PUISI Harris Priade Bah

puisi bah

IKHTIAR MENDIDIK ANAK BANGSA
(bagi cucuku sayang: Genevieve Nirbita Bah “Ginny”)

pendidikan terbaik
adalah dalam rumah kita sendiri
pengajaran terbaik
dimulai sejak anak kita masih bayi

lupakan mbg
seberapa pun bergizinya
tidak menjamin anakmu pintar
kecuali membuat pemerintahnya
yang tampak semakin bodoh menanganinya

mari berkisah untuk penerus bangsa
tentang berbagai jenis hewan yang ada di negeri separuh sorga di bumi ini

mari bercerita tentang indahnya alam
di berbagai penjuru nusantara ini
juga cerita tentang kekayaan alam
tanah air beta ini

namun jangan engkau bercerita
tentang masa depan yang indah
hidup di negara milik oligarki ini
bersebab itu “cuman” dongeng saja

juga kisah tentang toleransi
itu “cuman” dongeng dari masa lalu
sebelum politisi mendramatisasi tujuan politik busuknya dengan agama
jadi jangan kau ceritakan itu
kepada anak cucu kita

itu bisa menjadi beban sejarah kita

cerita tentang impian dan harapan
punya menteri-menteri yang amanah
jangan juga sekali-kali kau kisahkan
itu dongeng yang tak akan pernah
bisa mewujud sampai kapan pun

utopis, sia-sia dan tak berguna
hanya membuat jiwa merana
dan hati menangis mengisahkannya

ups
aku sudah sampai pada akhir kisah
anti klimaks “happy ending” dongeng tentang kerajaan binatang hahaha

semacam animal farm orwell
dalam pengisahannya yang lain

31 Maret 2026

KAMIS PUTIH

tidak serta merta membuatmu
jadi suci tanpa cela
sebaik apa pun dirimu
yang masih memuja napsu
dan kenikmatan dunia

amarah
kebencian
kerakusan
keegoan
lebih kuat
menggodamu
tinimbang
undangan kasih
dan laku pelayanan
yang Tuhan isyaratkan
di meja perjamuan

kekudusan
hanya milikNya
yang menyiapkan dengan ikhlas
kematianNya yang agung
lewat jalan penderitaan
yang tak tertanggungkan
oleh badan sesiapa pun
orang yang berkekuatan

mandatum

kasihilah sesamamu
sebagaimana engkau
mengasihi dirimu sendiri

berkorbanlah
dengan waktumu
tenaga, dan juga hartamu
bukan justru
engkau korbankan orang lain
demi kepuasan dirimu

mandatum

2 April 2026

PUISI Harris Priade Bah
Baca Tulisan Lain

PUISI Harris Priade Bah

VIA DOLOROSA

kalian semua
tidak akan pernah
bisa memahaminya
seberapa pun luas dan dalam pengetahuanmu
sebetapa pun tinggi dan besar imanmu
kalian tidak akan pernah bisa mengerti
Dia yang mulia diperlakukan
bagai penjahat keji layaknya
“tzalvu uto veshchreru et berabas”
orang-orang meneriakkan hinaan kepadaNya
orang-orang meludahi muka dan kemuliaanNya
di sepanjang jalan-jalan yang basah
oleh keringat dan darah
jalan ini adalah jalan penderitaan dan kesengsaraan
yang tak sesiapa pun penjahat paling jahat
bisa menanggungkan akibat daripadanya
Dia tertikam dan ditikam oleh karena
pemberontakan dan dosa-dosa kita
bukan tentara romawi
yang memaku tangan dan kakiNya
bukan keputusan herodes
yang celaka menghukumNya
bukan juga pontius pilatus
yang menjatuhkan vonis atas diriNya
namun kitalah yang melakukannya
lewat kesombongan diri
para ahli taurat yang dengki
“salibkan dia…salibkan dia, bebaskan barabas”
Dia merelakan diriNya dicambuk dan diremukkan
tulang dan kulit kemanusiaanNya
bukan karena tak kuasa melawannya
namun justru untuk membuktikan ke-TUHAN-anNya
yang melekat pada kemanusiaan diriNya
kelewat mudah dan terlalu gampang bagiNya
memutar-balikan keadaan
namun itu tak dilakukanNya
demi penggenapan firman sejatinya
sebagai Anak Domba
yang digiring ke meja pembantaian
Dia tak membuka mulutNya
tipu daya tak keluar dari suaranya
yang penuh kuasa
matiNya di antara penjahat dan pemberontak
walau tak diketemukan kejahatan
yang telah dilakukanNya
kasihNya tak akan pernah bisa terpermaknai
oleh dirimu yang gemar mengejar
kesenangan duniawi
di golgota
malaikat-malaikat mengasingkan diri
Sang Anak Manusia mencari BapaNya yang dikasihi
“Eli Eli lama sabhaktani”
kegelapan menyelubungi terik matahari”

“AllahKu AllahKu
mengapa Aku Kau tinggalkan”

siang yang benderang
menjelma seratus delapan puluh menit yang menakutkan
“My God..My God
why hast thou forsaken Me”

Domba suci tak bercela
menerima siksa dan sengsara
“ya Bapa kedalam tanganMu
Kuserahkan nyawaKu”

dI atas kayu salib
Kristus memutuskan untuk mati
bukan kekalahan tapi
justru kemenangan yang digenapi

3 April 2026

PUISI Galih M. Rosyadi
Baca Tulisan Lain

PUISI Galih M. Rosyadi

SAJAK MATINYA TEATER MODERN

(pada hari teater sedunia)

+
apa yang lebih teater
dari panggung politik dan hukum
di negeri para badut
yang kelewat menghitam
hidung tomatnya


lebih dramatis kisahnya
lebih tragis nasib tokoh-tokohnya
lebih mengejutkan endingnya
lebih anjay daripada anjritnya

+
adakah teater modern
yang sanggup memertunjukan
spektakle pengadeganan serupa yang dicapai teater emansipatorik itu
teater yang melibatkan para pesohor
sedari politisi, aparat penegak hukum
para ahli hukum, menteri, akademisi
pengamat ekosospolhumbud
sesampai penggiat media sosial


sepanjang catatan sejarah
pencapaian yang paling mengagumkan dari seni pertunjukan teater
adalah yang berada di atas panggung
teater politik dan hukum para badut
yang hidung tomatnya kehitaman

×
dan hari ini
teater modern tak dibutuhkan lagi
para aktor yang telah lumutan
dipersilahkan cari makan
dengan profesi lain
yang masuk akal pikiran

bagi yang baru melangkah
goyahkan hatimu untuk maju
mundur dan pilih semangat baru
ikuti saja jejak para koruptor
duitnya banyak namanya kesohor

say goodby
pada seni kaum miskin itu
dan katakan
selamat datang kembali
pada zaman segalapurba

purbabangsa
purbapikiran
purbalaku
purbakata
purbasangka

mrwkhljktdfprokbkgdrwrrrhkl
asukowekoweasuanjritjttritjri
spngewecrotgrriiiiliiiiouowsfk

wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

27 Maret 2026

PUISI Husni Hamisi
Baca Tulisan Lain

PUISI Husni Hamisi


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *