketidakadilan akan dianggap sebagai kewajaran. Melalui esai, siswa belajar untuk menyuarakan ketidakberesan sekecil apa pun di hadapan mereka secara intelektual. Sebagaimana John F. Kennedy berkata: “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya”. Kutipan ini bukanlah sekadar pemanis pidato, melainkan sebuah mandat bagi dunia pendidikan. Jelas sudah dengan adanya ruang-ruang essai yang sublim maka perenungan kian nyata adanya, ketimbang berteriak dan orasi di jalan, yang mana hal itu bukan berarti tidak baik. Biasanya, dalam menulis esai, penulis akan mengemukakan fakta terkait topik yang dibahas sebelum menyampaikan pendapat pribadi mereka dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Namun, dengan berorasi sering kali memunculkan sikap egosentis dari pihak tergugat yang merasa diserang secara personal. Sebaliknya, sebuah esai yang jernih mengajak pembacanya untuk berpikir tanpa merasa terpojok, jauhnya mampu menciptakan suasana diskusi yang dingin di tengah isu yang panas. Meski harus diakui bahwa aksi massa memiliki tempatnya sendiri dalam demokrasi, akan tetapi tulisan memiliki daya tahan yang jauh lebih lama dalam menembus sekat birokrasi yang sering kali kaku. Maka yang terjadi bukan melahirkan solusi konkreat jika kita hanya mengandalkan kemarahan. Akan tetapi, dengan tulisan yang bisa dirundingkan dan dirumuskan sebagai jalan terbaiknya, hal itu akan menjadi kesadaran kolektif.

Simpulnya, menulis esai adalah cara kita merawat kewarasan bangsa di tengah hiruk-pikuk kebisingan digital yang sering kali tanpa makna. Dengan menanamkan menulis esai sejak dini, kita sebenarnya tengah membangun jembatan antara masalah dan solusi tanpa harus merobohkan bangunan persaudaraan. Singkat-tegasnya, setiap kata yang dirangkai oleh para siswa adalah benih karakter yang akan tumbuh menjadi pohon kebijaksanaan di masa depan. Melalui jalan tengah inilah, sastra membuktikan dirinya sebagai instrument ilmiah yang mampu memperbaiki tatanan bangsa secara halus, tetapi sangat bertenaga. Sebagaimana “Indonesia Menggugat: (Pidato Pembelaan-Soekarno): Meskipun berbentuk Pidato pembelaan di pengadilan (pledoi), ini adalah esai politik paling krusial yang membangkitkan kesadaran nasionalisme dalam melawan kolonialisme dan memproyeksikan Indonesia yang merdeka.

Kemudian “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Kumpulan Surat R.A. Kartini): Kumpulan tulisan Kartini ini bernada esai-esai pendek mengenai emansipasi Wanita, pendidikan, dan kritik terhadap tradisi feodal yang membelenggu. Esai-Esai Sastra dan Budaya (Goenawan Mohamad): sebagai mana yang saya baca memalui Catatn Pinggir di Tempo, Goenawan banyak mengulas kebudayaan, politik, dan humanisme, yang mampu mendorong masyarakat Indonesia untuk berpikir kritis dan terbuka. “Manusia Indonesia” (Mochtar Lubis): Esai yang sangat jujur dan provokatif yang menelanjangi kelemahan karakter manusia Indonesia (feodal, munafik, enggan bertanggung jawab) dengan tujuan membangun manusia Indonesia yang lebih baik. Berangkat dari jejak pembacaan tersebut, jelas sudah bahwa esai adalah warisan pemikiran yang akan terus hidup dan menjadi saksi perjalanan intelektual seorang manusia, sebagai jalan tengah dalam solusi jernih.

Selamat berkarya. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *