PERLAWANAN TERHADAP BATU-BATU

merah bolong

Merah Bolong karya & sutradara Rachman Sabur. Produksi teater Payunghitam Bandung. dok TPH

Hidup memang bukan jalan lurus bagaikan rentangan garis dari satu titik kepada titik lainnya. Hidup juga bukan air jernih yang tenang dalam sebuah mangkuk di atas meja. Kemungkinan bisa saja muncul dari dalam sekejap sesuatu peristiwa terjadi, yang semula begitu tenang, penuh harmoni, lalu menjadi kekacauan, dan bahkan mendekati chaos, kebalauan yang mengartikan tiadanya tatanan hidup yang bisa dijadikan pegangan. 

Namun diantara itu pula ketika kondisi yang telah diciptakan oleh kekuatan dan kekuasaan yang hanya memperhitunhkan kemenangan tanpa memperdulikan nilai-nilai solidaritas, keadilan dan kemanusiaan, maka sebagaimana watak manusia yang senantiasa mencari kemungkinan lainnya, jalan terbaik, dilakukan perlawanan betapapun lemahnya terhadap kekuasaan yang menelikungnya itu. Karena sesungguhnya walaupun hidup begitu keras dan harapan telah menjadi batu yang berserakan di mana-mana, dan ketika batu-batu itu pula telah berwujud menjadi wacana dalam hidup, masih juga tersisa dari relung-relung yang paling dalam, dari hati yang terus menggapai dan ingin menyentuh sesamanya. Hidup betapapun penuh rintangan, namun harapan selalu menyembul, dan perlawanan harus dilakukan terhadap upaya-upaya yang didorong dari kehendak untuk membunuh suatu cita-cita. Kesaksian tentang itu diberikan oleh sosok ringkih, seorang tua renta yang menyambangi gundukan krikil dengan kepalan tangan sebagai baru nisan, sisa-sisa perlawanan, diantara bebatuan yang berserakan dan batu+batu besar bergelantungan, bergoyang kian kemari sebagai tanda ketiadaan arah. 

Lalu lampu yang memfokus pada sosok renta yang tercenung di hadapan sebuah tanda dari akhir kehidupan, malam. Suasana senyap mencekam. Dipandangnya suasana sekeliling. Ditaburkan nya kerikil dari ember yang dibawanya. Satu persatu kerikil menimbulkan suara, gema yang terpantul disekitarnya, diantara desah nafas yang menyesal. Lambat laun lampu semakin temaram, dan sepenggal dari lagu Inventing Reality menutup pertunjukan Merah Bolong teater Payung Hitam dari Bandung di teater Arena Tertutup Taman Budaya Surakarta pada 1-2-4 Agustus 1997 lalu yang disutradarai Rachman Sabur, seorang sutradara yang semakin menunjukkan kepiawaiannya, khususnya sejak tahun 90-an hingga kini, yang beberapa harapannya, seperti “Kaspar” (1994), “Caligula/Aku Masih Hidup” (1996) sangat fenomenal dan inspiratif.

merah bolong 2
Merah Bolong karya & sutradara Rachman Sabur. Produksi teater Payunghitam Bandung. dok TPH

Pertunjukan diawali dengan seseorang yang memasuki ruangan dengan langkah sangat lamban. Tiada suara yang ditimbulkannya, suasana senyap. Cahaya temaram melingkunginya. Dengan lamban namun pasti, orang itu menuju ke sebuah arah, tujuan yang membentuk gundukan kerikil yang berwarna merah-gelap, dia berhenti disitu. Tampak merenung. Di kepalanya tersunggi sebuah ember. Dan dengan perlahan-lahan dituangkan nya kerikil putih dari dalam ember nya. Satu persatu kerikil putih berjatuhan, mengisi suasana dengan suara yang tampak teratur. Ada sesuatu yang harmoni dengan atmosfir lingkungan yang telah tercipta dan cahaya yang telah terbentuk sebelumnya. Makin lama curahan kerikil semakin deras, dan gundukan kerikil semakin menggunung dan berubah menjadi suatu suasana yang lain, yang begitu indah dan suci : merah putih, yang membawa imaji dan kenangan historis kita kepada cita-cita serta harapan yang dicanangkan oleh para pendiri republik kita ini : tentang keadilan dan kemanusiaan, serta hidup yang dipenuhi oleh keinginan untuk saling bersapa dengan hangat. Tercenung sejenak, sosok bertopeng ini tampak merenungi apa yang telah dilakukannya. Tiba-tiba dalam sekejap suasana berubah dengan drastis. Yang semula begitu tenang menjadi terguncang ketika sosok itu tampak gemetar lalu berlarian dan ada histeris di sekelilingnya, yang pada saat bersamaan pula segerombolan orang-orang bertopeng yang menjunjung ember berisi bebatuan memasuki ruangan dengan langkah berat yang diseret menimbulkan suasana dramatis dan mencekam.

Histeris semakin meninggi dan tampak ruangan semakin balau oleh tingkah sosok pertama yang terus berlarian dan mengayunkan batu-batu besar yang bergelantungan. Ketiadaan arah telah tercipta, dan ditimpali oleh “paduan suara” dari gerombolan yang menyeret langkahnya, serta bunyi-bunyi ember yang berbenturan satu sama lain, dan batu-batu berjatuhan, berserakan, dan kaki-kaki terus menerjang lingkungan sekitarnya. 

Giliran dari setiap adegan sungguh-sungguh menunjukkan kepiawaian Kelompok Payung Hitam dalam membentuk blok para pemain, dan suasana yang satu dengan yang lainnya dari perpindahan adegan itu efektif pula, yang hanya ditandai oleh munculnya bebunyian, yang menjadi bagian penting dari pertunjukan “Merah Bolong Putih Doblong Hitam”, yang sangat inspiratif bagi kalangan pemusik, seperti juga yang telah digarap oleh Payung Hitam pada karyanya yang lain, ” Kaspar”.

Sangat menarik sekali pertunjukan “Merah Bolong” ini, juga sangat jitu dan efektif menimbulkan dampak psikologis kepada para penonton saat para pemain yang sepanjang durasi 75 menit mempertontonkan berapa tubuh mereka begitu liat, dramatis dan tahan banting, tanpa memperdulikan kaki serta tubuh mereka diantara kerikil dan bebatuan yang tajam, berserakan di lantai teater arena

Tentu semua ini hanya mungkin dikerjakan dengan suatu niat yang tinggi dan kuat dibarengi oleh eksplorasi yang intens. Betapa menariknya menyaksikan juga para penonton yang ikut ber ketika pemain menginjak-injak kerikil, apalagi pada saat Tony Broer menggelepar di lantai yang dipenuhi bebatuan dan kerikil tajam. Mengutip beberapa pendapat dari para pekerja teater di Solo, serta penonton setia yang selalu hadir, yang tampaknya seiring dengan pandangan saya ketika mereka bertanya, bagaimana tubuh yang begitu ekspresif dan tahan banting bisa dibentuk dan tersaji pada sebuah pertunjukan. Beberapa orang diantaranya, juga membandingkan hal itu dengan lakon “Kaspar”.Yang oleh mereka dianggap sebagai ” Teater Tubuh”, saya hanya bisa menyimpan sejumlah komentar mereka dalam ingatan saya. Tapi, pertanyaan “bagaimana”, tampaknya pada keringat yang mengucur dan bisa dibaui serta komitmen kepada dunia yang telah dipilihnya. 

Dan bicara tentang “tubuh”, rasa-rasanya saya yakin bahwa itu bukan cuma pilihan jalan yang bersifat teknis, tapi juga strategis. Artinya, ketika begitu banyak teater terlanda oleh lingkungannya, budaya propaganda, iklan, berita-berita, dan derasnya informasi disekitar kita, maka pilihan pengucapan yang efektif terletak pada seluruh eksistensi tubuh yang hadir. Dan pilihan Payung Hitam terhadap hal itu, tampaknya disadari benar untuk menghindari tema-tema besar yang dibawakannya agar tidak menjadi cerewet.

DUNIA DALAM DUNIA
Baca Tulisan Lain

DUNIA DALAM DUNIA


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *