Peta Langit di Balik Dada

Peta Langit di Balik Dada Membaca Tujuh Puluh Pesan Tuhan untuk Manusia yang Ada di Dalam Al Quran

—Membaca Tujuh Puluh Pesan Tuhan untuk Manusia

Hidup sering kali terasa seperti belantara tanpa rambu, di mana langkah kaki mudah terperosok dalam keraguan. Namun, bagi jiwa yang mencari keteduhan, Al-Qur’an hadir sebagai kompas moral yang mengatur detak kehidupan dari hal paling sunyi di dalam rumah hingga interaksi luas di tengah masyarakat. Tuhan tidak sekadar menciptakan, tetapi Ia mengirimkan tujuh puluh tuntunan sebagai napas bagi kemanusiaan agar tetap bermartabat.

Dalam urusan lisan dan hati, Allah memerintahkan kita untuk jangan berkata kasar. (QS 3 – Ali Imran : 159), senantiasa tahanlah marah. (QS 3 – Ali Imran : 134), serta berbaiklah kepada orang lain. (QS 4 – An Nisaa’ : 36). Keangkuhan adalah musuh utama, maka jangan sombong dan congkak. (QS 7 – Al A’raaf : 13). Sebaliknya, maafkanlah kesalahan orang lain. (QS 7 – Al A’raaf : 199), berbicaralah dengan nada halus dan bersopan. (QS 20 – Thaahaa : 44), serta rendahkanlah suaramu. (QS 31 – Luqman : 19) demi menjaga harmoni. Di tengah riuh sosial, kita diingatkan untuk jangan mengejek orang lain. (QS 49 – Al Hujuraat : 11).

Rumah adalah madrasah pertama kemuliaan. Di sana, kita wajib berbaktilah pada orang tua (ibu bapak). (QS 17 – Al Israa’ : 23) dan jangan mengeluarkan kata yang tidak menghormati orang tua ( ibu bapak). (QS 17 – Al Israa’ : 23). Etika privasi dijunjung tinggi melalui perintah jangan memasuki kamar pribadi ibu bapak tanpa izin. (QS 24 – An Nuur : 58). Begitu pula dalam urusan keturunan, Allah berpesan: susuilah anak-anakmu selama dua tahun penuh (QS 2 – Al Baqarah : 233).

Keadilan ekonomi menjadi pilar penting agar tatanan tetap stabil. Kita diperintahkan untuk catatlah hutang-hutangmu. (QS 2 – Al Baqarah : 282) dan jangan mengikuti orang secara membabi buta. (QS 2 – Al Baqarah : 170). Jika ada sesama yang kesulitan, Allah berpesan: berikanlah lanjutan waktu bila orang yang berhutang kepadamu dalam kesempitan. (QS 2 – Al Baqarah : 280). Dalam mencari nafkah, jangan makan riba’/membungakan uang (QS 2 – Al Baqarah : 275-278. ), jangan melakukan korupsi) (QS 2 – Al Baqarah : 188), serta jangan mengurangi timbangan untuk menipu (QS 6 – Al An’aam : 152). Kesetiaan pada janji adalah harga mati; jangan ingkar atau melanggar janji (QS 2 – Al Baqarah : 177) dan selalu jagalah kepercayaan orang lain kepadamu (QS 2 – Al Baqarah : 283).

Kejujuran adalah fondasi jiwa, maka jangan campur adukan kebenaran dengan kebohongan (QS 2 – Al Baqarah : 42). Allah menuntut kita untuk berlakulalah adil terhadap semua orang (QS 4 – An Nisaa’ : 58) serta tegakkanlah keadilan dengan tegas (QS 4 – An Nisaa’ : 135), termasuk perintah untuk tetap berlaku adil (QS 5 – Al Maa-idah:8) dalam segala situasi. Dalam hukum waris, ditetapkan bahwa harta yang meninggal harus dibagikan kepada anggota keluarga (QS 4 – An Nisaa’ : 7) dan ditegaskan bahwa wanita memiliki hak waris (QS 4 – An Nisaa’ : 7).

Perlindungan terhadap yang lemah adalah inti dari cinta. Allah melarang keras: jangan memakan harta anak yatim (QS 4 – An Nisaa’ : 10), sebaliknya lindungi anak yatim (QS 2 – Al Baqarah : 220). Kita dilarang jangan memboroskan harta dengan sewenang-wenangnya (QS 4 – An Nisaa’ : 29) atau jangan menghabiskan uang untuk bermegah-megah (QS 17 – Al Israa’ : 29). Harta harus dipandang sebagai titipan, maka gunakan harta untuk kegiatan sosial (QS 57 – Al Hadid : 7), biasakan memberi makan orang miskin (QS 107 – Al Maa’uun : 3), dan bantulah orang fakir yang berada di jalan Allah (QS 2 – Al Baqarah : 273). Saat berderma, jangan menyebut-nyebut tentang sedekahmu (QS 2 – Al Baqarah : 264) dan jangan pula menjadi jangan pelit (QS 4 – An Nisaa’ : 37).

Interaksi antarkemanusiaan didasari ketulusan untuk damaikanlah orang yang berselisih (QS 49 – Al Hujuraat : 9) dan senantiasa hindari perasangka buruk (QS 49 – Al Hujuraat : 12). Tuhan menekankan penjagaan martabat sesama dengan dua perintah tegas agar jangan memfitnah orang (QS 2 – Al Baqarah : 283) serta jangan memfitnah orang (QS 49 – Al Hujuraat : 12) dalam keadaan apa pun. Kepada tamu, hormatilah tamu anda (QS51AdzDzaariyaat26). Sebelum mengajak orang lain, Allah mengingatkan: perintahkan kebajikan setelah kita melakukannya sendiri (QS 2 – Al Baqarah : 44). Kita juga dilarang jangan iri hati (QS 4 – An Nisaa’ : 54) atau jangan membela ketidakjujuran atau kebohongan (QS 4 – An Nisaa’ : 105).

Terhadap alam dan kedaulatan tempat suci, kita diperintahkan jangan berbuat kerusakan di muka bumi (QS 2 – Al Baqarah : 60) dan renungkanlah keajaiban dan penciptaan alam semesta ini (QS 3 – Ali Imran 3 :191). Dalam konteks ibadah, jangan menghalangi orang datang ke masjid (QS 2 – Al Baqarah : 114), ditegaskan bahwa tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam) (QS 2 – Al Baqarah : 256), dan jangan menghina keyakinan atau agama orang lain (QS 6 – Al An’aam : 108). Kita pun wajib beriman kepada para Nabi (QS 2 – Al Baqarah : 285).

Kehidupan publik pun tak luput dari aturan surgawi. Kita diminta untuk pilihlah pemimpin yg pantas. Pilihlah pemimpin berdasarkan ilmu dan jasanya (QS 2 – Al Baqarah : 247) dan diperingatkan bahwa mayoritas bukanlah merupakan kriteria kebenaran (QS 6 – Al An’aam : 116). Allah melarang kita jangan mau dipecah belah (QS 3 – Ali Imran : 103) dan mengajak untuk bekerja samalah dalam kebenaran (QS 5 – Al Maa-idah : 2), namun jangan bekerja-sama dalam dosa dan kekerasan (QS 5 – Al Maa-idah : 2) serta berjuanglah melawan perbuatan dosa dan melanggar hukum (QS 5 – Al Maa-idah : 63). Jika ketidakadilan terjadi, berikan hukuman untuk setiap kejahatan (QS 5 – Al Maa-idah : 38). Dalam konflik, Allah memerintahkan: perangilah mereka yang memerangi mu (QS 2 – Al Baqarah : 190), jagalah etika perang (QS 2 – Al Baqarah : 191), dan jangan lari dari peperangan (QS 8 – Al Anfaal : 15).

Dalam ranah privat, kita dibimbing untuk jangan melakukan hubungan intim di saat haid (QS 2 – Al Baqarah : 222) dan senantiasa jauhilah hubungan intim di luar nikah (QS 17 – Al Israa’ : 32). Allah melarang pernikahan yang melampaui batas fitrah: jangan menikahi mereka yang sedarah denganmu (QS 4 – An Nisaa’ : 23). Dalam struktur keluarga, ditetapkan bahwa keluarga harus di-imami oleh seorang lelaki (QS 4 – An Nisaa’ : 34) dan jangan saling membunuh (QS 4 – An Nisaa’ : 92). Tuhan pun menjamin kesetaraan nilai bahwa lelaki maupun wanita mendapat balasan yang sama sesuai perbuatannya (QS 3 – Ali Imran : 195).

Terakhir, demi kesehatan raga, Allah menetapkan batasan konsumsi: dilarang memakan binatang mati, darah dan daging babi (QS 5 – Al Maa-idah : 3), hindari minum racun dan alkohol (QS 5 – Al Maa-idah : 90), serta jangan berjudi (QS 5 – Al Maa-idah : 90). Di atas segalanya, hiduplah dengan kesahajaan, yakni makan dan minumlah secukupnya (QS 7 – Al A’raaf : 31). Allah adalah sebaik-baik penolong yang senantiasa jangan membebani orang di luar kesanggupannya (QS 2 – Al Baqarah : 286).

Semoga saripati petunjuk ini menjadi cahaya yang mengalir dalam setiap embusan napas kita. Semoga bermanfaat, Aamiin.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *